THE SECRET OF FOLKSWHITE PART 2

Oleh: Uswatun Hasanah (Staf Pengajar Kelas Menulis IWEC)

Baca dulu ya part 1 DISINI!

            Sekawanan rusa melintas, berlari, membelah hutan lebat Folkswhite yang diselimuti salju lebat, meninggalkan jejak-jejak kaki yang saling tumpang tindih. Rusa-rusa dengan tubuh tegap gagah sempurna, bulu berwarna coklat mengkilap dan tanduk bercabang yang menjulang tinggi. Benar-benar terlihat menawan. Tanduk-tanduk rusa penghuni hutan Folkswhite itulah yang menjadi incaran para pemburu karena keindahannya. Namun, rusa–rusa itu amat jarang bisa dijumpai. Itu karena mereka hanya keluar pada waktu-waktu tertentu. Salah satunya hari ini. Namun sial bagi mereka karena bertemu dengan kawanan pemburu itu.

            Judy, salah satu rusa termuda dalam kawanannya tidak sengaja terkena tembakan anak panah pada kakinya ketika terpisah dari kawanannya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki dan panah yang masih menancap pada kakinya, Judy mencoba melarikan diri. Namun dinginnya udara seperti menyedot habis seluruh energi yang ia miliki. Di atas tebalnya salju, ia hanya mampu berjalan terpincang-pincang, menerabas ranting-ranting kering yang jatuh. Ia juga harus berhati-hati pada akar-akar pohon raksasa yang menyembul dari dalam tanah yang bisa saja membuatnya tersandung.

            Jika berhasil melewati satu bukit di depannya, Judy pikir ia bisa selamat. Namun, sial baginya. Dua pemuda sedang berjalan menuju ke arahnya. Betapa terkejut kedua pemuda itu melihat seekor rusa sedang berjalan tertatih-tatih dengan anak panah masih menancap di kaki kirinya. Sementara itu, Judy sudah kehabisan tenaga, ia ambruk begitu saja di atas dinginnya salju. Ia benar-benar merasakan nyeri yang teramat pada kakinya. Judy sudah menyerah dengan keadaannya saat ini. Sebentar lagi kedua pemuda di depannya itu pasti akan memanggil rombongan mereka untuk menangkapnya. Judy sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk. Ia akan berakhir jadi santapan manusia, lalu tanduk dan bulunya akan jadi pajangan yang digantung di dinding-dinding rumah mereka. Betapa Judy ingin berteriak minta tolong. Namun, percuma, suaranya pun tidak bisa dimengerti oleh manusia. Ia putus asa. Hidupnya benar-benar akan berakhir dengan cara seperti ini. Sementara itu, suara para pemburu yang tadi menembaknya dengan anak panah semakin mendekat. Tanpa disangka, salah satu pemuda itu justru membawa tubuhnya menjauh dari kawanan pemburu. Tidak berapa lama setelah mereka sampai di tempat yang aman, kawanan Judy datang.

            Berkat kedua pemuda itu, Judy masih bisa merasakan dinginnya hutan Folskwhite pagi ini, serta menikmati cahaya matahari yang jatuh dari sela-sela dedaunan. Ia telah berjanji akan menemui mereka di sini. Di tempat yang sama saat mereka membawa tubuh tak berdayanya menjauh dari para pemburu.

***

            Lucy sudah bersiap sejak pagi buta tadi. Rambutnya sudah tersisir rapi, tidak lupa ia olesi minyak biji kemiri -yang disangrai lalu ditumbuk dan diambil minyaknya- tampak mengkilat gagah. Tubuh kurusnya dibalut jaket kulit berwarna coklat dengan aksen bulu pada bagian leher, serta kiri kanannya dilengkapi saku beresleting hitam. Jaket itu masih terlihat baru. Bulu-bulunya masih tegak lembut. Ia melongok ke luar jendela kamarnya di lantai dua, terlihat Mr. Sheriff sedang kewalahan menggiring domba-domba peliharaanya ke luar kandang menuju hambaran rumput yang tidak begitu luas, beberapa bagiannya tertutupi salju. Pucuk-pucuk rumput berusaha keras menumbuhkan daunnya di musim dingin ini.

            Aroma roti panggang tercium samar, berarak memenuhi seisi ruangan, melewati celah-celah daun pintu yang tidak tertutup rapat. Lucy segera turun menuju dapur. Ia yakin sarapan paginya sudah siap di atas meja, lengkap dengan segelas susu kambing, dan anggur hijau. Itu yang biasa ibunya siapkan saat sarapan. Itu juga yang biasa ia bawa saat ke sekolah sebagai bekal.

            Lucy harus bergegas. Ia tidak ingin terlambat sedikit pun. Ia menyantab sarapannya dengan sedikit tergesa. “Aku keluar dulu, Bu, bersama Edward,” teriak Lucy sambil mengambil kantung airnya yang tergantung di dinding dapur.

            “Jangan pulang terlalu malam, atau ayahmu akan marah.”

            “Baiklah!”

***

            Edward hampir lupa jika hari ini ia memiliki janji dengan Lucy. Sejak pagi ayahnya meminta dia untuk membantunya memetik labu di pekarangan belakang rumah. Benar-benar pekerjaan yang melelahkan. Ia harus mengangkat labu-labu yang cukup berat itu ke atas gerobak agar bisa ayahnya bawa ke pasar untuk dijual. Beberapa ia sisakan di rumah untuk dimasak sendiri. Edward amat menyukai sup labu yang dimakan bersama baguette yang renyah. Semangkuk sup labu bersama dua iris baguette sudah cukup menghangatkan tubuhnya saat musim dingin seperti ini.

            Edward mempercepat langkah kakinya melewati jalanan kota Folks. “Lucy pasti sudah lama menunggu,” pikirnya. Beberapa blok lagi ia akan sampai di gerbang kota. Namun ia harus benar-benar  memperhatikan langkah kakinya, jalanan batu kota Folks cukup licin saat musim dingin begini. Salah langkah ia bisa saja tergelincir, dan parahnya kakinya bisa patah. Seperti yang terjadi padanya satu tahun yang lalu. Sepulang dari toko Mr. Butcher untuk membeli daging, ia tergelincir hingga membuatnya tidak bisa berjalan selama dua minggu.

            Siluet tubuh Lucy sudah terlihat di ujung gerbang kota. Edward tersenyum melihat sahabatnya itu. Untuk urusan seperti ini, Lucy tak pernah mau ketinggalan. Ia selalu datang paling awal. Wajar jika saat ini Edward menganggap ia benar-benar terlambat. Terlambat tiga puluh menit, berarti sudah membuat Lucy menunggu selama satu jam.

            “Maaf, aku terlambat,” ucap Edward dengan napas tersengal-sengal menimbullkan asap tebal berlarian keluar dari lubang mulut dan hidungnya.

            “Kau dari mana saja? Jangan katakan kalau kau sempat lupa dengan janjimu?” balas Lucy kesal.

            “Ah, tidak. Kau tahu, aku harus mengangkat puluhan labu ke atas kereta pagi ini. Itulah sebabnya aku sedikit terlambat.”

            “Baiklah.. Jadi kita akan pergi menemui rusa ajaib itu sekarang!” mendadak raut mukaLucy berubah lebih cerah saat membicarakan rusa-rusa yang mereka temui kemarin.

            “Ayo..!” Edward mulai berjalan, tidak menghiraukan Lucy yang tertinggal.

            “Hey.. tunggu! Bagaimana kau bisa meninggalkanku, padahal aku sudah menunggumu lama,” gerutu Lucy lalu mulai berlari mengimbangi lankah kaki Edward.

            Perjalanan menuju hutan Folkswhite tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah melewati kebun apel, mereka telah tiba di bibir hutan. Saat musim dinging, hutan Folkswhite benar-benar menawan sekaligus misterius. Ranting-ranting tidak kehilangan pucuk daun. Pohon-pohon menjulang tegap. Salju yang berkilauan di bawah sinar matahari. Tupai yang tengah berkelahi di atas dahan tinggi. Kawanan burung Swallow yang bertengger di ujung-ujung ranting mati, saling berdempetan. Atau siulan Bubo Scaniacus, burung hantu salju yang dikenal sebagai pemburu yang sabar namun ganas. Berbeda dengan kawanan burung hantu lainnya, Bubo Scaniacus ini aktif berburu di siang hari.

            “Kau yakin hapal jalan yang kemarin? jika sampai tersesat, maka tamatlah riwayat kita. Kita bisa mati di sini, dan tidak akan ada yang menemukan mayat kita. Tubuh kita akan jadi santapan burung hantu itu.”

            “Apa yang kau bicarakan? Diamlah!” balas Edward mulai jengkel dengan tingkah sahabatnya.

            “Mata burung hantu itu terus saja mengawasi kita, apa kau tidak takut?” ucap Lucy semakin mengeratkan tangannya pada jaket Edward, sedangkan ujung matanya was-was melihat burung hantu yang sedang bertengger di atas mereka, mengawai setiap gerak-gerik mereka. Sementara, Edward tidak peduli. Ia hanya berjalan terus mengikuti instingnya, mengenali beberapa pohon yang ia lewati kemarin.

            “Bukankah kita sudah melewati pohon itu dua kali?!” ucap Lucy menghentikan langkah Edward, membuatnya berpikir sejenak.

            “Kurasa juga begitu.”

            “Sepertinya kita benar-benar tersesat,” keluh Lucy lalu duduk di atas akar pohon yang mencuat ke atas permukaan tanah, ia merasa cukup lelah dengan perjalanan ini. Tidak lama kemudian Edward juga ikut duduk di samping Lucy, lalu mengeluarkan beberapa potong roti yang ia simpan di dalam sapu tangan di dalam sakunya.

            “Makanlah,” ucap Edward menyerahkan sebagian rotinya kepada Lucy. “Kukira kita akan butuh tenaga lebih banyak lagi.”

            “Dan juga ini…” Lucy mengeluarkan botol minuman yang sejak tadi tersimpan di dalam tas pinggangnya. Begitu tutupnya dibuka, leher botol berlapis kulit itu langsung mengepulkan asap, membumbung, lalu membias diantara dinginnya udara.

            Mata Edward berbinar melihat botol Lucy, “Setidaknya kita punya sesuatu yang hangat!”

            “Ya, kau benar.”

            Selagi menikmati minuman hangat mereka, Edward dan Lucy merasa ada suara-suara di dekat mereka. Hal ini tentu saja menghentikan kegiatan mereka, lantas saling berpandangan sejenak.

            “Kau dengar itu?” bisik Edward yang dibalas anggukan oleh Lucy. “Apakah kau juga berpikir kalau mungkin saja di dekat kita ada hewan buas?” lanjut Edward, namun kali ini Lucy menggelengkan kepala, dan matanya menatap sesuatu di belakang Edward.

            “Lucy…!” bisik Edward lagi namun diabaikan oleh Lucy. “Hei…” kali ini Edward berinisiatif menyenggol tangan sahabatnya itu karena tidak mendapat respon.

            “Lihatlah itu.” Lucy mengarahkan telunjuk tangannya ke arah belakang Edward. Sontak, Edward pun menoleh ke belakang.

            “Judy…” Edward terkejut dengan apa yang dia lihat. Tanpa sadar, Lucy sudah berlari menghampiri rusa itu penuh semangat, meninggalkan Edward seorang diri di belakang dengan keterkejutannya.

***

            Lucy sibuk megagumi sisi lain hutan Folkswhite yang selama ini belum pernah ia tahu. Setelah melewati sebuah jalan rahasia yang tidak pernah disadari manusia keberadaannya, mereka tiba di suatu negeri tempat tinggal Judy dan kawanan rusa ajaib. Pucuk-pucuk cemara menunduk ketika mereka lewat, seolah memberi salam, burung-burung saling bercengkrama di dahan, atau kadal yang saling berbisik di lubang pohon, dan semua itu bisa Lucy dengar.

            “Waahhh! Apa ini sungguhan? Kau tahu, kukira negeri seperti ini hanya ada di dalam dongeng saja. Tak pernah kubayangkan kau akan membawaku kemari, Judy!”

            “Aku senang membawa kalian kemari,” Judy tersenyum simpul menanggapi anak laki-laki berambut pirang itu.  “Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku.”

            “Hey, Edward! Kau jangan diam saja,” tegur Lucy menyenggol lengan Edrawd karena sejak tadi sahabatnya itu lebih banyak diam.

            Edward pun mulai menatap Judy dan angkat suara, “Apa sebelumnya pernah ada manusia yang kemari?” tanya Edward.

            “Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang pasti kalian adalah tamu pertamaku,” balas Judy.

            “Baguslah,” jawab Lucy. Sejak tadi ia yang mendominasi percakapan diantara mereka bertiga. Entah, hari ini Edward lebih banyak diam.

            Mereka terus menyusuri hutan Folkswhite sisi lain. Judy berjalan lebih dulu di depan mereka, menjelaskan banyak hal tentang tempat tinggalnya. Ia juga menceritakan tentang kekuatan yang dimiliki oleh para pengguni sisi lain hutan Folkswhite, termasuk saat mereka dengan mudah menyembuhkan luka pada kaki Judy saat terkena anak panah hanya dengan meneteskan air mata di atasnya.

            “Bagaiama tempat ini menyimpan begitu bayak hal ajaib?!” ujar Lucy terheran.

            “Aku merasa pernah mendengar tentang cerita itu sebelumnya, bahkan mitos mengenai tempat ini juga,” ucap Edwar berbisik kepada Lucy.

            “Hah, apa maksudmu?”

            “Aku baru teringat akan mitos tentang sisi lain hutan Folkswhite.” Edward menghela napas sejenak sambil melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar uapan mereka, termasuk Judy yang sedang berjalan di depan mereka. “Kata orang-orang desa, sisi lain di balik hutan Folkswhite ini menyimpan misteri yang menakutkan. Semua orang yang masuk ke sini tidak pernah kembali. Kau tahu, tuan Frick yang rumahya berada di ujung tebing, dulu ia juga pernah datang ke tempat ini. Berpuluh tahun setelah menghilang, ia baru kembali. Dan ynag mengejutkan adalah, ia tidak bertambah tua sama sekali. Keadaannya sama persis seperti saat ia hilang dulu. Sementara di sisi lain, ayahnya sudah sangat tua, dan adik-adiknya sudah berumur dan menikah.”

            “Jadi, kau pikir tempat ini semcam memiliki kekuatan menghentikan waktu?” balas Lucy tidak kalah lirih.

            “Mungkin saja, aku sejak tadi membayangkan cara agar kita cepat keluar dari tempat ini. tapi kau justru asik dengan ocehanmu sendiri. Aku tidak ingin berakhir seperti tuan Frick.”

            “Kau jangan membuatku takut, Ed!”

***

            Tibalah mereka di suatu gubuk sederhana tempat Judy dan keluarganya tinggal. Di depannya berejer kendi-kendi air yang tertutupi salju, melintang dari sisi kiri hingga ke sisi kanan depan rumahnya. Di sebelah kanan, terhampar kebun sayur yang hijau. Tampak daun-daun wortel yang menyembul subur dari balik tanah, tomat yang berbuah merah cerah, juga kubis yang berbuah besar. Rumah yang hanya terdiri dari kayu dan jerami ini terlihat nyaman. Sedikit berbeda dengan temat tinggal mereka yang struktur bangunannya sudah terbuat dari tanah dan batu.

            “Orang tuaku sedang pergi menjual lobak, beristirahatlah dulu, akan kusiapkan hidangan untuk kalian,” ucap Judy mengajak Edward dan Lucy memasuki kamarnya.

            Setelah Judy pergi tinggallah Edward dan Lucy berdua di dalam kamar, “Baiklah, setidaknya jangan mengecewakan Judy dengan menolak kebaikannya. Mari kita nikmati waktu selagi kita di sini,” ucap Lucy lalu mendekat ke arah tempat tidur. “Aaahhh… nyaman sekali, aku ingin tidur siang sejenak.”

            Entah mengapa Edward juga ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bersama Lucy. Terlelap saat matahari sedang bersinar dengan cantiknya di luar, menembus kaca jendela kamar mereka.

***

            Selepas tidur siang dan menyantap hidangan yang disiapkan Judy, Edward dan Lucy kembali pulang. Saat ini mereka sedang berjalan kaki menyusuri jalanan setapak menuju kota kecil Folks, melewati kebun apel, lalu peternakan milik keluarga Hemmings. Gerbang kota Folks tampak gagah dari kejauhan, dari tempat mereka berdiri saat ini. Beruntung mereka bisa keluar dari Folskhite dengan mudah setelah diantar oleh Judy sampai perbatasan.

            “Hei, bukankah gerbang kota kita tampak sedikit aneh. Terlihat jauh lebih megah dari biasanya,” ucap Lucy. Lagi-lagi Edward hanya terdiam. Ia memandang gerbang mereka dari kejauhan dengan pennuh arti.

            “Ah, sudahlah. Mungkin itu karena sebelumnya kita tidak pernah benar-benar memerhatikan gerbang kota kita dengan teliti,” ujar Edward menepis kecurigaan Lucy.

            Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota Folks. Namun, suasana kota benar benar berubah.

            “Ed, bukankah kemarin toko daging Mr. Will temboknya depannya berwarna coklat, sekarang jadi kuning?!” ucap Lucy. Mereka berhenti sejenak di depan toko daging Mr. Will. Di dalam toko, Nampak seorang pria tua sedikit gemuk dengan rambut putih beruban mengenakan karbaret. “Aku sepertinya mengenalnya, kurasa mirip dengan Mr. Will. Ah, mungkin itu ayahnya.”

            Sementara Lucy sibuk menebak-nebak perubahan yang mereka saksikan pada kotanya, Edward justru diam.

            “Hmmm… Tapi bagaimana mungkin, baru tadi pagi kita pergi, dan sekarang toko Mr. Will sudah berubah warna cat temboknya,” gerutu Lucy pada dirinya sendiri.

            “Kita harus cepat pulang!” ucap Edward tiba-tiba mengajak Lucy berlari.

            Jalanan kota tidak lagi bergelombang seperti biasanya. Batu-batu sudah ditata lebih rata dan rapi. Tidak ada lagi batu di jalan yang lebih rendah atau lebih tinggi, semuanya datar sejajar. Menyadari itu, Edward semakin mempercepat langkah kakinya, sementara Lucy kewalahan mengikuti langkah kaki sahabatnya. Ia juga tidak bisa berkutik, karena Edward menggenggam erat tangannya.

            Sesampai di depan rumah, Edward menyadari perubahan di rumahnya. Tangannya gemetar, dan itu bisa dirasakan oleh Lucy yang sejak tadi bertanya-tanya tentang sikap aneh Edward. Mereka melangkah perlahan, memasuki pekarangan rumah. Tadi pagi ia masih bisa melihat tomat yang ia tanam di dalam pot di sepanjang jalan menuju pintu rumah berbuah merah-merah. Kini, pot-pot itu kosong, tanpa tanaman. Sejenak kemudian, terdengar suara derit pintu terbuka.     

            “Edward! Kau kah itu?” tanya seorang wanita tua yang muncul dari balik pintu. “Kau juga bersama Lucy…”

            Wanita tua itu berjalan tertatih mendekati Edward dan Lucy, menuruni tangga selangkah demi selangkah, berpegangan pada kayu sisi tangga yang sebagian catnya sudah mengelupas. Namun, mereka hanya diam mematung. Mencoba mencerna apa yang mereka lihat saat ini.

            “Ibu…” ucap Edwar lirih.

            “Ibu…..!”

***

            Edward terbangun dari tidurnya. Tubuhnya setengah basah penuh keringat. Hal yang pertama ia lihat saat membuka mata adalah wajah Judy dan Lucy. Mereka tampak khawatir.

            “Tenanglah Edward. Apa yang kau takutnya tidak akan menjadi nyata,” ucap Judy.

            “Apa yang kau lihat dalam mimpimu, Ed?” tanya Lucy.

            Edward bingung melihat ekspresi Lucy yang seperti tidak terjadi apa-apa. “Bukankah kita baru saja pulang, sampai di rumah, bertemu dengan ibuku… yang sudah tua?” tanya Edward.

            “Apa yang kau bicarakan, bahkan kita belum keluar dari kamar ini, bagaimana bisa kita pulang? Kau pasti bermimpi.”

            “Tidak! Lucy kita harus pulang sekarang.”

            Edward turun dari tempat tidur lalu mengajak Lucy keluar. Namun sebelum mereka benar-benar keluar dari kamar, suara Judy menghentikan langkah kaki mereka.

            “Aku tau apa isi mimpimu tadi,” ucap Judy mendekati Edward dan Lucy. Namun, Edward justru mundur beberapa langkah seolah menghindari Judy. “Apa yang kau takutkan memang pernah terjadi, Ed. Tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang yang kesini dengan niat buruk. Aku berani menjamin, semua hal buruk itu tidak akan menimpa kalian. Aku akan mengantarkan kalian pulang dengan aman.”

            Ucapan Judy rupanya tidak membuat Edward tenang sedikitpun.

            “Aku tahu, kau pasti pernah mendengar cerita seorang pemuda bernama Flick yang pernah hilang di hutan ini dan baru kembali setelah puluhan tahun berlalu. Cerita itu pasti sudah sangat terkenal di tempat tinggal kalian. Ya, dia memang terjebak disini untuk beberapa hari. Namun, beberapa hari di sini, rupanya sudah berlalu dua puluh tahun di sana. Itu terjadi karena hati buruknya. Ia berambisi ingin menemukan serpihan tanduk rusa leluhur kami yang tersimpan jauh di dalam hutan ini untuk mengubah kota Folks kalian menjadi kota seperti di sini. Namun, niat buruknya justru berbalik menimpa dirinya sendiri. Ia seolah terjebak puluhan tahun di sini. saat orang-orang di sekitarnya berubah, ia justru tidak menua sama sekali. Ia telah ditinggal orang-orang di sekitarnya. Dan kurasa itu adalah balasan yang setimpal untuk dia.” []

        

Share This: