OBSESI PAHLAWAN

Oleh: Lalu Abdul Fatah

 

Kita begitu terobsesi dengan pahlawan. Kita seakan-akan perlu ‘mengkultuskan’ orang yang berjasa dalam hidup kita. Kita merasa perlu menahbiskannya. Kita merasa perlu mendeklarasikannya. Kita merasa perlu orang lain tahu.

Apa sebenarnya yang diinginkan oleh orang-orang yang butuh mempahlawankan sesosok manusia dalam hidup mereka? Sesuatu untuk dikenang? Sesuatu untuk dibanggakan? Sesuatu untuk di’berhala’kan? Sesuatu yang bisa mengatrol hidup mereka sewaktu-waktu mereka berada di titik nadir?

Ada banyak embel-embel pahlawan dalam hidup masyarakat kita. Mulai dari Pahlawan Kemerdekaan, Pahlawan Nasional, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Pahlawan Devisa, Pahlawan Literasi, hingga lelucon satire ‘Pahlawan Kesiangan’.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘pahlawan’ adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero. Pahlawan adalah kata benda.

Karena pahlawan adalah orang yang menonjol, maka yang tidak menonjol bukanlah pahlawan. Karena pahlawan adalah pejuang yang gagah berani, maka yang tidak gagah berani adalah pecundang. Ada pahlawan, ada antipahlawan. Kalau dalam dunia komik kita mengenal superhero – yang juga diangkat ke layar lebar hingga anak-anak yang membaca atau menontonnya punya superhero favorit – , maka ada juga seniman yang menciptakan antihero. Anda bisa menemukan sosok-sosok antihero ini dalam Huckleberry Finn karya Mark Twain, Metamorfosis karya Kafka, Nausea karya Jean-Paul Sartre, juga Orang Asing karya Albert Camus. Tiga karya terakhir ditulis oleh para eksitensialis. Tokoh-tokoh protagonis dalam karya mereka karakter sentral yang terombang-ambing dalam kehidupan mereka, dipenuhi kebosanan, kecemasan, juga keterasingan.

Sangat berseberangan dengan sosok pahlawan, bukan? Tidak ‘positif’ sekali, kan? Tidak menggugah semangat hidup, kan?

Dalam dunia yang cara pandanganya biner, keberadaan pahlawan dan antipahlawan seakan-akan menemukan pembenarannya. Betapa membosankannya jika hidup kita selalu meletup-letup oleh semangat kepahlawanan. Betapa membosankannya hidup jika tubuh kita terus-menerus memproduksi hormon dopamine (hormon kesenangan). Betapa depresifnya juga hidup terus-menerus dirundung kesuraman, kebosanan, keterasingan dengan tubuh yang kencang memproduksi hormon kortisol (hormon stres).

Seperti filosofi Tionghoa dengan yin-yang, seperti itulah keseimbangan dicapai. Ketika orang berlomba-lomba di daerah, misalnya, untuk memperjuangkan agar tokoh masyarakat mereka bisa menjadi pahlawan nasional, tentu akan ada orang-orang yang berpikir, “Buat apa, sih? Banyak hal lebih penting untuk dilakukan tinimbang berkubang dalam romantisme kepahlawanan.” Bisa jadi pula akan ada orang-orang yang cuek, tidak menganggap isu itu penting.

Lalu, bagaimana bersikap? Lakukanlah apa yang Anda yakini. Jika Anda ingin mempahlawankan diri Anda, lantas tak ada yang mendukung, jangan sakit hati. Perjuangkan terus.

Jika Anda sedang memperjuangkan sosok-sosok tertentu dalam hidup Anda dan orang lain untuk disematkan label pahlawan, lakukanlah. Namun, jangan sampai sakit hati jika niat tulus Anda tersebut tidak selalu disambut gegap gempita oleh sebagian lainnya.

Jika Anda bosan dengan ragam label pahlawan yang muncul di sekitar Anda atau yang Anda baca di media, ya sudahlah. Lakukan yang membuat Anda tidak bosan. Jangan pedulikan. Urusan di dunia ini takkan ada habisnya sampai kiamat, selama manusia hidup.

Pada akhirnya, butuh tidaknya Anda untuk mempahlawankan seseorang, itu kembali pada pribadi Anda. Jika Anda sendiri sedang memberanikan diri dan berkorban untuk kebenaran yang Anda yakini, bukankah Anda juga pahlawan?

Tidak perlulah memaksa-maksa orang lain. Mari rayakan sosok pahlawan dalam diri Anda.

 

Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Hero

https://en.wikipedia.org/wiki/Antihero

http://health.liputan6.com/read/2158256/ini-hormon-yang-memengaruhi-kebahagiaan-anda

https://www.merdeka.com/sehat/kenali-3-hormon-yang-berkaitan-dengan-stres.html

 

Post Comment