MY ADVENTURE

Oleh: Tariz Darin Nafisa (Siswa Kelas Menulis IWEC)

       Tepatnya satu minggu yang lalu sepulang dari kuliah, biasanya aku pulang dengan berjalan kaki, namun waktu itu kebetulan cuaca sedang panas-panasnya jadi kuputuskan pulang naik ojek. Sinar matahari menyengat tubuhku ditambahnya rasa lelah setelah beraktivitas di kampus.

       Setibanya dirumah, “Assalamualaikum, Bunda” ucapku sambil membuka pintu.

       “Waalaikumsalam, Kak” jawab bunda, terdengar suaranya dari dalam.

       “Bunda, Citra boleh nggak datang ke pesta piyama di rumahnya Anggita?” tanyaku to the point.

       “Boleh, kapan?” tanya bunda balik.

       “Malam ini.” Tanpa berpikir panjang bunda langsung mengangguk mantap. Pertanda bahwa ia setuju.

       Aku pun segera melangkahkan kaki menuju kamar tidurku yang terletak di sebelah ruang tamu. Ketika hendak membuka pintu kamar, handphone ku bergetar menandakan bahwa ada pesan masuk.

       Gira: Assalamualaikum Citra, bagaimana? Apakah orangtuamu mengizinkanmu?

       Citra: Waalaikumsalam, Alhamdulillah… aku diizinkan

       Gira: Alhamdulillah, Anggita, Manik dan Mira juga setuju. Kalau begitu, besok jadi ya?

       Citra: iya…

       Setelah membalas pesan dari Gira, aku segera menuju kamar mandi dan bergegas mandi lalu sholat ashar dan mempersiapkan perlengkapan untuk acara nanti malam.

***

       “Bunda, Citra berangkat dulu ya! Assalamualaikum,” pamitku sambil melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil. Aku diantar oleh pak supri, supir pribadiku.

       Selama perjalanan, aku menikmati pemandangan sambil mendengarkan lagu melalui headset. Sambil mendengarkan musik, aku memutuskan untuk membaca buku. Sebuah novel kesukaanku, karya Sherlock Holmes. Setelah lagu yang diputar selesai, aku memilih untuk tidur karena perjalananku masih lama, sekitar satu jam lagi.

       “Citra, bangun! Kita sudah sampai dirumahnya Anggita!” ucap seseorang berusaha membangunkanku. Ternyata itu pak Supri.

       “Alhamdulillah, kita sudah sampai. Terima kasih ya pak Supri,” kataku.

       “Iya, nanti kalau minta dijemput tinggal telepon pak Supri saja,” kata pak Supri.

       “Siap, Pak!”

       Aku pun mulai memasuki halaman depan rumah Anggita.

       “Assalamualaikum, Anggita!”

       “Wa’alaikumsalam,” terdengar suara Anggita dari dalam rumah membalas salamku. “Wah Citra, ayo masuk! Teman-teman yang lain sudah siap untuk pesta piyama nih!” lanjutnya seraya mengajakku masuk ke dalam rumahnya.

       Aku pun segera masuk ke kamar Anggita. Di sana sudah ada teman-teman yang lain. Kami bercanda gurau hingga tak terasa sudah pukul setengah Sembilan.

       “Eh, guys. Gimana kalau kita hiking ke gunung Semeru?” usul Anggita tiba-tiba.

       “Apa!?” teriak Manik dan Mira, anak kembar yang gayanya sedikit berlebihan.

       “Boleh” jawabku bersama Gira.

       “Tiga lawan dua, berarti tiga yang menang,” sahut Anggita bersemangat.

       “Oke, setuju!” teriak semuanya kompak.

       Di malam pesta piyama, kami memutuskan untuk mendaki gunung Semeru. Aku sangat bersemangat karena akan mendaki gunung tertinggi di Jawa Timur dengan ketinggian 3.676 mdpl. Bahkan gunung Semeru sampai sekarang masih aktif.

***

       Keesokan harinya, setelah pulang dari rumah Anggita, aku beraktivitas seperti biasanya. Mempersiapkan peralatan dan segala kebutuhan untuk mendaki ke gunung Semeru. Nanti, Gira dan teman-teman lainnnya akan menjemputku. Setelah itu kami akan berangkat sekitar pukul setengah tujuh malam.

       Selama perjalanan, aku membaca novel. Kali ini, lagu yang mengiringi kegiatan membacaku adalah lagu yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan berjudul Deen Assalam. Sama seperti biasanya, setelah lagu yang kuputar habis, aku akan tidur. Perjalanan ini akan memakan waktu yang lama. Diperkirakan kami akan sampai di gunung Semeru pukul setengah Sembilan malam.

       Setelah sampai, tanpa membuang banyak waktu, kami memulai pendakian. Selama memulai pendakian, suasana di sekitar kami sangat sepi dan hening. Yang kami lalui adalah jalan setapak. Sudah pasti, kendaraan besar seperti truk, mobil dan lain-lain tidak bisa lewat. Beberapa kali kami berpapasan dengan seorang nenek atau kakek sedang berjalan terbungkuk-bungkuk membawa hasil kerjanya seperti kayu atau padi.

       Setelah berjalan beberapa lama, “Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga di kaki gunung dengan selamat,” ucapku setelah sampai di kaki gunung Semeru.

       “Iya, Alhamdulillah. Eh, ayo kita buat tendanya” sahut Anggita mengingatkan kami. Kami pun segera membuat tenda dan api unggun.

       “Ini sudah pukul setengah sembilan malam, waktunya untuk tidur” ucap Manik memperingatkan kami supaya tidak tidur larut malam. Aku segera menarik selimut untuk menghangatkan tubuhku dan mulai memejamkan mataku. Rencananya kami akan menginap tiga hari dua malam.

        “Gira, Anggita, Manik, Mira! Persediaan makanan kita habis, aku lapar sekali!” kataku setengah berteriak kepada teman-teman di malam kedua, saat waktu makan malam.

       “Apa?!” teriak Gira, Anggita, Manik dan Mira kompak.

       “Terpaksa kita tidak makan malam ini, lebih baik kita langsung tidur saja,” kataku dengan nada lemas.

       Malam itu kami semua tidur tanpa makan malam.

       Keesokan harinya, “Guys, aku lapar sekali,” ucapku lemas sambil memgangi perut yang sejak tadi keroncongan.

       “Citra, kami semua juga lapar,” kata Manik yang dibalas anggukan lemas oleh Anggita dan Gira.

       “Lho, Mira mana?” tanyaku saat tidak melihat Mira.

       “Astagfirullahaladzim, persediaan makanan kita habis ditambah Mira hilang, ayo kita cari Mira. Tapi sebelum itu, kita bereskan semua perlengkapan kita terlebih dulu,” ucap Gira.

       “Baiklah, ide yang bagus” jawabku. Otak Gira memang selalu berisi ide yang brilliant.

       “Baiklah, kalau begitu kita beres-beres,” ucapku mulai membereskan barang-barang kami.

       Setelah semuanya siap, kami memutuskan untuk turun gunung sambil mencari keberadaan Mira. Kali ini, kami lebih kosentrasi dan berhati-hati karena bisa jadi Mira hilang karena diculik.

       Selama di perjalanan, aku menelusuri setiap sudut hutan dan jurang di sekitar. Mungkin saja Mira terperosok kedalam jurang. Namun, setelah sampai dikaki gunung pun Mira belum juga ditemukan. Aku baru terpikirkan untuk menelepon ke ponselnya. Namun saying sekali, panggilanku tidak mendapat jawaban.

       “Tolong! Teman-teman, tolong aku!” terdengar suara teriakan seseorang yang sepertinya berasal dari arah jurang.

       Kami pun menghampiri sumber suara tersebut dan melihat Mira terperosok ke dalam jurang.

       “Mira! Aku akan mencari bantuan, bertahanlah!” teriakku berusaha menenangkan Mira yang sedang berjuang untuk bertahan.

       Kami pun berusaha menyelamatkan Mira dengan peralatan seadanya yang ada. Sangat sulit sekali mengeluarkan Mira dari jurang dengan peralatan yang ada. Setelah lama berjuang, akhirnya kami bisa menyelamatkan Mira untuk keluar dari jurang.

       “Mira, bagaimana kamu bisa jatuh ke dalam jurang itu?” tanyaku khawatir setelah Mira berhasil ditarik ke dataran.

       “Citra, tidak usah terlalu khawatir. Aku baik-baik saja. Aku hanya terperosok kedalam jurang ketika sedang mencari makanan. Tadinya aku ingin mencari makanan untuk kita semua karena aku tidak tega melihat kalian kelaparan,” jelas Mira panjang lebar.

       “Terima kasih, Mira. Kamu memang sahabat terbaik!” aku terharus sekali mendengar ucapan Mira.

       “Sama-sama” balas Mira pendek.

       Karena pross penyelamatan yang lama, tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Kami pun memutuskan untuk membangun tenda, mencari kayu bakar serta makanan yang bisa kami makan, seperti asam gunung, blimbing-blimbingan, pegagan dan lain-lain.

       Setelah semua sudah terkumpul, kayu bakar sudah dinyalakan, dan tumbuh-tumbuhan sudah dibersihkan, Mira segera memasak makanan untuk kami berlima dengan bahan dan bumbu seadanya. Setelah makan malam, kami pun segera tidur.

       Keesokan harinya, kami beres-beres dan melanjutkan perjalanan. Namun, di tengah prjalanan kami bertemu dengan seorang kakek yang berjalan dengan terbungkuk-bungkuk sambil membawa padi.

       “Permisi, Kek. Saya mau bertanya-” kataku.

       Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, tiba-tiba kakek itu menunjuk ke suatu arah dengan jari telunjuknya. Aku ragu-ragu dengan kakek tersebut. begitu juga teman-teman yang lain. Bagaimana bisa dia tahu kalau aku ingin bertanya tentang arah jalan keluar gunung Semeru ini. Ah, tapi ya sudahlah. Tidak usah dipikirkan.

       “Baik, terima kasih, Kek. Assalamu’alaikum.” Betapa terkejutnya aku mendapati sang kakek sudah menghilang. Tanpa pikir panjang, kami pun segera berjalan kearah yang ditunjuk kakek tadi.

***

       Kami merasa sudah berjalan sangat jauh tetapi anehnya tidak kunjung sampai. Karena kelelahan, aku dan teman-teman yang lain beristirahat sebentar. Setelah rasa capek dan lelah sudah hilang, kami melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan, kami menemui bunga Rafflesia Arnoldi yang sangat besar dan berbau busuk. Aku agak ragu melewati jalan setapak ini, hawanya yang dingin membuatku merasa merinding. Awalnya, aku mengira bahwa ini adalah jalan pintas karena jalan setapak saat kami berangkat sangat berbeda dengan jalan setapak yang sekarang.

       Beberapa menit kemudian, “Alhamdulillah, bukankah itu kan gerbang keluarnya?” tanyaku sekaligus memberitahu teman-teman.

       “Alhamdulillah, iya betul, Citra. Itu gerbangnya!” ucap Manik penuh semangat.

       Akhirnya, karena terlalu bersemangat, kami semua pun berlari menuju pintu gerbang.  Namun begitu sampai di pintu masuk perkemahan puncak gunung Semeru, dan teman-teman yang lain pun begitu. Salah seorang dari kami hilang.

       “Guys, Gira mana?” tanyaku dengan raut mukaku yang kebingungan.

       “Enggak tau Cit, tadi sih di belakangku,” jawab Anggita khawatir.

       “Kita lapor ke petugas saja,” usul Mira.

       Akhirnya, kami melapor ke petugas perkemahan puncak gunung Semeru. Lalu, petugas itu segera menghubungi polisi untuk membantu menemukan Gira. Setelah polisi datang, polisi mengajak kami untuk ikut mencari Gira karena polisi tidak tahu Gira itu seperti apa. Kami mencari Gira dengan berjalan kaki karena kami melalui jalan setapak yang sangat sempit. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang meminta tolong. Itu suara Gira!

       “Pak, itu suara teman saya pak!” teriakku.

***

       “Baiklah, silahkan tunggu disini. Kami menyelamatkan teman kalian” kata salah satu polisi.

       “Baik, Pak” jawabku.

       Setelah beberapa saat kemudian para polisi itu kembali dnegan membawa Gira bersama mereka. Betapa bahagianya kami semua melihat Gira kembali dengan selamat.

       “Kami berhasil menemukan teman kalian,” lapor salah satu polisi kepadaku.

       “Terima kasih banyak, Pak Polisi” kataku seraya memeluk Gira.

       “Sama-sama, Nak” jawab pak polisi.

       Akhirnya, setelah Gira ditemukan, kami pun bergegas pulang kerumah masing-masing.

       Sejak saat itu, aku jadi semakin menyukai petualangan. Petualanganku selanjutnya akan segera dimulai…

MY ADVENTURE IS START!

Share This: