Belajar Menulis Itu Butuh Waktu Lama. Tidak Bisa Instan. Perlu Komitmen dan Konsistensi. Bisakah Orangtua Memahami?

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

“Menulis di IWEC 18 bulan? Hah, lama banget?”

“Duh, saya khawatir kalau anaknya tidak betah selama itu belajar menulis. Sayang dong, sudah sekian bulan menulis, terus berhenti di tengah jalan?”

“Belajar menulis lama juga, ya? Apakah bisa dibikin singkat-singkat saja?”

Di atas adalah beberapa contoh kalimat yang kerap kami dengarkan dari para calon pendaftar kelas menulis di Indonesia Writing Edu Center (IWEC). Kami perlu menjelaskan, memberi pemahaman, sekaligus mengedukasi para orangtua bahwa menulis itu keterampilan. Untuk bisa terampil butuh waktu. Apalagi menulis bukan sekadar aktivitas menggerakkan tangan untuk menggoreskan pena di atas kertas. Menulis adalah kerja otak. Latihan berpikir. Dan, tentu saja, itu PERLU WAKTU.

Siswa-siswi IWEC menulis untuk melatih kemampuan berpikir mereka, imajinasi juga nalar.

Latihan berpikir bukan sesuatu yang instan. Otak sendiri sudah sangat kompleks. Anda tentu memahami sendiri bagaimana melatih motorik kasar dan motorik halus anak Anda. Apakah semua terjadi begitu saja dalam waktu yang singkat?

Anak belajar berjalan saja, ia perlu mendapatkan stimulasi, tidak hanya dari asupan gizi yang membangun koordinasi otot dan tulangnya, tapi juga latihan-latihan. Awalnya tengkurap, lalu mulai duduk, kemudian belajar berdiri, barulah belajar melangkah, sampai kemudian ia bisa berlari.

Apakah itu terjadi dalam semalam atau seminggu atau sebulan?

Sama halnya dengan berbicara. Apakah begitu lahir, bayi Anda langsung bisa bicara? Langsung bisa memanggil nama ayah dan bundanya?

Tentu tidak.

Seorang anak perlu latihan yang berulang-ulang, dan ini dibantu oleh orangtua dan orang-orang di sekitarnya, untuk bisa mengucapkan kata sampai akhirnya berbicara.

Semua tentang proses. Semua butuh waktu.

Seinstan-instannya mi instan, tetap juga Anda butuh waktu untuk bisa menikmatinya, kan?

Lantas, mengapa belajar menulis di IWEC butuh waktu hingga 18 bulan?

Oke, sebelum membahasnya, berikut rincian belajar menulis di IWEC.

  • 1 bulan menulis senang-senang (fun writing)
  • 5 bulan teori dan praktik menulis
  • 8 bulan proyek penulisan buku
  • 4 bulan wicara publik (public speaking) 
Selesai menulis, kami membiasakan siswa untuk membacakan ceritanya di depan kelas. Teman-temannya menyimak dan memberi tanggapan. Ini latihan untuk memperkuat mental anak-anak agar berani dan percaya diri.

Satu bulan menulis senang-senang alias fun writing kami adakan sebagai sarana untuk menyamankan anak dengan kegiatan menulis. Bahwa menulis itu bukan sesuatu yang membosankan, yakni hanya duduk diam dan menulis. Belajar menulis juga bisa dilakukan dengan bermain-main. Bisa dengan suara, gambar, hingga bergerak. Anak-anak dibuat senang untuk bermain dengan kata, kertas, dan pensil atau bolpoin.

Lima bulan berikutnya, para murid kami di IWEC memasuki tahap belajar menulis dengan panduan modul. Kami menyusun modul pembelajaran yang memang akan mengarahkan anak-anak untuk nantinya makin lentur membuat cerita pendek. Sebab, target yang kami tetapkan untuk anak-anak adalah membuat proyek buku antologi cerita pendek. Dalam lima bulan pembelajaran ini, tiap materi per minggunya, kami siapkan juga seperangkat metode juga permainan. Ini lagi-lagi untuk menstimulasi kecakapan linguistik anak-anak lewat hal yang menyenangkan.

Dalam 6 bulan pertama ini, mereka tetap menulis tangan. Tentu ayah dan bunda tahu bahwa menulis tangan tidak hanya melatih motorik halus anak, tapi juga melatih kesabaran, keuletan, konsistensi, juga daya tahan anak-anak. Koordinasi antara otak dan tangan juga benar-benar dilatih di sini. 

Siswa-siswi IWEC membaca buku panduan menulis yang telah merangkum semua materi pembelajaran selama 6 bulan pertama.

Nah, memasuki bulan ke-7, barulah murid-murid IWEC kami bolehkan membawa laptop dan atau tablet untuk menulis. Pada fase inilah, anak-anak mulai mengerjakan proyek buku mereka. Satu anak menulis dua cerpen selama 8 bulan alias 32 kali pertemuan alias 64 jam. Jadi, satu cerpen (jika dikerjakan tiap kali hadir ke IWEC hanya butuh waktu 32 jam). Apakah cukup? Sejauh ini, cukup. Sebab, anak-anak pun kami dorong untuk melanjutkan naskah mereka di rumah. Jadi, tidak melulu mengandalkan pertemuan di IWEC. 

Dan, sejauh ini, hasilnya memang menggembirakan. Anak-anak yang belajar menulis di IWEC pada dasarnya suka membaca dan menulis. Laptop menjadi salah satu media yang menyenangkan bagi mereka untuk menuangkan gagasan-gagasan mereka. Jadi, tanpa perlu dipaksa pun, mereka akan dengan senang hati menulis di laptop. Bahkan, ada pula murid-murid yang kecepatan menulisnya bagus, bisa selesai sebelum waktu yang kami tetapkan. Tentu, tantangan dan pantauan terus kami berikan. 

Peluncuran buku “Confeito” karya empat penulis cilik IWEC pada Juli 2016 silam.

Fase terakhir yang harus dilewati oleh siswa-siswi IWEC adalah belajar wicara publik alias public speaking. Tujuannya agar anak-anak lebih percaya diri, lebih berani untuk menyampaikan gagasan-gagasan tertulisnya secara lisan. Bagaimanapun, kelulusan siswa-siswi IWEC akan dirayakan dalam bentuk peluncuran buku. Mau tidak mau, mereka harus bicara di depan hadirin. 

Jadi, dari penjelasan di atas, menurut Anda, apakah 18 bulan alias 1,5 tahun itu waktu yang lama? Coba pikirkan baik-baik. 

Post Comment