7 Perempuan Tangguh Penggerak Literasi Indonesia (Bagian I)

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional. Untuk tahun 2017, tema yang diusung adalah “Be Bold for Change”. Berani membuat perubahan. Tema yang sungguh menarik. Ini mendorong kaum perempuan untuk berlomba-lomba membuat perubahan, minimal di lingkungan tempat ia berada. Perubahan ini bisa dalam ranah sosial, politik, budaya, ekonomi, hukum, dan sebagainya. 

Terkait dengan itu, IWEC hendak menurunkan artikel terkait peran perempuan dalam bidang literasi, khususnya di Indonesia. Para perempuan ini, tidak hanya kalangan penulis, tapi juga penggerak literasi. Siapa saja mereka? 

 

Nursyda Syam (Pendiri Klub Baca Perempuan)

Nursya Syam dengan putranya. Sumber aditgoshgosh.wordpress.com

“Menghebatkan wanita berarti mendidik sebuah keluarga, dan akhirnya, sebuah negara. Bagaimanapun, ibu adalah tempat anak pertama bertanya. Apa jadinya sebuah bangsa jika para ibu tidak cerdas?” – Nursyda Syam dikutip dari laman femina.co.id.

Nursyda Syam adalah pendiri Klub Baca Perempuan (KBC) di Lombok. KBC ia dirikan pada 2006. Ia mengajak kaum perempuan, khususnya ibu, untuk gemar membaca. Ia menyediakan buku-buku di depan rumahnya untuk dibaca secara gratis. Bahkan, Nursyda Syam keliling ke rumah-rumah warga dan merekomendasikan bacaan pada kaum ibu.

Nursyda Syam, pendiri Klub Baca Perempuan. (Sumber: aditgoshgosh.wordpress.com)

Baginya, membaca membuat seseorang berdaya. Ia sendiri merasakan hal itu. Maka, ia ingin agar kaum perempuan lainnya ikut berdaya. Jika perempuan, khususnya ibu berdaya, keluarga pun ikut berdaya. Bangsa yang besar, bagaimanapun dibentuk oleh komunitas-komunitas yang lebih kecil. Keluarga adalah komunitas terkecil itu.

Atas kiprahnya mengembangkan Klub Baca Perempuan, ia terpilih sebagai salah satu tokoh penggerak yang dipilih oleh Kick Andy! Pada Oktober 2016, ia juga meraih Frans Seda Award, penghargaan yang diberikan bagi insan muda Indonesia di bidang pendidikan dan kemanusiaan. Perempuan kelahiran 17 Agustus 1979 itu juga mendapatkan anugerah Perempuan She Can! Pada 2013 juga Indihome Woman Educator Award pada 2014.

 

Luckty Giyan Sukarno (Pustakawati Sekolah)

Luckty Giyan Sukarno, pustakawati SMAN 2 Metro Lampung. Sumber: Facebook.

Luckty Giyan Sukarno mencoba menaikkan citra pustakawan menjadi jauh lebih positif. Bahwa, pustakawan bukanlah sekadar ‘menjaga’ perpustakaan, pasif, duduk-duduk saja menunggui pengunjung, dan tidak melakukan apa-apa. Pustakawan sejatinya adalah sosok yang aktif, kreatif, cerdas, dan punya sisi humor.

Pustakawan perempuan (pustakawati) di SMAN 2 Metro, Lampung, ini membuat profesi pustakawan menjadi lebih menarik. Ia aktif di media sosial sebagai narablog buku. Bahkan, karya tulisnya berjudul “Pengaruh Media Sosial Sebagai Salah Satu Promosi Perpustakaan” membuatnya meraih juara 1 lomba pustakawan berprestasi tingkat provinsi.

Luckty Giyan Sukarno, pustakawati SMAN 2 Metro Lampung. Sumber: Facebook.

Ia kerap menerima paket buku dari penerbit, merekomendasikan buku-buku pada siswanya, memfoto murid-murid dengan buku, membuat give away juga reward bagi pemustaka, membuat lomba selfie dengan buku, lomba menulis, membuat klub baca, dan beragam aktivitas lainnya. Ia membuat perpustakaan jadi tempat yang nyaman sekaligus atraktif bagi siswa. Membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Berkat kreativitas dan keaktifannya dalam mengelola perpustakaan, lulusan S-1 Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran Bandung ini beberapa kali mendapatkan penghargaan, antara lain: Juara 1 Lomba Tenaga Kependidikan Pustakawan Tingkat Kota Metro, Lampung; Juara 1 Lomba Pustakawan Berprestasi Tingkat Provinsi Lampung; juga mewakili Lampung di tingkat nasional sebagai pustakawan berprestasi. 

 

Nila Tanzil (Pendiri Taman Bacaan Pelangi)

Nila Tanzil di antara tumpukan buku di Taman Bacaan Pelangi (Sumber: http://assets.kompas.com/data/photo/2013/01/10/0357449p.jpg)

Nila Tanzil adalah sosok perempuan bertubuh mungil dan enerjik yang berada di balik pendirian Taman Bacaan Pelangi. Ia pertama kali mendirikan Taman Bacaan Pelangi pada 2009 di Desa Roe, Flores. Awalnya dengan 200 buku hasil donasi Nila. Kini, dengan bantuan donor dan relawan, Roe memiliki lebih dari 3.000 koleksi buku.

Tak berhenti sampai di situ, Nila Tanzil di bawah payung Yayasan Pelangi Impian Bangsa, hingga kini telah berhasil mendirikan 37 perpustakaan untuk anak-anak yang terdapat di 14 pulau di Indonesia bagian timur, mulai dari Flores, Timor, Alor, Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Banda Neria, Pulau Bacan, dan Papua.

Nila Tanzil, pendiri Taman Bacaan Pelangi. (Sumber: http://smartmama.com/wp-content/uploads/2016/10/nila-inside-2.jpg)

Kiprah lulusan Master of Arts (MA) in European Communication Studies di  University of Amsterdam, Belanda tersebut berbuah penghargaan dari berbagai pihak, antara lain: Banyan Tree Award (2010), Tupperware SheCan! Award (2011), Indonesia’s Inspiring Youth and Women Award (2012), Kartini Next Generation Award: Inspiring Woman in ICT (2013), dan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI (2013).

Bayangkan, ribuan anak-anak Indonesia mendapat asupan bergizi dari buku-buku cerita yang diakses lewat Taman Bacaan Pelangi. Ini bisa membangkitkan imajinasi dan harapan mereka terhadap hidup. Sehingga anak-anak tersebut lebih berani untuk bercita-cita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *