BULAN SEGITIGA

BULAN SEGITIGA

 

Oleh: Cahya Haniva

Aku terperanjat saat hangatnya bungkusan kacang rebus beradu dengan pipi bulatku. Tentu saja kamu pelakunya. Di balik kacang rebus lima ribuan itu aku melihatmu meringis usil sambil menyesap segelas kopi hitam panas dari gelas plastik.

“Serius amat nontonnya?”

“Iyalah. Aku berusaha ngertiin bahasanya. Udah lama nggak denger Bahasa Jawa kuno gini,” gumamku sambil mengunyah butir kacang rebus pertama.

“Wayang kulit itu hiburan, bukan mata pelajaran. Ngapain dipikir sih?” sambil mengatakannya, kamu mencomot biji kacang yang baru saja mau kumasukkan mulut.

“Ih… kebiasaan, deh. Ada minum nggak?”

Kamu menyodorkan gelas plastikmu padaku. Ragu-ragu aku menerimanya dan dengan cepat meneguk kopi hitammu. Panas dan pahit. Tentu saja, itu kesukaanmu! Kamu tertawa renyah melihatku kepahitan.

“Apaan nih? Pahit kayak gini kok diminum? Nggak pake gula ya?”

“Kopi itu dinikmati, bukan ditenggak. Kalau haus minum air gula sana, jangan main sruput kopi hitam.”

“Kalau pahit mau dinikmati apanya?”

“Kejujurannya. Nggak banyak yang merasa pahit tapi bisa jujur berkata pahit. Lebih banyak yang berbicara pahit di belakang.”

“Hmm… terserah deh… tapi aku masih haus,” cetusku cuek. Saat itu aku tak memperhatikan kamu sedang berbicara serius.

“Udah minum tapi masih haus? Mungkin kamu haus kasih sayang.” Setelah mengatakan ini, kamu tertawa terbahak-bahak.

Aku tak sampai membalas ledekanmu karena bunyi gamelan makin riuh. Ah, perang Barata Yudha dimulai. Aku mengalihkan perhatianku pada kopi, kacang rebus, dan candaanmu sejenak. Cerita dalang dan aksi para wayang itu begitu mengagumkan. Aku menikmati tiap ketukan gamelan dan sayup-sayup lengkingan suara sinden. Momen ini membuatku hanyut. Sama, seperti senyuman tengilmu itu. Aku menikmati keduanya.

***

Kita berjalan beriringan di tengah malam. Jalanan tidak sepi karena pagelaran wayang kulit masih berlangsung. Di kanan kiri jalan yang kita lalui, pedagang kaki lima berjejer menjajakan macam-macam makanan dan mainan. Beberapa mahasiswa, seperti kita, banyak yang masih nongkrong dan menikmati jajanan itu.

“Mau makan dulu nggak?”

“Enggak ah. Kenyang. Tadi sebungkus kacang rebus aku sendiri yang makan.”

“Ah, emang doyan aja kamu. Aku makan dulu ya. Tungguin.”

“Iya.”

Aku menjawab singkat sambil cari tempat duduk yang nyaman di trotoar. Kamu memesan sepiring tahu tek dan dua es teh manis. Sambil menunggu makanan datang, aku masih bengong berusaha mengingat-ingat plot cerita Pandawa yang tadi kulihat. Wayang kulitnya memang akan berlangsung sampai pagi, tapi kamu buru-buru mengajak pulang. Sayang sekali.

“Laper apa ngantuk?” kamu menyenggol lenganku saat bertanya, membangunkan lamunan.

“Enggak kok. Lagi liat bulan. Bulan purnama ternyata,” aku berkata seadanya, karena tidak mau ketahuan sedang melamun. Tapi aku tidak bohong. Saat ini memang bulan purnama.

“Hmm… Wajahmu kayak rembulan ya,” bahkan kamu belum menelan makanan di mulutmu saat mengatakannya. Aku terkesiap mendengar ucapanmu.

Selama dua detik kita berpandangan. Selama itu pula, kamu memandang serius ke arahku. “Ha?” hanya itu yang terucap dari mulutku. Mungkin hidungku juga langsung mekar saat mengatakannya, tanda aku gugup.

Kemudian tatapan seriusmu tiba-tiba berubah menjadi pandangan usil dan senyuman tengil. Kamu menelan sisa makananmu, kemudian berkata, “Kalau kamu kayak bulan, aku seperti bumi. Kamu tau nggak wajah bulan yang menghadap bumi itu selalu sama karena rotasi bulan lamanya sama dengan revolusinya terhadap bumi?”

Aku masing bengong.

“Trus aku kasihan sama bumi karena harus melihat wajah bulan yang bulat dan bolong-bolong kasar terus tiap hari.”

Aku merengut, berpikir sejenak.

“Maksudku wajahku bulat dan bolong-bolong, dan kamu nggak suka?”

“Yah, baru nyadar,” jawabmu cuek sambil melanjutkan makan malam hingga tandas. Aku minum teh manis yang rasanya sudah tak manis lagi di lidahku.

***

Lucy melotot hingga kedua matanya hampir lepas saat mendengar ceritaku. Aku hanya mengangguk lemas.

“Serius dia bilang kayak gitu? Trus habis itu dia nggak minta maaf?”

“Nggak. Dia nganter aku sampai kos, trus pulang. Dia juga nggak tanya kenapa aku diam aja selama perjalanan.”

“Kurang ajar bener tuh orang.”

“Dia bercanda sih. Biasalah. Cowok kan suka kayak gitu kalo bercanda sama temennya. Aku aja yang baper.”

“Iyalah baper! Kamu kan bukan cowok! Cewek itu paling sensitif ya kalo dibilang jelek. Apalagi kamu lagi nyimpen…”

“Dia gak bilang aku jelek kok. Dia berkata jujur,” kataku buru-buru memotongnya.

“Cewek cantik mana yang wajahnya bulat dan bolong-bolong kasar?”

Mendengar kata-kata Lucy, akhirnya aku membenarkan. Mungkin kali ini kamu keterlaluan dan aku tidak boleh terlalu sabar.

“Iya sih. Emang seharusnya aku gak deket-deket sama dia lagi. Bukan cowok baik-baik yang suka ngatain cewek dan nggak bisa jaga perasaan.” Akhirnya aku terpancing meluapkan emosiku.

Anehnya, Lucy terdiam saat aku mulai meledak-ledak dan meladeninya. Dia berusaha memberiku kode dengan pandangan mata dan arahan kepalanya. Aku baru sadar kalau dia menyuruhku untuk berbalik.

Voila!

Kamu berdiri di belakangku!

“Dompetmu ketinggalan di warung tahu tek kemarin. Karena kamu diam saja selama pulang, aku bingung. Trus jadi lupa mau balikin.”

Kamu menyerahkan dompet uang recehku dengan wajah datar, kemudian berlalu begitu saja tanpa pamit. Aku melongo tak bisa berkata apa-apa.

Setelah kamu menghilang di belokan, aku gantian melotot ke arah Lucy.

“Kenapa kamu nggak bilang? Sejak kapan dia ada di situ tadi?? Dia dengar semua yang kubilang dong? Kalo dia marah gimana?” cercaku.

Lucy merasa bersalah, namun dia tak punya pilihan. “Sekitar 30 detik sebelum kamu menyadari. Kamu sih, nggak peka. Aku kan udah kasih kode.”

“Bodo ah!” kesal, aku ikut-ikutan pergi ninggalin Lucy.

***

Minggu-minggu berlalu semenjak peristiwa itu. Kita tak pernah lagi jalan bersama, nonton, atau sekedar nongkrong di warung kopi dan makan mie instan favorit. Kamu hanya membalas pesanku seperlunya, tak pernah memulai perbincangan ketika tatap muka, dan berusaha sebisa mungkin menghindari kontak mata. Sampai pada suatu masa, aku merasa sudah tak perlu lagi membicarakan apa-apa di antara kita.

Namun hari itu kamu muncul di bandara, masih dengan wajah datar seperti biasa. Tak ada senyum tengil dan tawa garing. Tak ada lagi candaan kecil dan teriakan nyaring. Aku hanya bisa membendung air mata sampai jumpa. Kamu masih membisu dengan tatapan pilu.

Kamu tahu dari orang lain aku akan pergi meninggalkan kotamu, mungkin untuk selamanya. Aku senang kamu masih menyimpan tanda tanya, walau kita berpisah hanya dengan berjabat tangan biasa. Kamu menyerahkan kembali buku usang yang telah kamu pinjam entah dari tahun berapa.

***

Saat di pesawat, aku membuka lembaran pertama buku itu. Kamu menyelipkan sebuah kertas. Aku tersenyum kecil membacanya. Air mataku tak lagi tertahan.

“Kita sudah tak bisa lagi melihat bulan bersama. Tapi paling tidak kita masih bisa melihat bulan yang sama. Bulan yang segitiga. Ada aku, kamu, dan persahabatan kita di setiap sudutnya.” Kamu menulisnya dengan tulisan sandi rumputmu yang selalu kuingat.

Sejenak aku mengingat ceritamu, mengapa Drupadi menikahi kelima Pandawa. Mungkin karena kelima bersaudara itu sudah menganggap Drupadi adalah sahabat baiknya. Antara laki-laki dan perempuan yang bersahabat sulit untuk tidak jadi cinta.

Ah, sepertinya bukan itu jawabannya. Aku lupa. Lupa yang kusyukuri karena pada akhirnya masih ada alasan untuk memulai kembali cengkrama.

***

Share This: