JAI SI PENGOJEK PAYUNG

Oleh: Atunk Oman

Tahun baru, musim baru. Sejak Desember, hujan memang sudah turun, tapi cukup jarang. Kini di bulan Januari, hampir setiap hari hujan. Aku mulai diserang pilek beberapa hari terakhir ini.

Jika hujan turun, aku menikmatinya lewat jendela kamar. Aku suka sekali memandanginya. Serasa ada hal yang berbeda. Ada iramanya, ada hawanya, dan tentunya ada tetesan air yang jatuh. Tak jarang pula angin besar ikut bersahutan. Sampai-sampai beberapa pohon besar ikut bergoyang. Mengerikan.

Aku akan meninggalkan jendela ketika ada suara guntur atau petir yang menggelegar. Aku takut. Konon, listrik alami itu bertegangan tinggi dan bisa mematikan siapa saja bagi yang disambarnya. Aku biasanya menutup telingaku, atau aku langsung lompat ke atas kasur lalu berlindung di bawah bantal.

“Jika ada suara petir yang kencang, di samping berlindung, jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan, semoga diselamatkan,” tutur guruku suatu ketika. Sejak itu pula, aku tak lagi takut.

Hari ini, hujan kembali turun. Entah untuk yang keberapa kalinya di bulan Januari. Mama membelikanku jas hujan sehingga aku tak kebasahan di sekolah. Bahkan mama membelikannya dua buah jas hujan. Aku baru memakainya yang warna abu-abu saja.

Keluar kelas menuju parkiran mobil sekira 50 meter. Seandainya aku tak memakai jas hujan niscaya aku basah kuyup. Ada banyak juga yang memilih memakai payung, karena mereka menilai lebih simpel. Tapi aku lebih suka jas hujan, sebab aku bisa terlihat seperti astronaut.

“Leo, mau bareng aku? Ayo!” sapa Rush.

“Oh terima kasih, Rush. Aku bawa jas hujan kok,” jawabku sambil membuka tas lalu megeluarkan si abu-abu pemberian mama.

“Ya sudah aku duluan ya…”

“Baik, Rush. Hati-hati di jalan.”

Rush, teman sekelasku. Dia baik hati. Rumah kami tidak berjauhan. Dulu ketika masih kelas tiga, kami sering main hujan-hujanan bersama. Tentunya hanya di sekitar rumah saja. Barulah ketika ada kejadian pohon tumbang akibat petir, kami dilarang lagi bermain hujan-hujanan. Mama dan ayah khawatir jika kemudian kami mejadi korban.

Aku sudah di dalam mobil. Biasanya Pak John membawakanku payung, tapi aku enggan menerimanya. Aku lebih bangga memakai jas astronaut ini. Mobil kami melaju dengan perlahan. 35 menit kemudian kami mulai memasuki komplek.

Di pos satpam ada pemandangan yang tak asing bagiku. Seorang anak yang usianya tak jauh denganku. Ia berdiri memegangi payung besar namun tubuhnya basah kuyup dan menggigil.

“Pak John, mengapa anak itu kebasahan padahal kan dia bawa payung?” aku membuka dialog yang sedari tadi hening seperti kuburan.

Dia mengamati arah yang kutunjuk. “Oh itu, dia itu pengojek payung, Leo.”

“Pengojek payung? Maksudnya?” aku masih belum paham.

“Jadi, dia menyewakan payungnya kepada orang lain, tapi dia sendiri tidak memakai payung,” tutur Pak John. Ia memandangiku melalui kaca spion dalam.

“Uh, bodoh sekali dia!” hardikku.

“Ya begitulah, Leo. Anak-anak bukannya sekolah, belajar yang rajin malah bekerja! Cari uang! Mana kebasahan pula, kalau sakit apa tidak jadi masalah.”

Aku setuju dengan pendapat Pak John. Tanpa banyak tingkah, aku tak lagi mau mengamati bocah di seberang sana.

***

Hari ini Rush tidak masuk sekolah. Di surat izinnya tertulis sakit. Aku agak cemas. Selama ini, dia jarang sekali sakit. Apa karena cuaca yang memang tidak stabil. Atau ada perkara lain.

Sore selepas pulang sekolah aku berniat mengunjungi rumahnya. Dia berada di blok A sedangkan rumahku blok CC. Cukup jalan kaki saja tak perlu sepeda.

Langit tampak gelap. Aku berfirasat hujan akan turun nanti malam. Namun tiba-tiba di pertengahan perjalanan gerimis turun. Tak lama kemudian disusul dengan hujan yang cukup deras. Begitu dengan sangat cepatnya. Aku segera lari berteduh di bawah pohon.

“Kak Leo, payung..”

Aku terkejut ada yang menyapaku. Segera aku menoleh. Ternyata bocah yang tempo hari aku bicarakan bersama Pak John di dalam mobil.

“Kamu…”

“Ya, aku adik kelas Kak Leo di sekolah,” dia tersenyum. Tubuhnya masih basah kuyup. “Kenalkan, namaku Jai.”

Kami berjabat tangan.

“Kak Leo mau ke mana? Biar pakai payung ini saja.”

“Aku mau ke rumah Rush temanku, dia tidak masuk hari ini. Katanya dia sedang sakit.”

“Oh ya, Kak Rush aku tahu. Di di blok A kan?”

“Loh, kamu tahu juga? Kalau rumahmu di blok mana, Jai,” aku mulai merasa nyaman dengan Jai.

“Eee…” dia tampak gugup, “Rumahku tidak di komplek perumahan ini, Kak Leo. Rumahku ada di perkampugan seberang kali sana.”

Aku merasa bersalah dengan pertayaanku. “Baiklah, boleh antarkan aku ke rumah Rush.”

“Dengan senang hati,” Jai berbinar-binar.

Kami melangkah bersama. Tapi seperti yang Pak John bilang, mengapa bocah ini tidak bawa payung dua agar tidak kehujanan. Aku tak tega menanyakannya, atau menghardiknya.

“Maaf, Jai. Aku tak bawa uang,” ucapku agak kikuk ketika sampai di rumah Rush.

“Tidak apa-apa Kak Leo, kita kan teman,” untuk kesekian kalinya bocah ini tersenyum. Pengojek payung cilik yang  luar biasa.

“Oh ada Leo,” mama Rush melihat kami, “Sini masuk ayo ajak temannya sekalian!”

“Maaf, Bu, saya harus segera ke pos satpam,” Jai pamit dan langsung menembus hujan lebat.

Aku dipersilakan masuk oleh Mama Rush. Di rumah ada beberapa orang yang tak aku kenal. Ternyata dia dokter yang merawat Rush. Dengan lemas Rush berbaring di atas kasurnya. Aku menyapanya dengan gembira, berniat untuk menghiburnya. Rush membuka matanya, lalu duduk dan kami mengobrol seperti tidak ada apa-apa. Terkadang, persahabatan memang membawa energi posoitif yang tak bisa diduga. Bahkan yang semula sakit, persahabatan bisa menjadi obat.

***

 

“Pak, kalau ada toko makanan berhenti dulu ya!”

“Baik, Leo…”

Aku ingin membeli mi instan siap saji di sana. Aku akan membelinya dua, untukku dan satu untuk Jai. Aku merasa punya utang budi padanya. Semoga saja dia masih ada di pos satpam dan bersedia menerima mi yang kubeli nanti.

Mobil berhenti di supermarket tak jauh dari komplek rumahku. Dua mi instan siap saji sudah aku beli. Tiga menit kemudian, mi sudah siap santap, tepat ketika mobilku akan masuk ke komplek. Di pos satpam aku dapati Jai sedang berdiri kebasahan seperti biasanya.

“Jai, ini aku bawakan untukmu,” teriakku dari atas mobil.

Dia tampak bingung, mungkin enggan menerimanya. Lalu aku angkat kembali mi instan yang sudah terseduh. Biar dia meliriknya. Dia merekahkan senyumnya. Lalu lari ke mobilku.

“Terima kasih, Kak Leo!”

“Sama-sama, Jai.”

Jai membalikkan badannya dan hendak kembali ke pos satpam. Tiba-tiba hatiku iba, tak tega melihat bocah baik itu kebasahan. Aku panggil lagi dia.

“Jai, ini pakai saja jas hujanku, agar kamu bisa tetap ngojek payung tanpa harus kebasahan.”

“Loh, nanti Kak Leo bagaimana?”

“Santai,  aku masih punya satu lagi di rumah.”

“Semoga Tuhan membalas kebaikanmu, Kak Leo…”

Aku sedikit menyesal selama ini salah menilai. Ya, Jai tak seburuk yang aku bayangkan. Teryata dia juga sekolah, bahkan satu sekolah denganku. Bisa jadi, dia menjadi pengojek payung karena memang keluarganya kurang mampu. Apalagi dia tinggal di seberang kali. Setahuku, di sana tempat yang kumuh, dan jika air kali meluap rumah-rumah banyak yang kebanjiran.

Keesokan harinya, dan hari-hari setelahnya, aku selalu bahagia ketika mobil hendak masuk ke komplek. Aku melihat Jai memakai jas pemberianku. Abu-abu. Pasti dia tak lagi kebasahan. Sesekali, ketika ia memang memperhatikan mobilku, aku membuka kaca mobil, lalu aku mengacungkan jempolku. Kemudian aku berteriak kencang, “Jai…”