MENCARI LELE

Oleh: Miristika Melfri (Staf Pengajar Komik IWEC)

Pada suatu hari yang cerah, Mako dan Lele sedang berjalan-jalan menyusuri kota kecil Faraday. Mako adalah gadis kecil yang manis dan ceria, karena itu dia disukai oleh penduduk kota. Sedangkan, Lele adalah anjing peliharaan Mako, anjing berjenis Pomeranian dengan bulu berwarna coklat lebat. Setiap sore mereka berdua selalu berjalan-jalan melewati pasar yang banyak menjual makanan. Sambil berlalu melewati pasar tersebut, mereka tersenyum menyapa para penjual dan pejalan kaki lain.

Hal yang paling Mako sukai saat jalan-jalan adalah mengunjungi toko roti di ujung gang. Menurutnya, pemilik toko roti tersebut adalah orang yang sangat ramah, berbeda dengan pemilik toko lainnya. Ketika sudah masuk ke dalam toko roti, Mako disambut oleh aroma wangi roti yang baru keluar dari pemanggang. Mako berjalan pelan, memandang setiap bagian etalase kaca yang memajang beraneka jenis roti. Ia bimbang harus memilih roti yang mana. Semua telihat lezat.

Mako berhenti berjalan ketika dia merasakan ada sesuatu dibawah kakinya. Dia menengok kebawah dan mendapati beberapa roti terjatuh dari etalase. Tanpa pikir panjang Mako segera megambil roti-roti tersebut dan menatanya kembali di etalase. Pemilik toko kemudian datang dan mendekat ke arah Mako, dia tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Ia mempersilahkan Mako untuk melanjutkan belanjanya.

Usai membeli roti, Mako bergegas keluar dari toko hingga tanpa sengaja dia menginjak selembar kertas. Mako mengambil kertas itu dan mendapati foto anjing poodle berbulu putih dengan tulisan “ANJING HILANG” di bawahnya. Sungguh malang nasib pemilik anjing itu, pikir Mako. Seandainya Lele yang hilang pasti ia akan sangat sedih.

Gelap datang menjemput siang. Mako dan lele sedang dalam perjalanan pulang. Saat melewati lapangan bola, mereka berpapasan dengan seorang pria berpakaian setelan jas dan topi berwarna abu-abu. Pria itu terlihat sangat rapi seperti seorang sales, di pundaknya tersampir sebuah karung hitam berukuran besar. Ia tersenyum ke arah Mako dan menyapanya. Pria itu bertanya apa yang mereka lalukan disaat hari sudah gelap begini. Mako menjawab kalau dia sedang dalam perjalanan pulang, Mako kembali bertanya kepada pria tersebut, apa yang pria itu lakukan. Namun pria itu hanya menjawab dengan tersenyum. Kemudian dia membuka isi karungnya dan menunjukkan beberapa boneka lucu yang ada di dalamnya. Pria tersebut ternyata seorang penjual boneka keliling. Pria itu mengeluarkan salah satu bonekanya  dan menyerahkan kepada Mako.

“Peganglah. Lembut, kan? Apa kamu mau membelinya?” tanya pria tersebut.

“Wah ini lembut sekali!” seru Mako.

 Boneka kambing berwarna putih yang dipegangnya memang benar-benar lembut. Bulunya terasa seperti bulu domba sungguhan. Mako ingin sekali membeli boneka itu. Dia bertanya kepada si penjual itu berapa harga boneka kambing itu. Namun begitu mendengar harganya, ia sangat terkejut. Seratus ribu, uang di kantongnya tentu tidak akan cukup. Mako kecewa karena tidak bisa membeli boneka tersebut.

Pria itu melihat ekspresi kecewa Mako dan pandangannya beralih pada Lele. Ia begitu terpukau melihat bulu coklat Lele yang sangat lebat. Setelah terdiam beberapa saat, laki-laki itu memperkenalkan dirinya.

“Namaku adalah Henhen, penjual boneka keliling.”

Henhen memberikan penawaran kepada Mako agar bisa memiliki boneka tersebut. Ia menawarkan Mako supaya menukar boneka itu dengan Lele. Mako terkejut mendengar tawaran pria di depannya. Meskipun ia sangat menginginkan boneka itu, namun ia tidak mungkin menukarnya dengan Lele, anjing kesayangan yang  sudah  menjadi bagian dari keluarganya.

“Tidak.” Mako menggelengkan kepalanya menolak tawaran Henhen. Ia minta maaf kepada Henhen dan segera pergi meninggalkannya.

Keesokan harinya, Lele sedang duduk di dekat pagar rumah menunggu Mako pulang. Hari itu langit sedang cerah, membuat Lele tidak sabar untuk berjalan-jalan. Hanya saja Mako sedikit terlambat hari itu, membuat Lele kebingungan. Tak lama pintu pagar terbuka, tampak Mako yang sudah sampai di rumah. Lele dengan cepat menyambut Mako sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Tapi Lele menyadari ada orang lain di belakang Mako. Ia mencium bau asing. Ia pun menggeram dan mulai menggonggong. Mako mencoba menenangkan Lele dengan mengelus-ngelusnya dan menyuruh temannya yang sedang berdiri di depan pagar untuk masuk.

“Ini hanya anjing kecil. Masuk saja Kim.” kata Mako.

Anak perempuan bernama Kim itu jalan melewati Mako dan Lele, lalu segera menuju depan pintu rumah. Mako behenti memegang Lele dan berdiri. Ia menyuruh Lele untuk menjadi anjing yang baik dan duduk dengan tenang. Lele pun menurut. Setelah itu, Mako segera menyusul Kim masuk kedalam rumah. Tak lama kemudian, terdengar suara bising video game dari dalam rumah, disusul suara Mako dan Kim yang saling sahut menyahut.

Lele sedih dan kecewa. Padahal anjing kecil itu sangat ingin jalan-jalan. Lele hanya bisa duduk dan menunggu Mako keluar dengan harapan akan mengajaknya jalan-jalan meski hanya sebentar. Tak lama kemudian, Lele mendengar suara kucing berjalan di depan rumah. Dia melihat kea rah pintu pagar, ternyata belum ditutup. Tanpa ragu-ragu Lele keluar dan mengejar kucing itu. Kucing itu pun kaget dan langsung berlari. Lele dan kucing itu pun kejar-kejaran sampai jauh dari rumah.

Langit sore mulai menyapa. Mako dan temannya, Kim juga telah selesai bermain. Mereka keluar menuju teras. Kim harus segera pulang. Namun, saat hendak mengantar Kim menuju pagar rumah, Mako menyadari pintu pagar sudah terbuka. Setelah Kim pulang, Mako langsung mencari Lele. Dia memanggil-manggil Lele ke seluruh halaman rumah, Lele tidak ada. Mako yang bingung langsung menghampiri Mamanya di dapur dan bertanya keberadaan Lele. Tetapi mama Mako tidak tahu keberadaan Lele.

“Kapan terakhir kamu melihat Lele?” tanya Mama Mako.

“Terakhir Mako melihat Lele itu saat Mako sampai rumah tadi.”

Mako pun mulai mengingat-lagi dan alangkah kagetnya dia karena teringat bahwa dia lupa menutup pintu pagar. Mako mulai panik mengetahui anjing kesayangannya pergi keluar sendirian. Mama Mako berusaha menenangkan putrinya sambil sambil mengusap kepalanya.

 “Lain kali, meskipun ada teman yang datang, kamu jangan asyik sendiri hingga melupakan hal-hal kecil seperti menutup pagar, karena tanpa kita tahu hal-hal kecil tersebut bisa menimbulkan masalah besar dikemudian hari.”ujar Mama Mako.

Mama Mako pun menyuruh putrinya segera mencari Lele, ia menyarankan supaya mencari ke lokasi yang biasa Mako lewati Lele saat jalan-jalan. Mako mengangguk dan segera pergi mencari Lele.

Mako berjalan dengan gegas mengarah ke kota. Saat melewati persimpangan jalan dia berpapasan dengan Henhen, si penjual boneka. Henhen masih mengenakan pakaian yang sama seperti malam lalu, ia juga membawa karung hitam berisikan boneka. Melihat Mako berjalan tergesa-gesa, Henhen menyapa Mako.

“Mako, ada apa? Sepertinya kamu sedang terburu-buru.”

 Mako memberitahu Henhen apa ynag terjadi kepada Lele. Mako juga bertanya apakah Henhen melihat Lele atau tidak. Henhen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menawarkan bantuan untuk mencari Lele, dan dengan senang hati Mako menerima tawaran itu. Akan tetapi dibalik niat baiknya, Henhen ternyata punya niat buruk terhadap Lele.

Henhen tersenyum licik dan bertanya kepada Mako, tempat-tempat yang biasa Mako dan Lele kunjungi. Mako pun mengatakan mereka biasanya mengelilingi lapangan tempat anak-anak bermain bola, setelah itu pergi ke pasar makanan, dan duduk-duduk di taman. Henhen menyarakan agar mereka berpencar supaya pencarian lebih mudah. Henhen pergi ke lapangan dan Mako pergi ke Pasar. Mako pun mengangguk dan beranjak pergi disusul oleh Henhen.

Henhen tiba di lapangan terlebih dahulu. Dia melihat anak-anak sedang bermain bola, namun Lele tidak ada di sana. Henhen pun langsung bergegas pergi ke taman. Di saat yang sama namun di tempat yang berbeda, Mako sampai di pasar dan langsung menuju toko cemilan yang biasa dia kunjungi. Dia bertanya kepada pemilik toko tersebut, tetapi dia juga tidak tahu keberadaan Lele.  Setelah itu Mako pergi ke toko roti, toko coklat dan toko-toko lainnya, tetapi mereka juga tidak tahu. Maka Mako pun langsung pergi menuju ke taman.

Hari sudah mulai gelap, hanya menyisakan sedikit cahaya matahari membuat langit berwarna jingga. Henhen sudah tiba di taman terlebih dahulu. Di sana sudah sepi, hanya tersisa beberapa orang dewasa yang sedang duduk menikmati senja. Di taman itu terdapat kolam ikan besar dengan bunga teratai di dalamnya, juga ikan koi berukuran cukup besar. Tak jauh dari kolam itu, Lele sedang menggaruk-garuk kupingnya di bawah sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Henhen yang melihatnya pun sangat senang. Senyum licik menyeringai membingkai wajahnya.

Dengan cepat dia menghampiri anjing itu sambil mengeluarkan karung hitam kosong yang sejak tadi dia bawa. Lele yang menyadari keberadaan Henhen pun menghindar dan berlari dengan cepat. Henhen mengejarnya di belakangnya. Hingga mereka sampai di tepi danau. Lele terjebak dan tak bisa menghindar. Dengan terengah-terengah Henhen mendekat ke arah Lele.

“Kau tak akan bisa lari kemana-mana lagi anjing kecil.” Ucapan Henhen membuat Lele ketakutan. Tubuhnya bergetar. Dia tidak tahu harus lari kemana lagi.

Sayup-sayup terdengar suara dari balik pepohonan, memanggil nama Lele. TERNYTA Mako sudah sampai di taman. Mendengar suara Lele, Mako langsung menggonggong sekeras mungkin agar Mako mendengarnya. Henhen panik dan langsung memasukan Lele ke dalam karungnya, dan bergegas pergi keluar taman. Namun, niat Henhen terhenti karena jas abu-abu yang dia gunakan dicengkeram erat oleh Mako. Dengan sekuat tenaga Mako menahan laki-laki itu.

“Lele mau kamu bawa kemana?!” tanya Mako.

Henhen menghempas tangan Mako yang memegang jasnya dan langsung berlari.

“Kumohon berhenti Tuan, Itu anjing kesayangan saya!” seru Mako sambil berlari mengejar Henhen, tetapi Mako tersandung batu dan terjatuh membuatnya makin jauh dari Henhen.

Mako kesakitan, tapi tidak menyerah. Dia bangkit berdiri dan berusaha mengejar Henhen sambil menangis. Akan tetapi usahanya sia-sia. Henhen semakin jauh dan hilang entah kemana.

Henhen berhasil kabur. Saat tiba di pasar, dia mencari gang sepi untuk istirahat karena kelelahan. Lele yang ada didalam karungnya terus menggonggong, membuat orang-orang yang lewat melihatnya curiga. Merasa tidak aman, Henhen memutuskan untuk keluar dari gang itu dan berjalan pelan. Namun, bajunya ditarik oleh seseorang. Tampak sebuah tangan besar menahan Henhen. Itu adalah tangan pemilik toko roti.

Pemilik toko roti rupanya curiga dengan suara yang ada di balik karung Henhen.

“Kenapa ada suara anjing dari dalam karung itu?” Tanya pemilik toko roti.

Dengan geram Henhen menjawab, “Bukan urusanmu Pak Tua, lepaskan saya!” seru Henhen sambil berusaha melepaskan tangan pemilik toko. Mendengar kegaduhan tersebut, pemilik-pemilik toko yang lain keluar. Henhen semakin panik. Orang-orang sekarang mengelilinginya. Merasa tidak ada jalan keluar, Henhen akhirnya menyerah. Dia menyerahkan karung itu kepada si pemilik toko roti. Setelah karung hitam itu dibuka, Lele langsung lompat keluar. Pemilik toko itu tersenyum melihat Lele. Orang-orang pun membawa Henhen ke kantor polisi, dan Henhen dipenjara atas tuduhan penculikan anjing.

Hari sudah malam, Mako menangis di teras karena tidak berhasil menemukan Lele. Mama Mako berusaha menghiburnya sambil mengobati luka-luka dikaki Mako. Mereka menunggu Papa Mako pulang agar bisa membantu mencari Lele.  Tak lama kemudian, pemilik toko roti tiba di depan rumah sambil menggendong Lele di tangannya. Alangkah bahagianya Mako saat melihat Lele. Dengan cepat Mako menghampiri Pemilik toko roti dan mengembil Lele dari tangannya. Dengan bergelinang air mata, Mako berterima kasih kepada si Pemilik toko Roti. Mako menyadari bahwa dia tidak boleh lagi meremehkan hal-hal kecil. Tamat.

Share This: