Ajari Anak di Rumah, Pendekatan Belajar Secara Alami

IWEC2

SATU minggu ini atrium utama Grand City Mall & Convex diwarnai aksi lucu para penulis cilik. Mereka melakukan talk show, berlomba, memamerkan hasil karyanya, hingga berlatih berbagai kerajinan tangan dengan memanfaatkan kertas-kertas bekas. Kegiatan-kegiatan mengasyikkan itu adalah beberapa di antara serangkaian acaraMenembus Dunia dengan Menulis-Tulisanku Mengubah Masa Depan Lingkungan yang diadakan lembaga kursus menulisIWEC (Indonesia Writing Edu Center).

IWEC adalah suatu lembaga yang bertujuan mengasah kemampuan menulis mulai usia belia hingga dewasa. Umurnya masih muda, kurang lebih satu tahun. Walau begitu, tak tanggung-tanggung, dalam eventkemarin tiga buku karya siswa berhasil di-launching sekaligus dikomersialkan untuk umum.

Membukukan buku semacam itu, ujar Maylia, bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya juga ada art book karya para siswa sebagai tugas saat kelas menulis menelusuri sejarah kota. ’’Membuat buku semacam ini bisa jadi portofolio siswa. Suatu ketika, saat semua portofolionya dikumpulkan, mereka akan bisa memetakan seberapa besar pencapaiannya,’’ ujarnya.

’’Model pembelajaran di IWEC dibuat semenyenangkan mungkin. Menulis biasanya dianggap hal yang boring. Padahal, dengan menulis, kita bisa melakukan adventure,’’ ungkap ibu tiga anak itu.

Sambil melakukan kegiatan apa pun, ungkap Maylia, sang anak dapat menemukan bahan untuk menulis. Menulis, menurut dia, adalah suatu kompetensi yang sangat bisa diasah.

Ada tiga hal, lanjut dia, yang amat memengaruhi kemampuan menulis sang anak. Pertama, sumber bacaan yang biasa dibaca. ’’Akan tersirat pada apa yang mereka tulis,’’ ujar Maylia.

Kedua, tingkat kepekaan yang dimiliki anak. Kadang, anak-anak bahkan bingung menceritakan kejadian-kejadian simpel yang mereka alami. Hal itulah yang perlu diasah agar anak memiliki pengamatan yang tajam dan bahasa yang mengalir saat menulis.

Ketiga, faktor stimulus dari orang tua. Bagaimana dalam keseharian orang tua mengajak berkomunikasi dan mempersuasi anak akan tergambar dan terkait jelas dengan hasil tulisan anak.

Membangun IWEC, bagi Maylia, bagaikan mimpi lama yang sempat tertidur panjang. Memang, bisa dikatakan lembaga ini dibangun dari kepingan-kepingan masa lalu yang dirakit kembali. Sebagai pengendali penuh, Maylia terlibat di semua lini, mulai manajerial seperti penyusunan modul. ’’Saya bikin sendiri semuanya berdasar pengalaman,’’ ungkapnya.

Meski bisa dibilang tak punya pendidikan menulis, Maylia tak patah arang. Lulusan Akuntansi Universitas Airlangga itu memendam cita-cita mendirikan sekolah dengan sistem pendidikan yang menghargai setiap kompetensi siswa. Setiap anak, kata dia, memiliki cara belajar yang berbeda-beda. ’’Seharusnya sekolah yang menyesuaikan cara belajar anak, bukan anak yang dipaksa mengikuti cara sekolah,’’ katanya.

IWEC, bagi Maylia, merupakan langkah awal untuk mencurahkan ide dan pemikiran terkait pendidikan, salah satunya lewat budaya menulis. ’’Menulis mengajarkan anak lebih peka pada lingkungan. Mereka melakukan riset, observasi, dan menyampaikan ide secara runtut dan rapi,’’ ucapnya.

Niatan untuk memberikan pendidikan terbaik juga dia tunjukkan dalam kehidupan pribadi. Selain bertindak sebagai full time mother, perempuan kelahiran 14 Mei 1979 itu adalah full time teacher bagi tiga buah hatinya. Dengan sistem home schooling, Maylia mengasuh serta mendidik anak-anaknya secara mandiri di rumah.

’’Dulu sempat mau mendaftarkan anak ke sekolah umum. Tapi, waktu saya dikasih tahu harganya, lalu saya bandingkan dengan fasilitas yang didapat anak di sekolah, sepertinya enggak worth it,’’ ujarnya.

Dengan home schooling, menurut Maylia, selain bisa mendidik langsung sang anak, dari sisi ekonomi cenderung lebih murah. ’’Tidak perlu seragam, transportasi, biaya bulanan, dan macam-macam. Buku kakaknya juga bisa dipakai adiknya lagi. Namanya juga orang akuntansi, ya jadi banyak hitung-hitungan, haha,’’ kelakarnya.

Waktu yang dihabiskan bersama anak, lanjut dia, otomatis menjadi lebih panjang. Apalagi, dengan ibu yang langsung bertindak sebagai guru, Maylia merasa telah menjalankan sepenuhnya tugas sebagai madrasah pertama bagi anak. Perkembangan karakter serta pengetahuan umum sang anak mutlak di bawah asuhannya.

’’Belajar itu tak punya batasan waktu. Saya menanamkan belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Anak-anak belajar untuk selalu kritis dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka,’’ ungkapnya.

Dengan metode belajar seperti itu, anak-anak bisa lebih mengembangkan potensi dirinya. Kedua buah hatinya, Fairuzza Hanun Razak, 10; dan Ashalina Ghina Razak, 7, mencontohkan bagaimana menyenangkannya belajar sesuai dengan apa yang diinginkan. Sering kali, mereka melakukan penjelajahan keliling kota, menemui orang-orang yang bisa menjadi guru, hingga mengunjungi berbagai wahana belajar di alam.

’’Kami paling sering pergi ke Taman Nasional Blauran. Hanun dan Asha sudah hafal, bahkan bisa jadi pemandu wisata kalau ada turis asing ke sana,’’ ujar Maylia. Karena itu, tak heran jika cita-cita kedua bocah ini pun unik. Menjadi petani dan peternak.

Kebiasaan menulis pun berusaha ditanamkan sedari kecil oleh Maylia. Setiap harinya, setiap anak akan melakukan story telling pada sang ibu. Hal tersebut, ungkap Maylia, penting untuk membuat anak merasa dihargai. Kecepatan otak memproses ucapan memang lebih cepat dibanding kecepatan yang digunakan untuk menulis. Dengan begitu, anak membiasakan idenya mengalir tanpa penghalang.

’’Setelah itu, baru belajar menulis. Ketika mereka buntu mau menulis apa, saya bilang, anggaplah seperti kamu ngomong sama diri sendiri. Mengalir saja,’’ ujarnya.

Metode pembelajaran di IWEC, jelas Maylia, juga tak jauh-jauh dari bagaimana kesehariannya mengasuh sang buah hati. Setiap siswa diajarkan untuk terlebih dahulu menganggap proses belajar adalah hal yang menyenangkan. Yang mereka lakukan juga adalah metode komunikatif bak teman sebaya. ’’Ada ice breaking, kegiatan camp, penjelajahan, dan lain-lain,’’ ungkapnya.

Untuk memperbaiki kemampuan deskripsi, misalnya. Maylia mengajak para siswa ke taman dan mendekati sebuah pohon. Lalu, tiap-tiap siswa akan mendeskripsikan pohon lewat lima pancaindranya. Bagaimana pohon terlihat, terasa, tercium, dan lain-lain. Metode belajar yang melibatkan semua elemen lingkungan seperti itu akan memaksimalkan semua potensi anak.

’’Untuk hal-hal lain seperti EYD dan tata bahasa, kita biasakan lewat tutur kata sehari-hari. Jadi, tidak tulisan saja yang benar, tapi juga saat berbicara,’’ ujarnya.

Bagi Maylia, sekolah paling pas memang keluarga. Dan sampai saat ini, dia masih bisa menjalankan itu semua secara konsekuen. (*/c17/dos)

 

Sumber: http://www.pustakaindonesia.org/index.php/article/read/25/Maylia-Erna-Sutanto-Pendiri-Lmbg-Kursus-Menulis-IWEC-Ajari-Anak-di-Rumah-Pendekatan-Bljr-scr-Alami

Share This: