Kakek Tua yang Tak Sakit Hati

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

Menulis cerita adalah kegiatan yang mengasyikkan. Seseorang tidak hanya sekadar berangan-angan dengan ide dan imajinasinya, tapi sekaligus bisa menuangkannya. Ia bisa melihat gagasan kreativitasnya lebih kongkret, punya wujud. Apa itu? Tulisan.

Dan, untuk melatih daya cipta anak-anak, ada banyak metode yang bisa diterapkan. Seperti hari Minggu lalu (6/12) di kelas menulis level anak-anak dan remaja. Ada Dinda, Shafa, Anin, Kila, dan Kiki. Mereka saya pancing untuk membuat lanjutan cerita dari penggalan cerita yang saya bacakan. Penggalan cerita ini saya ambil dari buku 30 Permainan Kreatif Anak karya Heru Kurniawan (hal. 127-128).

Sebab, saya percaya, masing-masing anak memiliki imajinasi. Mereka punya segepok pengalaman, pengetahuan, juga gagasan yang berbeda satu sama lain. Dan, itu mestinya dirayakan.

Apa yang saya bayangkan memang terjadi. Setelah membacakan bagian awal cerita sampai munculnya permasalahan, saya meminta mereka untuk menuliskan kelanjutannya. Versi lanjutan mereka beda-beda. Anin (12 tahun), misalnya, justru menjadikan karakter Kakek tua sebagai sosok yang galak. Sementara Kila (10 tahun) menghadirkan sosok Kakek tua yang baik hati dan ramah. Kiki (10 tahun) pun demikian, meski dengan dialog yang minim dan lompatan plot yang belum rapat. Shafa (8 tahun) malah belum kelar dan justru menuliskan ulang penggalan awal cerita yang saya bawakan.

Tidak apa-apa. Justru keragaman mereka harus dirayakan. Seperti cerita Dinda (12 tahun) di bawah ini. Saya hanya menjadikan ceritanya sebagai contoh bagaimana anak-anak bisa membuat alur cerita dan ending sendiri. Teori memang ada, namun bukan jadi hal yang utama. Justru ketika anak-anak yang belajar menulis sebagaimana ia kerap mendengar cerita atau dongeng dan bertutur dengan gayanya sendiri, ia akan lebih berani. Tidak sibuk memikirkan bahwa alur harus begini begitu.

Simak, yuk, cerita Dinda!

Kakek Tua yang Tak Sakit Hati

Di sebuah desa, tinggallah dua keluarga yang rumahnya berdekatan. Rumah pertama dihuni seorang Kakek yang sudah tua, yang hidup dengan seekor anjing peliharaannya. Rumah satunya dihuni oleh keluarga yang mempunyai dua anak yang sangat nakal. Kedua anak itu bernama Andi dan Ando. Salah satu kenakalan Andi dan Ando ialah suka meledek dan mengolok-olok Kakek tua itu.

(Sumber: http://roschurch.org)
(Sumber: http://roschurch.org)

Suatu hari, Andi dan Ando sedang bermain lempar-lemparan batu di pinggir hutan. Saat keduanya sedang asyik main, datanglah Kakek tua yang baru mencari kayu di hutan. Timbullah niat nakal Andi dan Ando. Keduanya melempari batu ke arah Kakek tua sambil meledek.

Plak! Salah satu batu lemparan Andi dan Ando mengenai kepala Kakek tua. Kepala Kakek tua berdarah. Anjing Kakek tua marah dan segera berlari ke arah Andi dan Ando. Kedua anak itu ketakutan. Kini keduanya berhadapan dengan anjing Kakek tua yang siap menerkam. Tinggal menunggu perintah Kakek tua, pemiliknya.

Dan, inilah lanjutan cerita versi Dinda (12 tahun)

Andi dan Ando sangat ketakutan melihat anjing Kakek tua berlari kearah mereka. Mereka berdua langsung berlari ke dalam hutan yang buas dan luas itu. Mereka terus berlari tanpa menoleh ke belakang sekalipun karena saking takutnya pada anjing Kakek tua.

Mereka pun akhirnya berhenti, karena tidak kuat untuk berlari lagi. Mereka menoleh ke belakang, ternyata anjing tersebut sudah hilang. Mereka pun lega, tetapi mereka baru sadar kalau mereka sudah jauh dari pedesaan.

Hari pun mulai semakin gelap. Andi dan Ando sangat lelah mencari jalan keluar. Karena yang mereka lihat di sekelilingnya hanyalah pepohonan.

“Tolong! Tolong kami!” teriak Andi dan Ando. Seketika mata Andi tertuju pada gubuk kecil. Ia pun mengajak Ando masuk beristirahat di sana. Mereka akan tetap di sana sampai hari mulai terang.

***

dog
(Sumber: http://www.dogloversdigest.com)

Si anjing sampai dengan selamat di rumah Kakek tua. Ia kehilangan jejak Andi dan Ando dan balik pulang. Karena ia punya insting yang kuat, ia bisa sampai di rumah.

Terlihat kakek yang sedang mengobati luka di kepalanya itu. Si anjing langsung menggonggong. Kakek tua itu menoleh dan berlari ke arahnya.

“Chacha! Dari mana saja kamu? Bagaimana kedua anak tersebut?” tanya Kakek tua.

Anjing itu menggonggong dua kali. Si kakek langsung tahu apa yang dimaksudnya karena Si Kakek tua sudah merawat Chacha dari kecil.

“Ayo sekarang cari mereka!” ujar Kakek tua tegas.

Akhirnya Kakek tua dan anjingnya mencari Andi dan Ando. Dengan insting Chacha ia mengendus-endus tanah. Si Kakek tua mengikuti anjingnya dengan membawa satu obor.

Mereka berdua terus mencari sampai mendengar suara tangisan anak laki-laki. Ternyata suara itu berasal dari gubuk. Kakek tua membuka pintu gubuk itu dan menemukan Andi dan Ando di sana.

Andi dan Ando melihat Kakek tua di depan pintu gubuk dan langsung memeluknya.

“Kek, maafkan kami!” ucap Andi.

“Iya Kek, maafkan kami,” kata Ando dengan raut menyesal.

“Tidak apa-apa. Ayo sekarang kita pulang!” ucap Kakek tua.

Mereka berempat pun akhirnya pulang. Kakek mengantarkan Andi dan Ando ke rumah. Baru Kakek balik ke rumahnya sendiri.

Besoknya, ada yang mengetuk pintu rumah Kakek. Kakek membuka pintu dan melihat Andi dan Ando berdiri dengan tersenyum.

“Kami ke sini ingin membantu Kakek menanam jagung!” ucap Ando.

“Iya, Kek!” sahut Andi dengan semangat.

Mereka pun menanam jagung bersama. Bahkan, setiap hari Andi dan Ando membantu Kakek dan bermain bersama Chacha.

Share This: