MIMPI TABUR SEMAI

Oleh: Cahya Haniva

Matahari pukul sebelas siang rupanya sudah terlalu kuat membakar ubun-ubun Raka. Dia berjalan sempoyongan menuju lobi rumah susun tempat tinggalnya. Badannya memang sedang terbakar matahari dan memakai jaket cukup tebal, tapi Raka tetap merasa kedinginan. Peluh sebesar biji jagung bergantian turun dari pelipisnya.

Brakk!!

Raka tak melihat pintu kaca di depannya. Dahinya berdenyut kencang. Tak ada orang di lobby pada jam-jam ini yang bisa membantunya. Karena itu Raka memutuskan untuk duduk di kursi sejenak, menunggu hingga pandangannya tak berputar setelah menabrak pintu kaca kuat-kuat.

Sambil memegangi pelipisnya, Raka memutar kembali kejadian tadi pagi. Sedari Subuh sebelum berangkat sekolah dia memang sudah merasa tak enak badan. Alih-alih mengatakan yang sejujurnya kepada mamanya, dia memilih untuk tidak menghabiskan sarapan dan memasang wajah lesu, berharap ditanya tentang keadaannya. Nyatanya kode itu tidak berhasil. Mamanya tetap berangkat kerja sebelum dia menyelesaikan sarapan. Raka juga tetap berangkat dengan bus sekolah seperti biasa.

Di sekolah kondisinya makin buruk. Mukanya merah padam seperti udang rebus. Bu Noni menyadari gerak-gerik aneh anak didiknya dan segera memerintahkan untuk pergi ke UKS. Di situlah awal mula kejadian yang tak akan terlupakan seumur hidup Raka.

“Permisi, Sus. Saya disuruh Bu Noni ke sini,” Raka berkata sangat pelan, sampai Suster Sani, perawat baru di sekolah, mencondongkan badannya ke arah Raka untuk mendengar lebih jelas. Baru kali itu dia melihat Suster Sani sedekat ini. Raka gugup.

“Ada apa memang? Ada teman yang sakit di kelas? Mau ambil obat?”

Raka bingung dengan pertanyaan Suster Sani, terlebih ketika Suster Sani melihat lekat-lekat matanya. “Ehm… sebenarnya saya yang sakit.” Raka salah tingkah.

Refleks, tangan Suster Sani memegangi dahi Raka. Dia terkejut karena Raka memang demam cukup tinggi.

“Silakan berbaring di sana,” Suster Sani membimbing Raka untuk berbaring di tempat tidur nomor dua paling ujung.  Di sebelahnya sudah ada seorang murid yang berbaring. Raka tidak mengenalnya, mungkin kakak kelas 9 atau kelas 8.

“Permisi ya,” Suster Sani mencoba memasukkan termometer di ketiak Raka. Itulah pertama kalinya mereka bersentuhan kulit.

Raka menegang dan mencoba menolak tangan Suster Sani.

“Ini bukan suntik kok, nggak apa-apa. Nggak sakit.” Suster Sani berusaha bersikap ramah dengan senyuman lebar. Sepertinya dia sudah menemui banyak pasien seperti Raka.

Setelah termometer terpasang sempurna, Suster Sani menyingsingkan lengan seragam Raka. Perlahan-lahan dan lembut Suster Sani melilitkan tensi meter. Lengan Raka merinding. Bulu kuduknya berdiri.

“Jangan tegang ya. Tarik napas pelan-pelan. Jangan ditahan.”

Suster Sani menyadari Raka menahan napas sedari tadi. Hebat. Bahkan Raka sendiri pun tidak menyadari bahwa dia tidak bernapas selama beberapa saat saking terpananya.

Suster Sani mencatat hasilnya di sebuah notes. “Siapa namamu?”

“Raka. Raka Aditya.”

“Kelas?”

“Ehm.. kelas 7E.”

Tak lama kemudian termometer berbunyi. Suster Sani dengan sigap mengambilnya dari ketiak Raka dan melihat hasilnya. Dia menambahkan data itu di notes.

Selama Suster Sani menulis, Raka memerhatikannya dari sudut mata. Wajahnya ramah, walaupun tidak tersenyum. Gerak-geriknya gemulai tapi sopan. Matanya menunjukkan perhatian walaupun tidak menyelidik. Pribadi yang sungguh menarik hingga membuat jantung Raka melompat-lompat kegirangan.

“Saya ambilkan obat dulu. Kamu istirahat di sini saja. Nanti saya kasih surat sakit ke kelas agar kamu diizinkan pulang lebih cepat,” sambil mengatakannya, Suster Sani mengancingkan seragam Raka dan mengecek dahi Raka sekali lagi. Yang Raka bisa lakukan kala itu hanya mengangguk pelan. Bahkan sekujur tubuhnya menjadi kaku.

Sepertinya Suster Sani meninggalkannya selama lima menit untuk mengambil obat dan menulis surat. Namun bagi Raka, itu terasa seperti berjam-jam lamanya. Ada perasaan tidak sabar ingin berdekatan lagi dengan Suster Sani.

Setelah lima menit, atau lima jam waktu Raka, Suster Sani muncul membawa nampan kecil berisi segelas air putih dan dua butir pil. Raka tersenyum. Jantungnya kembali senam aerobik.

“Silakan diminum obatnya. Semoga lekas sembuh,” Suster Sani tersenyum manis, sebelum menutup kelambu dan kemudian menghilang. Bagi Raka, itu senyuman wanita paling menyejukkan yang pernah dia terima. Hingga, senyuman ajaib itu terbawa mimpi dalam tidur kilatnya.

***

Mengingat-ingat pertemuan dengan Suster Sani membuat dahi Raka lebih baik dan tidak berputar-putar lagi. Dia segera beranjak menuju lantai enam dengan menaiki tangga, satu per satu. Baru kali ini Raka mengutuk elevator yang sudah berbulan-bulan macet itu.

Ketika hendak membuka pintu, Raka sadar ternyata rumahnya tidak terkunci. Karena sekarang baru pukul sebelas, Mbak Mumun sepertinya masih bersih-bersih di dalam rumah. Biasanya dia baru selesai beres-beres sekitar pukul satu siang.

“Loh, Mas Raka sudah pulang?” sambil ngepel lantai, Mbak Mumun menyambut Raka.

“Lagi nggak enak badan. Disuruh pulang cepat.” Raka mengempaskan tubuhnya ke sofa.

“Loh.. loh.. loh.. Sakit apa? Saya telpon mama ya? Udah minum obat?” Mbak Mumun tiba-tiba mendatangi Raka dan menyentuh dahinya. Raka menghindar karena tangan Mbak Mumun masih basah karena air pel. Bukan hanya tangannya, baju dasternya juga terasa lembab.

“Udah kok. Mbak Mumun lanjut ngepel aja,” ucap Raka agak kesal.

Mbak Mumun berusia tujuh tahun lebih tua dari Raka. Dia tinggal di lantai empat bersama kedua orang tuanya. Sudah dua tahun ini dia bekerja di rumahnya selama tiga jam sehari untuk beres-beres rumah dan mencuci-setrika baju. Sebenarnya mamanya tidak memaksa karena tidak bisa menggaji tinggi. Mbak Mumun bekerja untuk Mama Raka untuk membalas budi. Setelah lulus SMA, dia dikursuskan menjahit secara cuma-cuma hingga mahir. Sekarang dia menerima banyak order jahitan dan bahkan dijual secara on-line. Walau tidak bekerja di rumah Raka pun, Mbak Mumun sebenarnya punya penghasilan mandiri.

Kehadiran Mbak Mumun di rumah Raka sudah seperti kakak perempuan atau bibi. Selain banyak membantu urusan rumah tangga, Mbak Mumun dengan suka rela menjadi teman ngobrol dan berdiskusi mama Raka. Di Hari Minggu, mereka sering nonton TV, memasak makan siang, dan terkadang belanja bersama.

“Permisi mas, kakinya tolong diangkat,” kata Mbak Mumun sopan sambil berjongkok di sebelah Raka dan mulai mengepel lagi.

Melihat gestur Mbak Mumun dan dasternya yang sedikit terbuka di bagian depan membuat Raka tidak nyaman. Seperti ada perasaan aneh dan degup jantung yang tidak tenang. Lama-lama membuatnya mual. Dia segera bangkit dan pindah ke kamar untuk menghindarinya.

“Ohiya, Mas. Tadi ada kurir yang anterin barang. Kayaknya mama habis beli on-line. Saya taruh di lemari tadi.”

Raka hanya mengangguk, lantas pergi begitu saja.

“Mas Raka saya buatkan telor dadar ya buat makan siang. Trus minum obat ya? Saya siapkan sebelum pulang.”

“Terserah.”

Jawab Raka singkat sambil membanting pintu kamarnya.

***

Raka berbaring di tempat tidur, masih memakai seragam sekolah. Dia memejamkan matanya, menahan perasaan bersalah. Baru pertama kali dalam hidupnya, Raka merasakan gejolak yang unik seperti ini. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya karena dipompa denyut jantung, namun tertahan. Karena tidak dapat keluar, sesuatu itu berputar, meletup-letup, hingga membuat sekujur tubuhnya cenat-cenut. Anehnya, perasaan itu membuatnya merasa bahagia. Walaupun dadanya ditekan, degupnya tak bisa tertahan. Sekujur tubuhnya tak berhenti merinding. Sensasi yang sungguh ganjil.

Yang membuatnya merasa bersalah adalah sensasi itu muncul sekonyong-konyong tak diduga-duga dan tak bisa dikendalikan, saat dia berinteraksi dengan wanita. Lebih parahnya lagi, wanita itu adalah orang yang dekat dengannya; tadi pagi perawat di sekolah dan baru saja asisten rumah tangga. Raka bertanya-tanya mengapa perasaan ini baru muncul sekarang. Padahal sebelum ini Raka menganggap mereka seperti orang lain pada umumnya, seperti keluarga, seperti guru-guru, seperti yang lainnya. Perasaan ini membuatnya merasa amat bersalah.

Raka mendengar ketukan pintu dari luar.

“Mas Raka, makan siang sudah saya siapkan ya. Saya pulang dulu. Mau ngerjain orderan. Saya juga sudah telepon mama. Beliau nanti akan pulang cepat,” ucap Mbak Mumun pelan sekali. Sepertinya dia paham Raka sedang merasa tidak nyaman karena membanting pintu kamar tadi.

Raka tidak menjawab. Tak lama kemudian dia mendengar pintu depan dibuka dan dikunci dari luar.

***

Raka terbangun ketika pintu kamarnya terbuka. Mamanya masuk sambil membawa bungkusan besar. Sepertinya barang online shop yang tadi diceritakan Mbak Mumun. Mamanya memeriksa dahinya dengan punggung tangan, kemudian mengelus rambutnya singkat.

“Pasti belum minum obat lagi ya? Makan siang dari Mbak Mumun juga belum dimakan?”

“Tadi di sekolah sudah minum obat.”

“Minum lagi dong, biar cepat sembuh. Mama masakin mau? Apa mau beli mie goreng aja di Bang Hamid?”

Raka belum menentukan pilihan makan malam, mamanya sudah menyahut dengan obrolan lain.

“Kemarin mama beliin tas sama sepatu baru. Kayaknya tasmu udah waktunya ganti. Warnanya mama pilih cokelat sih. Lebih bagus. Kamu suka kan? Sepatu hitamnya mama beliin yang bukan pakai tali biar kamu gampang pakainya nggak ribet. Perlu apa lagi? Nanti mama belikan. Buku? Game baru? Komik? Yang kemarin mama belikan sudah selesai baca kan? Atau mau DVD?”

Bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu, Raka hanya memberikan gestur antara menggeleng dan mengangguk. Sepertinya, mamanya juga tidak mengharapkan jawaban apa pun darinya.

“Kemarin mama syok lho, gara-gara baca di grup orang tua. Katanya Doni sama Mario habis ketahuan bawa buku porno ya? Aduh, pasti itu mamanya nggak nyeleksi deh apa aja yang anak-anaknya beli. Bahaya banget. Trus udah banyak temanmu yang pacar-pacaran gitu?”

Raka menggeleng. Dia tidak begitu suka topik pembicaraan ini.

“Jangan pacar-pacaran ya. Cewek ABG itu cuma mau morotin kamu aja, nggak beneran naksir. Mama ngeri sama pergaulan anak zaman sekarang. Hiiy.. mending kamu main game tembak-tembakan aja deh daripada main pacar-pacaran. Bahaya! Masih kelas satu SMP lho, udah kayak gitu.”

Raka mengangguk. Beberapa saat hening. Mamanya terlihat berpikir. Raka menggunakan kesempatan ini untuk kabur.

“Aku mau mandi dulu.”

“Belum mandi? Yaudah, mandi pakai air anget ya. Nanti pakai piyama yang wana hijau aja. Kainnya enak kalau dipakai istirahat waktu badan lagi demam.”

“Iya,” jawab Raka singkat agar mamanya segera berhenti berbicara.

“Gitu dong. Jadi anak yang nurut. Mama sudah atur semua buat kamu. Mama tahu yang terbaik. Kalau mama biarin, kamu nanti terpengaruh sama teman-temanmu yang nakal itu. Mama nggak mau ya, kamu terjerumus hal-hal yang nggak bener. Nanti masa depan suram! Lagian…”

Rupanya tebakan Raka salah. Mamanya tetap berbicara panjang lebar. Akhirnya dia segera menutup pintu kamar mandi agar suara mamanya segera menghilang.

***

Setelah makan malam yang panjang penuh wejangan dari mama dan minum obat, Raka segera pamit untuk tidur. Raka mengunci pintu rapat-rapat dan berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun agar dikira sudah tidur. Walaupun sebenarnya, di dalam kamar Raka belum juga bisa tidur setelah lewat dua jam dari pertama dia masuk kamar.

Bukan berarti Raka tidak ingin mengakhiri segera hari yang panjang ini. Ia telah melakukan segala cara untuk mengundang kantuk. Mulai dari mematikan lampu, miring ke kanan, miring ke kiri, menyalakan pendingin ruangan, dan menutupi wajahnya dengan selimut. Semua usahanya menuai hasil nihil. Dia tetap tak bisa terlelap. Cara terakhir yang terpikirkan olehnya adalah dengan membaca buku.

Dia meraih salah satu komik favoritnya, One Piece, yang sudah dibaca puluhan kali. Karena Raka sudah hafal tiap panel di chapter tersebut, dia berharap segera bosan dan mengantuk. Halaman pertama, halaman kedua, hingga halaman kelima dia telusuri. Perasaan aneh yang seharian ini berusaha dihalaunya tumbuh kembali ketika dia bertemu dengan Nami, sang Navigator Bajak Laut yang ulung di lautan. Gadis pemberani yang tumbuh menjadi kuat dan berkarakter setelah melalui banyak pengalaman pahit serta menegangkan dalam hidupnya. Tentu saja, yang lebih menarik lagi bagi Raka adalah karena pakaiannya. Sebenarnya Raka tidak ingin menitikberatkan pada hal itu dan berpikiran positif, bahwa seorang bajak laut yang hebat memiliki selera fesyen yang efektif dan efisien untuk menghadapi rintangan di depan mata, alih-alih memandangnya sebagai sesuatu yang saru.

Kesibukan membayangkan sosok Nami, menjebak Raka dalam ketidaksadaran yang membingungkan. Saat dia membuka mata, pandangannya masih berkunang-kunang. Sepertinya ini pengaruh obat, pikir Raka. Sayup-sayup dia mendengar dua wanita sedang berbicara di luar kamarnya. Belum selesai menyimak isi pembicaraannya, seseorang masuk kamarnya tanpa mengetuk. Raka kaget.

“Mbak Mumun ngapain malam-malam ke sini?” Raka bergumam lemah, tak kuasa menahan mata yang berat.

“Ada yang ingin ketemu sama kamu,” Mbak Mumun, masih dengan daster siang tadi tumben berwajah sangat ramah. Di belakangnya, ada sesosok perempuan. Raka tak bisa melihat dengan jelas raut wajahnya. Begitu dia mendekat, barulah Raka mengenali sosoknya.

“Ehmm.. A..anu..” Raka terbata-bata, tak tau harus berbicara apa. Jantungnya sudah bermain buggy jumping.

Suster Sani, masih mengenakan seragam tadi siang tersenyum begitu manis ke arahnya. Perlahan-lahan ia mendekat, hendak memegang dahi Raka. Raka menolak, bergeser menjauhinya. Dia tak bisa bergeser mundur lebih banyak lagi karena punggungnya sudah menyentuh tembok.

“Kamu masih demam. Belum minum obat ya?”

Raka bergidik geli ketika punggung tangan Suster Sani menyentuh dahinya.

“Saya bawakan obat ya. Nanti saya bantu minum.”

Melihat senyuman manis Suster Sani, dada Raka makin tak karuan.

“Nggak usah repot-repot, Suster. Biar saya saja. Biasanya yang bantuin Mas Raka itu saya kok,” ucap Mbak Mumun tak kalah manis. Kemudian dia menyentuh pelipis Raka yang basah karena keringat dingin. “Habis ini sekalian ganti piyama ya. Basah banget kena keringat ini,” Mbak Mumun melanjutkan.

Segera, Raka menepis tangan Mbak Mumun yang hendak membuka kancing piyamanya. Raka tidak ingin ada yang menyadari dadanya berdegup terlalu kencang, memompa darah kebahagiaan ke seluruh penjuru tubuhnya. Raka ingin menghentikan semburan gairah menyenangkan di semua persendian, yang makin membuatnya lemah tak berdaya karena bahagia. Semakin bahagia, semakin merasa bersalah dibuatnya.

Brak!!!

Pintu kamarnya terbuka lebar. Angin pantai sepoi-sepoi meniup rambut Raka manja. Bau asin yang lezat menguar di udara. Dibayangi latar deburan ombak dan terik matahari, Nami menghambur ke arah Raka.

“Halo! Aku dengar kamu lagi nggak enak badan ya? Mungkin kamu kurang main tuh. Yuk ikut jalan-jalan naik Thousand Sunny! Sebulan dua bulan cukup kan?” Nami berseru sambil meraih tangan kanan Raka.

Raka makin meleleh dipandangi ketiga wanita itu lekat-lekat, menanti persetujuannya. Dia bingung, harus memilih antara minum obat, ganti baju, atau langsung berpetualang ke alam bebas. Semua nampak begitu menarik. Bukan karena pilihannya, melainkan karena sosok yang mengajaknya.

“Ayo buruan, Raka! Ayo! Ayo! Ayo!” mereka bertiga berseru bergantian di depan Raka. Di tengah kebisingan suara cempreng tiga wanita di depannya, Raka tak tahu harus melakukan apa. Dia hanya mampu mengangguk.

Seketika itu juga, ketiga pasang tangan wanita itu meraih tubuhnya dan menarik sesuatu yang sedari siang menggerogoti sekujur tubuhnya, yang meronta-ronta ingin keluar. Sesuatu itu menggelinjang saking sulitnya untuk dikeluarkan. Mereka bertiga dengan sekuat tenaga menariknya dari tubuh Raka. Sedangkan Raka hanya bisa lemah tak berdaya menikmati sensasinya ketika aliran kebahagiaan itu menyentuh urat-urat nadinya. Tak lama, mereka bertiga berhasil menarik seluruhnya dari tubuh Raka.

Raka mendesah panjang. Tubuhnya terguncang, kemudian terkulai lemas. Semua bayangan menghilang. Hanya gelap yang dilihatnya. Napasnya terengah-engah. Sekali hentakan, dia membuka mata.

***

Raka tengkurap dikasur. Kedua tangannya di depan dada. Dia berguling terlentang dan membuang selimut yang melilit. Segera, dia membuka kancing piyama agar lega napasnya. Sambil terengah-engah, dia mengecek dahinya. Rupanya demam sudah turun. Namun, keringat dingin masih bercucuran.

Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mamanya membiarkan dia tidak masuk sekolah hari ini. Baguslah, pikir Raka. Dia jadi punya waktu untuk bermalas-malasan hari ini.

Ketika bangkit dari tidurnya, Raka menyadari sesuatu yang tidak nyaman. Saat dia memeriksa di balik celana dalamnya, Raka menyadari bahwa sesuatu yang basah dan lembab ini ternyata bukan ompol. Deg!

Di saat yang bersamaan, pintu kamarnya diketuk dari luar.

“Mas Raka sudah bangun belum? Tadi mama pesan buat ganti spreinya pas Mas Raka sudah bangun. Sekalian seragam sama piyamanya ya, nanti taruh di bak cucian.”

Raka kaget sekaligus kebingungan. Dia ingin bergerak melakukan sesuatu tapi hanya bisa membatu.

“Ehm.. Nanti aja Mbak. Aku sendi…” Raka menghentikan kalimatnya dan menutup erat-erat mulutnya, begitu menyadari suara yang keluar seperti bukan dari tenggorokannya. Lebih serak dan rendah.

“Kenapa, Mas? Nggak jelas,” kata Mbak Mumun, tak sabar di balik pintu.

Raka hanya bisa membisu dengan dada bergetar hebat. Bukan lagi perasaan hangat yang membahagiakan, melainkan seperti genderang yang menakutkan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika dirinya berubah begitu cepat dalam waktu semalam. Perasaan bersalah kembali mememangsanya dari dalam. Bagaimana dia harus menjelaskan ini kepada mamanya?

***