Beginilah Aksi Para Ksatria Buku di Car Free Day Taman Bungkul!

Oleh: Maylia Erna Sutarto (Pendiri IWEC)

Minggu pagi itu terlihat sedikit cerah meski diwarnai awan abu-abu yang terus bergerak ke arah selatan. Matahari kadang muncul. Kadang malu-malu mengintip dari celah awan kelabu tipis. Kadang menyeruak dari tumpukan awan putih. Sedikit rasa was-was menyelinap di benak kami semua. Khawatir kalau hujan turun tiba-tiba. Benar saja, selesai kami mendirikan posko acara “Iwec’s Got Book Warrior” – yang berisi kampanye membaca dan menulis, selain kami mengajak pengunjung Car Free day berdonasi buku untuk kawan-kawan kecil di daerah Papua, Lombok, dan Palu – hujan mendadak datang. Awalnya turun seperti gerimis kecil. Namun, beberapa menit kemudian, butiran gerimis kecil itu menjadi butiran-butiran air besar yang menghantam lokasi kami.

Guru-guru IWEC sibuk melayani pesan singkat dari orangtua dan kawan yang hendak ikut bergabung di kegiatan ini. Mereka menanyakan cuaca di Raya Darmo tempat Car Free Day berlangsung. Ini adalah boulevard di jantung Kota Surabaya dengan ikon terkenal, Taman Bungkul.

Siswa, orangtua, dan guru IWEC berkumpul di bawah lindungan pohon besar di trotoar jalan Raya Darmo. Shalina, salah satu siswa, mengembangkan payungnya. Begitu pula Papa Killa, ikut menawarkan payung, berbagi dengan yang lain. Sungguh pemandangan yang diliputi suasana kekeluargaan dan keakraban. Padahal di antara kami bisa dibilang jarang sekali bertemu. Tapi, memang kegiatan IWEC berupa outing, sering melibatkan keikutsertaan orangtua. Inilah yang membuat kami memiliki hubungan yang erat dan manis meski jarang berjumpa.

Pukul 07.45 hujan mulai mereda. Hanya butiran tipis seperti embun menetes yang tak lagi dihiraukan oleh CFD’er. Jalanan yang sempat senyap beberapa menit lalu, tiba-tiba kembali ditumpahi manusia.

Aktivitas mulai menggeliat. Orang-orang mengayuh sepeda, berjalan-jalan, juga ada yang berlari. Tim IWEC segera berbagi tugas dan membentuk kelompok. Kami berpencar dalam empat kelompok besar yang terdiri dari guru dan murid. Murid dan guru IWEC bertugas untuk berkampanye ke para pengunjung CFD. Mereka berbagi informasi pentingnya membaca dan menulis bagi anak, membagikan pembatas buku gratis yang bertuliskan kutipan-kutipan menarik tentang buku, serta mengajak pengunjung menjadi ‘Book Warrior’ dengan berdonasi buku, uang, serta membeli buku karya siswa IWEC. Keuntungan dari penjualan tersebut akan IWEC sumbangkan ke teman-teman di  Indonesia bagian timur.

Mereka semua bersemangat. Meski penolakan juga mereka dapatkan, tapi tidak menyurutkan antusiasme mereka untuk berkampanye. Mungkin karena sehari sebelumnya, saya menyiapkan mental mereka dengan menceritakan kehidupan teman-teman seusianya di wilayah Indonesia bagian timur.

book warrior
Kampanye membaca dan menulis yang dilakukan oleh tim Indonesia Writing Edu Center dalam acara bertajuk “IWEC’s Got Book Warrior”

“Apa perasaan kalian, ketika kalian tinggal di tempat yang tidak memiliki toko buku dan perpustakaan? Sedangkan di kota besar lain, begitu mudah untuk mendapatkan bacaan yang menarik dan bagus? Tumbuhkan empati kalian untuk berbagi dengan kawan-kawan lain yang kurang beruntung.”

Namun, berhubung hari Minggu itu bertepatan hari buruh 1 Mei, baru 15 menit kami menikmati keberadaan matahari cerah, pihak kepolisian yang bertugas mengamankan jalan, mengumumkan bahwa Car free Day akan segera usai tepat pukul 08.30.

Rentang waktu yang singkat untuk menggelar kegiatan amal IWEC pagi itu, cukuplah bagi kami untuk memperkenalkan program ini kepada masyarakat. Kami mendapat sumbangan buku cerita anak dan novel remaja sebanyak 30 buah, satu pembelian buku Iwec, dua orang memenuhi tantangan story reading dengan suara lantang, serta puluhan pengunjung yang bersedia mendengar informasi dari kami dan mendapatkan pembatas buku.

Keberhasilan IWEC’s Got Book Warrior yang pertama ini membawa sejuta semangat untuk pelaksanaan acara tersebut berikutnya.

Share This: