JAMUAN SIMALAKAMA

Penulis: Cahya Haniva

Diana terpaku beberapa detik di depan pagar sekolahnya. Sapaan selamat pagi dari Pak Burhan satpam sekolah tak dihiraukannya. Beberapa siswa bergerombol dan berlari-lari kecil masuk ke halaman sekolah karena dua menit lagi bel berdering. Baru ketika mamanya membunyikan klakson mobil tiga kali tepat di belakangnya, dia tersadar dan mau melangkah. Diana tahu benar, hari pertamanya setelah cuti panjang, tidak akan berjalan terlalu baik.

Tepat setelah bel berdering, Diana sampai di kelasnya. Dia tidak berani menatap mata siapa pun di kelas. Teman-temannya tak ada yang memperhatikan kedatangannya karena sibuk melepas rindu satu sama lain setelah dua minggu libur semester. Diana memilih duduk paling belakang.

“Diana! Gimana kabarmu?” Rebeca, salah satu sahabat terbaiknya bergegas menghampirinya begitu menyadari kehadiran Diana. Mengikuti di belakang Rebeca, ada Shanti dan Nonna.

“Gimana Amerika? Seneng banget pasti yaa… sekolah di sana,” Nonna duduk di sebelah Diana sambil menngelanyut lengannya mesra. Masih sama seperti dulu.

“Din, nomor WA-mu masih sama kayak dulu? Kok aku chat kamu nggak pernah bisa masuk, sih? Apa ganti nomor Amerika? Kamu juga nggak update sama sekali di social media. Kami kan kepo banget! Nggak sabar nunggu cerita dari kamu!” masih sambil scroll ponselnya, Shanti ngoceh panjang lebar.

Diana hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab deretan pertanyaan-pertanyaan dari sahabatnya. Dia mengalihkan perhatian mereka bertiga dengan mengeluarkan alat-alat tulis dari dalam tas. Sesekali dia melirik ketiga sahabatnya. Ternyata mereka masih berbinar-binar menanti jawaban Diana.

“Maaf ya, nggak ngasih kabar,” Diana hanya sanggup berkata lirih sambil tersenyum kecut.

Okay… Never mind. Ngomong-ngomong, di Amerika beneran banyak banget fast food ya? Iyuuuh… lemak di mana-mana! Pantesan orang di sana banyak yang obesitas ya!” dengan gaya kemayunya, Shinta berujar semangat.

Nonna menimpali, “Iya sih. Lihat tuh, si Diana aja kelihatan agak tembem pulang dari sana. Iya kan?”

Menanggapi ucapa Nonna, Shanti dan Rebeca lantas segera memelototi tubuh Diana dari atas hingga bawah. Diana merasa risih. Dulu mereka saling memerhatikan seperti ini dan tak masalah, namun kali ini dia merasa tak nyaman.

“Iya!” Shanti dan Rebeca menjawab dengan kompak.

Mendengar teriakkan histeris dan tatapan penuh selidik sahabat-sahabatnya, hati Diana mencelos. Gelombang dingin yang selama beberapa waktu yang lalu tak pernah lagi dirasakannya, kini kembali hadir, menusuk dari dada ke bola matanya. Bukan berarti Diana tidak mengantisipasi kedatangannya. Dia hanya tidak menyangka datangnya secepat ini.

“Selamat pagi, anak-anak!” sapaan Bu Lani menyelamatkan Diana. Semua anak segera bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing, termasuk ketiga sahabatnya. Dia bersyukur Bu Lani datang tepat waktu, sepersekian detik sebelum air matanya meleleh satu.

***

                Tantangan kedua Diana datang lagi: bel istirahat sekolah. Tidak seperti teman-temannya ang menganggap bel sekolah seperti nyanyian surgawi yang menggembirakan, Diana kali ini justru mendengarnya seperti derik pintu di dalam film horor. Sebenarnya bukan bunyi bel yang membuat Diana ketakutan, namun suasana istirahat sekolah.

Walaupun hanya sebentar, rasa-rasanya istirahat sekolah bisa terasa selamanya! Dalam kurun waktu tersebut, banyak hal terjadi dan dapat mengubah hidup seseorang selamanya. Bagaimana tidak? Waktu-waktu tersebut adalah kunci emas yang menentukan apakah seorang siswa menyukai waktunya di sekolah atau tidak. Apakah mereka cukup memiliki banyak teman? Apakah mereka memiliki cukup uang saku? Apakah mereka pandai bergaul? Apakah mereka korban perisakan? Apakah mereka… sebahagia seharusnya? Semua ditentukan dalam kurun waktu yang singkat selama jam istirahat. Begitu juga dengan Diana.

Diana berdoa agar ketiga sahabatnya melupakan dirinya saat itu dan segera pergi ke kantin tanpa dirinya. Nyatanya, doanya kali ini tidak terkabul. Tepat setelah Diana mengeluarkan bekal makan siangnya dari tas, Rebeca langsung menyentuh bahunya. “Ke kantin yuk! Udah nggak sabar makan bareng berempat lagi nih.”

Shanti dan Nonna yang juga sudah siap dengan kotak makan mereka, tersenyum lebar ke arah Diana. Sebenarnya mamanya berpesan agar memakan bekal makan siang di kelas saja, tidak usah ke kantin. Diana paham pesan tersebut adalah yang terbaik demi kondisinya saat ini. Namun, dia ingin melepas rindu dan berbicara tentang apa saja dengan sahabatnya, seperti dulu. Sekali ini saja, pikir Diana.

Mereka berempat melenggang di lorong sekolah menuju kantin. Seperti enam bulan yang lalu dan sebelum-sebelumnya, ketika mereka berempat berjalan bersama, semua mata pasti mengikuti. Siapa yang tak kenal mereka? Rebeca adalah atlet senam indah kebanggaan sekolah. Nonna merupakan ketua ekskul pemandu sorak. Shinta, penari balet yang kerap manggung di luar negeri. Serta Diana, seorang pemenang lomba modeling di majalah remaja. Berprestasi dan berpenampilan menarik. Itulah mereka. Siapa yang tidak takjub?

***

                Mereka berempat duduk di bangku spesial di tengah kantin. Walaupun tidak ada peraturan tertulis yang melarang orang lain duduk di sana, nyatanya memang tidak ada yang mau mendudukinya selain mereka berempat.

Hati Diana makin berdegup kencang. Ketiga sahabatnya sudah memegang kotak bekal masing-masing. Diana menyembunyikan kotak bekalnya di bawah meja.

“Mana makan siangmu, Dear? Ketinggalan di kelas?” Shinta bertanya santai.

“Kalau kamu lagi nggak mau makan nggak apa-apa sih. Kita bertiga aja yang tukar makanan. Nggak apa-apa kan, Reb?”

“No way!” Rebeca menyahut kotak makan Diana di dalam meja dan meletakkannya di atas meja. Awalnya Diana enggan melepaskan kotak makannya, namun tarikan Rebeca lebih kuat. “Kita tetap tukeran makanan berempat, seperti biasa.”

Nonna menukar-nukarkan kotak makan. Pandangan mata Diana tak lepas dari kotak makan hijau miliknya yang sekarang berada di depan Shinta. Tak ada yang menyadari kegugupan Diana. Hanya Rebeca yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik aneh Diana yang tak seperti biasa.

Ketika Shinta membuka kotak makannya, seakan-akan seisi dunia Diana bergerak secara lambat. Semakin Shinta membuka kotak makan siang itu, semakin hati Diana berdegup kencang. Diana menganggap prosesi makanan ini adalah pengadilan tertinggi dalam pergaulan. Saat-saat makan siangnya dihamiki bersama-sama.

What the—” Shinta menutup mulutnya rapat sambil berseru. “Oh no! What kind of lunch is this! Gross!

Nonna dan Rebeca menoleh ke arah Shinta yang super histeris. Kemudian mereka melongok ke kotak makan yang menjadi sumber kehisterisan Shinta. Diana menunduk dalam sekali, tak ingin melihat mata keempat sahabatnya yang meminta penjelasan.

Seriously? Kamu makan ini, Din? Untuk makan siang aja?” Nonna bertanya seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya. “I don’t know. It’s like 3000 calories at once. Ewww…”

“Empat lembar roti gandum, dan ham plus telur rebus. Some lettuce, tomatoes, and a lot of cheese! No wonder how chubby you are now,” Shinta tak bisa menyembunyikan rasa jijik dalam dirinya.

Diana menyahut kotak makan yang sedang dihina Shinta dan membawanya pergi dari kantin tanpa kata tanpa penjelasan. Persahabatannya berakhir sudah.

***

                Diana menangis di depan ruang UKS yang sepi sambil memegangi kotak makannya erat. Dia mengingat lagi pesan mamanya, pesan dokter dan psikolog pendampingnya selama enam bulan ini. Pandangannya tentang penampilan, prestasi, dan persahabatan telah berubah dan saat ini seharusnya tak mudah untuk digoyahkan kembali. Ini hanya batu kerikil, pikir Diana. Dia harus berani melawan, walaupun tak tahu bagaimana caranya.

Rebeca tiba-tiba mendekatinya. Diana segera mengusap air matanya.

It’s okay, Dear. Aku tahu kok selama enam bulan ini kamu ke mana. Bukan ke Amerika kan?” sambil mengatakannya, Rebeca mengusap punggung Diana. “Nggak, Nonna dan Shinta nggak tahu. Nggak ada yang tahu kok, selain aku dan Bu Lina.”

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Diana makin menangis sejadinya. Dia memeluk Rebeca.

“Kamu hebat, sudah berjuang sejauh ini. Kalau kami berada di posisimu, belum tentu kami bisa,” Rebeca tersenyum tulus.

“Tapi, kalau mereka nggak mau nerima aku gimana? Aku nggak sekurus dulu. Aku nggak bisa secantik kalian.”

“Hei! I am not like you, but I do like you anyway.”

“Tapi tadi…”

“Tadi Shinta hanya kaget. Tahu sendiri dia paling nggak bisa makan nggak teratur. Penari balet memang begitu kan. Kamu tahu sendiri. Jangan diambil hati omongannya. Bulan ini Nonna bakal jadi puncak piramida cheerleaders atau apalah itu buat performace di acara anak basket. Dia lagi ngurangin makan. Kamu jujur aja sama mereka. Lama-lama mereka akan ngerti kok.”

Mereka berdua diam beberapa saat, berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Rebeca menyahut kotak makan Diana dan membukanya.

“Boleh bagi?”

Diana mengangguk. Dia memberikan sepotong sandwich makan siangnya untuk Rebeca.

“Kamu nggak apa-apa makan sebanyak ini? Nanti sore kan kamu latihan.”

“Nggak apa-apa lah, sekali-kali,” dengan mantap, Rebeca menggigit sandwichnya. Diana mengikuti.

Mereka berdua makan siang dengan lahap sambil tertawa ceria.

You know what? Eating disorder is not about the meal. It’s about what inside your mind, Honey. And I don’t care about your meal, your calories or stuff. I do care about your mind, your heart. That’s what best friends are for.”

Thank you,” Diana tersenyum bahagia mendengar penuturan Rebeca.

“Hei, jangan lupa nanti siang temui Pak Robi ya. Kemarin katanya mau ada audisi modeling gitu. Jangan sampai ketinggalan info dan kurang persiapan lho! Udah nggak sabar liat kamu di catwalk lagi.”

Diana mengangguk setuju, kemudian melanjutkan makan siangnya hingga tuntas. Belum pernah dia merasakan kelegaan seperti ini setelah makan makanan yang berkalori.

 

Share This: