Jalan Bahagia

Oleh: Uswatun Hasanah (Staff Pengajar Kelas Menulis IWEC)

Gumpalan putih lembut bagai kapas terus turun perlahan lalu menempel di rerumputan, aspal, tanah, atap-atap bangunan, dan mantel-mantel tebal. Mengubah seluruh Istanbul menjadi putih. Jalanan yang basah. Gedung-gedung yang di selimuti salju. Pucuk-pucuk daun yang mengkristal. Air mancur yang membeku. Napas yang mengepul di balik gulungan syal. Kota bersejarah itu seolah diselimuti hamparan awan nan tebal. Dalam suasana serba putih, Istanbul tampak memukau seolah memamerkan keindahannya di musin dingin. Namun, dinginnya musim seolah tak mampu menjamah ketenangan selat Bosporus. Kapal-kapal pesiar tetap berlayar membelah kota yang membeku.

Di balik jendela yang diselimuti embun tipis, Rahmi berdiri mematung. Ia memusatkan pandangannya pada keindahan Topkapi Palace, istana yang menjadi saksi bisu kejayaan Utsmaniyah yang berdiri gagah di tepian peraian, seberang selat kecil Bosporus. Ingatannya kini membawa dirinya kembali pada masa puluhan tahun silam, masa dimana Rahmi kecil yang masih berusia enam tahun duduk di pangkuan ayahnya mendengarkan cerita heroik perjuangan Muhammad Al-Fatih menaklukan Konstantinopel, juga masa-masa kejayaan islam sebelum akhirnya runtuh ketika Sultan Hamid II berkuasa. Betapa saat itu ia merasa kehangatan di seluruh dunia berkumpul di lengan ayahnya, musim semi tampak di depan matanya. Perlahan, cairan bening menumpuk di kedua matanya sebelum akhirnya lolos mengalir membentuk garis anak sungai melewati pipinya. Di luar, di balik jendela tempatnya berdiri, bayangan masa kecilnya menari-nari lalu perlahan lenyap seperti helaan napas yang menjadikan kaca berembun.

Rumah ini tidak lagi hangat seperti dulu, saat tawa ayahnya masih menggema di sudut-sudut dinding, saat aroma teh hitam yang mengepul dari dalam Çaydanlık teko khas Turki untuk menyeduh tehmasih setia menemani hari-hari mereka berdua. Bahagia. Meski hanya mereka berdua yang bernapas di rumah besar ini, namun Rahmi merasa hidupnya sempurna. Ayahnya adalah ayah, adalah ibu, adalah sahabat, adalah kakak, dan adalah rumah baginya.

“Nak, apa kamu tidak merindukan Anne?” tanya ayahnya pada suatu malam saat mereka tengah duduk di balkon rumah menikmati angin malam sungai Bosporus ditemani secangkir teh Cay.

“Aku lebih merindukan Baba.” Hening. Rahmi melihat ayahnya hanya terdiam, lalu menghela napas dan menengadahkan wajahnya memandang langit. “Apa Baba merindukan Anne?” lanjut Rahmi tanpa mengalihkan pandangannya dari ayahnya.

Ayahnya menoleh sekilas, lalu tersenyum. “Baba jauh lebih merindukan putri kecil Baba yang sudah jarang di rumah karena sibuk menolong pasien-pasiennya.”

Ingatannya tentang sang ayah menggema di seluruh sudut ruangan. Seperti kaset pada tape recorder yang memutar ulang satu-persatu kenangan yang terekam dengan jelas di lubuk hatinya.

Rahmi mengusap kedua pipinya yang sudah basah. Ia membaca kembali selembar kertas di tangannya yang sejak tadi ia genggam. Surat tugas yang akan membawanya hidup jauh dari kota kelahirannya. Satu bulan lalu setelah kematian ayahnya, Rahmi memutuskan untuk menandatangani surat pindah tugas ke Antalya, sebuah kota kecil di sebelah barat Turki yang berjarak sekitar 700 kilo meter dari Istanbul. Bukan tanpa alasan ia memutuskan untuk meninggalkan Istanbul dan segala kenangannya bersama Baba. Namun inilah yang diinginkan ayahnya terhadap dirinya. Bahwa suatu hari, ia ingin melihat Rahmi menjadi alasan orang-orang bisa bertahan hidup.

Salju tidak lagi turun, namun nampaknya matahari masih enggan menampakkan dirinya. Rahmi menyapukan pandangan ke seisi rumah. Ia telah selesai dengan urusan hati, menyisakan sembab yang membingkai wajahnya. Semua perabotan telah ditutupi lembaran kain putih. Sofa tempat ayahnya biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku juga telah dibungkus kain putih. Sementara itu, sebuah koper telah telah menunggunya di ambang pintu. Ia berjalan tenang ke arah perapian, menyentuh setiap sudutnya, memandang lekat beberapa bingkai foto yang ia biarkan terpajang.

“Kelak saat Baba tidak lagi menemanimu, pergilah kemanapun engkau mau. Jelajahi setiap sudut bumi Allah yang luas ini. Jadilah Rahmi yang memberi manfaat untuk orang lain. Tersenyumlah, nak. Baba dan Anne akan bahagia melihatmu.”

Rahmi memandang keluar melalui jendela kaca berbentuk persegi tak bersudut, memandang birunya langit dan awan yang mengapung di sekitarnya. Kota Istanbul yang diselimuti salju nampak kecil di bawahnya. Kubah-kubah masjid rasanya bisa ia sentuh dengan ujung jarinya. Kota Istanbul perlahan semakin hilang, lenyap ditelan awan beku musim dingin.

Jalan bahagia, terkadang ditempuh dengan langkah penuh derai. Namun bagi mereka yang percaya, tuhan tak pernah berpaling pada hamba yang berupaya.

Share This: