Memetik Oksigen di Kebun

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar Menulis)

Andai oksigen adalah buah-buahan yang hanya bisa dijumpai di kebun, maka tentu saja orang-orang akan berkumpul di sana. Mereka tak lari ke dalam bangunan-bangunan tertutup, semisal mal. Sebab di mal, tiada oksigen. Kalaupun ada, itu dijual dalam kemasan. Oksigennya diawetkan.

Sementara di kebun, oksigen melimpah. Buahnya bergelantungan di pohon-pohon yang rendah. Manusia memetiknya lantas mengunyahnya. Menikmati kesegaran yang terasa setelah buah oksigen lumat dalam mulut.

Itulah yang kami lakukan hari Minggu kemarin. Kami memetik buah-buah oksigen di Kebun Bibit Wonorejo. Sambil bermain aksara, membaca cerita di depan teman-teman, juga keliling danau untuk memetik buah-buah oksigen yang ranum.

14522718_1133875796706236_4845419678516671066_n 14523267_1133875830039566_7580457081686743260_n 14572187_1133875846706231_4880348278238408719_n 14492580_1133875876706228_3463671582016483154_n 14446057_1133875910039558_5485418417253657603_n 14502962_1133875960039553_46430144043767996_n 14479760_1133876066706209_1596682053109850941_n 14479611_1133876130039536_2652342646511455169_n 14448871_1133876190039530_1387698424366622852_n

Kami begitu asyik. Tenggelam dalam kesegaran. Pulang dari sana, kami rasakan paru-paru kami kembali hijau. Otak kami bersinar terang laksana lampu strongkeng yang telah diisi penuh spritus dan dipompa kencang. Hati kami cerah laksana beri merah yang disepuh matahari pagi.

Ada banyak oleh-oleh yang kami bawa. Selain cerita, tentu kenangan.

Namun, yang paling penting, kami membawa beberapa genggam buah oksigen yang kami simpan di saku celana dan baju. Jika persediaan menipis, kami akan ke sana lagi. Ke kebun. Ke alam. Ia menyediakan segala.

***

Demikian kegiatan outing class Indonesia Writing Edu Center. Sekali dalam sebulan kami mesti membawa anak-anak belajar di luar. Selain untuk penyegaran, ini juga terkait edukasi menulis. Anak-anak kami ajak untuk memerhatikan sekitar, melakukan observasi. Ini bisa menjadi inspirasi sekaligus bahan tulisan mereka. Jika rutin dilakukan, Insya Allah hasilnya akan baik. Anak-anak menjadi peka dengan lingkungan sekitarnya. Indra mereka menjadi lebih awas dan ‘terbuka’ untuk mencerap.

Kelak, ketika mereka masing-masing membuat karya, pengalaman indrawi juga emosi itu bisa terekam dengan baik. Siapa pun pembaca, tentu berharap memiliki visualisasi yang hidup lewat aksara yang dituliskan oleh para penulis cilik ini.

Menanam sekarang. Memetik nanti.

Share This: