MENCARI JALAN UNTUK MEMPUNYAI KUCING

Oleh: Kyra Torrita (Siswa Kelas Menulis IWEC)

            Hari ini adalah hari pertama Kayla di kelas 5. Ia sangat bersemangat ke sekolah. Saat pelajaran berlangsung, Kayla tidak mendapat kesulitan pada pelajaran yang disampaikan. Saat istirahat dimulai, Anneth, teman sekelas Kayla sedang menceritakan tentang anak kucingnya.

            “Aku mempunyai dua kucing di rumah, kucing pertama berwarna hitam putih dan kucing keduannya berwarna kuning,” kata Aneth dengan bangga sambil memakan rotinya.

            “Waahhh kucing, aku sangat suka dengan kucing!” seru Kayla.

            Kayla sudah lama menyukai kucing. Ia sangat penasaran dengan kucing-kucing Anneth. Ia penasaran apakah ia boleh melihat kucing milik Anneth sepulang sekolah.

 ***

            Setelah istirahat selesai mereka melanjutkan pelajaran kedua. Kayla sedikit mendapatkan kesulitan pada pelajaran matematika, tetapi setelah ibu guru menjelaskan lagi, Kayla baru mengerti. Bel berbunyi tanda pelajaran hari ini telah usai, semua anak berlarian keluar kelas. Kayla bertemu dengan Sandy di lapangan sekolah.

            “Sandy, kamu mau temenin aku enggak untuk melihat kucing Anneth?” tanya Kayla sembari berlari ke arah Sandy.

            “Boleh asal kita gak terlalu lama, karena Ibuku pasti udah menungguku,” kata Sandy.

            Mereka lalu mencari Anneth. Ternyata mereka bertemu Anneth di depan gerbang sekolah. Kayla menanyakan apakah Ia boleh ikut ke rumahnya untuk melihat anak kucingnya. Anneth mengangguk. Mereka lalu berangkat bersama ke rumah Anneth. Sesampainya di sana, Anneth masuk terlebih dulu untuk memberitahu ibunya bahwa Ia membawa teman sekelasnya. Ibunya lalu mengizinkannya. Mereka berdua pun masuk.

            Kucing-kucing Anneth terletak di keranjang yang dilapisi kain. Mereka sangat lucu, sama seperti apa yang Anneth deskripsikan. Kayla sangat menyukai kucing Anneth. Ia bertannya apakah boleh mengadopsinya jika sudah lebih besar nanti. Anneth mengiyakan. Tidak terasa mereka sudah melihat kucing itu selama 1 jam. Kayla lalu melihat jam dinding rumah Anneth, Ia terkejut dan memberitahu Sandy bahwa mereka harus segera pulang. Kayla dan Sandy lalu berpamitan kepada Anneth dan ibunya karena takut dimarahi ibu jika terlambat pulang. Mereka pun berjalan berdua menyusuri jalan besar.

***

            Sesampai di rumah, Kayla dimarahi ibunya karena pulang terlambat. Ia lalu menceritakan kejadian di rumah Anneth. Saat mendengar cerita Kayla, ibunya baru mengerti bahwa Kayla sangat menyukai kucing.

            “Kamu ngapain liat kucing, nanti malah jadi pengen kucingnya Anneth. Lagian kan ayahmu alergi terhadap bulu kucing, jadi kamu enggak boleh pelihara kucing,” kata ibunya.

            “Maaf ya bu, aku nggak bakal pulang telat lagi,” ucap Kayla menyesal.

            “Kalau gitu ada hukuman buat kamu karena pulang telat!” kata ibunya.

            “Hukuman apa bu” tanya Kayla yang sudah mulai tegang.

            “Hukumannya adalah kamu harus ngerjain perkalian dari 1 sampai 10! sekarang pergi mandi dulu,  dan ibu kasih setengah  jam ntuk menyelesaikan hukuman mu,” kata ibunya dengan tegas.

            “Yaaaaahhh…” keluh Kayla.

           Kayla pun bergegas untuk mandi lalu setelah itu mengerjakan hukuman yang diberi ibunya.

***

            Mendapat hukuman karena pulang terlambat rupanya tidak membuat Kayla jera, ia masih ingin melihat kucing Anneth. Ia merencanakan untuk melihat kucing Anneth lagi bersama Sandy. Sepulang sekolah Kayla mengajak Sandy untuk ke rumah Anneth sebentar saja.

            “Neth, kita mau main ke rumah kamu boleh enggak?” tanya Sandy.

            “Boleh aja asal nggak lama-lama ya, ntar kamu dimarahin ibumu lagi,” ucap Anneth.

            “Okelah, kalau gitu kita langsung berangkat deh,” kata Kayla bersemangat.

            Setelah sampai di rumah Anneth. mereka langsung melihat kucing di rumah Anneth namun hanya sebentar. Namun hanya sebentar. Setelah bermain dengan kucing Anneth mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.

***

            Sudah satu minggu Kayla bolak-balik ke rumah Anneth untuk melihat kucing. Hari itu Kayla pulang terlambat lagi. Ia berlari sangat cepat karena takut dimarahi ibunya. Meskipun sudah berlari, ternyata dia tetap saja terlambat. Dalam waktu yang bersamaan, ibu Kayla sedang membereskan kamar Kayla, ia menemukan dompet putrinya di lemari. Saat dicek, ternyata kosong.

            Kayla sampai ke rumah sangat terlambat. Begitu ibunya membuka pintu, ia langsung dimarahi, “Kamu habisin uangmu buat apa?” tanya ibunya dengan marah.

            “Buat kucing bu,” jawab Kayla ketakutan karena ibunya telah mengetahui bahwa uangnya ia habiskan untuk keperluan kucing.

            “Kamu enggak perlu repot ngurusin kucing Anneth, yang harusnya beliin peralatan kucing itu Anneth, bukan kamu!” tutur ibu dengan nada tegas.

            “Iya ibu betul, tapi aku masih boleh menyumbang sebagian uangku untuk beli kebutuhan kucing, kan?”

            “Iya boleh, tapi bukan menghabiskan semua uang jajanmu untuk keperluan kucing ya?!”

            “Oke bu, aku berjanji tidak akan menghabiskan semua uang jajanku untuk kucing,” kata Kayla yang sekarang lagi memikirkan hukuman buatnya.

            “Oke, ibu terima janjimu, tapi tetap saja kamu mendapatkan hukuman karena telah menghabiskan uang jajanmu minggu lalu,” kata ibunya.

            “Baik bu,” kata Kayla.

            “Jadi hukumanmu itu tidak boleh keluar dari rumah ya,” kata ibunya

            “Oke bu, aku terima hukumanku,” kata Kayla dengan berat hati.

***

            Keesokan harinya Kayla tidak fokus di kelas. Ia ingin melihat kucing Anneth. Bahkan ia mulai berani melanggar perintah ibunya. Setelah pulang sekolah ia langsung menemui Anneth dan menanyakan apakah ia boleh meminjam salah satu anak kucingnya.

            “Neth, aku mau coba bawa kucing kamu ke rumah, boleh gak?” tanya Kayla.

            “Boleh aja, kan kamu udah pernah bilang mau pelihara kucing,” jawab Anneth, seketika membuat mata Kayla berbinar.

            “Sip deh, kita langsung berangkat sekarang yah, aku takut ibuku marah lagi kalau terlambat pulang,” ujar Kayla sambil menggandeng lengan Anneth.

***

            Sesampainya di rumah Anneth, Kayla memilih anak kucing yang ingin ia bawa pulang. Ia memilih kucing berwarna kuning. Anneth juga memberikan satu kandang kucing yang ia miliki kepada Kayla supaya anak kucingnya tidak kabur. Setelah itu ia langsung pamit pulang, dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Anneth.

            Begitu sampai, Kayla melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tanpa bersuara. Ia langsung menaiki tangga ke kamarnya untuk menyembunyikan anak kucingnya Anneth. Awalnya keberadaan anak kucing tersebut belum diketahui, sampai akhirnya ayah Kayla bersin-bersin karena ia alergi bulu kucing. Ibu Kayla pun tahu bahwa Kayla menyembunyikan sesuatu.

            “Hatchi – hatchi …!” Ayah Kayla terus bersin-bersin.

            “Kayla, kamu bawa hewan yang berbulu ya?” tanya ibunya.

            “Enggak bu.” Kayla berusaha berbohong tentang keberadaan kucingnya Anneth yang ia bawa pulang.

            “Habisnya hatchi ayah bersin hatchi bersin mulu haaatchi” jawab ayahnya tak henti-hentinya bersin.

            Melihat hal itu, ibu langsung bergegas ke kamar Kayla. Saat masuk ke dalam kamar, “Kayla jujur, kamu bawa kucing ya?” ucap ibu terus mendesak Kayla untuk mengaku.

            “Eeeemmmm, hehehe aku sebenarnya bawa kucing sih, tapi kecil kok, Bu” Wajah Kayla mulai tegang karena takut.

            “Kamu bandel sekali, sudah ibu bilang jangan bawa pulang kucing!!”

            “Maafin Kayla ya bu, kali ini Kayla menyesal,” kata Kayla dengan sedih, seraya mendukan kepalanya.

            “Kasihan Ayah kan jadinya, gara-gara kamu bawa pulang kucing, alergi Ayah jadi kambuh,” ucap ibu marah.

            “Pokoknya Kayla minta maaf, bu,” kata Kayla menyesal.

            Alergi ayah Kayla semakin parah, sekarang pernafasannya jadi tersumbat hingga membuatnya sesak nafas. Karena itu, ibu langsung membawa ayah ke rumah sakit.

            “Ibu anterin dulu ayahmu ke rumah sakit agar alerginya tidak semakin parah. Tugas kamu sekarang adalah membersihkan seluruh rumah dengan vacuum cleaner supaya bulu kucingnya hilang,” titah ibu dengan nada jengkel.

            Setelah beberapa jam menunggu, ayah dan ibu Kayla akhirnya tiba di rumah. Kayla merasa tegang karena ibunya pasti akan menghukumnya.

            “Ayahmu baik-baik saja, jadi sekarang ibu mau menghukum kamu supaya tidak mengulangi perbuatan ini lagi,” ucap ibu dengan tenang.

            “Iya, bu,” ucap Kayla takut.

            “Jadi, hukumannya adalah kamu enggak boleh keluar rumah selama 7 hari.”

            “Haaahhhhh, hukumannya berat banget!!” Kayla sangat kaget mendengar hukumannya.

            “Jadi, kamu terima atau enggak hukumannya?” tanya ibunya.

            “Iya, aku terima,” ucap Kayla dengan berat hati.

            Setelah itu, Kayla menemui ayahnya yang terlihat lemas dan pucat di kamarnya. Sedangkan ibunya langsung menyiapkan teh tawar hangat untuk ayahnya.

            “Aku sudah memikirkan tentang ini, aku mau memelihara kucing tetapi kucingnya aku titipkan di rumahnya Anneth aku hanya butuh membelikan makanannya,” kata Kayla saat di kamar ayah dan ibunya.

            “Boleh, tapi enggak boleh yang bawa kucing ke rumah lagi,” balas ayah.

            “Yes, terima kasih ayah ibu sudah membolehkan aku memelihara kucing di rumah Anneth,” kata Kayla dengan girang.

***

            Kesesokan harinya Sandy dan Anneth sangat senang karena ayah Kayla telah pulih.

            “Guys, tau gak, ibu dan ayahku ngebolehin aku pelihara kucing, tapi kucingnya ditinggal di rumahnya Anneth,” kata Kayla dengan wajah yang sangat senang.

            “Masa sih ibumu ngebolehin kamu pelihara kucing?” tanya Sandy.

            “Boleh asal enggak dibawa ke rumah,” jawab Kayla.

            “Masih enggak pecaya, coba jelasin dong kenapa ibumu ngebolehin kamu pelihara kucing,” kata Sandy.

            “Ibuku sebenarnya enggak bolehin aku pelihara kucing karena takut alergi ayah kambuh. Tapi, karena aku pelihara kucing di rumahnya Anneth, jadinya boleh,” kata Kayla.

            “Gitu toh,” kata Sandy.

            “Btw, aku boleh nitip kucing di rumahmu kan, Neth?” tanya Kayla.

            “Boleh aja,” jawab Anneth.

            Setelah bel sekolah berbunyi Anneth, Sandy, dan Kayla langsung pulang ke rumah masing-masing.

            “Bu, kalau besok aku ke rumah Anneth dulu boleh gak,” tanya Kayla begitu sampai di rumah.

            “Boleh, asal pulangnya tidak lebih dari satu jam setelah pulang sekolah,” jawab ibunya.

            “Oke sip, aku janji, ibu” kata Kayla dengan gembira.

            Sesudah mandi dan makan Kayla masuk ke kamarnya dan berpikir. Ia bingung memilih kucing yang kuning atau yang putih hitam untuk diadopsi. Setelah melihat kelebihan dan kekurangannya, Kayla memilih kucing kuning. Dari dulu ia sudah menamai kucing kuning itu Ginger.

Keesokan harinya Kayla, Sandy dan Anneth pergi ke rumah Anneth. Di rumah Anneth, ibunya sudah siap dengan biskuit dan makanan kecil lainnya. Mereka langsung menghampiri kucingnya Anneth.

            “Neth, aku adopsi kucingmu yang warna kuning ya, gak apa-apa kan kalau aku namain dia Ginger?” tanya Kayla

            “Gak apa-apa kok terserah kamu, kan kamu yang punya kucing,” balas Anneth.

            “Besok ya aku siapin keperluan kucingnya,” kata Kayla.          

***

            Keesokan harinya Kayla, Anneth dan Sandy izin kepada ibu mereka masing-masing untuk mencari keperluan kucing Kayla. Setelah mendapatkan semua keperluan kucing, mereka langsung pergi ke rumahnya Anneth. Kucing Kayla nyaman dengan kandang barunya.     

            “Akhirnya aku bisa memelihara kucing tanpa harus berbohong”

***

Share This: