LINEAR PARALLEL

(Karya: Mohammad Reza Wardhana)

“Apa kamu bilang?”

“Aku bilang, aku bertemu seseorang di pantai, dan pria itu berkata kalau memang ada kaitan antara orang-orang Irian dan Papua dengan orang-orang yang ada Afrika.”

Suasana di kantin kampus Wira selalu ramai seperti biasanya. Biasanya pula, tempat seperti ini tidak mungkin kosong pada pukul satu siang. Hari itu sepertinya sedang berpihak pada Wira—laki-laki yang berambut gondrong dengan tubuh yang besar.

“Bencana alam katanya?” Danis, laki-laki berkacamata yang merupakan teman kepercayaan Wira bertanya.

“Ya, bencana alam dan perang antar suku. Orang-orang di Afrika itu kemudian berlayar—menyebar sampai ke Australia, Irian dan Papua.”

“Tapi kamu bertemu orang itu lewat mimpi, kan?”

“Ya, di mimpiku, aku bertemu dia di sebuah pantai yang sangat sepi. Lautnya sebiru langit dan tidak ada lagi yang aku ingat selain itu. Sebentar, coba lihat ini,” Wira menyerahkan laptopnya pada Danis.

“Astaga, Wira, di tahun 2013 seperti ini kamu belum beli smartphone? Kamu tidak perlu bawa-bawa laptop setiap kali mau akses internet.”

“Aku masih belum punya uang. Lulus kuliah saja belum,” keluh Wira. “Bacalah bagian ini.”

Danis yang baik lalu membaca website yang sudah dibuka sebelumnya oleh Wira. Sebuah website ilmu pengetahuan tentang persebaran ras. Danis dengan seksama membaca keterangan tentang Proto-Australoid.

“Lalu maksudmu menunjukkan ini?”

Wira mencondongkan tubuhnya dan berbicara sangat pelan.

“Tak lama setelah aku bermimpi, aku langsung browsing tentang asal-usul orang Irian-Papua serta hubungannya dengan Afrika.”

“Maksudmu apa yang dikatakan orang yang ada di dalam mimpimu itu sesuai dengan apa yang ditulis di web ini?”

Wira mengangguk mendengar pertanyaan Danis.

“Dan aku belum sekali pun pernah mencari tahu asal-usul Irian dan Papua sebelumya.”

Danis memerhatikan ucapan terakhir Wira dengan seksama. Matanya memandang sobat baiknya itu, otaknya berpikir. Dia berusaha mengingat kapan terakhir kali Wira berbohong. Dia pun berusaha mengingat apakah selama ini pernah ada yang mengatakan padanya untuk tidak mempercayai Wira. Tapi akhirnya, dengan kesal Danis harus mengakui satu hal, bahwa yang seperti itu tidak pernah ia dengar.

“Aku tahu ini memang sulit kamu percaya,” kata Wira. Pandangannya kini tertunduk pada meja yang berada di antara mereka berdua. “Tapi aku pun tidak tahu siapa aku ini?”

“Apa yang kamu katakan bukan sebuah lelucon kan? Maksudku, aku percaya kamu, Wira. Kamu orang yang baik. Tapi hal seperti ini benar-benar konyol. A-aku, maksudku, ini seperti cerita khayalan atau…”

“Aku tidak memaksamu untuk percaya, Danis. Aku bisa mengerti. Banyak orang yang menganggapku aneh. Kamu pasti pernah dengar ceritaku ketika SMA, kalau aku pernah bermimpi bersekolah di SMA kita itu, padahal saat aku bermimpi usiaku masih 10 tahun.”

“Dan ketika SMA kamu benar-benar suka membaca buku-buku tentang sains.”

“Sampai sekarang aku masih suka membaca buku seperti itu.”

“Apa mungkin ini pengaruh dari kesukaanmu membaca buku-buku seperti itu? Kita jurusan komunikasi lho. Tidak ada hubungannya, kan, dengan kuliahmu.”

“Tidak ada hubungannya memang dengan kuliahku, tapi kejadian yang baru saja kualami juga tidak ada hubungannya dengan hobiku. Hanya, aku pernah memikirkan tentang waktu. Aku memikirkan ini dalam-dalam.”

“Seperti apa?”

“Begini, pernahkah kamu mendengar tentang alien dan UFO?”

Danis langsung tertawa geli. Wira tidak bergeming dengan reaksi temannya itu. Dia masih serius. Wira kemudian menjelaskan pemikirannya,

“Jika memang mereka memiliki peradaban yang maju, kenapa bentuk UFO mereka tetap begitu? Harusnya semakin tahun ke tahun kedatangan mereka di Bumi bentuk UFO mereka lebih modern—tidak berbentuk piring atau bentuk yang begitu-begitu. Harusnya sudah seperti film-film sci-fi—besar dan megah, atau berukuran sedang, tapi bentuknya sangat berbeda dari yang dulu.

“Aku kemudian berpikir, andainya planet mereka jauh dari Bumi, untuk sampai ke Bumi mereka butuh waktu bertahun-tahun. Pertanyaannya adalah, ketika mereka pergi ke Bumi dengan UFO dan kembali ke planet asal, harusnya peradaban planet mereka lebih maju dari pada ketika pergi ke Bumi, karena planet mereka berotasi dan berevolusi selama mereka datang ke Bumi dan kembali ke planet asal. Tapi sepertinya tidak demikian. Mereka tidak butuh menempuh jarak jauh. Mereka memakai sebuah cara untuk menerobos waktu—baik masa lalu dan masa depan.

“Jika apa yang aku pikirkan ini memang benar, Danis, dunia parallel itu tidak ada. Karena percuma diciptakan. Yang ada adalah, perjalanan waktu, tapi tidak merubah keadaan suatu masa yang telah dikunjungi. Aku menyebutnya sebagai Linear Parallel—satu garis, tapi keadaan yang dialami tiap masa adalah berbeda.”

Danis yang semula menertawakannya, kini memerhatikan setiap penjelasan yang Wira utarakan. Apa yang diucapkan temannya itu dirasanya memang masuk akal. Bila mengingat penilaiannya dia kepada Wira, dia tahu benar kalau sobatnya itu memang unik—seperti diberi berkat. Danis lantas teringat sesuatu,

“Ah ya, Wira, kamu pernah dengar tentang Astral Projection?”

“AP maksudmu? Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Aku pikir kamu memang punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain atau Indigo. Banyak orang yang ingin melakukan AP, tetapi dia tidak bisa. Barangkali kamu yang punya kelebihan itu bisa melakukannya lebih baik. Sebab yang kutahu, banyak hal yang sulit dijelaskan ketika seseorang melakukan AP. Siapa tahu, kamu bisa menemukan jawaban yang kamu cari.”

Wira mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang AP. Dari semua yang dia temukan, rupanya tidak semua orang mampu bertahan lama ketika berada dalam kondisi AP. Hasilnya pun berbagai macam tergantung dari subyek yang melakukan. Akhirnya, setelah ia merasa telah siap dengan segala resiko yang ada, dia benar-benar melakukan apa yang Danis sarankan.

Wira membuka matanya. Entah mengapa dia seolah tersadar dari sesuatu. Tampak di hadapannya sebuah langit membentang luas dengan suara kicauan burung yang terbang. Dia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia tidak merasa berat seperti yang dulu. Langkahnya terasa ringan. Entah mengapa pula dia kehilangan rambutnya yang panjang. Rambutnya kini menjadi pendek dan rapi. Wira merasa ingat tempat dia berpijak sekarang. Tidak salah lagi, itu adalah pantai yang ada di dalam mimpinya. Ketika dia sedang menoleh ke sebuah arah, terlihatlah seorang pemuda dengan rambut panjang dan berbadan besar.