Dira Ernawati, Doktor dan Pebisnis yang Membekali Putrinya dengan Buku dan Keterampilan Menulis

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

“Menulis itu menurut saya cara paling tepat bagi semua orang untuk bisa menjadi diri sendiri. Bisa jujur mengeksplor apa yang dirasakan dan diinginkan.”

(Dira Ernawati)

Menulis adalah salah satu kecakapan berbahasa yang perlu dimiliki oleh setiap orang, selain menyimak, membaca, dan berbicara. Untuk mampu menulis, memang tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa dilatih. Latihan ini untuk membuat kita terbiasa. Jika sudah terbiasa, maka menulis – ini berlaku juga untuk keterampilan yang lain – akan menjadi sebuah kebutuhan. Semisal, sehari saja tidak menulis, maka akan terasa ada yang kurang atau ‘tak enak’. 
 
Pekan lalu, IWEC berkesempatan mewawancarai Dira Ernawati, ibu dari salah satu siswa kelas menulis anak, Shakillanaura Kheysa Adifa (11 tahun). Wawancara yang dilakukan via surel dan Whatsapp ini berlangsung gayeng. Kendati sibuk mengurus dengan urusan keluarga, kampus, dan bisnis, tapi itu tidak menghalangi beliau untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Bahkan, dengan kesibukan di dapur, ia sempat-sempatnya mengingatkan saya via Facebook, “Bentar yang 3 nomor terakhir, Kak. Disambi nyiapin ote-ote untuk buka puasa sambil mikir jawabannya.” 
 
Bagi ibu dari dua anak ini, menulis adalah sesuatu yang penting, apalagi untuk anak sesuai Kheysa yang sedang bertumbuh mencari jati dirinya. “Dia mau jadi apa, mau apa, gak suka apa, sukanya yang seperti apa, nyaman berteman dengan siapa, mau diperlakukan seperti apa, itu semua bisa mudah dia ceritakan dalam bentuk tulisan.” 
 
Bu Dira Ernawati dengan suaminya, Fajar Suryadi, dan dua anaknya: Raditya Khansa Adifa dan Shakillanaura Kheysa Adifa. Sumber: Dira Ernawati

Bu Dira menilai bahwa anaknya termasuk kritis dan jujur dengan apa yang dirasakan. Sebagai orangtua, ia ingin agar putrinya tersebut punya tempat untuk mencurahkan perasaan juga emosinya.

Ia pun memilih IWEC sebagai tempat belajar menulis untuk anaknya. Perihal ini, lulusan S3 Teknik Industri ITS ini menyatakan kalau ia mendapat rekomendasi dari salah satu kenalannya mengenai IWEC. “Dan ternyata ekspektasi dan harapan saya bertambah lagi setelah tahu program-programnya dan melihat antusiasnya anak saya,” ujarnya. 
 
Memang, sebelum jauh menempuh pendidikan menulis di IWEC, Bu Dira terlebih dahulu memupuk kecintaan membaca dalam diri putrinya. Ia dan suami kerap mengajak anak-anaknya ke toko buku. Mereka pun membebaskan putra-putrinya untuk memilih buku yang disukai. 

Ia juga kerap menceritakan tentang para penulis cilik yang punya buku karya sendiri. “Saya ceritanya sambil berbinar-binar, dan pada akhirnya saya tawarkan ke dia untuk belajar menulis dan dia bersedia. Dari situ dia semakin semangat untuk suka baca buku karya orang lain dan semangat menulis,” tutur perempuan yang juga pebisnis online ini.

Mendekatkan anak dengan sumber bacaan, yakni toko buku, rupanya tak cukup. Bu Dira juga sering mengajak Kheysa dalam kegiatan yang dilakoninya. Salah satunya adalah ketika ia masih aktif menjadi Ketua Komunitas Perempuan Menulis Surabaya (KORELIS). 
 
Bu Dira Ernawati kerap mengajak Kheysa dalam tiap aktivitas yang dilakoninya. Ini tentu saja membuat ikatan di antara mereka makin menguat. Sumber: Dira Ernawati

“Dia melihat saya antusias menulis, mengirimkan naskah untuk ikut lomba menulis cerpen yang diadakan oleh penerbit di Leutika Prio lalu masuk jadi pemenang dan 3 karya masuk di buku yang berbeda. Dia melihat saya membuat buku kolaborasi dengan teman-teman penulis dan buku itu diterbitkan, mungkin dari situ juga Kheysa semangat menulis,” terang perempuan berzodiak Gemini ini.

Penelusuran IWEC di internet, rupanya Bu Dira juga telah menulis buku kumpulan puisi berjudul “Puzzle Cinta” terbitan Leutika Prio. Ia menulis cerpen dan puisi. Kecintaannya pada fiksi, ternyata menular juga ke bungsunya.  Tak heran jika berkunjung ke Gramedia, Kheysa suka memborong buku-buku kumpulan cerita pendek, novel, dan sejenisnya. Dampaknya, imajinasi Kheysa kian berkembang.

Padahal sebelumnya, ia melihat putrinya belum bisa menulis kalimat dengan runtut. Kheysa masih suka mengulang-ulang kata ganti orang. “Nah sekarang saya takjub banget dengan tulisannya, dan saya yakin ini berkat arahan Kak Lalu dan tim IWEC lainnya.”

Bagaimanapun, orangtua tak bisa melepaskan anaknya begitu saja pada lembaga-lembaga pendidikan yang mengasah minat dan bakat anak-anaknya. Kolaborasi antara lembaga dan orangtua tetap dibutuhkan. Bu Dira betul-betul menyadari hal ini.
 
“Kheysa ini otak kanannya lebih dominan. Jadi rada semrawut sih, tapi ingatannya tajam. Belajarnya sekedarnya saja, nulisnya tergantung mood dan kalau sepi malah dia nggak konsen. Jadi ya saya biarkan belajar sesuai maunya, palingan diingetin doang kalo rada dlewer. Terus kalo dia nanya dan sama-sama nggak ngerti, pasti kita searching ke mbah Google,” tutur perempuan kelahiran Tuban ini dengan menyertakan emotikon ngakak.  
 
Kheysa sendiri bercita-cita menjadi dokter spesialis anak dengan gelar profesor. Ia juga ingin menjadi dosen seperti sang bunda. Ia juga punya impian jadi penulis yang bisa menginspirasi anak-anak yang kelak jadi pasiennya.  
 
Bu Dira Ernawati dengan putri bungsunya, Kheysa. Sumber: Dira Ernawati
 
“Jadi, sebenarnya tak muluk-muluk sih harapan saya. Ketika Kheysa nyaman dengan dunia menulis, maka saya tak akan kesulitan untuk memintanya membaca. Dan pastinya ketika dia harus menjalani tahapan studinya, maka hal itu akan memudahkan saya untuk memintanya mencintai dunia literasi. Dan ketika menjadi dokter dan profesor pasti kemampuan menulis itu akan bermanfaat sekali untuk menebarkan ilmu yang dia miliki,” beber dosen Teknik Industri di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya ini.
 
Sebagai penutup wawancara, Bu Dira dan suaminya, Fajar Suryadi, menyematkan harapan pada Kheysa untuk bisa menjadi sosok yang terbaik untuk dirinya sendiri.
 
“Ia tahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya, pandai bersyukur, bisa beradaptasi dengan cepat di manapun berada, bisa memposisikan diri dengan tepat, dan bisa bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Yang paling penting dia harus bahagia menjadi dirinya sendiri.”
 

Post Comment