MISTERI HILANGNYA REIYSI

Oleh: Keyla (Syakiila Safwah Maulidya) 

Matahari mulai menyapa bumi, terasa sinarnya yang begitu hangat. Velisya mulai bersiap-siap berangkat ke sekolah. Di sekolah, ternyata sudah ramai, sudah cukup banyak murid berdatangan. TENG TENG TENG, terdengar bel berbunyi saat Velisya baru saja akan memasuki kelas. Velisya berdiri di depan kelas  dan mendengar suara yang aneh, seperti sebuah hentakan. Dia mengerutkan dahi sambil berpikir,

“Suara apa ini?” Hentakan kaki itu mulai mendekat ke kelas Velisya. Tiba-tiba ada seekor makhluk bertubuh besar, berwarna biru, tidak memiliki rambut. Makhluk bertubuh besar itu adalah Troll. Troll itu mulai berjalan menuju kelas Velisya, kelas 4 B. Troll membuat anak-anak sangat ketakutan. Mereka berhamburan berlari menuju kantor termasuk Velisya. Suasana  menjadi hening seketika. Sudah tidak ada anak lagi selain Emilisya. Emilisya justru duduk tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Ya memang di sekolah dia dikenal sebagai anak yang pemberani. Emilisya anak yang selalu tidak peduli dengan ketakutan. Tidak heran dia memiliki banyak teman. Salah satu sahabatnya adalah Reiysi. Seorang anak yang sifatnya jauh berbeda dengan Emilisya, anaknya pendiam dan pemalu. Reiysi ternyata memiliki kemampuan sihir, karena orang tuanya adalah penyihir. Itulah sebabnya, Ibunya  memindahkan Reiysi ke sekolah sihir. Ketika Reiysi pindah, Emilisya sangat sedih. Dia ingin bertemu Reiysi kembali.

Emilisya juga punya teman lain di sekolah, namanya Priana. Priana anak yang suka pamer. Dia mengagumi Emilisya karena sifatnya yang pemberani. Troll mulai mendekati meja Emilisya. Dia tidak peduli dengan wajah Troll yang menyeramkan.

“Hai anak kecil!” Troll mulai berkata.

“Reiysi sahabatmu menyuruhku memberikan surat ini,” kata Trolll tiba tiba. Emilisya terkejut saat yang dibicarakan Troll adalah sahabat sejatinya Reiysi. Mungkin ada hubungannya Reiysi dengan Trolll itu, kata Emilisya dalam hati.

“Siapa kau?” Tanya Emilisya kepada Trolll sambil menerima surat yang diberikan Troll kepadanya.

“Aku adalah sahabat Reiysi juga,” jelas Troll. Saat pertanyaannya sudah terjawab oleh Troll, Emilisya lalu mulai membuka surat yang diberikan Troll. Surat itu tertulis bahwa di sekolah baru Reiysi, dia sangat kesepian jika tidak ada dirinya (Emilisya). Ternyata Emilisya disuruh datang ke sekolah penyihir barunya.

“Apakah kau tahu di mana tempat sekolah baru Reiysi?” Tanya Emilisya kepada Troll.

“Tentu saja aku tahu, aku diutus Reiysi untuk mengantarmu pergi ke sekolah barunya.” Jawab Troll.

“Tetapi kita harus menyelinap dulu.” Kata Troll. Lalu mereka berdua pergi. Mereka mengalami hari yang penuh petualangan. Mereka melewati lorong-lorong panjang.

***

Satu jam kemudian, akhirnya mereka sampai pada dunia penyihir. Di sini banyak sekali penyihir-penyihir yang sedang berlatih. Ada penyihir yang sedang menyihir batu menjadi alat transportasi. Bahkan ada yang mengubah dirinya menjadi hewan. Terasa sangat aneh bagi Emilisya. Emilisya sangat senang saat berkenalan dengan anak-anak penyihir. Ada yang namanya Sisi dan Misyel.

Kami bermain di taman penyihir. Emilisya juga meminta sayap pada tongkat Misyel. Misyel mengizinkan kami menginap di rumahnya. Dan ternyata Misyel adalah temannya Reiysi, katanya Reiysi selalu berwajah pucat. Misyel juga sebenarnya ingin berteman dengan Reiysi, tetapi dia pemalu jadi tidak seru kalau mau main. Pasti Reiysi akan kembali ke kelas jika ada yang mengajaknya bermain.

Sayangnya hari ini sekolah libur, besok baru masuk.

“Bagaimana kalau kamu menginap di rumahku?” Tanya Misyel. Emilisya langsung mengangguk mengiyakan. Untung saja di dekat rumah Misyel ada gua, Troll akan tidur di sana. Troll memang sukanya tidur di tempat gelap, contohnya gua, hutan dan semacamnya. Emilisya juga dipinjami baju oleh Misyel. Baju yang dipinjamkan oleh Misyel kepada Emilisya adalah gaun pesta, karena Misyel suka pakai gaun pesta.

Akibat sangat capai, Emilisya tidur nyenyak di rumah Misyel. Paginya mereka berangkat bersama. Saat sampai di sekolah Reiysi, Emilsya bingung,

“Apa kita sudah sampai?”

“Kok kita malah ke istana?” Tanya Emilisya.

“Yakin kamu gak salah jalan?” Tanya Emilisya lagi.

“Ini memang sekolahku, sahabatmu sekarang sekolah di sini,” jawab Misyel.

“Wow… luar biasa sekolah yang megah!” Puji Emilisya. Tetapi, walau begitu megahnya, Emilisya masih saja lebih menyukai sekolahnya dari pada sekolah penyihir.

Di sekolah penyihir ini ada penjaganya, anak kecil yang berusia sekitar 8 tahun. Anak itu sudah belajar banyak sihir jadi dia dibebaskan menjadi apa saja yang ia mau. Emilisya yang terkagum-kagum dengan sekolah Reiysi dan Misyel itu pun berbisik,

“Misyel, apa boleh aku masuk?”

“Tentu saja boleh, karena ini sekolah penyihir, jadi anak-anak dibebaskan dalam belajar dan tidak apa-apa mengundang teman untuk pergi ke sekolah penyihir. Anak-anak jika ada masalah harus bisa mengatasi sendiri. Harus bisa tanggung jawab, tetapi boleh dibantu dengan tongkatnya. Dan sekarang silakan masuk tapi sebelum itu kau harus memberitahu surat yang diberikan Reiysi kepadamu.” Jawab Misyel.

Setelah mereka memberi tahu anak penjaga pintu masuk sekolah itu yang bernama Velicita, anak itu memakai topi yang tertulis V dan rambutnya berwarna kemerahan.

“Reiysi ada di kelas Veres,” kata anak yang menjaga pintu masuk itu.

“Apa maksudnya itu?” Tanya Emilisya kepada Misyel.

“Itu maksudnya Reiysi dan aku berada di kelas yang bernama Veres.” Jawab Misyel.

“Hai  Syel…” datang teman lain Misyel memanggil Misyel dengan sebutan Syel.

“Hai Ran,” jawab Misyel. Lalu Misyel mengantar Emilisya ke Kelas Reiysi tetapi ternyata di tempat duduk Reiysi hanya terdapat tasnya saja, orangnya tidak ada, tidak pernah Misyel sebingung itu, karena Reiysi tidak pernah keluar sebelumnya.

Misyel segera mencari Reiysi di luar dan di kelas-kelas yang ada di sekolah penyihir ini. Tetapi tetap hasilnya tidak ada. Akhirnya Misyel meminta izin kepada kepala sekolah penyihir untuk mengizinkan kami pergi sendiri mencari Reiysi. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan izin kepala sekolah. Kepala sekolah tahu bahwa mereka pasti bisa pulang dengan tongkat sihir mereka. Beberapa menit kemudian mereka pun berangkat. Hutan para penyihir ternyata berbeda sama sekali, karena banyak sekali tanaman buah. Kita juga tidak perlu menunggu tanaman itu berbuah lama kerena tanaman di hutan penyihir jika dipetik langsung tumbuh lagi dan rasanya enak sekali.

Karena kelelahan dan lapar, mereka pun menyantap buah-buahan yang lezat. Saat makan, mereka melihat ada sebuah rumah kecil di utara hutan penyihir ini. Terlihat seorang nenek sedang menjahit baju dan di sampingnya ada seorang gadis sedang duduk di kursi. Gadis itu kulitnya sangat putih dan rambutnya pirang. Cantik sekali warna rambutnya seperti putri Cinderella, dikepang sampai dengan seukuran pinggang.

Gadis itu duduk dengan tenang seperti seorang putri. Emilisya sangat kagum melihat wajahnya. Tak pernah ia melihat gadis secantik ini. ‘Pasti sudah banyak kebaikan yang ia lakukan.’ kata Emilisya dalam benaknya. Belum lama mereka mengamati sang nenek dan mengagumi kecantikan gadis itu, tiba-tiba sang nenek masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh si gadis.

“Kita harus bertanya pada mereka,” kata Emilisya. Dan mereka berjalan mendekati rumah sang nenek.

“Ketuk pintunya,” kata Misyel. Emilisya pun mengetuk pintu rumah gadis itu dan datanglah dia membukakan pintu.

“Siapa kalian dan mengapa kalian ke rumahku!” tanya gadis itu dengan ketus. Emilisya kaget dengan nada bicara sang gadis yang sama sekali berbeda dengan parasnya yang cantik. Misyel bisa membaca apa yang ada di pikiran temannya yang baru dikenal itu. Dan Misyel pun berbisik,

“Gadis itu mungkin menggunakan sihir untuk membuat wajahnya cantik tapi dia memang jahat.”

“Kami hanya ingin tahu apakah boleh kami menginap satu malam di sini?” tanya Misyel.

“Tidak, sampai kaum kalian tidak mengejek kami lagi!” jawab gadis berambut pirang itu. Mereka sangat bingung saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu. Mereka lalu bertanya lagi soal jawaban yang diucapkan oleh gadis itu.

“Apa maksudnya ini?” tanya Emilisya lagi.

“Bertahun-tahun yang lalu, ibuku sangat terkenal dalam apa saja di dunia penyihir. Tetapi sejak digantikan oleh Professor Probo, ibuku dikucilkan…” jawab anak itu.

“Oh kalau itu aku tahu ceritanya, tetapi Profesor Probo sekarang sudah digantikan dengan orang lain dan sekarang dunia penyihir sudah berubah sejak Profesor Probo diganti dengan orang yang sangat baik, jadi kau sudah aman.”

Setelah mendengar cerita itu, gadis tersebut pun tersenyum lega, mereka berkenalan satu sama lain dan bisa saling berteman dengan baik. Gadis itu juga memperbolehkan mereka masuk rumahnya, dia memperkenalkan mereka semua kepada neneknya yang ia sayangi.

“ini nenekku,” kata gadis yang bernama Overa. Setelah mengenalnya, Overa ternyata memang baik. Dia selalu membantu neneknya bekerja.

“Apakah kamu melihat teman kami, dia berambut lurus, bertubuh kurus, dan memakai kaca mata?”

“Sebenarnya, kami ke sini untuk mencari sahabat kami yang menghilang,” jelas Emilisya pada Overa.

“Kami tidak mengenal orang yang seperti itu, dari tadi nenek menjahit dan aku menemaninya, aku tidak bertemu dengan teman yang kau maksud,” jelas Overa. Lalu Overa memperbolehkan mereka tidur di rumahnya satu malam, walaupun aslinya Misyel mempunyai tongkat sihir untuk membuat tenda. Misyel membuat hiasan rambut untuk Overa. Setelah melakukan banyak hal, Misyel, Emilisya dan Overa tidur di kamar Overa. Troll tidur di gua yang dibuat dari tongkat sihir Misyel.

***

Paginya, Misyel yang bangun duluan dan menyihir baju Overa, neneknya, Emilisya, dan Troll untuk mengganti baju yang dipakai mereka hari ini. Saat selesai bepamitan dengan Overa dan neneknya, mereka melanjutkan pencarian mereka lagi. Di tengah perjalanan, di hutan para penyihir, mereka ditakuti oleh musang bermata empat. Ternyata hewan yang paling Troll takuti adalah musang bermata empat. Para penyihir juga tidak bisa menangani musang bermata empat itu karena musang itu kebal sihir. Misyel hanya bisa membuat rumah yang besar dan muat untuk dimasuki Trolll karena mereka akan berlindung di dalam rumah itu sampai musang bermata empat itu pergi.

Beberapa menit kemudian, musang bermata empat itu pergi karena mendengar auman binatang lain.

“Akhirnya kita selamat dari musang itu, musang itu sangat berbahaya.” Kata Misyel.

“Hai Emilisya, kamu ngapain?” Tanya Misyel kepada Emilisya yang sedang melongo. Troll  tidak mengatakan apa-apa karena masih takut meskipun musang itu sudah tidak ada.

“Itu!! Misyel dan Troll lihatlah, rumah di sudut utara kita!” Kata Emilisya. Mereka pun membuka pintu dan cepat-cepat lari masuk ke dalam rumah mewah itu. Mereka tidak izin dan langsung masuk karena takut kalau musang itu datang lagi. Karena hentakan yang dibuat Troll, membuat seperti ada seseorang yang akan datang. Ternyata firasat mereka memang benar, ada seseorang datang dari balik kamar yang dicat warna biru. Seorang pria berambut pirang dengan mata tertutup rambut, kulit putih, rambut tebal dan sangat pirang muncul.

“Siapa kalian?” Teriak pria itu dengan kasar.

“Kenapa mengganggu istiharatku? masuk rumah tanpa izin!” Lagi-lagi dia berteriak. Emilisya dan Misyel mundur, menjauh beberapa langkah.

“Ma.. ma.. maaf.. maafkan.. kami tuan…” jawab mereka dengan ketakutan. Pria itu masih saja marah walaupun mereka sudah meminta maaf. Mereka juga memohon kepada orang yang bernama Lenerx itu untuk memperbolehkan mereka menginap di rumahnya dan menceritakan kepada Lenerx soal permasalahan yang mereka alami hari ini. Lenerx tidak menyetujui permintaan mereka untuk menginap di rumahnya. Troll melihat permasalahan ini dan Troll bisa membaca isi pikiran Lenerx. Tiba tiba Troll mendobrak pintu rumah Lenerx. Karena melihat troll, Lenerx pun akhirnya sadar bahwa mereka bukan orang biasa melainkan anak yang dari sekolah sihir.

“Ya kalian boleh menginap,” jawab Lenerx. Tanpa berbasa-basi lagi Misyel bertanya apakah Lenerx melihat Reiysi,

“Apakah kau melihat teman kami yang berambut lurus, bertubuh kurus, dan memakai kaca mata?” Kata Misyel.

“Aku pernah melihatnya di sudut rumahku,” jawab Lenerx.

“Kami akan mencarinya besok saja,” kata Emilisya kepada kawan barunya. Di rumah Lenerx tak begitu menyenangkan karena Lenerx ternyata pendiam. Tidak banyak info yang mereka dapatkan mengenai sahabatnya itu.

Ternyata Lenerx tidak tinggal sendiri, ada seorang perempuan lagi yang tinggal bersamanya. Dia adalah kakak Lenerx, bernama Achilina Febrina Putri, dipanggil Achilina. Sifatnya jauh berbeda dengan sang adik. Kakaknya lebih terlihat periang dan sangat ramah. Malamnya, Emilisya tidak bisa tidur, karena masih memikirkan sahabatnya. Di sunyinya malam, semua orang tertidur lelap, Emilisya seperti mendengar suara orang yang berlarian.

‘Suara apakah itu?’ Batin Emilisya. Dia berusaha membangunkan temannya, tapi tidak bisa. Misyel masih terlelap. Emilisya mengintip keluar dari balik jendela. Emilisya seperti melihat sesuatu. Dalam pikirannya itu seperti sebuah kacamata. ‘Apa mungkin itu kacamata Reiysi?’ batin Emilisya. Dia pun mengendap-endap keluar untuk memastikannya.

“Wow, ini benar kacamata Reiysi!” Teriaknya. Dia lupa kalau ini sudah larut malam. Ia menemukan kacamata Reiysi yang hilang di bagian depan rumah Lenerx. Emilisya pun mengambilnya. Dia mulai menemukan titik terang. Dilihatnya setiap sudut rumah Lenerx. Tak lama setelah Emilisya melangkah, baru tiga langkah, Emilisya mulai melihat jejak kaki Reiysi. Emilisya pun segera masuk ke dalam rumah untuk mencoba membangunkan Misyel lagi.

“Ayo bangun Misyel, aku menemukan petunjuk,” jelas Emilisya.

“Ini udah larut malam. Apa tidak besok saja kita melanjutkan pencarian?” Jawab Misyel.

“Ayolah Misyel, kumohon… Kamu punya tongkat sihir untuk bisa menerangi dan menunjukkan arah jalannya,” kata Emilisya lagi. Selain membangunkan Misyel, mereka juga membangunkan Troll untuk melindungi mereka dari serangan binatang. Tetapi mereka tidak membangunkan Lenerx dan kakaknya, mereka hanya meninggalkan sepucuk surat yang ditaruh di atas meja makan.

Setelah meninggalkan rumah Lenerx, mereka pun mengikuti jejak Reiysi. Beberapa menit kemudian jejak yang mereka ikuti berhenti di sebuah gedung.  Emilisya sangat penasaran mengapa jejaknya berhenti di sebuah gedung dan mengapa ia mendengar tangisan seorang gadis.

“Hai… apa kau mendengar sebuah tangisan, Misyel?” Tanya Emilisya dengan serius kepada Misyel.

‘’Ya… aku juga mendengarnya, ayo kita dobrak pintu ini,” kata Misyel.

“Tidak, sebelum itu kita harus pastikan ada orang di dalamnya.” Kata Emilisya.

“Hai, apa ada orang yang di dalam gedung?” tanya Misyel.

“Hai Misyel! Ini Reiysi…” kata Reiysi yang ada di dalam gudang yang terkunci. Emilisya mendengar bahwa itu Reiysi perasaannya sangat senang. Dengan cepat, mereka mendobrak pintu gudang itu. Tetapi, pintu itu terkunci cukup kuat. Dengan bantuan sedikit sihir, Misyel berhasil membuka pintunya. Saat melihat Emilisya, Reiysi pun memeluknya.

“Aku senang melihat kalian lagi…” Kata Reiysi.

“Apa yang terjadi???” Tanya Emlisya.

“Aku ditangkap oleh orang asing,” kata Reiysi lagi.

“Mengapa orang asing itu mengejarmu?” Tanya Misyel. Reiysi pun terdiam sebentar. Tapi ternyata si orang asing itu datang lagi dengan secepat kilat Misyel mengibaskan tongkatnya untuk mengatasi penjahat itu. Orang itu memberikan perlawanan.

“Aku dan Troll akan mengatasi orang asing ini dan kalian mencari tongkat sihir kalian yang hilang,” kata Misyel.

“Baik, ayo kita cari di rumah orang asing yang di belakang hutan,” bisik Emillisya kepada Reiysi. Reiysi mencari di setiap laci dan Emilisya mencari di setiap sudut rumah orang asing itu. Beberapa menit berlalu, tongkat itu tidak juga ditemukan. Mereka sudah mulai lelah. Reiysi berhenti mencari dan dia bersandar di tembok sebuah kamar yang belum mereka cari karena kamar itu terkunci.

“Reiysi, kalau di semua tempat tidak ada berarti kemungkinan ada di kamar di belakangmu itu.”

“Kamar itu terkunci, bagaimana kita membukanya? Karena aku tidak punya tongkat sihir untuk membantuku,” jelas Reysi.

“Apa kau tidak bisa melakukan telepati dengan tongkat sihir itu?” Tanya Emilisya.

“Ya, mengapa tidak kupikirkan sebelumnya ya…” jawab Reiysi. Reiysi segera melakukan telepati. Dalam melakukan telepati, wajah Reiysi bersemangat untuk mencobanya. Mulutnya berkomat-kamit seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak begitu jelas dia mengatakan apa. Mungkin itu sebuah mantra sihir. Reiysi mendadak berhenti dan dengan wajah yang cemas dia terus memandangi pintu yang ada di depannya.

Perlahan pintu itu berderit terbuka. Mereka  segera mengambil tongkat sihir itu dan segera berlari untuk menyelamatkan Misyel.

“Biar aku ambil alih Misyel,” kata Reiysi. Misyel terlihat sangat kelelahan. Sambil melihat Reiysi bertarung, Misyel mendapatkan sebuah ide. Dengan secepat kilat, Misyel mengikat orang asing itu dengan tongkat sihirnya. Dan segera Troll menyeret orang asing itu pergi ke kantor Polisi.

***

Setelah orang asing masuk penjara, mereka mengantar Reiysi pulang. Sesampainya di rumah, Reiysi langsung memeluk Emilisya dan berkata,

“Senang bisa bertemu kamu lagi, Emilisya.”

“Ya aku juga senang, tetapi apa yang menyebabkanmu dikejar dan hilang saat di kelas?” Tanya Emilisya. Reiysi pun menjawab pertanyaan itu,

“Aku waktu di kelas diajak pergi oleh orang asing itu dan sepertinya aku tahu apa yang diinginkan dia dariku…” kata Reiysi. Semua mendengarkan degan serius dan bersiap-siap memasang telinga.

“Orang tuaku sekarang sudah meninggal, dan sebelum orang tuaku meninggal…” Reiysi memutus cerita itu dan mulai bercerita lagi.” Mereka memberikanku sebuah tongkat sihir yang sangat kuat. Pemilik tongkat sihir itu bisa hidup abadi, padahal tongkat sihir yang lain tidak bisa membuat pemiliknya menjadi hidup abadi, itu yang membuat tongkat sihir istimewa. Orang asing itu ingin mengambil tongkat yang diberikan orang tuaku kepadaku.” Akhirnya, Reiysi memperlihatkan tongkat itu dan mereka main sebentar di rumah Reiysi. Emilisya juga menginap di rumahnya karena sudah mau malam.

Paginya Emilisya pulang ditemani oleh Troll. Sesampainya di rumah, ternyata semuanya mengkhawatirkan dirinya. Dengan senang, Emilisya menceritakan petualangan yang baru saja dia alami.  Mereka pun tidak khawatir lagi. Mulai sekarang, Emilisya lebih sering pergi ke dunia penyihir. Emilisya dan teman temannya pun berlibur ke sana.

The End

Share This: