ALLISHY

Oleh: Quinsima Meihua Qairunnisa (Siswa Kelas Menulis IWEC)

         Hai, namaku Allishy. Aku baru saja berumur empat belas tahun. Semua anggota keluargaku merupakan orang indigo, tapi entah kenapa, aku  berbeda dari mereka.

         Semua berawal dari keisengan kakak perempuanku ketika aku masih kecil.

         “Hei… Allishy apa kamu bisa melihat itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah meja makan.

         “Apa?”jawab Allishy

         “Sungguh!? kau tak melihat apa-apa?” tanyanya tidak percaya.

         “Ah, kakak jangan menakutiku!”

         Tanpa berkata apa-apa, kakak berlari menuju kamar ayah dan ibu dengan wajah aneh. Aku ditinggal seorang diri di ruang keluarga dengan penuh tanda tanya.

         Semakin bertambah usia, aku mulai mengerti apa yang membuatku aneh di keluarga ini. Sempat aku berpikir, apakah aku anak angkat ayah dan ibu? Atau aku anak yang mempunyai kelainan? Saat kutanyakan langsung kepada ibu, beliau kaget dan heran. Segera ia tunjukkan akta kelahiranku beserta bukti lain agar aku percaya bahwa aku benar-benar anaknya. Namun, entah mengapa, awalnya aku anak yang ceria, kini berubah menjadi anak yang kaku dan pendiam.

                 Di sekolah, aku mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan. Teman-teman menjauhiku tanpa sebab dan mengolok-ngolokku. Mereka menyebutku si anak cupu, anak angkat, bahkan sampai anak pembawa sial. Sebenarnya, aku tidak terlalu memedulikan mereka, karena masih ada teman yang peduli denganku. Tidak banyak, hanya dua anak, tapi aku beruntung mempunyai mereka. Euis dan Dannis, kedua sahabatku ini setiap hari menungguku untuk bermain bersama. Mereka bersikap biasa terhadapku. Mereka adalah sahabat yang paling dekat denganku.

         Semenjak depresi dan menjadi pendiam, aku pun bersikap dingin kepada semua orang, termasuk ibuku. Di rumah, aku selalu bangun lebih awal dan sarapan sebelum keluargaku bangun. Aku sudah terbiasa menyiapkan makanan sendiri, tanpa perlu bantuan ibu atau kakak-kakakku. Semua itu kulakukan karena aku menghindari banyak berkomunikasi dengan keluarga ini. Satu-satunya hiburan yang kupunya saat di rumah adalah boneka yang kuberi nama Mia. Mia adalah hadiah ulang tahun kelima dari Ayah sebelum beliau hilang entah kemana.

         Ayahku menghilang sejak lima tahun lalu, tepatnya pada dua puluh tiga November. Pada saat itu, adikku menangis kencang karena boneka kesayangannya yang katanya ghaib, bernama Challn, tertinggal saat ia bermain di gudang Mr Fauzi. Rumah dan gudang Mr.Fauzi sudah lama ditinggalkan. Orang sekampung sudah tahu jika rumah dan gudang itu memang berhantu. Rumah dan gudang itu berada di ujung perumahan, dulunya Mr Fauzi tinggal disana bersama keluarganya. Entah kenapa, sebulan tinggal di rumah itu, Mr Fauzi dan keluarganya hilang secara misterius. Sampai saat ini, Mr Fauzi beserta keluarganya belum ditemukan.

         Malam harinya, adikku meminta ayah untuk mencari bonekannya di gudang Mr Fauzi dalam kondisi hujan lebat disertai petir, membuat suasana semakin mencekam. Meskipun begitu, ayah nekat pergi ke gudang Mr Fauzi.

         Hujan sudah reda saat dini hari, namun ayahku belum kembali ke rumah. Sampai sepekan berlalu, ayah tak juga kembali. Menghilangnya ayah tidak meningggalkan bukti apapun kecuali jejak darah di teras gudang Mr Fauzi. Dan sampai saat ini, ayahku sudah meninggal atau masih hidup, kami semua tidak tahu.

***

         Geng Beauty, adalah salah satu geng perempuan yang terkenal garang di sekolahku. Kali ini geng itu kembali berbuat ulah. Mereka yang berjumlah lima orang yakni Audrey, Teressa, Rini, Amelia dan Jessy, sebagai ketua Geng Beuty membakar seragam olahragaku dengan seenaknya sendiri. Anehnya, bukan mereka namun justru aku yang mendapat hukuman dari guru karena acting mereka yang sangat hebat dalam memutarbalikkan fakta. Sialnya lagi, belum bosan juga mereka menggangguku, hari itu juga aku dikunci di dalam loker hingga malam hari. Aku menangis ketakutan seorang diri, sampai akhirnya Pak Jefery, seorang petugas kebersihan mendengar tangisanku di dalam loker yang berbentuk persegi panjang ketika hendak pulang. Pak Jefery menolong dan mengantarkanku pulang sampai rumah.

         Keesokan harinya, Jessy dan gengnya menantangku uji nyali pekan depan di gudang Mr. Fauzi. Aku ingin sekali menolak, namun mereka pasti akan mengolok-ngolokku lebih kejam lagi. Akhirnya kuberanikan diri untuk menerima tantangan itu.

         Pagi itu, aku pun mengetahui satu rahasia besar yang tidak kuketahui selama ini tentang keluargaku dan Jessy. Jessy ternyata adalah saudaraku. Singkat cerita, Jessy adalah saudara dari kembaran nenekku. Dia adalah cucu dari kembaran nenek. Nenekku bernama Fatimah dan nenek Jessy namanya Fatma. Tapi entah mengapa, Nenek Fatma diusir dari rumah oleh orang tua mereka. Aku kaget mengetahui kenyataan ini, karena memang ibu tidak pernah menceritakan tentang nenek Fatma padaku. Lalu, di buku harian nenek yang tidak sengaja kutemukan di gudang, aku menemukan alasan mengapa nenek Fatma diusir saat itu.

         5 Juni 1521

         Yeay! Hari ini ulang tahunku dan Fatma yang ke 16 tahun! Tapi Fatma belum datang, aku sedih padahal ibu sudah menyiapkan tumpeng nasi kuning besar sekali. Ada sekitar 200 orang yang diundang tapi hingga malam Fatma belum juga datang. Dimanakah kamu Fatma?.

           

         6 Juni 1521

         Sehari setelah ulang tahun kami, Fatma diusir dari rumah. Aku melihat dari jendela kamar kami. Kemarin malam, ia datang bersama seorang perempuan kira-kira berusia 17 tahun. Aku keluar kamar untuk menyambutnya, tapi Mbok Ida menghentikanku, katanya ini urusan orang tua. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu di kamar, tapi syukurlah Ayah datang menenangkanku. Lalu, apa salah Fatma?.

 

         Setelah menyetujui tantangan uji nyali tersebut, aku mendengar rumor bahwa, dia berencana membunuhku di gudang Mr. Fauzi. Dengan alasan uji nyali itu, Jessy sudah merencanakan pembunuhanku dengan sangat matang. Tantangannya diadakan pada hari Jum’at, 13 November.

         Tapi ada yang aneh. Sebelum tantangan itu dimulai, entah kenapa Jessy bersikap manis kepadaku. Hari ini, ia datang ke rumah. Ibu sangat bahagia mengetahui aku mulai bersahabat baik dengan Jessy, saudaraku. Sikapku mulai melunak kepadanya, begitupun dengan Euis dan Dannis. Kami tidak lagi saling acuh.

         Aku bermain sampai larut sore dengan Jessy, hingga dia tidak sadar bahwa buku diarynya tertinggal di kamar tidurku. Karena penasaran, aku pun membacanya tanpa ijin.

 

         Sabtu, 5 september 2017

Hai Diary! Hari ini aku makan sup daging lezat seperti biasanya. Ibu membuat sup dengan daging kesukaan kami sekeluarga, daging manusia yang super lezat. Ibuku memang terbaik!.

 

         Aku menjerit tertahan di kamar! Jessy dan keluarganya memakan daging manusia? Aku benar-benar ketakutan sekali. Bisa saja kan dia akan membunuhku saat uji nyali nanti dan memakan dagingku? Oh, Tuhan, menyeramkan sekali ini. Aku bergegas memakai sweater dan pergi jalan-jalan untuk menenangkan diri.

***

         Di taman, seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di kursi taman menyapaku. Dia memakai jubah dan topi berwarna hitam serta membawa sesuatu yang terbungkus kain hitam yang diletakan di sebelahnya, sepertinya itu pisau. Aku ketakutan dan berusaha lari, namun dia berhasil menangkapku dan memintaku duduk menemaninya. Ternyata dia seorang pemburu ayam liar di hutan dekat taman. Kami berkenalan dan menjadi teman baik. Kuceritakan mengenai buku diary Jessy yang baru saja kubaca. Dia pun memberi nasehat dan menenangkanku. Aku merasa lebih tenang sekarang. Aku mengajaknya untuk membeli es krim yang sangat lezat di ujung taman, tapi dia menolak.

         Kami pun kembali menceritakan banyak hal, dari kisahku di sekolah sampai bagaimana dia bekerja memburu ayam setiap harinya. Tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang, ternyata Euis juga berada di taman sore itu.

         “Alisshy!” teriak Euis menghampiriku dengan wajah tercengang.

         “Hai, Euis juga disini? Sejak tadi?” tanyaku tersenyum.

         “Bentar, bentar, kenapa kamu bicara sendiri dari tadi?” tanya Euis ketakutan.

         “Bicara sendiri? Maksudmu apa? Aku sedang ngobrol dengan bapak tua ini, namanya Tuam,” jawabku sambil menunjuk kearah bangku di sebelahku.

         “A…apa… yang kamu maksud? Jelas-jelas di sebelahmu tidak ada siapa-siapa!” kata Euis gemetar.

         Kini aku mengerti.  Aku berlari meninggalkan Euis dan Tuam, air mataku jatuh, aku terisak. Semua kata-kata yang diucapkan keluargaku bahkan teman-teman di sekolahku ternyata benar, aku seorang indigo. Tapi aku tidak tahu sama sekali mengenai kebiasaan orang indigo pada umunya, misalnya saja, 30 hari sebelum orang meninggal, seorang indigo pasti mengetahuinya, tapi aku tidak! Aku tidak tahu sama sekali.

         Sesampainya rumah dengan tangis masih terisak, kudorong kakak perempuanku yang menghalangi tangga hingga terjatuh. Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Ibuku kaget melihat sikapku, beliau hendak memarahiku, tapi aku tak menghiraukannya. Aku membanting pintu dan mengunci diri di kamar lalu terlelap. Aku bermimpi berada di sebuah gudang yang tidak asing. Ya, ini gudang Mr. Fauzi. Di sana, Jessy sudah menungguku di tengah sebuah ruangan kosong.

         “Jess…, Jess… kita dimana ini?” tanyaku ketakutan.

         Jessy tidak menjawab, dia semakin mendekat denganku dan tiba-tiba mengeluarkan pisau dari tasnya. Dia mengarahkan pisau tersebut tepat ke arahku. Dengan wajah marah, dia mengarahkan pisaunya ke tubuhku.

         “Jesssssss!” teriakku kencang.

         Aku pun terbangun, ternyata semua itu hanya mimpi, syukurlah. Hari ternyata sudah pagi, aku bergegas keluar kamar dan menyiapkan sarapan sendiri seperti biasanya.

          Aku memasak dengan bahan seadanya dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku kaget melihat Tuam sudah berdiri tegap di gerbang sekolah.

         “Tuam, kok ada disini?” tanyaku penasaran.

          Tuam tidak menjawab, dia malah berlari meninggalkanku. Aku heran dan segera masuk kelas. Sepulang sekolah, aku melewati lorong di bawah jembatan penghubung antar kampung. Tidak biasanya jalanan ini sepi. Suasana menjadi begitu mencekam. Tiba-tiba seseorang membungkamku dari belakang dan aku pun tak sadar diri, pingsan.

         Setengah sadar aku terbangun. Aku berada di ruangan yang terasa tidak asing, aku merasa pernah ke tempat ini sebelumnya. Aku paksa memoriku untuk mengingatnya, dan sekarang aku teringat! Tempat ini adalah gudang Mr. Fauzi yang ada dalam mimpiku kemarin. Aku terhenyak. Aku takut sesuatu hal buruk terjadi padaku, apalagi seperti mimpi kemarin.

          Seorang lelaki paruh baya berdiri di ujung gudang. Langkahnya pelan menghampiriku. Aku ketakutan setengah mati.

         “Allishy! Hahaha,” panggilnya sambil membentak lalu diikuti tawa.

         Aku begitu ketakutan. Sungguh, jika ini mimpi, aku akan berusaha bangun dari situasi menegangkan ini. Namun sayang, ini bukan mimpi. Lelaki itu pun kembali berbicara dan semakin mendekatiku. Aku mulai menangis dan tidak dapat berbicara apapun.

         “Karena kau lah! Putri bungsuku meninggal! Karena kamu!” bentaknya semakin keras.

         “Kamu ingat kejadian dua belas tahun silam, hah…? Saat kamu dan sepeda minimu dengan cepatnya melintas di depan halaman rumah kami? Kamu ingat, hah…? Dengan enaknya sepeda mungil yang kamu kendarai itu menabrak adik Jessy yang masih berumur sembilan bulan dan baru saja belajar berjalan dengan lucunya? Kamu ingat itu, hah…?” jelas lelaki itu dengan nada tertawa lalu diikuti tangis.

         Tiba-tiba memoriku kembali pada kejadian tujuh tahun lalu. Saat kakak perempuanku menanyakan mengenai makhluk halus dan aku tidak memahaminya. Aku ditinggal seorang diri di meja makan dan menangis. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi keluar dan bermain sepeda. Aku melewati rumah Jessy yang erada dekat dengan rumahku, dan tanpa sengaja aku menabrak adiknya yang masih belajar berjalan. Setelah menabrak, aku langsung meninggalkan adik Jessy yang tergeletak tidak sadarkan diri. Saat itu aku tengah dalam kondisi sedih dan menangis.

         Kembali kuingat memori masa laluku yang sejak saat itu menjauhi ibu dan keluargaku. Menutup diri dari siapapun dan menjadi anak yang aneh dan pendiam. Aku melihat jendela gudang yang sudah keropos, cahaya matahari sore itu semakin meredup. Makin lama bayangan seseorang muncul dari balik jendela. Itu Tuam, aku yakin itu Tuam!

         Aku berteriak memanggilnya sampai pria yang menyekapku memandangku dengan tatapan aneh. Aku yakin, dia tidak bisa melihat Tuam. Aku terus berteriak memanggil Tuam.

         Tiba-tiba Jessy menggebrak pintu gudang dan berjalan menujuku. Tangannya memegang pisau sama persis seperti yang ada di mimpiku. Langkahnya semakin mendekat dan berada tepat di depanku. Oh Tuhan, apakah mimpi itu benar-benar akan menjadi kenyataan?

         Aku tidak sadarkan diri, yang aku tahu di sekelilingku semua berwarna putih. Tuam menghampiriku dan mengantarkanku ke sebuah pintu, dia menyebutnya pintu akhirat.

*The End*

 

Share This: