LAPAK KEDUKAAN

Oleh: Farah Fakhirah (Staff Pengajar Kelas Menulis IWEC)

            Laki-laki tua itu menghampiri salah satu lapak kayu di pasar malam yang hampir tutup. Dia tidak terlambat, dia justru tepat waktu. Saat pasar sudah hampir tutup, itulah waktu ramainya pengunjung. Tubuh tua lelaki itu tak perlu berlama-lama menjajakan dagangannya hingga habis. Ia letakkan tas kainnya yang lusuh, tas warisan dari ayahnya, konon katanya ayahnya pun mendapat tas itu dari ayahnya, dan begitu seterusnya. Karena itulah, kakek tua itu tak pernah mengganti tas itu, betapa pun lusuhnya. Tas warisan yang amat berharga.

            Dari dalam tas hitam itu, ia mengeluarkan barang dagangannya. Permen-permen loli cerah dengan berbagai ukuran dikeluarkan dan ditata di atas meja sederhana. Ia tidak punya tempat menata yang istimewa seperti lapak-lapak di sampingnya, yang menata dagangan mereka dengan rak-rak plastik cerah dan lampu berwarna-warni. Ia hanya menata—menghamburkan, tepatnya—permen-permen itu di atas meja, menunggu pelanggannya. Ada yang berbeda dengan permen-permen loli itu, tentu saja. Permen-permen itu hanya memiliki satu rasa: kedukaan. Namun, setiap rasa kedukaan berbeda satu sama lain. Itulah yang membuat permen-permen ini begitu laris—betapa tepat dan ajaibnya ia meramal rasa duka di dalam jiwa.

            Di Pasar Malam inilah, loli-loli kedukaan ini banyak dicari. Barangkali terdengar aneh, pasar malam adalah tempat penuh kebahagiaan, namun justru benda yang mengisyaratkan kedukaan yang paling dicari. Tapi barangkali, histeria dan duka tak ada bedanya. Bukankah kita seringkali berpura-pura baik-baik saja dengan berteriak melampaui semestinya? Tapi cukuplah mengenai emosi manusia. Mari kita amati permen-permen loli ini dan konsumennya saja. Permen ini dibuat oleh kakek tua itu dalam tiga jenis: duka, nestapa, dan nelangsa. Duka adalah jenis permen yang paling kecil, nelangsa sedikit lebih besar, dan nestapa yang paling besar diantara jenis lainnya.

            Seperti yang dikatakan sebelumnya, setiap jenis permen punya rasa yang berbeda. Seorang pemuda yang menghampiri lapak itu dan hendak mencicipi salah satu permen loli untuk pertama kalinya. Ia mendengar soal lapak itu dari temannya—Lapak Permen Kedukaan. Ia hanya penasaran dan menghampiri lapak itu, menyerahkan telapak tangannya, dan menunggu. Kakek tua penjual pun tersenyum, menyayat kulitnya sedikit, mengusapkannya pada permen loli, lalu menyerahkannya. Beginilah tradisi di negeri ini jika menyangkut penganan ajaib. Transaksi tak dilakukan dengan uang, tapi dengan darah, keringat, atau air mata—dalam arti sesungguhnya. Kadang, ketiganya diperlukan bersamaan.

            Pemuda itu tampan, berotot, berlesung pipit. Semua kriteria pemuda tampan ada pada dirinya. Lantas ia mengambil Permen Duka itu. Satu jilatan, dua jilatan, lima jilatan, hingga sepuluh jilatan, dan tiba-tiba ia menangis meraung-raung. Orangtuanya meninggal sebulan lalu, dan ia belum bisa merelakannya. Namun, karena Ia adalah putra sulung, ia tak bisa menangis semaunya. Bahunya harus kuat menahan derita, termasuk air mata.

            Kakek tua itu memberengut, air mata tak punya jenis kelamin, sahutnya. Pemuda itu tersedak air matanya sebab ia tertawa di antara tangisnya. Kakek tua itu tersenyum mafhum. Sementara itu, antrian telah memanjang di depan lapaknya. Orang-orang berbondong-bondong mengantre untuk melampiaskan kedukaan mereka. Kakek tua itu menjadi sibuk sekali. Ia menyayat kulit, mengoleskan antiseptik pada bekas luka (sihir tidak mencegah infeksi, sayang sekali), dan mendengarkan cerita mereka yang membutuhkan penghiburan.

            Antrian pun berhenti pada sosok gadis muda. Alih-alih menunggu kakek menyayat kulitnya, gadis itu mengambil silet dari saku lengannya, menyayat kulitnya, lalu mengusapkannya pada permukaan permen nestapa. Ia menjilati permen itu dengan penuh amarah. Tapi ada rasa lain yang dicecapnya. Getir. Gadis ini telah gagal dalam ujian akhirnya, dan orang tuanya enggan menerima kegagalannya. Bekas-bekas sayatan di kulitnya memperjelas kondisinya.

            Kakek tua membiarkan gadis itu marah-marah. Mengacak-acak barang, memaki-maki dirinya dan semua orang. Lalu dengan perlahan, diusapnya lengan gadis itu, dan setelah amarah gadis itu mereda, ia perlahan mengambil silet dari lipatan lengan bajunya, dan mematahkan menjadi dua. Tak ada jaminan gadis itu tak akan mencoba lagi. Tapi setidaknya, tidak akan untuk malam ini. Ia ingin gadis itu tidur nyenyak, itu saja sudah cukup. Ia hanya punya satu permen loli lagi. Permen loli nelangsa. Ini jarang sekali terjual, pikirnya. Orang-orang sekarang sudah lebih bahagia.

            Ia hampir saja memasukkan permen loli itu ke dalam tas kain, ketika melihat seorang anak laki-laki kecil menghampirinya, dan meminta permen Nelangsa. Sebenarnya kakek tua tak sampai hati, tetapi ia tahu jika menolak keinginan anak ini maka situasinya akan lebih buruk lagi. Dengan amat perlahan, ia menyayat jari anak itu dan mengusapkannya pada permen nelangsa. Ia lalu melihat anak itu menjilatinya dengan wajah datar, tak terganggu apa-apa.

            Anak kecil itu terlahir tanpa orangtua. Umurnya baru menginjak sebelas tahun, dan ia telah ditipu habis-habisan, disiksa dan dilecehkan oleh preman jalanan. Begitupun tadi pagi, anjing kecilnya­, satu-satunya teman yang ia punya mati akibat tertular wabah yang menjangkiti kota ini. Dan ia dapat merasakan bahwa sebentar lagi, ia akan menyusul Wimpy. Kakek tua itu menghela napas. Anak ini hanya bisa bertahan hingga esok pagi. Tapi setidaknya, permen nelangsa yang dikulumnya tadi terasa manis sekali.

            Usai anak itu pergi, kakek tua menutup lapaknya. Ia membuang bekas-bekas pembungkus loli, mengunci laci-laci, lalu mengintip ke dalam tas kainnya. Di sebuah botol kecil, terlihat sebuah ramuan bening yang berkilauan. Esensi Kedukaan. Orang menjulukinya pengumpul air mata, tapi kedukaan tak selalu berarti ada air mata.  Kadang kedukaan adalah kemarahan, kadang ia adalah penerimaan, tetapi seringnya hanya sebuah kekosongan. Dan kekosonganlah yang ada di dalam botol itu, hanya saja, bentuknya cair, dan meminumnya menyebabkan kau tak merasa apa-apa. Kakek tua itu menutup tas kainnya lagi. Esens itu cukup untuk menbuat dua lusin loli. Esok, ia akan berjualan kedukaan lagi.

***

Share This: