Kisah di Balik Buku “Adventure Time”, Seperti Apa?

Oleh: Riska Rahayu (Staf Pengajar IWEC)

Deg-degan. Itu yang dirasakan guru pendamping IWEC ketika anak-anak yang dibimbingnya akan meluncurkan buku antologi perdana mereka. Dan itu pula yang kini saya rasakan sekarang. Buku yang digadang-gadang akan diluncurkan bulan Januari ini, harus siap segalanya di “mejaoperasi” minggu ini. Tepat tanggal 24 Januari 2016, buku antologi bertajuk “Adventure Time” milik Lunetta atau yang biasa dipanggil Luna, Mayrin yang lebih akrab disapa Imey, serta laki-laki the one and only in the class, Haidar, harus terlahir di dunia.

Bukan kali pertama saya turut membidani lahirnya buku antologi karya siswa-siswi IWEC. Tetapi, kali ini rasanya benar-benar berbeda. Jika sebelumnya saya hanya “asisten bidan”, kini saya dipercaya menjadi “bidan” itu sendiri, dengan dibantu “asisten bidan” lainnya.

Bercerita perjalanan mereka bertiga selama belajar menulis di IWEC, sering membuat saya tersenyum sekaligus meringis geli. Bayangkan saja tiga karakter yang berbeda dipertemukan dalam satu ruang imajinatif. Seru? Tentu saja. Tidak jarang mereka berdebat karena satu dengan yang lain tidak sependapat. Namun, bukan lantas mereka bertengkar, justru terkadang mereka saling menginspirasi. Menemukan karakter baru tokoh imajinasi mereka.

Membagi ilmu dengan mereka, kita tidak bias berdiri menjadi orang dewasa seutuhnya. Rentang usia yang sangat jauh, membuat para guru IWEC dan saya khususnya, harus bias berdiri menjadi seorang teman, kawan, kakak dan juga pendidik. Tidak jarang saya selalu membiasakan mengobrol dengan mereka. Apa saja. Tidak harus melulu tentang menulis, karena anak-anak rawan dengan kejenuhan. Meski begitu saya usahakan pembicaraan kami memiliki benang merah dengan topik kepenulisan.

Pernah suatu waktu di dalam kelas, salah seorang dari mereka bertanya kepada saya ketika kami mulai membahas project buku yang harus mereka garap di level 3.

“Kak, antologi itu apa? Susah nggak bikinnya? Aku itu maunya nulis novel yang tebal.”

Saya tersenyum mendengar pertanyaan murid perempuan saya satu itu. Cita-citanya sebagai penulis cukup menggebu, tetapi acap kali dia mengaku sering mutung alias putus asa ketika tidak kunjung menemukan ide.

“Kalau kamu ingin membuat novel yang tebal, kira-kira kamu akan menulis berapa halaman?”

“Emh… seratus cukup, Kak?”

“Hmm… cukup, deh. Berarti sanggup, ya, nulis seratus halaman?”

“Hehe…” berpikir sejenak, “Insya Allah sanggup, Kak.”

“Oke. Good.” Jawab saya sambil mengacungkan jempol kepada mereka semua.

“Nah, project antologi kita nanti cukup mudah. Kalian akan menulis buku bersama-sama yang nantinya akan dicetak dalam satu sampul buku. Kali ini kalian diminta untuk membuat dua judul berbeda. Nggak perlu nulis seratus halaman. Masing-masing cukup lima belas halaman saja untuk satu judul naskah. Bisa, kan?”

Sementara yang lain masih berpikir, murid saya yang bertanya tadi tersenyum dan dengan cepat menjawab, “Bisalah, Kak,” mendahului murid-murid yang lain.

“Hey, lima belas halaman, lho. Kamu bisa, ta?” Tanya seorang murid perempuan saya satunya.

“BIsa, bisa. Lima belas halaman saja. Ya, kan, Kak?”

Lagi-lagi saya tersenyum mendengar percakapan polos mereka. Saya mengerti maksud murid saya. Wajar jika mereka dihantui rasa bimbang. Bagaimana cara menulis sebanyak 15 halaman, sementara setiap pertemuan mereka berlatih hanya berkutat pada dua halaman saja. Tetapi, kepercayaan diri perlu dipupuk. Semangat perlu dipelihara. Seorang professional tidak akan menjadi hebat jika tidak mencoba.

Membimbing anak-anak menulis tentu berbeda dengan membimbing orang dewasa. Satu hal yang perlu disadari pembimbing, kematangan usia sangat mempengaruhi pemahaman dan pengalaman. Untuk itu pula saya tidak bias memaksakan bahwa mereka harus mengerti ini dan itu. Dan saya juga perlu belajar bersabar supaya mereka bias memahami ini itu yang saya sampaikan sehingga mereka bias memiliki pemahaman yang baru.

“Kak, ternyata nulis lima belas halaman susah, ya? Aku nggak tahu nulis apa lagi ini,” keluh murid perempuan saya yang sebelumnya sangat semangat dengan project buku antologinya.

“Yang penting fokus dulu dengan ceritamu. Jangan dipikirkan lima belas halamannya. Tulis saja yang ada dalam pikiranmu. Kalau kehilangan ide, baca buku yang memiliki satu genre dengan ceritamu. Di sana kamu akan menemukan kalimat baru, gaya cerita yang menarik, dan banyak hal.”

“Bantu aku, ya, Kak.”

Tentu saja saya mengamini permohonan mereka. Sudah menjadi tugas saya untuk membantu membimbing mereka, bertutur cerita yang bagus, mencari kalimat/bahasa yang sesuai, menggunakan tanda baca yang tepat sehingga layak untuk diterbitkan menjadi buku.

Penting juga bagi saya untuk terus menanamkan kepada mereka bahwa menulis bukan perkara benar atau salah, karena menulis adalah kebebasan. Menulis juga bukan tentang bagus atau tidak. Karena bagus atau tidaknya buku adalah masalah selera. Yang penting si penulis mengerti bagaimana membuat alur cerita yang rapi, meskipun penulis menggunakan alur maju mundur tetapi tetap pada jalur cerita. Kemudian tidak monoton, mengerti teknis menulis yang benar sekaligus gaya menulis yang khas. Jadi ketika suatu saat nanti mereka benar-benar ingin menerbitkan buku secara profesional di masyarakat nanti, mereka tidak akan canggung apa yang dibutuhkan oleh penerbit dan apa yang diinginkan pembaca.

Selamat menikmati “Adventure Time”!

Share This: