8 Tip Asyik Menjadi Penulis Kisah Perjalanan

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar Menulis)

Jalan-jalan, menulis, dipublikasikan, dikenal luas, dan dapat honor atau royalti? Siapa sih yang tidak mau?

Belakangan ini banyak sekali bermunculan narablog perjalanan (travel blogger). Mereka adalah para pehobi jalan-jalan yang kemudian membagikan foto maupun cerita mereka melalui blog. Seru menyimak kisah mereka. Bahkan, blog mereka tersebut kerap jadi rujukan bagi peselancar di dunia maya sebelum memutuskan untuk mengunjungi destinasi wisata tertentu.

Ada pula hobiis jalan-jalan yang tidak puas sekadar menulis di blog. Mereka mengumpulkan remah-remah pengalaman mereka ke dalam naskah buku yang diajukan ke penerbit. Buku mereka pun diterbitkan dan diedarkan ke berbagai toko buku di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Kalau kamu perhatikan rak buku traveling, kamu akan mudah temukan nama-nama, seperti: Trinity, Agustinus Wibowo, juga Claudia Kaunang.

Nah, kamu ingin seperti mereka? Yuk, simak 8 tip berikut ini.

2
Fairuza Hanun Razak memandu para peserta Young Interpreter di mangrove trail Taman Nasional Baluran
  •  Tulislah dengan sudut pandang orang pertama

Gunakan kata ‘aku’ atau ‘saya’. Ini akan membuat tulisan perjalanan kamu lebih terasa personal. Kamu seakan-akan bercerita pada sahabatmu. Ceritamu akan terasa lebih menarik. Lebih hidup. Antara kamu sebagai penulis dan orang lain sebagai pembaca, terkesan tiada jarak. Dan, tulis sealamiah mungkin kamu sedang berbicara. Jangan berusaha membuat orang lain terkesan dan memuji-mujimu. Buatlah tulisanmu menghibur.

  • Temukan ‘kail’ yang memikat

Mulailah tulisanmu dengan sesuatu yang memikat. Jangan menceritakan hal pertama yang kamu lakukan saat memulai jalan-jalan. Daripada menuliskan bagaimana kamu ke bandara, mending langsung tuliskan hal yang menarik. Misalnya: Pernahkah kamu bayangkan hidup di pulau terpencil dengan puluhan buaya yang siap menyantapmu kapan saja?

  • Jadilah reporter

Menjadi penulis perjalanan itu harus siap bekerja laiknya reporter. Kamu tidak sekadar jalan-jalan dan melihat kiri kanan. Kamu harus pasang telinga baik-baik, mencoba makanan, menyentuh, menghirup aroma, dan merasakan. Kamu harus mencatat. Kamu harus bertanya. Kamu harus memerhatikan sekitar dengan saksama.

1
Zaki, siswa SMP Sekolah Alam Insan Mulia, menjadi salah satu peserta Young Interpreter Indonesia Writing Edu Center, sedang berjalan di hutan Taman Nasional Baluran
  • Tulislah dengan hidup

Ini lanjutan dari poin pertama. Jangan biarkan pembacamu mati kebosanan untuk mengikuti tulisan yang tidak menarik sama sekali. Nah, biar tulisanmu hidup, gunakan dialog. Kutip pernyataan penting dari orang-orang yang kamu temui di perjalanan. Pastikan informasi dari mereka memang kredibel dan bisa dipercaya.

  • Menulis secara ekonomis

Tahu kan bedanya antara orang yang boros dengan orang yang ekonomis? Nah, dalam menulis pun, ada orang yang demikian. Ada yang suka menghamburkan kata-kata, ada juga yang hemat. Hemat bukan berarti kalimatmu terpotong-potong sehingga terkesan pelit. Hemat atau ekonomis, artinya kamu menulis dengan kalimat yang pendek-pendek dan memenuhi Subjek + Predikat + Objek + Keterangan. Ini akan membuat pembacamu bisa menghela napas. Tidak terengah-engah karena membaca kalimat yang panjang.

  • Cek fakta

Kamu harus pastikan data atau fakta yang kamu tuliskan memang benar adanya. Misalnya: harga tiket, harga sewa, tarif penginapan, harga makanan, dan fakta-fakta lainnya. Tidak harus fakta yang terkait angka, tapi juga terkait kebenaran. Apakah benar orang wajib naik jeep ketika mereka ke Bromo? Tidak adakah alternatif lain? Benarkah Pantai Pink itu ada di Pulau Lombok? Dan seterusnya.

  • Ketahui pembacamu

Saat menulis kisah perjalananmu, pastikan kamu tahu siapa yang akan membaca tulisanmu. Apakah anak-anak? Apakah anak muda? Apakah kaum perempuan urban? Apakah maniak jalan-jalan? Apakah orang-orang yang punya minat wisata khusus, seperti: paragliding atau arung jeram? Dengan mengetahui untuk siapa tulisan itu kamu tujukan, kamu pun akan bisa menyesuaikan banyak hal, entah itu gaya bahasamu, pilihan diksimu, fakta yang hendak kamu sajikan, dan sebagainya.

Zaki dan Bimo, dua dari tiga peserta Young Interpreter Angkatan 1, sedang asyik menulis di halaman belakang Baloeran Ecolodge
Zaki dan Bimo, dua dari tiga peserta Young Interpreter Angkatan 1, sedang asyik menulis di halaman belakang Baloeran Ecolodge
  • Jaga renjana

Terakhir, apa pun itu, kamu perlu menjaga renjana (passion) menulis dan jalan-jalan ini. Memang tampaknya menulis kisah perjalanan itu suatu hal yang menyenangkan. Kamu jalan-jalan, menulis, dimuat, kemudian mendapat honor. Terus seperti itu. Pasti ada titik jenuh juga. Nah, pastikan kamu bisa menjaga ritme jalan-jalan dan menulismu tetap seimbang dengan kehidupan sosialmu lainnya. Misalnya: di akhir pekan, kamu tidak melulu pergi liburan, tapi kamu mengisinya dengan kumpul bersama keluarga atau istirahat di rumah sambal mendengarkan musik atau nonton film favofitmu.

Akhirnya, selamat jalan-jalan dan menulis. Jangan lupa bahagia! 🙂

 

*Tulisan ini diambil dari Modul Young Interpreter Angkatan 1 yang diadakan oleh Indonesia Writing Edu Center di Baloeran Ecolodge pada 13-15 Agustus 2016.

Share This: