101 MYSTERY IN JAVANIA TOWN

Oleh: Wafy Shaleh (Siswa Kelas Menulis IWEC)

Pada suatu hari di Javania Town, ada empat gamer bernama Arvian, Rizka, Ana, dan Tarwia yang tengah bercengkrama di rumah Arvian. Mereka berniat untuk menjelajah dan mencari pengalaman baru karena sudah mulai bosan dengan games yang mereka mainkan setiap hari.

“Aku bosan main games gini-gini aja, bagaimana kalau kita cari pengalaman baru di luar,” ujar Arvian penuh semangat.

“Aku juga berpikiran hal yang sama. Aku sudah bosan dengan permainan seperti ini terus, tapi jika mencari kegiatan baru, kira-kira kegiatan apa ya?” Riska bingung sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Aku tahu!” Ana tiba-tiba bersuara. “Gimana kalau kita bikin vlog horor saja? Seru tuh!” sambungnya bersemangat.

“Nggak ah!” Tarwiya spontan menolak.

“Kenapa?” tanya Rizka tidak mengerti.      

“Takut! tempat horor kan banyak hantunya.”

“Nggak seru kamu! Dasar penakut,” kata Arvian mengejek Tarwia.

“Hei, jangan gitu. Tarwia kan memang penakut anaknya,” balas Rizka berusaha membela Tarwia.

Arvian menghela napas panjang dan berkata,

“Hmmm, ya sudah, kita pergi ke tempat yang nggak horor deh” kata Arfian sabar.

“Oh iya, aku pernah baca salah satu buku tentang mitos yang mengatakan bahwa jika kamu pergi ke Homesday Road, deretan rumah tua, maka carilah yang paling tua disana, dan jika kamu masuk maka kamu akan menemukan sebuah tempat yang spesial,” jelas Ana dengan wajah serius.          

“Wow, buku apa itu?” tanya Arfian.

“Judul bukunya kalau enggak salah, 101 Mystery in Javania Town.

“Eh bentar, tapi Tarwia bagaimana?” bisik Rizka sambil memandangi Tarwia yang sudah pucat karena ketakutan.

“Iya juga ya, kalau dia ikut pasti rewel,” balas arvian berbisik .

“Gimana kalau kita tanya Tarwiya dulu, dia mau ikut atau tidak?” bisik Ana.

“Boleh deh. Ana, kamu aja yang tanya ke dia ya?” kata Arvian sambil menunjuk Ana dengan senyum tipis.

“Hmmm, iya deh,” jawab Ana sambil menghela napas.

Ana menghampiri Tarwia yang tubuhnya masih ditutupi selimut. Ia ketakutan mendengar rencana teman-temannya yang ingin pergi ke rumah tua di Homesday Road.

“Tar, kamu mau ikut ke rumah paling tua di tengah Javania Town itu, nggak?” tanya Ana.

“Iya deh, terserah,” jawab Tarwia dengan wajah yang masih pucat karena ketakutan. Akhirnya Arvian, Ana dan Riska tersenyum senang karena semua anggota akan ikut petualangan seru ini.

“Kita berangkat besok ya teman-teman! Jangan lupa menyiapkan barang-barang yang kita butuhkan, seperti senter, pistol air, kamera, tongsis, HP (handphone) dan tas ajaib!” pesan Arvian semangat.

***

Keesokan harinya, Arvian, Riska, Ana dan Tarwia bersiap-siap berangkat ke Homesday Road yang terletak di tengah-tengah Javania Town. Selama perjalanan, mereka banyak mengobrol tentang keadaan di Homesday Road, dan seperti biasa Tarwia hanya diam saja, karena dia takut.

“Pasti rumah yang paling tua itu atapnya sudah keropos, catnya pudar, dan banyak semak-semak di depan rumahnya,” kata Riska sok tahu.

“Ya pasti lah, mana mungkin rumah tua keadaannya masih bagus,” balas Arfian.

Sesampainya di lokasi, mereka bergegas mencari rumah yang paling tua dan mempersiapkan peralatan yang diutuhkan untuk membuat video di sana nanti.

“Duh, susah sekali ya cari rumahnya. Gendong dong,” ucap Riska manja.

“Jangan manja!” balas Arvian setengah kesal.

“Ih, dasar pemarah!” sahut Riska tak mau kalah.

“Udah-udah, jangan bertengkar. Nanti malah enggak ketemu rumahnya!” Ana berusaha melerai perdebatan diantara teman-temannya.

Setelah satu jam berkeliling mencari dan belum menemukan apa yang dicari, akhirnya mereka menyerah. Keempat anak tersebut memutuskan untuk bertanya pada salah seorang yang mereka lihat tengah duduk di halaman rumah. Terlihat dari papan nama yang terpasang di pagar depan rumahnya bertuliskan Tompessy, menandakan pemilik rumah tersebut bernama Tompessy. Saat itu, Pak Tompessy sedang membawa pisau di tanganya sambil duduk santai. Keempat anak itu ketakutan dan mengurungkan niat mereka untuk bertanya. Akhirnya mereka berdiskusi sejenak untuk mencari solusi.

“Kayaknya seram deh itu bapaknya, apalagi dia membawa pisau ditanganya gitu, ih serem,” bisik Tarwia ketakutan.

“Masa takut sih, belum apa-apa sudah takut duluan. Dasar penakut! Udah, biar aku saja yang tanya ke bapak itu,” ucap Arvian penuh percaya diri.

Sementara Arvian pergi bertanya, Riska, Ana dan Tarwia menunggu dari kejauhan sambil terus memperhatikan temannya itu.

“Halo pak, nama saya Arvian. Saya mau bertanya, boleh?” ujar Arfian sopan kepada pak Tompessy.

“Boleh!” jawab Pak Tompessy dengan nada ketus.

“Saya mau bertanya, di Homesday Road ini rumah paling tua di mana ya?”

Tanpa berkata apapun, tiba-tiba Pak Tompessy berdiri dan mencekik Arvian. Riska, Ana, dan Tarwia yang melihat dari kejauhan begitu kaget. 

Sementara di halaman rumah pak Tompessy, “Eeeekh eeeekkhhh ke….kenapa ko….kok a…aku di…dicekik?” tanya Arvian dengan nafas yang sesak.

“Kamu tahu anak muda, rumah yang paling tua yang kamu cari adalah rumah yang aku tempati ini, hahaha!!” jawab Pak Tompessy dengan tawa yang dibuat-buat, dan mulai melepaskan tangannya dari leher Arvian.

Setelah terlepas dari cekikan pak Tompessy, Arvian langsung melarikan diri dengan kecepatan penuh. Ia bergegas menemui Rizka, Tarwia dan Ana yang sudah bersembunyi lebih dulu.

“Bagaimana ini teman-teman, ternyata rumah yang kita cari itu dijaga oleh pak Tompessy. Dia benar-benar aneh,” ujar Ana kesal.

“Hampir saja aku mati dicekik bapak tua itu,” ujar Arfian kesal.

“Kan kemarin sudah kubilang, kita enggak usah main ke tempat-tempat begini,” keluh Tarwia.

“Udah-udah, lebih baik kita sekarang fokus menyusun rencana supaya bisa masuk ke rumah itu. Ingat misi kita kan? Kita mau nge-vlog, dan rumah pak Tompessy adalah rumah paling tua di sini” jelas Ana.

“Oke, semuanya dengerin baik-baik, pak Tompessy pasti enggak mau kalau rumahnya dimasuki oleh orang asing seperti kita. Jadi, kita harus menyusun rencana sebaik mungkin agar bisa masuk ke rumahnya,” jelas Riska mengungkapkan ide cemerlangnya.

Setelah beberapa saat menyusun rencana, mereka bergegas menuju rumah pak Tompessy dan menjalankan rencana yang telah mereka susun. Arfian mulai mengendap-endap menghampiri pak Tompessy untuk memancing kemarahannya. Saat Arvian berhasil memancing kemarahan pak Tompessy dan membuatnya lelah karena saling mengejar, Ana, Riska dan Tarwia langsung masuk kerumah pak Tompessy. Sementara itu Arvian mulai mengeluarkan robot dari tas ajaibnya. Robot yang dapat menyerupai dirinya supaya pak Tompessy mengejar robot yang dikira adalah Arvian. Sementara pak Tompessy mengejar robot tersebut, Arvian yang asli langsung masuk ke dalam rumah pak Tompessy untuk menyusul teman-temannya.

Satu jam berkeliling, keempat vlogger tersebut berhasil membuat video ­­dengan durasi yang cukup lama mengelilingi seisi rumah. Tidak hanya itu, mereka juga menemukan satu rahasia besar.

Sementara itu, di luar pak Tompessy kelelahan karena terus mengejar robot yang mirip dengan Arvian. Ia pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang ada di pekarangan rumahnya. Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi tentang empat anak muda yang berhasil masuk ke rumahnya dan menemukan buku sejarah rumah tua yang mengungkapkan bahwa Pak Tompessy sebenarnya sudah meninggal sejak sembilan puluh sembilan tahun yang lalu.

Pak Tompessy terbangun dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia kaget, keempat anak yang ada di dalam mimpinya sudah ada di rumahnya sedang membuat video, mereka juga sudah menemukan buku bersejarah itu.  Pak Tompessy sangat marah melihat keempat remaja tersebut sudah mengetahui bahwa dirinya sudah meninggal. Dengan cekatan, ia menggandeng anak-anak itu dan mengajaknya ke dunia lain.

Saat di dunia lain, keempat anak tersebut ketakutan. suasana disana begitu mencekam karena gelap dan tidak ada seorang pun disana kecuali mereka.

 “Pak Tompessy meninggal!” seru seseorang namun tidak tahu siapa.

“Halo, siapa itu? jangan nakutin dong!” kata Riska ketakutan.

Jawaban yang diberikan masih saja sama. Mereka kesal dan akhirnya memberanikan diri untuk mendekati suara misterius tersebut. Ternyata orang misterius itu adalah arwah Pak Tompessy. Saat sudah dekat, mereka bisa melihat pak Tompessy dengan jelas. Ternyata dia sedang menangis.

“Dulu, saya adalah seorang pengrajin kayu. Saya selalu dikritik oleh bos tanpa sebab, hingga akhirnya hal itu membuat saya stress. Sepekan setelahnya, aku berada di rumah sakit karena kondisi yang semakin memburuk. Terdengar berita tentang seorang pembunuh yang memiliki dendam dengan keluargaku. Mereka semua dibunuh, hanya aku yang tersisa. Setelah aku diijinkan keluar dari rumah sakit, aku pulang dengan memesan taksi, namun tragis, ternyata sopir taksi itu adalah pembunuh keluargaku. Begitulah akhirnya aku juga dibunuh pada saat itu. Setelah dibunuh, aku dibawa ke rumahnya dan dikubur di halaman belakang markasnya. Aku dikubur di tempat yang sama bersama keluargaku. Karena kami mati tidak wajar, akhirnya kami semua gentayangan di rumah ini.”

Keempat anak yang mendengar kisah itu merasa kasihan kepada arwah malang di hadapan mereka. Namun mereka tidak bisa membantu apa-apa selain menjadi pendengar.

“Arwah kami semua dendam kepada pembunuh itu. Kami putuskan juga untuk mengganggu dan membunuh mereka. Setelah kubunuh semua, aku pun memakan keluarga si pembunuh itu. Setelah mati, mereka juga jadi hantu yang gentayangan. Kami saling berperang dan mereka semua akhirnya mati. Hanya aku yang tersisa dan kalian tahu sendiri, aku masih gentayangan di rumah ini sampai saat ini. Warga semua tahu kalau rumah ini berhantu, akhirnya mereka semua pindah dari Homesday Road, begitu ceritanya,” lanjut pak Tompessy.

Setelah mendengarkan cerita masa lalu itu, arwah pak Tompessy menghilang. Mereka berempat kembali ke ruangan rumah tua itu dan tersadar. Seperti mimpi, mereka bergegas lari dari rumah misterius tersebut. Meskipun hanya sebentar, mereka beruntung dapat mengetahui sejarah rumah itu dan yang paling penting vlog mereka lancar dan siap diunggah esok hari.

*TAMAT*

Share This: