Athallah Fahrizal Anggoro: Diduga Disleksia, Ia Belajar Menulis di IWEC

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

Athallah Fahrizal Anggoro adalah salah satu siswa di kelas menulis remaja IWEC. Ia masih duduk di kelas 1 sebuah sekolah menengah atas yang condong pada pengembangan kreativitas murid-muridnya. Ia awalnya sempat diduga mengidap disleksia. Namun, dari pengamatan kasar tim IWEC, Rizal, panggilan akrabnya, berada pada spektrum autisme ringan.

Ia punya peminatan khusus pada otomotif. Sangat fokus. Kerap datang ke pameran otomotif, langganan majalah otomotif, punya mainan mobil-mobilan dalam jumlah banyak. Ia juga punya blog yang khusus mengulas otomotif. Tulisannya rapi dan runtut. Orangtuanya sempat mencurigai kalau tulisan-tulisannya tersebut merupakan hasil salin rekat dari internet atau majalah yang ia baca. Namun, setelah tim IWEC melakukan penelusuran dengan aplikasi plagiarism checker, terbukti kalau tulisan bukan plagiarisme. Itu memang orisinal kalimat yang ia rangkai sendiri.  

Nah, pada salah satu sesi kelas, Kak Lalu sebagai mentornya, meminta Rizal untuk mengembangkan ide dengan formula 5W1H. Inilah hasilnya. 

Rizal sedang menulis cerita di laptopnya.

Apa yang aku lakukan untuk mengembangkan kemampuan menulisku hingga aku bergabung di IWEC?

Aku banyak membaca majalah dan buku-buku seperti novel, kumpulan cerpen, buku cerita anak, dan lain-lain. Lama-lama aku jadi tahu cerpen seperti apa yang ingin kubuat. Aku mulai mencoba menulis cerpen yang kuinginkan.

Siapa yang menginspirasiku?

Aku terinspirasi oleh kisah Alanda Kariza dan Clara Ng di dalam buku My Life As a Writer. Kisah kedua penulis wanita itu sangat menginspirasiku untuk menulis. Apalagi ketika aku mengetahui bahwa Clara Ng menulis karena duka yang dialaminya. Aku mengalami cukup banyak kejadian suka dan duka sehingga ingin  kuungkapkan dengan menulis seperti kata Clara Ng, “Kalau kamu tidak bisa mengungkapkan yang ada pada dirimu, semuanya akan sia – sia”. Aku jadi berpikir, ternyata menulis juga dapat menjadi sarana mengungkapkan perasaan.

Di mana aku biasa melakukan aktivitas menulis?

Aku biasa menulis di rumah, tepatnya di kamarku. Aku sudah jatuh cinta dengan kamarku. Di kamar tidak ada yang mengganggu, jadi aku bisa konsentrasi menulis. Aku juga menulis di sekolah, ketika aku terbayang akan suatu cerpen yang ingin kubuat.

Kapan biasanya aku menulis?

Tidak ada patokan waktu, tapi aku biasa menulis di malam hari terutama sebelum tidur. “Di malam hari otak lebih aktif,” kata Clara Ng.

Meskipun demikian, aku masih bisa menulis di sekolah. Teman-teman boleh bersuara keras, tapi itu tidak mempengaruhi aku untuk membuat cerpen. Lama-kelamaan aku berhenti sendiri kalau sudah capek.

Kenapa aku tertarik untuk menulis?

Aku menulis karena rasa iriku dengan anak-anak KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Dulu aku pernah ke toko buku dan melihat banyak buku KKPK di sana. Aku iri dengan anak-anak itu karena di saat mereka belum 13 tahun sudah menerbitkan buku. Aku yang sudah 13 tahun belum menerbitkan buku sama sekali. Aku ingin menerbitkan buku, karena selain bisa membuat orang-orang tahu siapa diriku, aku juga ingin melampiaskan rasa iriku. Aku ingin bisa bersaing dan bahkan mengalahkan KKPK yang sudah populer itu. Aku ingin membuat prestasi. Aku ingin jadi terkenal.

Bagaimana kamu mulai belajar menulis sampai akhirnya kamu mampir ke IWEC?

Aku mulai menulis pada 2014, ketika aku masih berusia 13 tahun. Saat itu aku dan teman-teman disuruh bikin cerpen sendiri-sendiri. Aku memilih membuat cerpen berkarakter mobil, dan menceritakan sifat dari mobil itu. Kunamai cerpenku itu ‘Morrie Diary’, dan aku sangat senang dengan cerita itu. Aku sempat menambah hingga sepuluh halaman, karena cerita itu potensial untuk dikembangkan menjadi lebih menarik. Aku sempat berhenti menulis cerpen selama dua tahun. Aku pernah menulis cerpen tapi tidak keren dan tidak berhasil, akhirnya kuhapus.

Pengalamanku selama belajar di SMP membuatku ingin menulis cerpen karena apa yang kualami di masa itu membekas di pikiranku. Mulanya aku ingin menulis cerpen tentang seorang anak yang ingin bunuh diri, tapi akhirnya aku memutuskan untuk menulis kisah masa SMP.

Rizal dan Alicia, dua siswa di kelas menulis remaja IWEC sedang sibuk untuk melanjutkan cerpen mereka masing-masing

Setelah membuat pertanyaan-pertanyaan, Rizal kemudian diminta untuk merangkumnya dalam sebuah tulisan utuh. Inilah hasilnya.

 

It’s Me, Rizal!

Mulanya, aku hanya membaca majalah mobil yang kutemukan di rumah atau yang dibelikan orangtua. Lama-kelamaan aku ketagihan, dan akhirnya aku mulai menyukai mobil. Hingga kini, aku masih belum bisa menjelaskan kenapa aku suka mobil. Aku mulai mencari ciri-ciri mobil. Mobil adalah kendaraan kecil yang digerakkan oleh mesin dan memiliki empat roda. Mobil bisa dimuati hingga tujuh orang. Mobil memiliki atap, pendingin ruangan, radio, dan kursi yang nyaman.

            Yang paling membuatku suka pada mobil adalah mobil memiliki atap sehingga tidak akan membuat orang di dalamnya kehujanan, mobil memiliki mesin dan roda yang membuatnya bisa bergerak hanya dalam injakan pedal, dan mobil bisa ditumpangi hingga tujuh orang.

Aku mulai menulis sejak kelas 2 SMP, ketika aku disuruh membuat cerpen. Aku menulis cerpen tentang mobil, dan aku senang atas hasil karyaku itu. Apalagi setelah membaca buku My Life As Writer, aku semakin terinspirasi untuk menulis. Aku terinspirasi oleh kisah Alanda Kariza dan Clara Ng di dalam buku itu. Kisah kedua penulis wanita itu sangat menginspirasiku untuk menulis. Apalagi ketika aku mengetahui bahwa Clara Ng menulis karena duka yang dialaminya. Aku mengalami cukup banyak kejadian suka dan duka sehingga ingin  kuungkapkan dengan menulis seperti kata Clara Ng, “Kalau kamu tidak bisa mengungkapkan yang ada pada dirimu, semuanya akan sia – sia”. Aku jadi berpikir, ternyata menulis juga dapat menjadi sarana mengungkapkan perasaan.

Aku menulis karena rasa iriku dengan anak-anak KKPK. Dulu aku pernah ke toko buku dan melihat banyak buku KKPK di sana. Aku iri dengan anak-anak itu karena di saat mereka belum 13 tahun sudah menerbitkan buku, aku yang sudah 13 tahun belum menerbitkan buku sama sekali. Aku ingin menerbitkan buku, karena selain bisa membuat orang-orang tahu siapa diriku, aku juga ingin melampiaskan rasa iriku. Aku ingin bisa bersaing dan bahkan mengalahkan KKPK yang sudah populer itu. Aku ingin membuat prestasi.

Aku biasa menulis di rumah, tepatnya di kamarku. Di kamar tidak ada yang mengganggu, jadi aku bisa konsentrasi menulis. Aku juga menulis di sekolah, ketika aku terbayang akan suatu cerpen yang ingin kubuat. Aku biasa menulis di malam hari terutama sebelum tidur. “Di malam hari otak lebih aktif”, kata Clara Ng. Meskipun demikian, aku masih bisa menulis di sekolah. Lama-kelamaan aku berhenti sendiri kalau sudah capek.

 

Bagaimana menurut Anda mengenai tulisan Rizal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *