Monster di Lorong Rahasia

Oleh: Ahmida Nabyla (Siswa Kelas Menulis IWEC)

         Di suatu tempat, terdapat tiga kerajaan yang hidup saling berdampingan. Mereka adalah kerajan Laluna yang di pimpin oleh raja Orm, kerajaan Aloka yang dipimpin oleh raja James, dan kerajaan Horan yang di pimpin oleh raja Beck. Ketiga kerajaan tersebut saling dibatasi oleh sungai dan bukit kecil yang membentang. Jika ingin berkunjung, maka harus menyeberangi sungai dengan perahu dan melewati bukit kecil. Ketiga kerajaan tersebut hidup dengan damai dan tentram.

         Raja Orm dari kerajaan Laluna mempunyai seorang putri yang cantik bernama Aurora, raja James dari kerajaan Aloka juga mempunyai putri cantik yang diberi nama Elizabeth, sedangkan raja Beck tidak memiliki putri, namun ia memiliki dua orang putra bernama William dan Daniel.

         Aurora, Elizabeth, William dan Damiel sudah bersahabat sejak kecil. Mereka juga bersekolah di tempat yang sama, yakni Academy of Prince and Princess. Sekolah tersebut merupakan sekolah impian setiap anak di negeri mereka. Namun meskipun begitu, para pangeran dan putri dari ketiga kerajaan tersebut merasa sangat bosan bersekolah di sana, karena yang mereka pelajari setiap hari hanya pelajaran yang berhubungan dengan istana saja.

         Namun, tidak semua mata pelajaran yang diajarkan di sana membosankan untuk mereka. Ada beberapa pelajaran yang menjadi favorit mereka; seperti Aurora yang menyukai pelajaran bela diri, Elizabeth dan William yang suka dengan pelajaran berkuda sambil memanah, Daniel yang menyukai pelajaran bela diri pedang. 

***

         Siang itu, para pangeran dan putri benar-benar merasa bosan di dalam kelas. Untuk mengatasi kebosanannya, Aurora mengajak Elizabeth, William dan Daniel untuk menyamar seperti penduduk biasa di luar istana. Ketiganya pun setuju. Lalu mereka berempat mulai menyusun rencana untuk membuat guru mereka kesal dan mengeluarkan mereka berempat dari kelas.

         Akhirnya rencana mreka berhasil. Mereka berempat benar-benar diusir dari kelas. Setelah itu, mereka naik kereta kuda milik Elizabeth menuju pasar.

         “Prajurit, tolong belikan kami berempat baju orang-orang biasa,” perintah Aurora kepada prajurit yang mengantar mereka ke pasar.

         “Baik, Putri Elizabeth.”

         Setelah mendapatkan baju yang diminta, mereka langsung berganti pakaian.

         “Kami hanya pergi sebentar, tunggu saja di sini!” ucap Elizabeth kepada prajuritnya. Setelah itu mereka jalan-jalan dan bersikap seperti rakyat biasa, melihat suasana di luar istana yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. 

         Setelah lelah, mereka beristirahat dan kembali ke tempat kereta kudanya, lalu kembali menuju sekolah. Sesampainya di kelas, ternyata semua murid sudah pulang. Melihat keadaan tersebut, mereka senang bukan main, dan langsung keluar menuju gerbang sekolah, namun di tengah-tengah, mereka dikejutkan oleh suara seseorang, “Kenapa kalian tadi tidak ada di jam kedua pelajaran?”

         Aurora, Elizabeth, William dan Danies kompak menoleh ke belakang. Ternyata itu adalah suara guru mereka. Mereka khawatir ketahuan membolos tadi.

         “Itu Madam, t-tadi kami dipanggil kepala sekolah,” jawab Daniel berbohong.

         “Tapi tidak mungkin selama itu, kan?” tanya Madam dengan nada curiga.

         “Oh, kami ketiduran di perpustakaan, Madam,” jawab Aurora

         “Em… baiklah.”

         Keempat sahabat itu merasa lega setelah Madam pergi. Mereka tidak ketahuan sudah membolos di jam pelajaran. Setelah itu mereka memutuskan untuk mampir ke istana putri Aurora.

         Sesampainya di istana, mereka langsung menuju ruang utama di istana, tempat singgasana raja Orm, ayah putri Aurora berada. Saat itu kebetulan raja Orm dan ratu Ellie sedang pergi, sehingga mereka bisa bermain dengan bebas di sana. Mereka berjalan dengan mengendap-endap karena takut ketahuan oleh para pengawal istana. Sesampainya di ruang singgasana, keempat sahabat itu saling memandang dalam diam.

         “Kira- kira kita mau main apa?” tanya putri Aurora dengan suara pelan.

         “Hmmm… bagaimana kalau kita main pedang-pedangan?” usul putri Elizabeth sambil menunjuk kearah baju perang yang dipajang tidak jauh dari singgasana raja.

         “Wah, ide bagus!” seru pangeran Daniel.

         Akhirnya mereka memakai perlengkapan masing-masing dan mulai bermain. Elizabeth dan Aurora membawa pedang dan tameng di tangan mereka, sementara Willian dan Daniel memakai topi besi dan membawa pedang.

         Saat Aurora dan ketiga sahabatnya asyik bermain, raja Orm dan ratu Ellie tiba-tiba datang dan menemukan para putri dan pangeran sedang bermain-main dengan perlengkapan perang bersejarah milik istana.

         “Kalian sedang apa disini, Putri Aurora, Putri Elizabeth, Pangeran William, dan Pangeran Daniel?” ucap raja Orm tiba-tiba membuat Elizabeth dan sahabatnya kaget dan menghentikan permainan mereka. “Bagaimana bisa kalian bermain-main dengan benda-benda bersejarah itu? Tentu kalian akan saya laporkan pada raja James dan raja Beck.” Ucapan tegas raja Orm membuat mereka ketakutan.

         “Maafkan kami, Ayah. Kami bersalah,” ucap putri Aurora sambil menunduk dengan perasaan salah.

         “Ayah harus menghukum kalian. Sebagai hukuman kalian membersihkan seluruh istana ini tanpa di bantu oleh pelayan” ucap raja Orm. Sementara keempat sahabat itu hanya mengangguk lemas dan pergi menuju tempat peralatan kebersihan. Setelah mengambil peralatan kebersihan mereka berpencar untuk bersih bersih.

         Saat Aurora membersihkan kamarnya, secara tidak sengaja sapunya menyentuh sesuatu di bawah ranjang. Saat dilihat, ternyata itu adalah sebuah tombol. Saat tombol itu disentuh, tiba-tiba tempat tidurnya bergeser ke kiri dan terdapat sebuah pinti berbentuk lingkaran yang terbuka lebar. Dengan segera putri Aurora berlari keluar menghampiri ketiga sahabatnya.

         “Teman-teman! Kalian harus ikut aku,” ucap putri Aurora hampir kehabisan napas karena berlari.

         “Ada apa?” tanya pangeran Daniel.

         “Ikut saja!” seru putri Elizabeth dengan berlari menggandeng putri Aurora dengan disusul pangeran William dan Daniel.

         Sesampainya di kamar, mereka begitu terkejut melihat pintu di lantai yang terbuka lebar. William pun mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam lorong, mencari tahu rahasia di balik pintu itu. Setelah disetujui oleh ketiga sahabatnya, mereka pun langsung masuk ke dalam pintu yang mengarah ke ruang bawah tanah itu. Namun, ketika kaki pangeran William baru menginjak anak tangga yang pertama, raja Orm berteriak memanggil mereka. Dengan terpaksa mereka tidak jadi berpetualang, dan menundanya sampai besok.

         “Hei, bagaimana petualangan ini kita lanjutkan besok?” tanya pangeran Daniel.

         “Baiklah, ide bagus,” ucap Aurora.

         Mereka pun segera keluar kamar Aurora setelah menutup kembali pintu rahasia itu.

         Keesokan harinya, para pangeran dan putri bertemu di taman istana putri Aurora. Mereka lalu menuju kamar putri Aurora masuk ke dalam lorong tersebut. Setelah semua sudah masuk, pintu tiba-tiba tertutup. Suasana tiba-tiba gelap. Putri Elizabeth segera mengeluarkan senter yang ia bawa dan membagikan tiga bungkus biji-bijian kepada sahaba-sahabatnya.

         “Nanti kalau di sini ada monster dan menculik salah satu dari kita, jatuhkan biji-biji ini agar akan mudah mencari keberadan kalian,” jelas putri Elizabeth.

         “Baiklah kita mulai petualangan ini!” ucap putri Aurora dengan bersemangat, lalu disusul anggukan ketiga sahabatnya.

         Sesampainya di tengah-tengah lorong, mereka menemui dua pintu. Mereka bingung harus memilik pintu yang mana. Hingga akhirnya pangeran William memutuskan untuk memilih pintu kanan. Setelah masuk ke dalam pintu di sebelah kanan, mereka bertemu dengan seekor monster yang cukup besar.

         Karena teriakan Aurora, monster itu menoleh ke arah mereka dengan ekspresi marah. Monster itu ingin menghampiri mereka tetapi tangannya diborgol. Entah kenapa Aurora justru berjalan kearah monster itu dan membuka borgol dengan penjepit rambutnya. Elizabeth panik dan berusaha menarik tangan Aurora, tapi saat Aurora menoleh, tatapannya berbeda. Ia seperti terkena hipnotis.

         Setelah borgolnya terlepas, monster itu tiba-tiba berdiri dan membawa pergi Aurora.

         “Aurora!” teriak Daniel berusaha mengejar Aurora.

         “Aurora! Ambil kacang di tasmu!” ucap Elizabeth, segera Aurora merogoh tasnya dan menggigit ujung plastik yang berisi biji kacang.

         Setelah Aurora dibawa pergi oleh monster, Elizabeth, William, dan Daniel keluar dari lorong rahasia itu dan berkumpul di taman istana untuk menyusun rencana menyelamatkan putri Aurora.

         “Hmmm… Bagaimana kalo kita minta bantuan Tuan Willian? Mungkin dia tau tentang istana itu,” usul Daniel dan disusul anggukan oleh kedua sahabatnya. Setelah bertemu ketiga sahabat itu menjelaskan kejadian yang mereka alami.

         Dibantu oleh penasehat istana di kerajaan putri Aurora yang bernama Tuan William, mereka pergi ke perpustakaan kerajaan untuk mencari informasi mengenai monster itu. Namun, di tengah-tengah perjalanan, putri Elizabeth melihat ada secarik kertas yang tiba-tiba saja jatuh di hadapannya. Di situ tertulis “Aku ingin balas dendam kepada keluarga raja Orm, Mia.”

         “Putri Elizabeth, kau tidak ikut?” tanya Daniel ketika sedang berjalan sambil menoleh ke belakang, alhasil dia menabrak dinding dan semua tertawa termasuk pangeran Daniel sendiri.

         “Eh… iya aku ikut,” jawab Elizabeth sambil berlari menghampiri mereka dan menuju perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, Elizabeth berlari menuju tangga dan duduk di salah satu anak tangga lalu dia berulang kali membaca surat itu.

         “Hei!” seru William sambil menepuk bahu Elizabeth.

         “E-ehh ada apa?”

         “Apa itu?” tanya William sambil menunjuk surat yang dipegang Elizabeth.

         “Ohh ini, aku tidak sengaja menemukan surat ini. Aneh sekali isinya,” jawab Elizabeth lalu menyerahkan surat itu kepada pangeran William.

         “Mia? Bukankah dia kembaran Mona, pelayan kesayangan Putri Aurora?” ucap William sambil mengerutkan dahi. “Tapi tidak mungkin Mia yang menulis ini. Dia gadis yang sangat baik. Aku yakin ini pasti ulah Mona,” lanjut William sambil bangkit menuju rak-rak buku.

         “Bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu, Pangeran William?” tanya Elizabeth tidak mengerti.

         “Nanti kamu juga tau sendiri” jawab William. Sementara Elizabeth mengambil salah satu buku sejarah di rak, namun buku lain juga tidak sengaja ikut terjatuh dan terbuka. Elizabeth meletakkan buku yang dia ambil ke tempatnya lalu mengambil buku yang terjatuh dan membaca halaman yang terbuka saat jatuh. Di situ tertulis legenda monster yang dikurung di ruang bawah tanah sejak ratusan tahun yang lalu. Dengan segera dia memberi tahu teman-temannya juga tuan William, penasehat kerajaan.

         “Sepertinya kita harus kembali ke ruang bawah tanah itu lagi, aku yakin kita bisa berhasil menyelamatkan Putri Aurora,” kata Daniel sambil keluar perpustakaan dengan disusul anggukan kedua temannya. Sesampainya di lorong ruang bawah tanah, mereka bertiga mulai mengikuti jejak yang ditinggalkan Aurora lewat biji-bijian yang ia bawa. 

         Sementara itu, di dalam sebuah ruangan rahasia yang ada di bawah tanah, Aurora disekap. Saat tersadar, ia melihat sekelilingnya dan melihat sesosok wajah yang sangat dia kenal. Dia seperti Mona. Seketika dia ingin menghampiri, namun langkahnya terhenti saat dia melihat Mona pergi dan ppintunya tertutup kembali.

         Di saat yang bersamaan, pangeran William juga melihat Mona baru saja melintas. Langsung saja pangeran William dan pangeran Daniel mengikuti Mona sambil menyelinap. Putri Elizabeth juga ikut menyelinap. Dia melihat Mona menuju sebuah ruangan dan terbuka hanya dengan sidik jari Mona jadi dia segera berlari saat ruangan itu akan tertutup. Saat dia masuk, Elizabeth kehilangan jejak Mona jadi dia memutuskan untuk sendirian menyelidiki ruangan itu. Saat Elizabeth menelusuri ruangan itu, dia tidak sengaja melewati sebuah ruangan yang membuatnya penasaran, akhirnya dia memutuskan masuk ke dalam ruangan itu dan terdengar suara rintihan juga suara orang tertawa keras. Ketika Elizabeth mengintip, dia melihat Mona dan Mia di dalam ruangan itu.

         “Ampun, Kak. Lepaskan aku!” kata Mia.

         “Hahaha… Kamu kira aku akan melepaskanmu dengan mudah? Hmmm… aku akan melepaskanmu, tapi dengan satu syarat, kamu tak boleh mmebocorkan rahasia jika aku yang menyuruh monster itu untuk menculik putri Aurora,” ucap Mona.

         “Tidak, aku akan memberitahu orang-orang di istana,” balas Mia

         “Kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu,” kata Mona.

         BRAKKKK! Belum sempat Mia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara pintu yang ditendang, dibuka secara paksa.

         “Ternyata kau yang bernama Mona itu. Monster jelekmu sudah menculik sahabatku!” seru Elizabeth sambil menatap Mona dengan tatapan tajam

         “Kenapa kamu menculik putri Aurora?!” seru Elizabeth sambil mendekati Mona.

         “Karena aku tidak suka dengannya. Dia putri manja yang suka bertingkah seenaknya saja,” jawab Mona.

         “Kalau kamu seperti itu maka kamu bisa mendapatkan hukuman yang berat dari Raja Orm,” ancam putri Elizabeth.

         “Hahaha, aku tidak takut!”

         Tanpa mereka sadari, para prajurit sedang menuju ke arah mereka.

         “Tangkap dia!” ucap kepala prajurit dan para prajuritnya segera menangkan Mona.

         Setelah Mona tertangkap, Elizabeh segera melepas ikatan di tangan Mia. Mereka pun segera berlari menuju tempat Aurora berada. Saat sudah sampai, mereka melihat William hendak memanah monster itu dengan anak panah. Tidak berapa lama, anak panah itu menembus tubuh monster dan seketika monster itu terjatuh tidak sadarkan diri. William dan Daniel segera memborgol tangan dan kaki monster itu sebelum terbangun.

         Akhirnya, putri Aurora berhasil diselamatkan, dan monster itu pun kembali dikurung di ruang bawah tanah.

***

Share This: