Merangkai Rupiah dengan Bunga

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

“Pak, kenapa florist di sini kebanyakan laki-laki?”

Pak Bambang, puspawan (florist) yang telah puluhan tahun berkecimpung di Pasar Bunga Kayoon, Surabaya, sejenak berkata.

“Karena laki-laki lebih tangkas. Kerjanya gesit.”

Bagaimana tidak? Jika ada orang yang meninggal siang ini dan koleganya memesan karangan bunga, mau tidak mau harus lekas dieksekusi. Satu karangan bunga besar dengan material papan triplek atau styrofoam butuh 2-3 jam pengerjaan. Itu sudah termasuk desain ucapan duka cita. Patokan harga 450 ribu rupiah untuk bunga imitasi dan 500 ribu rupiah untuk bunga asli nan segar.

12932631_10154059765759304_3105669465594871859_n

Dan, karangan bunga untuk duka cita menghindari bunga-bunga warna merah. Kecuali kalau alamrahum(ah) meninggal di usia 95 tahun ke atas, bolehlah. Sebab, itu usia yang patut dirayakan. Usia panjang. Dianggap mati bahagia.

Bunga-bunga itu sendiri didatangkan dari Batu (Malang), Bangil dan Nongkojajar (Pasuruan), Jakarta, bahkan impor.

Ada sekitar 80-90 pengusaha bunga di Pasar Bunga Kayoon. Dalam sebulan omset per pengusaha bisa mencapai 20-30 juta. Maka, tak heran bisnis ini begitu hidup. Banyak yang menggantungkan periuk nasinya dari bunga. Terlebih pasar ini pun buka 24 jam.

Pak Bambang sebagai pemilik toko bunga SEKARSARI banyak membagikan kisah menarik pada siswa-siswi Sekolah Linguistik Iwec pada hari Minggu (3/4).

12524410_10154059762444304_6810716971703220199_n

12938192_10154059758084304_762885497837636559_n

“Dulu pernah juga lho ada kasus terkait karangan bunga. Ada yang memesan lima karangan bunga duka cita untuk dikirimkan pada seseorang. Padahal setelah diusut, orang itu belum meninggal. Si pemesan gelap itu rupanya menyimpan dendam. Ada unsur affair (perselingkuhan),” jelas pria yang pernah 11 tahun tinggal di Jerman ini.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang belum tergali dari kegiatan outing (belajar di luar kelas ala IWEC) tadi. Saya kira, harus ada outing lanjutan di sini.

Syukurlah, tak sekadar berbagi cerita, outing kali ini pun diisi workshop merangkai bunga. Media tancap, perkakas, dan bunga (mawar, krisan, aster, dan cemara) sudah disiapkan oleh Pak Bambang dan tim. Anak-anak IWEC pun diajarkan dengan telaten oleh beliau. Kakak-kakak guru ikut berkecimpung.

“Anak-anak ini fokus sekali, ya? Mereka tidak ricuh. Hasil buket mereka pun optimal,” puji Pak Bambang.

Saya kira, latihan menulis yang ditanamkan guru-guru IWEC ikut membantu anak-anak ini fokus. Mereka konsentrasi menuangkan gagasan mereka. Dari menulis dengan pena, mengetik di laptop, kini teraplikasikan kala merangkai bunga.

Benar-benar hari yang mengayakan kreativitas! Apalagi buketnya boleh dibawa pulang. Sesiapa saja, bahagia!

12524240_10154059754814304_5243610670650620297_n

Share This: