JOHN JENKY

Oleh: Nicholas Matthew 

                Seorang detektif yang tinggal di North Carolina mendadak terkenal karena berhasil memecahkan satu kasus yang cukup panjang. Dia juga telah berhasil memecahkan 23 kasus besar sepanjang karirnya sampai saat ini. Tidak mengherankan, menurut informasi yang tersebar, dia memang telah bekerja sejak berumur 19 tahun. Dia adalah Johnathan Jenkins, atau John Jenky untuk lebih singkatnya. Seorang detektif senior berusia 35 tahun. 

                Kasus rumit yang baru saja John selesaikan adalah kasus pembunuhan berantai oleh Ethan Adams. Ethan telah membunuh 15 anak berumur tiga sampai sembilan tahun di sebuah panti asuhan. Sang pelaku ditangkap dan dieksekusi mati gantungan. Kasus ini terpecahkan setelah berlangsung penyelidikan dan penyidikan selama 6 bulan karena memerlukan banyak bukti dan saksi mata. Dari pengungkapan kasus Ethan Adams, John menjadi detektif terhebat di kota Raleigh. Dia menjadi detektif muda yang mendapatkan banyak kasus serta promosi jabatan.

                Sejak John menjadi terkenal, ia merekrut seorang detektif pendamping bernama Thomas Wilbur. Wilbur adalah seorang detektif yang pandai, ramah, dan lincah tetapi memiliki satu kelemahan. Wilbur sangat mudah lupa, apalagi hal-hal kecil yang tidak ia catat. Namun, mereka berteman baik dan menjadi duo detektif yang hebat di North Carolina.

                Waktu terus berjalan, semakin hari John semakin sering mendapatkan kasus-kasus besar sampai mengabaikan Wilbur. John merasa ia dapat melakukan penyelidikan dan penyidikan pada setiap kasus seorang diri. Dia mengangap bahwa dirinyalah yang terbaik tanpa bantuan siapapun. Wilbur mulai kesal tetapi masih mau berteman dengan John.

                Di luar profesi John Jenky sebagai seorang detektif handal, dia adalah sosok ayah yang sangat menyanyangi kedua anaknya. Mereka bernama Leonard Jenky dan Alfonso Jenky. Mereka hidup bersama layaknya keluarga yang sangat damai dan rukun. Meskipun tanpa hadirnya sosok istri di dalamnya.

                Satu tahun yang lalu, istri John terkena racun ikan buntal saat makan malam di rumah. Dia meninggal di umur tiga puluh satu, meninggalkan kedua anaknya yang masih sangat belia. Namun, John tidak membawa kasus ini ke pengadilan karena dianggap kasus kejadian keteledoran dan tidak sengaja oleh istrinya. Meskipun merasa sangat kehilangan, John tetap harus tegar untuk kedua anaknya. Sebuah foto keluarganya lengkap bersama istrinya saat masih hidup, dia pajang dengan pigora besar di ruang tamu rumahnya.

***

                Malam itu, John berpergian untuk bekerja di malam hari. Dia harus melakukan penyidikan pada kasus yang tengah ditangani malam itu. Beberapa suspect sudah diselediki sebelumnya. Malam ini dia fokus pada penangkapan pelaku di lokasi yang sudah ditemukan.

                John meninggalkan kedua anaknya sendiri di rumah. Semenjak istrinya meninggal, John memang merawat kedua anaknya seorang diri tanpa bantuan pengasuh anak. Dia harus ekstra membagi waktu pekerjaan dengan anak-anaknya. Anak-anaknya pun bisa memahami keadaan John dengan baik.

                Kejadian tidak terduga malam itu terjadi, rumah John dirampok. Banyak barang berharga hilang dan telah raip diambil pencurinya. Saat John pulang pada dini hari, ia sangat kaget melihat kaca depan rumahnya pecah. Dia bergegas masuk rumah, namun naas. Seisi rumah sudah porak-poranda, barang-barang berhamburan tak karuan. Perhiasan mendiang istrinya habis tak tersisa, termasuk beberapa koleksi senjatanya juga dicuri. Lemarinya kamarnya telah diruntuhkan dan berantakan.

                Saat masuk ke kamar anaknya betapa terkejutnya ia, kedua anaknya ditemukan tidak bernyawa dengan kepala penuh darah seperti pukulan benda tajam, kapak. John menjerit, tidak kuasa melihat darah yang masih mengalir dari kepala dua anaknya yang tak berdosa itu. Dia kesal, marah karena tidak dapat menjaga anaknya dengan baik. John sangat sedih karena tidak memiliki keluarga lagi. Dia ingin balas dendam dan membunuh siapapun yang telah melakukan hal kejam ini.

                Saat pagi hari, dia segera mengemas barang-barangnya untuk mengikuti upacara pemakamannya kedua anaknya. John lalu mengubur kedua anaknya dengan hati yang kalut. Hatinya belum bisa menerima kepergian kedua anaknya, satu-satunya keluarga yang dia miliki. Dia meninggalkan kuburan dengan dendam menganga kepada pelaku yang belum terkuak.

                Setelah pemakaman selesai, ia melanjutkan perjalanan ke markas polisi untuk melanjutkan pekerjaannya. Pimpinannya memanggilnya untuk menghadap. Dengan berat hati, pimpinan tetap harus memberi beberapa tugas penyelidikan di tengah suasana duka yang tengah dialami John. Namun, John  menolak. Dia mementingkan keluarganya dan memilih untuk mengusut kasus kematian anaknya. Dia mengajukan kasus kematian kedua anaknya untuk segera diproses. Kepala pimpinan memperbolehkannya untuk mengambil kasus tersebut.

                Setelah perintah telah turun, John mengarahkan Wilbur dan timnya yang sudah dibentuk untuk menyusun strategi penyelidikan. Dia mengumpulkan bukti-bukti yang ditemukan di rumahnya. Dia berserta timnya menyelidiki satu-persatu bukti yang ditemukan di rumahnya. Lalu, setelah diperiksa, Wilbur menemukan sebuah note yang sengaja ditinggalkan oleh perampokannya. Dalam note itu tertulis bahwa sang pelaku akan membunuh kedua anaknya jika John tidak memberi $10.000.000 dalam kurun waktu 24 jam.

                Permasalahan yang mereka hadapi selanjutnya adalah siapa penulis note tersebut. Setelah berjam-jam diselidiki, akhirnya tim menemukan barang bukti berupa sidik jari dalam note itu. Barang bukti itu segera dikirim ke tim forensik kota. Selagi menunggu hasil dari tim forensik, tim melanjutkan penyelidikan dengan menanyakan hal-hal mencurigakan yang mungkin saja terjadi sebelum kejadian kepada beberapa warga sekitar rumah John. Saksi pertama adalah Ibu Mary Watcher, rumahnya tepat di sebelah rumah John. Dia mendengar suara kaca pecah saat pukul tujuh malam.

                “Saya mendengar suara kaca pecah sekitar pukul 7 malam, Pak Detektif,” ujar Ibu Mary.

                “Apakah anda sempat melihat seseorang yang mencurigakan?” tanya detektif Wilbur.

                “Saya melihat seseorang membawa sebuah kapak dan sebuah tas jinjing,” jawab bu Mary sedikit ketakutan.

                “Apakah ada sesuatu lain yang mencurigakan?” tanya detektif Wilbur.

                “Itu saja yang saya lihat, pak,” jawab bu Mary singkat.

                Setelah seharian penuh melakukan penyelidikan, Wilbur menyarankan John untuk mengakhiri penyelidikan untuk hari ini dan beristirahat. Keesokan harinya mereka melanjutkan penyelidikan dari markas polisi. Diawali komando dari John sebagai pimpinan dari kasus tersebut. John mengarahkan tim untuk bergegas melakukan penyidikan pada saat itu.

                “Banyak barang bukti yang telah kita temukan dua hari ini, mari kita selesaikan kasus ini secepatnya,” ujar John menggebu.

                Selang beberapa jam kemudian, tim forensik menyatakan hasil dari sidik jari pada note yang ditemukan itu. Pelaku yang menulis note itu adalah Robbert Sammy. Robbert adalah seorang perampok yang pernah ditangkap oleh John tiga tahun lalu dan sudah bebas pada beberapa bulan lalu. Hasil sidik jari tersebut semakin mengerucutkan Robert sebagai pembunuh kedua anak John. Salah satu alasan mengapa Robert dicurigai menjadi pembunuh anaknya adalah karena motif balas dendam. Bisa jadi Robert ingin balas dendam kepada John karena telah membuatnya tinggal di penjara selama 3 tahun.

                John dan tim bergegas mencari alamat rumah Robbert atau apapun yang berkaitan dengannya. John berharap agar segera dilakukan penyidikan dan menangkap pembunuh kedua anaknya itu. Mereka berpencar agar dapat menangkap Robbert dengan cepat.

                Malam hari pukul tujuh, tim menemukan Robbert yang sedang berjudi di Casino La Monsieu. Penggerebekan tersebut berlangsung cukup lama, sekitar satu jam. John dan tim perlu melakukan suatu penyamaran agar tidak terlihat mencolok. Setelah berhasil ditangkap, Robert dibawa ke markas besar polisi dan diinterogasi. Robert mengaku telah mencuri di rumah John pada saat kejadian kematian kedua anak John. Robert menjual semua perhiasan istri John untuk berjudi. Dengan emosi mengagah, John memukul wajah Robbert hingga mimisan di ruang penyidikan. Wilbur berusaha keras mengontrol John yang sangat kesal. dan

                Saat interogasi apakah Robert juga yang membunuh kedua anak John, Robert mengelak dengan tegas. Dia mengakui atas pencuriannya, namun dia bukan yang membubuh anak-anak John. Bahkan, saat merampok, Robert sama sekali tidak masuk ke kamar anak John. Sampai beberapa jam interogasi, Robbert tetap mengaku bahwa dia tidak membunuh kedua anak John.

                Beberapa minggu setelah interogasi, Robbert dibawa ke pengadilan untuk dihakimi. Namun dengan cerdik, Robbert telah menyiapkan seorang pengacara yang akan membantunya menyelesaikan kasus ini. Walaupun banyak barang bukti yang telah disiapkan oleh pengacara Robbert, dia tetap kalah telak dan harus masuk penjara selama 30 tahun. Belum lagi dia juga harus membayar biaya sebesar $500,000 untuk kasus kamatian anak John.

                Setelah Robert dinyatakan bersalah dalam kasus ini, John merasa sangat lega karena telah menemukan pembunuh kedua anaknya. Tetapi John masih merasa aneh dan janggal dalam kasus ini. John merasa ada yang tidak beres dengan kasus ini. Lambat laun, dia melupakannya dan melanjutkan hidup seperti biasa sebagai seorang detektif.

***

                Setelah 5 tahun selepas kejadian kematian anak-anaknya, John menemukan sebuah bukti baru. Beberapa hari sebelumnya, John menemukan sebuak jepitan berlogo kepolisian di lubang angin rumahnya. Jepitan itu tidak asing bagi John karena berlogo markas kepolisian tempat John bekerja. Jepitan itu jelas bukan milik John, karena miliknya selalu tersimpan rapi dan tidak sembarangan berserakan. Dalam jepitan itu juga terdapat sebuah nama dan cipratan darah yang sudah mengering. Jepitan itu bertuliskan nama “Thomas”.

                John bergegas memutar kembali rekaman CCTV lima tahun lalu, tepat di hari kematian kedua anaknya. Dia baru menyadari bahwa ada dua orang yang menyelinap masuk ke rumahnya pada saat itu. John kaget ketika memperhatikan sosok dalam rekaman tersebut, ada seseorang yang masuk setelah seorang keluar membawa tas dan kapak. Seseorang kedua yang masuk itupun membawa kapak dan menggunakan sebuah jepitan polisi yang baru saja dia temukan.

                John memutuskan untuk mengirim jepitan itu pada badan forensik kota. Dua hari kemudian, hasilnya telah keluar. Dalam jepitan tersebut tidak ditemukan hasil sidik jari selain sidik jari John. Cipratan darah yang sudah mengering itu juga adalah darah kedua anaknya yang telah meninggal. Pemilik Jepitan tersebut sangat cerdik dan sulit untuk diketahui.

                John datang ke penjaranya Robbert untuk kembali mengintrograsi.

                “Apakah Anda benar-benar bukan pembunuh kedua anak saya?” tanya John dengan wajah yang serius.

                “Pak, sudah saya menyatakan 5 tahun yang lalu, namun anda tidak percaya! Setelah saya merampok rumah Anda, saya melihat seseorang dengan baju hitam dan wajahnya tidak asing saat pemeriksaan saya waktu itu,” ujar Robbert dengan wajah sedikit kesal.

                “Siapa orang itu?”

                “Haha.. Anda pikir saya akan memberitahu itu dengan cuma-cuma!” balas Robbert tertawa.

                “Apa maumu?”

                “Keluarkan saya dari penjara busuk ini segera! Akan saya bongkar apa yang saya lihat saat itu.”

                “Baiklah, setelah saya keluarkan Anda, kita bongkar pelaku sesungguhnya bersama. Setuju?”

                “Setuju,” jawab Robbert menyakinkan.

                Lalu mereka bersalaman dan membicarakan tentang kronologi pencurian Robbert lima tahun lalu. Setelah mencuri dan mengobrak-abrik rumah John, Robbert pergi. Tak jauh dari rumah John, Robbert berbalik badan karena merasa ada barang curiannya yang tertinggal. Niat itu Robert batalkan karena melihat sosok lelaki berpakaian hitam dengan membawa kapak masuk ke dalam rumah John. Robbert kira, lelaki itu adalah John yang telah kembali dari pekerjaannya.

                Sejenak, Robbert mengingat kembali bahwa sosok tersebut bukanlah John, melainkan orang lain yang juga pernah dia temui. Robbert menyatakan bahwa wajah pelakunya mirip dengan salah satu rekannya. Tetapi Robbert tidak mengetahui identitas pastinya. Robbert dibawa ke markas polisi untuk memastikan.

                John mengajak tim detektif dan menyeleksi beberapa orang timnya yang bernama Thomas. John memanggil Thomas Wilbur dan Thomas Percy untuk diintrogasi. Dia bertanya kepada mereka berdua tentang siapa yang membunuh kedua anaknya. Tidak satupun dari mereka yang mau mengaku. Lalu, John mengajak Robbert masuk ke dalam ruangannya untuk memastikan wajah pelaku yang pernah dia lihat. Betapa terkejutnya Wilbur dan Percy ketika melihat salah satu kriminal paling jahat itu telah dibebaskan.  Robbert menunjuk Percy sebagai pelaku yang dia ingat. Tetapi John tidak yakin dengan pilihan Robbert, ia mengajak ketiga orang tersebut untuk memperhatikan CCTV.

                Ketika mereka mengulang rekaman CCTV lima tahun lalu tersebut, mereka terkejut saat Robert mengatakan satu hal.

                “Saya ingat siapa yang membunuh kedua anakmu, John! Dia adalah Wilbur, rekanmu yang sangat kamu percaya, bukan Percy!” teriak Robbert yang memandang Wilbur dengan tatapan dingin.

                “Saya tidak percaya! Apa buktinya menuduh saya seenaknya? Saya adalah teman baik John sejak lama,” sahut Wilbur tidak terima.

                “Mari kita ke rumahmu Wilbur. Kita selesaikan masalah ini sekarang juga,” pinta John menahan amarah.

                John, Robbert, Wilbur dan tim detektif segera menuju rumah Wilbur untuk inspeksi dan interogasi. Sedang John masih menginterogasi Wilbur dan Percy, Robbert membongkar isi rumah Wilbur. Saat sedang membongkar lemari Wilbur, dia menemukan pintu kecil yang terkunci rapat. Dengan cekatan Robbert membuka paksa dengan sebuah klip kertas untuk membobol kunci dan membuka pintunya. Betapa kejutnya Robbert ketika mengetahui apa yang ada di dalam pintu kecil itu.

                Robbert berteriak memanggil John untuk melihat isi pintu kecil yang dia temukan. Saat John melihat, dia kaget dan sangat marah kepada wilbur. Arsenal senjata yang dimiliki milik John ada di dalamnya. Yang paling mengenaskan adalah kapak yang diggunakan untuk membunuh anaknya masih bersimpah darah yang sudah mengering. Ditambah foto kedua anaknya sebelum dibunuh juga terpajang dalam tempat itu. Dan, yang paling mengejutkan adalah foto isterinya sebelum meninggal dunia, dengan pakaian yang sama persis saat kematian.

                Seketika, John yang dipenuhi amarah bergegas menuju ruang tamu mendesak Wilbur dengan tegas.

                “Apa yang kamu lakukan dengan keluargaku!” bentak John dengan mata yang marah.

                “Bukan aku yang melakukan ini ke keluargamu, tapi kamu yang lebih dulu merusak karirku! Kamu yang memulai John, bukan aku, hahaha,” sahut Wilbur tak bersalah.

                Wilbur mengeluarkan pistol dan mencoba menembak John. Tetapi Robbert melompat di depan John dan menyelamatkan nyawanya. Dengan penuh amarah, John pun juga mengeluarkan pistol dan menembak Wilbur 4 kali hingga ia kehabisan darah dan tewas.

                “Tembakan pertama adalah untuk isteriku. Kedua dan ketiga untuk anak-anakku. Yang terakhir adalah untuk Robbert yang kamu fitnahkan selama ini.”

                Robbert segera dibawa ke rumah sakit untuk pertolongan secepatnya. Robbert dibebaskan dari hukuman mencuri dan pembunuhan. Setelah kejadian saat itu, Robbert dan John menjadi sahabat baik dan saling membantu dalam mengusut kejahatan. []

 

 

               

Share This: