Kutukan Air Mancur Taman Azalea

Oleh: Adzkia Anfaunnas (Siswa Kelas Menulis IWEC)

       Anne, Sofia dan Rebbeca adalah sahabat. Ketiga sahabat tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda. Rebbeca adalah anak yang tomboy, ia mudah marah dan jahil, ia suka menakuti orang-orang di sekitarnya. Sedangkan Anne adalah tipe anak yang feminin, lemah lembut, penakut, dan ia mudah sekali menangis. Lalu Sofia, dia dikenal sebagai anak yang pemberani, tetapi cuek.

       Pagi ini, Anne, Sofia dan Rebbeca berkumpul di rumah Anne. Mereka saling berbagi cerita dan bermain bersama. Namun, setelah beberapa saat bermain di dalam rumah, mereka merasa bosan dan memutuskan untuk keluar rumah dan jalan-jalan ke lapangan. Disana mereka bermain kejar-kejaran bersama anak laki-laki. Setelah lelah, mereka memutuskan untuk istirahat dan duduk di bangku yang berada di sisi barat lapangan.

          “Guys, gimana kalau besok kita piknik ke taman Azalea?” usul Rebbeca .

          “Wah, ide bagus tuh,” balas Anne yang juga disetujui oleh Sofia.

          “Untuk keperluannya kita bagi-bagi tugas ya,” kata Anne sambil mengutak-atik HP untuk mencari informasi tentang taman yang akan mereka kunjungi besok.

          “Oke, aku yang bawa tikar, Anne bawa buah-buahan, dan Rebbeca bawa makanan. Kita ketemu di depan taman Azalea jam 8 pagi ya?” terang Sofia.

          “Oke, Sudah siang nih, ayo pulang!” ajak Rebbeca sambil mengipaskan tangannya karena kepanasan.

          “Ya udah, yuk pulang.”

***

          Keesokan harinya, di depan gerbang taman azalea Anne dan Sofia sedang berdiri. Anne membawa termos di tangan kanannya, sedangkan Sofia membawa tikar dengan kedua tangannya. Mereka kebingungan karena di sana masih sepi sekali. Mereka baru ingat bahwa sekarang masih pukul tujuh, harusnya mereka bertemu pukul delapan. Akhirnya, Anne dan Sofia pun duduk di sebuah bangku di sisi timur taman Azalea sambil menunggu Rebbeca.

       Selang beberapa saat kemudian, “Anne, Sofia!” terlihat Rebbeca menyapa sambil melambaikan tangan.

       “Hai, Rebbeca,” balas Anne dan Sofia sambil tersenyum.

       “Kita duduk di mana?” tanya Rebbeca.

       “Di sebelah sana!” tunjuk Sofia.

       “Di sana juga ada air mancur loh, airnya bisa diminum,” ucap Anne dengan gembira. “Tapi sayangnya tidak boleh minum lebih dari tiga kali,” lanjutnya.

       “Mengapa bisa begitu?” Tanya Rebbeca dengan penasaran.

       “Kata orang-orang, kalau meminum lebih dari tiga kali bisa terkena kutukan,” tutur Sofia membuat kedua sahabatnya mendadak berhenti berjalan.

       “Ah, pasti cuma mitos,” jawab Rebbeca dengan santainya.

       “Beneran loh,” ucap Sofia dan Anne berbarengan.

       “Enggak lah,” balas Rebbeca dengan nada kesal.

       “Ya sudah kalau nggak percaya, nanti menyesal kamu.”

       “Nggak bakal nyesel,” balas Rebecca meremehkan nasehat sahabatnya.

       Karena tidak percaya pada ucapan Anne dan Sofia, Rebbeca pun berjalan menuju air mancur dan meminum airnya sampai tiga tegukan karena ia merasa sangat haus. Setelah itu Rebbeca berjalan ke tempat Anne dan Sofia berada. Namun, tiba-tiba Rebbeca merasa pusing dan pingsan di depan kedua sahabatnya. Dengan panik, Anne segera meminta pertolongan kepada orang-orang yang lewat. Sedangkan Sofia menelpon ambulan. Begitu ambulan datang, orang-orang menggotong tubuh Rebbeca ke dalam ambulan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

       Setibanya di rumah sakit, Rebbeca langsung dibawa ke UGD. Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa kondisi Rebecca baik-baik saja, tapi anehnya ia belum bangun setelah pingsan berjam-jam. Dokter tidak bisa memastikan apa yang terjadi pada. Akhirnya Rebbeca pun dibawa pulang

       Sesampainya di rumah, ibu Rebbeca sedih melihat kondisi anaknya yang masih belum sadar. Setelah tenang, ibu Rebbeca pun meminta Sofia untuk menghubungi paman Rebbeca. Tak berapa lama kemudian, paman Rebbeca pun datang dan segera memeriksa keponakannya. Saat selesai memeriksa, paman Rebecca mengatakan bahwa Rebbeca terkena kutukan air mancur di taman Azalea karena meminumnya lebih dari tiga kali.

          “Rebbeca tidak percaya kalau tidak boleh meminum air lebih dari tiga kali,” ucap Sofia dengan sedih.

          “Ramuan untuk menyembuhkan Rebecca ada pada penyihir Jack yang tinggal di hutan terlarang,” jelas Paman Rebbeca. “Jika kalian ingin Rebbeca kembali sembuh, kalian harus segera ke sana mendapatkannya.”

          “Kapan kami bisa kesana, Paman?” tanya Sofia.

          “Besok, kalian bisa pergi ke sana,” jawab paman Rebbeca.

          “Baik, Paman,” jawab Anne dan Sofia bersamaan.

          “Oh, iya. Jika kalian melihat kepulan asap di atas langit, itu berarti kalian sudah dekat dengan rumah penyihir Jack. Ikuti saja arah asap tersebut berasal.

          Keesokan harinya, Anne dan Sofia berangkat ke hutan terlarang pagi-pagi sekali. Saat sampai disana, mereka tidak menyangka bahwa hutan terlarang menyeramkan sekali. Mereka melihat sebuah papan di sebelah kanan pagar hutan terlarang yang bertuliskan “Hati-hati saat masuk ke hutan terlarang. Kalian bisa tersesat!”

          Melihat tulisan pada papan itu, semangat dan keberanian mereka seketika hilang. Tetapi karena mereka ingat bahwa sahabat mereka membutuhkan bantuan mereka, mereka pun berusaha mengalahkan ketakutan mereka.  Mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam hutan terlarang.

          Begitu memasukki hutan terlarang, suasananya berubah. Pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi, sampai-sampai cahaya matahari pun kesulitan menembusnya. Di sana juga ada banyak tumbuhan yang tidak Anne dan Sofia kenali, dari yang kecil sampai besar. Pokonya banyak sekali berbagai tumbuhan aneh yang belum pernah mereka jumpai. Tidak ada orang yang berani pergi ke hutan terlarang, begitupun dengan Anne dan Sofia, mereka juga sangat takut.

          “Sofia, kamu jalan duluan aja, aku di belakangmu,” kata Anne dengan gemetar saat mulai memasuki hutan terlarang

          “Ish… dasar penakut,” jawab Sofia dengan kesal.

          “Hehehe, memang aku penakut dari dulu” ucap Anne sambil nyengir.

          “Ya udah, langsung masuk aja,” jawab Sofia. Anne hanya mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan ke hutan terlarang dengan hati-hati.

          Setelah beberapa saat, rumah penyihir Jack belum juga terlihat.

          “Sepertinya kita tersesat,” ucap Sofia dengan panic.

          “Terus, bagaimana dong pulangnya?” jawab Anne ikut panik.

          “Nah, itu masalahnya.”

          Karena tidak bisa berfikir lagi, akhirnya mereka pun memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon sambil meluruskan kakinya kerena lelah berjalan. Mereka juga mulai kedinginan karena hampir tidak ada cahaya matahari. Beruntung saja mereka memakai jaket yang cukup tebal.

          Setelah istirahat mereka pun mulai bersemangat kembali. “Lihat! Aku ingat tadi saat kita lewat sini, aku melihat pohon itu!” teriak Sofia dengan semangat.

          “Berarti pasti ada jalan disana,” jawab Anne tak kalah semangat.

          “Ya udah, yuk kita langsung kesana!”

          “Yuk!” jawab Anne sambil mengangguk.

          Setelah beberapa saat, mereka melihat asap dari jauh. Itu tandanya mereka sudah hampir sampai. Mereka pun mengikuti arah datangnya asap itu, sesuai petunjuk paman Rebbeca.

          Akhirnya, mereka melihat sebuah rumah. Rumahnya kecil dan sederhana sekali. Sepertinya itu rumah penyihir Jack. Tampak dari pintunya yang terbuka, di dalama rumah itu terdapat perapian di depan sofa, sebuah kuali besar yang terletak di satu sudut dinding. Di rak dinding, berjejer toples yang berisi ramuan dan benda-benda aneh yang tidak Sofia dan Anne ketahui.

           “Mau apa kalian disini?” tanya penyihir Jack tiba-tiba muncul.

          “Ka…kami di…di sini mau meminta ramuan penawar air mancur taman Azalea.” Sofia berbicara dengan tergagap karena saking gugupnya.

          “Tidak semudah itu,” balas Penyihir Jack dengan tawa sinis.

          “Mau Anda apa? Kami akan melakukan apapun asal mendapat ramuan itu,” ucap Sofia takut.

          “Kalian harus bisa mengambil daun abadi yang ada di tengah hutan terlarang,” tantang penyihir Jack membuat Anne dan Sofia saling tatap.

          “Tetapi kami tidak tau tempatnya.”

          “Aku akan memberi kalian peta ke sana.”

          “Baiklah.”

          “Kalian juga harus ingat, ada pohon besar yang menutupi daun abadi itu, jika kalian ingin mengambilnya, kalian harus menjawab teka teki dari pohon besar itu,” ucap penyihir Jack setelah menyerahkan peta kepada Anne dan Sofia.

***

          Setelah menerima peta, Anne dan Sofia langsung pergi ke tempat daun abadi.

          “Memang apa sih kegunaan daun abadi itu?” tanya Anne penasaran.

          “Aku pernah membaca buku di perpustakaan, daun abadi itu kegunaannya untuk membuat orang bisa hidup selamanya.”

          “Ohhh… jadi penyihir itu ingin hidup abadi”

          “Begitulah,” jawab Sofia singkat.    

           

          Suasana hening kembali. Beberapa menit kemudian, “By the way, kita udah sampai mana?” tanya Anne sambil melihat peta yang dipegang Sofia.

          “Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai.”

          “Ayo cepat nanti keburu sore,” ucap Anne sambil berlari kecil di depan.

          “Jangan lari, nanti kamu bisa tersandung.”

          Anne tidak menghiraukan kata-kata Sofia karena terlalu bersemangat. Ia tidak melihat jalan dengan benar, dan akhirnya jatuh. Sofia segera berlari menghampiri Anne dan melihat lukanya, ternyata lututnya berdarah. Sofia lalu mencari daun yang bisa dijadikan obat untuk menghentikan pendarahan di lutut Anne.

          Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Sofia menemukan daun Binahong. Kata neneknya dulu, daun binahong berkhasiat untuk menyembuhkan luka. Ia juga mencari batu untuk menumbuk daun tersebut. Setelah selesai ditumbuk, Sofia menghampiri Anne dan menaruh daun yang telah ditumbuk di atas lukanya. Anne dan Sofia pun melanjutkan perjalanannya mencari daun abadi.

          Anne dan Sofia akhirnya menemukan sebuah pohon besar, tempat daun abadi berada. Karena terlalu senang, mereka lupa bahwa mereka masih harus menjawab teka teki dari pohon besar terlebih dahulu.

          Tiba-tiba pohon besar itu membuka matanya dan berbicara dengan suara yang besar, “Mau apa kalian?”

          “Kami ingin mengambil daun abadi itu,” jawab Anne.

          “Tidak semudah itu, kalian harus menjawab teka teki dariku.”

          “Baiklah, siapa takut!” tantang Anne balik.

          “Aku hanya akan memberi waktu kalian lima detik untuk menjawab,”

Anne dan Sofia mulai pasang wajah serius.

          “Sandal-sandal apa yang enak?” tanya pohon besar, membuat Anne dan Sofia berpikir keras.

          “Ah, aku tahu! Jawabannya adalah sandal terasi” Sofia menjawab dengan semangat.

          “Kamu benar, tapi masih ada tiga soal lagi.”

          “Siapa takut!” jawab Sofia yakin.

          Sombong sekali mereka, awas aja kalau tidak bisa menjawab, akan ku makan kalian berdua, biar tahu rasa, ucap pohon besar dalam hati.

          “Selanjutnya, bis apa yang kuat?”

          “Roti biskuat!” jawab Anne dan sofia hampir bebarengan.

          “Benar. Pertanyaan selanjutnya, kasur, kasur apa yang kemasukan setan?”

          “Kasurupan,” jawab Sofia lantang.

          “Benar, gadis kecil,” ucap pohon besar. “Ini pertanyaan terakhir. Hewan, hewan apa yang hurufnya cuma ada dua?”

          Pohon besar itu merasa pertanyaan terakhir darinya adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab.

          “Udang!” lagi-lagi Sofia yang menjawab. Ia memang terkenal pintar di kelasnya. Jadi tidak heran jika Sofia bisa menjawab semua.

          “Bagaimana wahai pohon, apakah kami boleh mengambil daun abadi itu?” tanya Anne.

          “Tunggu dulu. Bagaimana kamu bisa menjawabnya?”

          “Itu mudah sekali,” jawab Sofia dengan sedikit sombong. Senyumnya mulai mengembang karena ia berhasil menjawab soal terakhir. “Udang mempunyai huruf U dan G,” lanjutnya.

          “Baiklah, kalian boleh mengambil daun abadi ini,” ucap pohon besar lalu menyibakkan ranting-rantingnya memberi jalan.

          Anne dan Sofia segera mengambil daun abadi dan kembali ke rumah penyihir Jack. Sesampainnya di sana, Anne dan Sofia memberikan daun abadi itu kepada penyihir Jack. Melihat daun abadi berada di tangannya, penyihir Jack begitu senang.

          Setelah itu, penyihir Jack meminta Anne dan Sofia untuk mengambil batu ginjal kambing yang ada di belakang hutan terlarang. Batu ginjal kambing adalah salah satu bahan penting dalam membuat ramuan penawar yang dicari Anne dan Sofia. Batu ginjal kambing terletak di dalam sebuah lubang di dalam tanah. Jadi, jika ingin mendapatkan batu ginjal kambing itu, mereka harus masuk ke dalam lubang tersebut.

          Anne dan Sofia sebenarnya sudah lelah, tetapi demi sahabatnya, mereka tetap berjuang. Mereka berusaha mencari lubang yang dimaksud penyihir Jack. Tapi sulit sekali menemukan lubang tersebut. Mereka berjalan pelan-pelan sambil mencari dengan teliti. Lalu tiba-tiba Anne terjatuh dan masuk ke dalam lubang.

          Sofia panik, ia tidak tahu harus apa. Akhirnya di pun ikut masuk ke dalam lubang tersebut. Di dalam sana sangat gelap sekali, beruntungnya Sofia membawa senter. Di dalam lubang itu, Sofia menemukan Anne sedang duduk di pojokan sambil menangis, tangannya dingin sekali saat Sofia pegang, bibirnya juga pucat karena ketakutan.

          Di dalam gua yang gelap itu Anne dan Sofia mencari benda yang diminta penyihir Jack. Dan setelah beberapa saat mencari, akhirnya mereka menemukan toples yang berisi rendaman batu ginjal kambing. Setelah itu, Anne dan Sofia langsung melesat pergi ke rumah penyihir Jack dan menyerahkan benda itu.

          “Kalian harus menunggu di luar selama saya membuat ramuan ini,” ujar penyihir Jack

          “Mengapa begitu?” tanya Sofia sambil menaikkan alis kirinya.

          “Karena itu syaratnya. Jika tidak, ramuan itu tidak akan memiliki khasiat.”

          “Baiklah, kami akan menunggu di luar.” balas    Sofia, lalu keluar bersama Anne.

          Di luar rumah penyihir, Anne dan Sofia memikirkan keadaan Rebbeca. Mereka berdua khawatir apakah ramuan yang dibuat penyihir Jack bisa menyembuhkan Rebbeca.

          Beberapa saat kemudian, penyihir Jack memanggil Anne dan Sofie. Mereka berdua pun masuk dan diberi ramuan yang masukkan ke dalam botol kecil. Mereka pun berterima kasih dan pamit pulang.

***

          Kedatangan Anne dan Sofia disambut hangat oleh ibu Rebbeca dan pamannya. Anne dan Sofia duduk di sofa sambil menceritakan dari perjalanan ke rumah penyihir hingga bisa selamat pulang. Setelah lama berbincang-bincang, paman Rebbeca pun mengambil ramuan tersebut dan memberikan kepada Rebbeca dengan cara di campurkan ke dalam air minum biasa, lalu di minumkan ke Rebbeca, dan ajaibnya beberapa saat kemudian Rebbeca mulai membuka matanya dan tersadar.

          Setelah merasa baikan, Rebbeca meminta Anne dan Sofia untuk menceritakan apa yang sudah terjadi. Akhirnya kedua sahabatnya bercerita secara bergantian. Mendengarnya, Rebecca jadi menyesal.

          “Terima kasih ya Anne, Sofia. Kalian telah menyelamatkan nyawaku,” ucap Rebbeca terharu. Air matanya mulai keluar. “Entah apa yang terjadi jika tidak ada kalian.”

          “Iya, sama-sama” jawab Anne.

          “Sudah, jangan bilang begitu. Kami adalah sahabatmu,” tambah Sofia. Ketiga sahabat itu pun menangis haru. Sementara ibu Rebbeca yang berdiri di luar tersenyum bahagia melihat kejadian tersebut.

 

*End*

Share This: