Damianus Clairvoyance, Narablog Muda Penerus Raditya Dika?

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

Damianus Clairvoyance. Ia pemilik blog dengan alamat yang sama dengan namanya. Sabtu lalu (27/5) ia mengikuti kelas menulis blog di Indonesia Writing Edu Center untuk mengisi waktu liburnya. Kebetulan ia memang baru saja lulus dari SMP 1 Petra Surabaya. Jadi, jeda menuju masuk SMA 1 Petra (sekolah idamannya) ia pakai untuk belajar menulis. 

Ini sebenarnya inisiatif dari sang bapak, Antonius Phutut, yang seorang online marketer. Ia ingin anaknya punya aktivitas selain main gawai dan main internet di rumah. Dengan ikut kursus menulis, setidaknya bisa menambah asupan pengetahuan dan pengalaman Clair – panggilan akrab Damianus Clairvoyance – dalam menulis.

Selain itu, sang bapak punya alasan yang kerap disampaikan ke kedua putranya, “Orang bisa tahu rekam jejak pikiran kamu lewat blog.”

Dan, saya amat setuju. Sebab, saya juga seorang narablog sejak 2007. Saya merasakan manfaat yang luar biasa dari blog. Punya banyak teman dan kenalan, jejaring di dunia perbukuan, dan kesempatan-kesempatan berharga sebagai reviewer, baik jasa maupun produk.

***

Kami mengikutkan Clair di kelas remaja yang saya ampu tiap Sabtu. Untungnya, Alicia dan Rizal, dua murid saya di kelas remaja, sudah masuk ke tahap pembuatan cerita pendek. Mereka bawa laptop masing-masing, tinggal saya pantau perkembangan tulisan mereka.

Alicia, Rizal, dan Clair berkenalan satu sama lain. Saya menjadi ‘moderator’ di antara mereka bertiga. Clair yang berambut ikal, mengenakan T-Shirt merah marun bertuliskan “The Brain is Wider Than Sky” serta celana di bawah lutut warna abu-abu itu asyik saja mengikuti materi. 

Materi pertama yang saya berikan ke dia adalah tentang story telling. Bahwa, tulisan populer apa pun, termasuk yang ada di blog, kekuatannya ada pada story telling. Kemampuan menyampaikan cerita. Kalau seseorang sudah punya kemampuan berkisah yang baik, mau menulis jenis tulisan apa pun, pasti akan enak dibaca. Mengalir, runtut, easy read. Pastinya, harapannya, pembaca juga bisa memahami tulisan tersebut dengan baik.

Clair sendiri sangat menyukai buku-buku Raditya Dika. Ia punya semua bukunya. Mulai dari Kambing Jantan hingga Koala Kumal. Dan, saya pantau tulisan-tulisan yang diposting di blognya pun, Clair punya gaya menulis yang mirip dengan Raditya Dika. Humoris, tapi tetap dengan pesan yang kontemplatif di akhir tulisan. 

Ini memang makin menguatkan pesan bahwa apa yang kita baca, itulah yang kita tulis. Jenis bacaan akan memengaruhi jenis tulisan. Ibaratnya, jika kita menuang air teh ke dalam ceret, maka yang keluar juga air teh. Tak mungkin air sirup atau air kelapa muda. 

Clair memang mengisi blognya dengan pengalaman hidupnya sehari-hari. Karena ia seorang pelajar SMP, maka tulisan-tulisannya di blog tidak jauh dari itu.

Ya, pengalaman adalah hal paling dekat dengan seseorang. Tiap orang pasti punya pengalaman. Namun, tidak semua pengalaman itu menarik untuk diceritakan. Maka, seseorang perlu memilah dan memilih, mana pengalaman yang layak dituliskan (biar pembaca tertarik dan suka) dan mana yang tidak. Untuk itu, orang harus jeli mengamati. Jeli melihat sekitar. Jeli mengobservasi dengan kelima indranya. 

Lantas, jika sudah punya pengalaman dan kemampuan mengamati, langkah berikutnya adalah menjentikkan bumbu imajinasi di dalamnya. Imajinasi ini bukan sekadar untuk menjadikan tulisan kita, yang awalnya nonfiksi menjadi fiksi lho. Namun, kemampuan berimajinasi ini perlu dimiliki oleh seorang penulis, biar ia bisa menghidupkan pengalaman dan pengamatannya tersebut. Pembaca pun akan mudah membayangkan pengalaman si penulis dalam benak mereka.

Saya memberi tantangan pada Clair untuk mencoba menuliskan pengalaman kulinernya. Alasan saya, pengalaman ini yang paling cukup komplet untuk bisa diindra. 

Tantangan lain adalah Clair kudu menceritakannya dari sudut pandang orang kedua. Sudut pandang ini identik dengan penggunaan kata ‘kamu atau Anda atau Saudara’. Karena Clair sudah terbiasa dengan penggunaan sudut pandang orang pertama. Ia di sekolah juga dipahamkan oleh gurunya dengan penggunaan sudut pandang orang ketiga. 

Sebelum kelas usai, saya juga memberi latihan untuk ia kerjakan di rumah, yakni memilih dua di antara tiga materi, antara lain: menulis review (buku atau film), menulis tentang impianmu, dan menulis 7 hal menyebalkan di sekolah. 

Mari nantikan seperti apa hasilnya! Cek aja di blog si Clair.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *