IKAN(G) MAS

Oleh Cahya Haniva

Kupikir anak laki-laki dan ibunya tadi adalah pelanggan terakhir. Tepat sebelum aku mulai menutup lapak, gadis itu datang. Gadis yang sepertinya aku kenal. Beberapa detik kuhabiskan untuk menyipitkan mata memperhatikan gerak-geriknya, berusaha mengingat di mana aku mengenalnya.

Aha! Dia adalah Sartina, gadis kecil yang dulu hampir tiap hari mendatangi lapak kelilingku. Dia senang melihat ikan-ikan dalam kantong plastik dan bertanya banyak hal, bahkan terkadang aku menjawab asal saja karena aku tidak tahu jawabannya. Apakah dia sering membeli ikan-ikanku? Tentu saja tidak! Bahkan dia tak pernah terlihat membawa uang.

Gadis ini begitu spesial karena memaksaku untuk kembali belajar. Kuhabiskan lebih banyak waktu untuk membaca majalah tentang budidaya ikan saat aku berkunjung ke pasar loak. Jika tak selesai membaca di sana, kukumpulkan beberapa keping koin untung dari penjualan 5 kantong ikan untuk membelinya. Jika tak ada gadis itu, mungkin saat ini aku hanya penjual ikan hias biasa, yang tak bisa bercerita apa pun tentang ikan.

“Hei, Sartina!” sapaku singkat dengan nada datar.

Melihat penampilannya sekarang, jujur aku sedikit takut salah orang. Kini dia berpenampilan lebih dewasa. Baju kurung dengan lengan yang digulung karena terlalu panjang, celana kulot yang warnanya sudah pudar, gelang rantai imitasi, celak mata yang lebih tebal, dan gincu merah darah. Terakhir kuingat satu tahun lalu saat terakhir kali mampir ke lapak, dia masih sekitar 10 tahun. Entah semenjak itu aku tak tahu pindah ke mana dia bersama ibunya.

Sartina tersenyum tipis. Sangat tipis, hingga aku hampir tak menyadarinya.

Hening.

Selama beberapa saat kami berkontak mata. Tak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya ke kantong ikan mas di sebelahnya.

“Ibumu menikah lagi?” saat ini sulit sekali bagiku untuk memecah keheningan dan mencairkan suasana seperti dulu.

Dia menoleh ke arahku dan memandang penuh misteri. Aku terhenyak. Dia menggeleng cepat, kemudian melihat-lihat ikan lagi. Aku sama sekali tak dihiraukannya.

***

Pertanyaanku tadi bukan tak berlandaskan apa-apa. Saat ini dia sedang menggendong bayi mungil yang mungkin usianya belum genap dua bulan. Tentu saja aku tau, istriku empat bulan lalu melahirkan anak ketiga kami. Aku paham benar bayi yang belum bisa mengangkat kepala itu usia berapa.

Walaupun sedang menggendong bayi kecil, tangan Sartina begitu bebas. Dia memegang kantong-kantong plastik dan melihat dengan detail ikan-ikan yang kujual. Sama sekali tidak ada interaksi dengan sang bayi.

Aku mengikutinya tanpa suara. Bukan berarti aku berharap dia membeli. Aku hanya ingin mendengar kabar darinya.

“Kau sudah punya uang buat beli ikan?”

Sartina menggeleng.

“Paman bohong.”

Itu adalah kalimat pertamanya setelah beberapa menit dia mampir ke lapak. Walaupun dia mengatakannya dengan perlahan, aku mendengarnya dengan amat jelas.

“Bohong?” aku berusaha bertanya sewajar mungkin.

“Paman bilang ikan mas hanya bisa mengingat selama tiga detik. Setelah tiga detik, dia akan melupakan semuanya, dan digantikan dengan tiga detik setelahnya.”

“Hmm…,” aku berusaha mengingat apakah aku pernah mengatakannya. “Menurut buku yang kubaca sih begitu. Mungkin salah?”

“Iya. Aku baca di sobekan majalah. Katanya ingatan ikan mas bisa sampai 5 bulan.”

“Benarkah?”

Aku senang percakapan kembali cair seperti dahulu. Aku tak peduli apa yang pernah kubaca salah, karena aku yakin gadis ini pasti menemukan kebenaran dengan caranya yang unik.

Belum sempat dia berargumen, terdengar suara tangis bayi. Dari wajahnya, Sartina terlihat panik. Dia mengayun bayi dengan gerakan gusar. Tidak seperti biasanya istriku menenangkan bayi kami. Mungkin dia hanya mengayunkan sebisanya, karena gendongan itu dan bayinya terlihat begitu besar di tubuh mungilnya.

Selama satu menit dia mengayun-ayunkannya, bayi itu tak kunjung berhenti menangis.

“Kamu mau bantuan?” tanyaku tulus.

Dia melihatku sejenak, kemudian menggeleng cepat. Dia mengeluarkan sebungkus roti dari kantong celana kulotnya, kemudian menggigit besar-besar, tak peduli gincu merahnya tersapu. Dia makan dengan amat cepat, kemudian membuang bungkusnya begitu saja di depan kakiku.

Sebelum habis dikunyahnya roti tersebut, dia mulai meraba dadanya. Inilah hal yang paling tidak ingin kulihat.

***

Dia mengeluarkan payudaranya, kemudian memasukkan putingnya ke mulut si Bayi. Sedari tadi dia datang, saat aku bertanya apakah ibunya menikah lagi, hingga saat ini, aku berharap bayi kecil itu bukan anaknya. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa itu bukan anaknya, bahwa mungkin itu adiknya, atau anak tetangganya, atau anak siapa saja yang diasuhnya. Ternyata ketakutanku  benar. Itu anaknya.

Aku melihat bayi itu minum dengan begitu kuat. Sesekali Sartina meringis. Mungkin karena sakit, atau merasa tidak nyaman. Aku tidak tahu. Dia pun terlihat cuek dan tidak peduli kehadiranku. Rengekan bayinya saat puting terlepas dari mulutnya membuatnya sedikit panik. Aku merasa bersalah tidak dapat membantu.

“Ehh… Sartina. Kau mau roti bluder? Aku punya dua.”

Aku mengambil roti dari belakang lapak dan menyerahkannya kepada Sartina. Yang kutahu, orang menyusui lebih cepat lapar. Entahlah, tapi itu saja yang bisa terpikirkan olehku untuk membantunya.

“Terima kasih,” ucapnya singkat sambil memasukkan satu rotinya ke saku celana dan menggigit yang lainnya.

Nanar, aku melihat aktivitas ibu menyusui yang tidak biasa ini.

****

Sartina masih berkeliling lapakku yang hanya dua meter persegi. Sepertinya dia sudah berputar-putar sepuluh kali memperhatikan satu persatu ikan mas. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain membiarkannya menghibur diri. Setelah satu tahun dia tidak mampir, aku tak yakin dia menemukan lapak ikan lain di dekat rumahnya sekarang.

Tak lama kemudian dia menghampiriku. Anaknya sudah tertidur pulas.

“Aku sedih. Selama ini aku mikir nggak apa-apa punya pengalaman yang buruk. Paling nanti aku juga lupa. Sama kayak ikan mas yang paman ceritakan. Tapi nyatanya pengalaman buruk teringat lebih lama. Sama kayak yang terakhir aku baca.”

Aku diam saja mendengar kata-katanya. Dia masih gadis kecil cerdas yang selama ini kuingat. Dia kembali berkeliling melihat ikan mas.

“Assalamualaikum, Pak Basri!”

“Ustad Rohim! Waalaikumsalam. Sudah kembali dari dakwah Sulawesi?”

Terkejut, tiba-tiba aku berhadapan dengan sosok alim paruh baya yang selama ini mengajarkan anak-anak kampung, termasuk semua anakku, mengaji di surau gratis. Selama setahun belakangan dia menjalankan misi dakwah keluar pulau. Selama itu pula kami tak pernah lagi bersua. Bahkan dahulu mampir ke lapakku pun dia tak pernah.

Ustad Rohim melihat penuh selidik ke kanan dan ke kiri lapakku. Akhirnya pandangannya jatuh pada sosok di pojok. Sartina dan bayinya. Segera dia menghampiri gadis itu, memegang tangannya kuat-kuat dan nyaris menyeretnya.

“Ayo!” hardiknya kasar, walaupun dengan suara yang sangat pelan.

“Maaf ya, Pak. Nanti saya akan membayar tiga kantong ikan kalau Bapak merasa dirugikan.”

Ustad Rohim merangkul pundak kecil Sartina kuat hingga dia dan anaknya merapat ke pelukan Ustad Rohim. Sartina menunduk dalam-dalam. Aku dapat melihat sekilas dia berjuang menahan air matanya.

“Tidak perlu, Pak. Sartina boleh mengambil yang mana saja. Untuk hadiah bayinya, kalau mau.”

“Kapan ngajinya kalau main ikan terus. Kang Masmu ini jadi nggak ada yang ngurus.” Ustad Rohim tidak berkata padaku. Dia hanya bergumam ke arah Sartina.

Tak lama mereka pamit pulang. Malam ini aku menutup lapak dengan hati yang hancur.

 

Share This: