KELUARGA KEDUA

Oleh: Rezawardhana

Aku senang kamu akhirnya kembali. Kami, sebagai keluargamu, merasa bersyukur bahwa engkau telah dilahirkan di dunia ini. Sekalipun kau anggap kami keluarga keduamu, tapi itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Aku ingat dirimu yang begitu kecil dan lemah, berada di pundak ayahmu. Kau diajaknya berjalan-jalan sementara aku dan yang lain melihatmu di kejauhan. Celotehmu kepada ayahmu waktu itu ibarat sebuah lagu-lagu jenaka yang polos nan suci. Sejak kecil kau selalu bermimpi. Bermimpi bahwa kamu tak akan melupakan kami semua.

Keluargamu pun sudah kuanggap sebagai bagian dari kami. Ayahmu sudah percayakan kamu padaku yang selalu melihatmu. Dia biarkan kau bermain denganku, mengunjungiku sedari pagi hingga terbenamnya matahari. Dari embun-embun yang membasahi dedaunan, hingga langit biru yang berganti senja berhias rembulan. Mereka percaya pada kami. Kami pun percaya pada kalian semua.

Melihat dirimu tumbuh semakin dewasa adalah anugerah yang tak terkira bagi aku dan yang lainnya. Rambutmu yang dulu masih jarang, kini menjadi lebat. Kakimu dulu yang melangkah masih ditatih, kini kau sudah bisa menggunakannya untuk berlari tanpa letih. Kau pun tumbuh bersama kawan-kawanmu yang semakin hari semakin banyak waktu itu. Kau kenalkan mereka kepada kami dan kau biarkan aku menjadi sandaranmu bagi teman-temanmu.

Ketika kalian masih berseragam putih merah dulu, pada saat senjalah kalian biasa bermain dirumahku. Gelak tawamu adalah hiasan kami yang sudah lama menghuni tempat ini. Jika tidak ada kau, mungkin kami tidak akan terhibur. Jika tidak ada suara gelak tawa dirimu dan kawan-kawanmu, mungkin kami tidak bisa mengenal dunia luar lebih baik, dan tak akan mengenal bagaimana rasanya melihat makhluk yang ditakdirkan paling sempurna oleh Sang Kuasa.

Melihat kalian yang berseragam putih dan abu membuatku semakin mengerti, bahwa kalian semua punya seribu satu cerita dan mimpi. Tetapi bagiku, kau berbeda dari yang lainnya. Kukatakan berbeda bahwa hanya engkaulah yang selalu mengunjungiku dan keluargaku pada pagi hari dan memberi salam. Dan hanya kau yang selalu menanyakan kabarku dan teman-temanku di setiap malam. Kau memang laki-laki yang berbeda. Itu yang membuatku yakin bahwa kelahiranmu kala itu adalah anugerah terindah.

Kau membuatku semakin bangga mengenalmu sedari kecil. Padahal kami tidak pernah memberikan apapun padamu. Tapi kamu selalu berkata padaku, bahwa kami sudah memberikanmu sesuatu yang kau sebut ketenangan dan apapun yang kau anggap kebahagiaan. Kau bahkan pernah berkata padaku, “tidak ada lagi yang disebut rumahku dan rumahmu. Kita berpijak pada tanah yang sama!”

Namun, hal yang tidak akan pernah kulupakan adalah, sebuah hari di musim hujan. Musim yang kalian sebut sebagai musim yang tepat untuk mengucapkan perpisahan. Kau berkata padaku sore itu, dengan kepalamu yang terbasahkan oleh gerimis hujan.

“Jika nanti… jika nanti aku aku harus pergi darimu, pergi dari kalian semua, aku berjanji, bahwa suatu hari nanti aku akan kembali lagi pada kalian.”

Dan kau meninggalkan kami sehari setelahnya. Kau meninggalkan dua keluargamu yang telah membesarkanmu hingga dewasa. Meninggalkan sebuah pemadangan tentang seorang pemuda yang berjalan membelakangi kami. Punggungmu itu, punggung yang tidak akan pernah aku lupakan. Dan aku percaya. Suatu saat nanti kamu akan kembali lagi, kawan.

 

Setahun sudah berlalu. Dua tahun, tahun ketiga hingga tahun ke empat. Aku tidak melihatmu barang sehari pun kembali kerumah. Saudaraku menghawatirkanmu. Dia yang paling sering menceritakan kenangan indahnya bersamamu. Ya, dia yang paling semangat bercerita tentangmu. Sampai aku bosan. Sampai kucing hutan pun membuat matanya terpejam. Tapi, di tahun keempat dia mulai menghawatirkanmu. Khawatir jika kamu melupakan kami semua.

“Percayalah dia tidak akan melupakan kita,” kataku.

“Bagaimana kamu tahu? Bagaimana jika dia sama seperti dua orang temannya yang diam-diam setahun yang lalu mendatangi kita dan berniat buruk pada kita semua!?” teriak saudaraku.

“Aku percaya padanya, Saudaraku. Sama seperti aku percaya pada Tuhan yang telah menciptakan laki-laki seperti dia dengan tujuan yang mulia.”

“Apa jaminannya jika ternyata kamu keliru? Kita tidak bisa menghubungi keluarganya dan kau tahu itu! Kita tidak bisa mengabari mereka jika dua teman masa kecil laki-laki yang kau bilang anugerah, ternyata mempunyai niat busuk yang tidak akan bisa kita maafkan!”

“Aku tidak punya jaminan apapun,” kataku dengan tenang.

“Lalu? Kau tidak takut dia ternyata berpihak pada teman-temannya itu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku percaya pada apa yang dia katakan, Saudaraku. Hanya itulah harapanku dan harapan kita semua. Kepergiannya adalah bagian dari rencana Tuhan supaya membawa perubahan.”

“Perubahan untuk apa? Kita tidak perlu perubahan apapun. Kita—yang saat ini kita butuhkan adalah jangan sampai rencana busuk kedua temannya itu terjadi.”

“Perubahan untuk kita semua. Suatu hari nanti, dia akan menjadi contoh bahwa laki-laki seperti dia masih ada di dunia ini.”

Saudaraku kemudian terdiam. Aku memaklumi gejolak batin dalam dirinya. Sebab dia yang paling menyayangimu, Bayu. Kalian berdua selalu bersama-sama sejak dulu. Kamu lah yang paling sering berbicara dengannya. Tapi, Bayu, aku pun sempat merasa khawatir ketika di tahun keenam kepergianmu, dua sahabat kecilmu yang sudah tumbuh menjadi dua laki-laki yang berbeda daripada saat aku pertama kali melihatnya. Mereka datang menghampiri kami lagi. Menghampiri keluargamu dan keluarga keduamu ini. Pakaian mereka berdua lebih bagus. Dandanan mereka pun semakin rapi. Tapi hati mereka jelas tidak suci lagi.

Dengan angkuhnya mereka berjalan di rumahku. Mereka masuk tanpa permisi. Sepatunya yang mengkilap kecoklatan dan dasi hitamnya yang dipadukan kemeja abu-abunya jelas menunjukkan kelas. Kelas yang akan menghancurkan peradaban manusia jika orang-orang seperti kawanmu itu menguasai Bumi ini. Saudaraku jelas tidak menyukai kedatangan mereka. Cuma dia bisa apa, dan aku pun bisa apa. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengusir mereka.

“Jadi,” kata seorang temanmu pada temanmu yang satu lagi—yang berpenampilan serupa dengan temanmu dan dia berkata, “tempat ini yang akan nantinya kita gunakan sebagai pusat perbelanjaan di kota ini.”

Mendengar hal itu betapa terkejutnya hatiku. Ibu dan ayahku serta teman-teman kita yang lain seperti tersengat halilintar yang begitu hebat. Saudaraku pun tak henti-hentinya memaki.

“Kurang ajar sekali kalian!” teriaknya. Tapi kedua kawanmu itu tidak bergeming.

“Tidakkah kalian berpikir bahwa kalian sudah terlalu serakah merampas kehidupan yang lain? Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau di dunia ini dan sekarang kalian inginkan kehidupan kami semua? Semoga Tuhan tidak salah menaruh kepercayaan kepada kalian sejak awal kalian diciptakan!” bentak teman-temanku yang lainnya. Tapi tetap saja mereka tidak bergeming.

“Kakak, lakukan sesuatu!” kata saudaraku.

“Kita tidak bisa melakukan apapun, Saudaraku. Kau juga tahu itu. Kita tidak punya kekuasaan untuk melawan mereka.”

“Nah!” kata teman angkuhmu itu, “kalian sudah tahu semua bahwa kami punya rencana indah. Itulah kenapa aku kemari setahun yang lalu. Aku tahu kalian semua sudah mendengar pembicaraan kami waktu itu. Tapi maaf saja, aku tidak bisa mendengar pendapat kalian. Kalaupun kalian bisa berpendapat atau protes, misalkan, itu tetap tidak ada pengaruhnya bagi rencana kami untuk membangun sebuah tempat yang megah dan indah!”

“Terlalu indah,” kata temanmu yang bersepatu coklat.

“Dan terlalu megah,” tambah temanmu yang satunya.

“Semuanya demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Demi masa depan yang cerah. Kalian semua akan tahu bahwa tujuan kami berdua begitu mulia.”

“Mulia demi kaummu sendiri!” balas saudaraku. Temanmu hanya tertawa saja.

“Ngomong-ngomong, Jefri, kemana perginya Bayu, teman kita yang dulu mengajak kita ke tempat ini?”

“Entahlah, Hendra, aku juga tidak tahu kemana dia. Aku dengar sudah lulus kuliah dua tahun yang lalu. Katanya sekarang sedang mengerjakan sesuatu dengan banyak orang.”

“Oh apakah itu?”

“Entahlah, Hen. Lagipula apa peduli kita. Masalah kita dengan tempat ini sebentar lagi akan selesai. Kita tinggal mengusir kedua orang tua Bayu dari sini. Tentunya dengan kompensasi yang menarik. Setelah itu, mall megah miliki kita bisa segera tuntas. Proyek mall ini sudah kita menangkan. Tinggal membereskan semua yang ada disini.

“Kamu benar. Nah, untuk kalian para penduduk lokal,” kata Hendra yang tengah berdiri tepat didepanku, “waktu kalian tinggal sebulan lagi. Setelah itu ucapkanlah selamat tinggal pada dunia. Ayo, kita pergi, sobatku Jefri. Urusan kita sudah selesai. Kita sudah berpamitan.”

Hati kami semua begitu hancur mendengar ucapannya. Seolah mereka melupakan segala yang telah kita lalui. Seolah mereka tidak ingat bagaimana ketika kalian kesepian, kami lah yang membunuh sepi itu. Sekarang kalian ingin menyingkirkan kami?

Hari demi hari kami lalui dengan penuh ketakutan. Saudara-saudaraku dan teman-temanku tidak pernah terlelap dalam cekam. Bahkan malam yang paling gelap pun tidak bisa menakuti kami lagi. Suara halilintar pun hanya seperti raungan bocah. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada ajal yang kian datang perlahan.

Semakin hari, semakin kudengar deru-deru kendaraan besar yang ukurannya belum pernah kulihat seumur hidupku. Roda-roda mereka seakan menggulung harapan kami semua yang tinggal di tempat ini. Para pekerja terlihat semakin lama semakin banyak. Membawa peralatan bangunan yang semakin lama menyiutkan hati kami yang perlahan padam. Gelak tawa mereka terdengar liar. Jauh lebih liar daripada suara anjing hutan yang pernah kau temui dulu. Kemana kamu Bayu? Kuharap kamu tidak melupakan janjimu dulu.

“Dia tidak akan datang,” kata saudaraku. Aku hanya bisa diam. Barangkali dia benar. Barangkali kau pergi kemana dan tidak akan kembali lagi pada kami.

“Kita tunggu saja dia,” kataku.

“Mau sampai kapan? Ini sudah hari ke duapuluh lima,” balasnya.

Peluh khawatirku tidak bisa menipu pada hari ketiga puluh. Aku mulai ragu padamu, Bayu. Sementara aku semakin ragu, hari demi hari para pekerja semakin menjadi-jadi. Mereka mengusir para penghuni hutan. Hewan-hewan mereka tembaki. Tak jarang mereka menangkap hewan-hewan liar untuk dijual atau dijadikan makanan. Jika mereka manusia, biarkan aku menganggap mereka makhluk terkutuk.

Pada hari itu Bayu, tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku. Itulah kenapa di awal cerita ini aku sangat bersyukur Tuhan menganugerahkan manusia sepertimu. Pada hari itu, ketika hujan perlahan berhenti menjadi butiran gerimis, dan ketika tawa nyaring para pekerja semakin menjadi, seseorang dari mereka berteriak menghampiri.

“Mereka datang!” teriaknya.

“Siapa yang datang?” tanya Jefri temanmu.

“Mereka orang-orang dari badan perlindungan hutan! Mereka datang untuk membatalkan proyek ini secara paksa, Pak!”

Mendengar hal itu ibarat merasakan kembali pancaran sinar matahari yang telah lama pergi. Jelas sekali hari ini bisa kulihat betapa raut wajah kedua temanmu bagaikan orang sudah mati. Nyaris tanpa rona. Mereka hanya terdiam membisu tatkala badan perlindungan hutan membacakan pasal-pasal yang mereka langgar dan perizinan mereka yang rupanya tidak mendapat restu. Di situlah aku tahu keyakinanku tidak pernah salah padamu. Betapa terkejut dan bangganya aku ketika lelaki yang membacakan pasal itu adalah dirimu, Bayu. Bayu, kamu datang kepada kami!

Kamu pergi demi melindungi kami. Aku yakin memang, bahwa kepergian seseorang untuk sementara adalah untuk membawa perubahan besar tatkala orang itu kembali lagi. Dan orang itu adalah kamu. Aku sangat bersyukur padamu, Bayu. Ketika orang-orang telah pergi meninggalkan hutan ini, kamu masih berdiri di depanku. Di depan pinus yang semakin tua ini.