Pagi Ini Kopi Kami Masam Sekali

 

Oleh: Farah Fakhirah (Staf Pengajar Kelas Menulis IWEC)  

          Benar kawan, aku tidak mengada-ada, pagi ini, kopi kami memang jadi masam sekali. 

            Baiklah, barangkali kau tidak percaya, karena yang melaporkannya adalah Kakek Joe—petani tua yang memang tak pernah puas atas apa pun. Ia masuk ke dalam kafeku, menyumpah serapah padaku bahwa aku menyajikan padanya kopi yang basi. Aku hampir saja tertawa, tentu saja, mana pernah ada yang namanya kopi basi? Aku sudah menjadi barista selama dua puluh satu tahun, dan kopi tidak bisa basi.  

            “Ini! Coba saja sendiri!” Kakek Joe yang wajahnya sama masamnya dengan kopi pagi itu menyodorkan cangkirnya kepadaku. Aku menggedikkan bahu, bau kopi itu masih sama harumnya seperti bau kopi yang biasa kusajikan, jadi seharusnya rasanya sama saja. Namun, begitu kopi itu menyentuh lidahku, aku merasakan rasa masam yang tajam. Serta merta aku berjengit, ini bukan masam kopi, ini rasa masam yang lain. Masamnya kopi tidak terasa membakar lidah seperti ini.

            “Apa kubilang? Bagaimana, sudah mau mengakui kalau kopimu basi?” Tantang Kakek Joe. Ia kini menyandarkan setengah badannya ke mejaku. Aku menggerutu, tidak, kopiku sama sekali tidak basi, dan tidak mungkin basi! Bagaimana mungkin biji kopi yang tersegel erat bisa basi? Memangnya tua bangka ini pikir, kopi itu sama dengan sekarton susu, yang kalau dibiarkan terlalu lama bisa basi sendiri?

            “Lalu rasa masam apa itu? Kau juga merasakannya, kan? Bukan masam kopi!”

            Kalau yang ini, aku terpaksa setuju dengan tua bangka Joe Hill ini. Kopi itu memang tidak terasa seperti masamnya kopi. Ada yang aneh, sensasi yang membakar lidah dan saat telah sampai di lambung, seolah bertarung dengan seisi perut. Belum pernah, seumur hidupku, aku meneguk kopi dan merasa hampir mual dibuatnya.

            Suatu ide terbentik di benakku, kalau bukan kopinya, berarti…

            “Kakek Joe, di mana kakek menengadahkan wadah air kakek hari ini?”

            “Tentu saja seperti biasa, di bukit dekat kantor wali kota , memangnya kenapa?”

            Aku mengambil wadah airku, lalu bergegas menarik tangan Kakek Joe. “Aku harus memastikan kecurigaanku. Dan sebelum kakek menuduhku lagi, kuberi tahu: kopi tidak bisa basi, Joe Hillstorm!”

***

            Jadi begini, biar kujelaskan sedikit, karena kulihat kening kalian sudah berkerut.

            Di kota kecil kami, tidak ada sumber air bawah tanah. Bukan, bukan, kami tidak menggali dan kemudian menggunakannya sampai habis, tapi memang dari awal, sumber air kami berada di langit. Selain hujan, yang berarti kami bisa mengambil air sepuasnya, ada sebuah awan mendung yang selalu menaungi bukit dekat kantor wali kota , dan dari awan mendung itulah, jatah kebutuhan air kami terpenuhi.

            Setiap hari, ratusan warga mengantri untuk mengisi wadah air mereka, menadahkannya kepada awan mendung yang senantiasa menurunkan hujan itu. Tapi hari ini, antrian itu kosong, berganti dengan antrian mereka yang hendak mengeluh pada wali kota . Aku mencuri dengar percakapan mereka. Ada yang mengeluh kulitnya melepuh, ada yang sakit perutnya semakin menjadi, ada juga yang mengeluh kalau lidahnya terasa terbakar setelah meminum air dari awan mendung tersebut.

            “Dengar itu kau, Kakek Tua! Ini semua gara-gara awan mendung kita masam airnya, bukan gara-gara kopi basi!” Aku mencetus pada Kakek Joe yang masih menampakkan wajah tak percaya. Baiklah, akan kubuktikan padanya kalau awan mendung itulah sumber segala masalah kami ini. Aku dan Kakek Joe hanya memandangi mereka, sebelum aku akhirnya menarik tangan Kakek Joe dan mengulurkan wadahnya untuk mmenampung air hujan yang telah turun lagi itu.

“Mari kita buktikan, Kek!” Aku menampung air itu, dan setelah cukup banyak air yang kutampung, aku menyerahkannya pada Kakek Joe. Ia tampak ragu, nampaknya terpengaruh juga ia dengan perkataan yang didengarnya tadi di dekat rumah wali kota, namun diminumnya juga air itu. Dan benar dugaannku, air itulah penyebab masamnya kopi kami pagi ini. Hujan yang ada di dekat rumah Wali Kota, kini tak terasa segar lagi, ia telah menjadi masam.

            Dan Wali kota belum juga nampak.

***

            Begini, kota kecil ini tak pernah memiliki masalah apa pun, selain barangkali ternak yang lepas dari kandangnya, itu pun hanya beberapa kali. Namun, ketiadaan air ini benar-benar menganggu kami, karena bagaimana caranya kami melakukan apa pun, jika tidak ada menjadi sumber air bersih buat kami?

            Akhirnya, Wali kota  yang kemarin tak muncul-muncul menampakkan dirinya di Balai Kota. Ia sendiri terlihat seperti belum mandi atau pun makan selama berhari-hari, barangkali karena memikirkan masalah ini, atau juga karena ia—sama seperti kami—tidak mempunyai sumber air bersih untuk melakukan kegiatannya sehari-hari.

            “Wargaku yang kucintai,” ucapnya. “Saya sadar bahwa krisis air ini tak mungkin lagi dihindari.” ia menggaruk-garuk wajahnya, seolah menegaskan bahwa—yah saya kan juga belum mandi—dan kami hanya mengangguk, menatapnya bisu. “Saya akan mengadakan rapat koordinasi dengan para pemimpin negeri ini, bukan hanya yang di tingkat perkotaan-namun barangkali yang di tingkat lebih tinggi.

            Kota kecil ini bukan satu-satunya tempat yang kekurangan air, atau bahkan kehilangan sumber air alami Di kota sebelah, yang punya sumber air bawah tanah alami pun, kemarin tiba-tiba mengering sendiri. Saya dan para pemimpin lainnya akan menginvestigasi fenomena ini.”

            Lalu turunlah ia dari podium di Balai Kota.

            Kami sebagai warga hanya tenganga.  Jadi, dia mau bilang bahwa sampai dialog itu selesai dilakukan, kami tidak akan memiliki air besih?

            Mati saja lah kami.

            Mati saja lah dia!

            Tapi kawan, memang itulah yang terjadi di kota kecil ini. Kami melewatkan berhari-hari tanpa pasokan air bersih yang layak. Bukan hanya kopi kami yang masam kini, tetapi juga bau badan kami. Wali kota, untungnya, sedikit bersimpati. Kalau bersimpati bisa diekspresikan dengan berpenampilan sama seperti kami: sama-sama menguarkan bau badan yang tajam, dan bau napas busuk karena kebersihan badan yang tak terjaga berhari-hari.

            Akhirnya, kami muak juga. Balai kota dan rumah wali kota kami datangi, dan kami memulai semacam demo kecil-kecilan di depannya. Kecil saja, tidak besar, kami hanya menuntut agar kami diberi pasokan air bersih, kami tidak butuh wali kota memperbaiki si awan mendung itu, toh ia memang sudah tak bisa diapa-apakan lagi. Meski kami juga penasaran, kenapa air si awan mendung bisa tiba-tiba masam.

            Tapi kau tahu, apa yang terjadi ketika kami tiba di tempatnya? Satu dua jam berlalu, Wali Kota masih tak menampakkan batang hidungnya. Kami diam dan bergeming. Tiga jam dan mulai ada kasak-kusuk, yang mulai mencela Wali Kota, bahkan mencela keluarganya pula. Namun, saat jam kempat—nah inilah, Wali Kota kami memang luar biasa: IA SIRAMI KAMI, KAMI SEMUA, WARGANYA YANG TAK MANDI DUA MINGGU INI, DENGAN AIR BERKUBIK KUBIK BANYAKNYA.

            Kami sedikit marah, karena kalau memang dari awal ia punya air sebanyak itu, mengapa tidak ia bagikan saja kepada warga? Namun kami sedikit senang juga, karena ternyata kami bisa mandi setelah sekian lama. Tapi, ketika air itu mengenai bagian tubh kami, barulah kami sadar: ini air dari si awan mendung. Air ini tajam dan membakar luka di kulit kami. Kami menjerit dan seketika bubar dari jalanan.

            “Air kan yang kalian mau! Ambil semua sana!”  Wali kota itu meneriaki kami dari balkon rumahnya, kulitnya yang ruam-ruam dan giginya yang menguning menjadi satu-satunya penghiburan kami hari itu.

***

            Satu bulan tanpa air bersih, kawan. Tapi setidak nya, kami kini sudah mendapat jatah dari pemerintah. Gara-gara ketahuan membuang-buanang air dan menelantarkan warganya saat sedang terjadi krisis, Wali Kota kami dihukum. Tapi hanya dia, bukan keluarganya. Hukumannya cukup sadis sebenarnya: ia disuruh berjalan kaki dari rumahnya hingga sumber air terdekat, setiap hari, untuk mengambil jatah air bagi seribu kepala keluarga di kota kecil ini. Harap diketahui, sumber air terdekat ada di gunung yang letaknya kira-kira sekitar tiga hari jalan kaki, dan selama ia mengambil jatah itu, hingga semua jatah terpenuhi, ia hanya boleh minum seliter air. Itu berarti, seliter air untuk sepuluh hari saja. Tiga minggu ia melakukan itu, akhirnya ia mangkat dari dunia. Tidak kuat tubuh tuanya itu menanggung beban yang begitu berat.

            Pemakamannya dihadiri oleh istri dan anak-anaknya, serta para pendukungnya yang cukup setia bahkan ketika ia telah menunjukkan kesalahannya. Aku dan Kakek Joe, beserta warga yang lain, tidak terlalu peduli, yang kami pedulikan hanya siapa yang akan mengambilkan jatah air kami? Jawabannya datang sehari kemudian: mobil pemerintah yang menampung selang-selang air. Aku membayangkan seandainya Wali Kota tak begitu pemarah, ia bisa naik mobil ini saja, dan bukannya jalan kaki. Tapi, seseorang memang harus menanggung resiko perbuatannya sendiri.

            Karena Wali Kota kami mangkat, maka ada pemilihan untuk memilih Wali Kota baru. Singkat cerita saja, seorang anak muda terpilih. Kami mempercayainya karena kami merasa ia berbeda dengan para pendahulunya, angkatan tua. Kami ingin ia membawa angin perubahan buat kota ini, dan lagi, ia amat pintar, barangkali ia tahu mengapa awan mendung menjadi masam.

            Harapan kami tidak terlalu salah. Ia segera menemukan penyebabnya, tiga bulan setelah ia dilantik. Rupanya, masam itu berasal dari banyaknya reaksi kimia pada air hujan, sehingga menyebabkannya tercemar. Ia kemudian mengajukan proposal kota hijau, yang kami setujui dengan sepenuh hati. Tapi ternyata, ini adalah masalah baru lagi.

            Tidak boleh ada satu barang pun yang dipakai sekali saja. Semua harus didaur ulang, dan kuulangi, ini berarti segala hal. Untuk pengusaha kafe macam diriku, ini berarti peningakatan biaya operasional. Gelas plastik dan kertas berganti menjadi gelas besi dan gelas keramik untuk dibawa pulang. Sedotan harus berganti menjadi entah kaca, kertas, bambu, atau besi, dan ini berarti membeli dan menyediakannya. Dan itu semua tidak murah. Aku harus berjuang dirikan kembali kafe ini sendirian setelah dulu hampir dihancurkan oleh kakakku, namun dengan adanya aturan ini, aku jadi harus memutar otak kembali.

            Belum lagi, dengan adanya hal-hal sepertti ini, malah mengurangi pengunjung kafeku. Mereka yang biasanya berkunjung di sini adalah mereka yang habis bekerja di industri-industri berat, bukan mahasiswa apalagi orang kantoran. Mereka biasa minum kopi dari gelas plastik bekas minuman air mineral, dan keharusanku membuat mereka membeli gelas besi sebagai penggantinya untuk wadah minuman memberatkan. Bisa saja mereka minum dari gelas kaca atau keramik, tapi percayalah, gelas-gelas itu takkan kembali. Akhirnya, aku hanya bisa gigit jari karena ya, mau bagaimana lagi?

           Bukan aku saja yang merasa seperti itu. Orang-orang mulai merasa sedikit terganggu. Memang, kota jadi lebih hijau dan asri, namun binatang-binatang kecil dilarang dibunuh dengan alasan apa pun. Katanya ini untuk memelihara ekosistem. Tapi ini juga berarti binatang yang berbahaya seperti tikus dan kecoa ikut serta tak boleh dibunuh. Ini juga berarti mereka berkeliaran di mana-mana, termasuk di restoran-restoran, yang sekarang wajib mencantumkan semua hitungan kalorinya dalam menu makanan.

            Oh ya, restoran-restoran itu juga dilarang memberi porsi yang melebih kalori setiap orang, jadi, jika kau kelaparan di tengah malam, maaf saja kawan, takkan ada yang menjual lebih dari sesisir pisang buatmu. Dan ini belum lagi menyentuh mereka yang sama sekali tak bisa menjalankan semua ini. Seperti pasien rumah sakit, atau mereka yang memang tak terbiasa hidup seperti ini.

            Akhirnya, kami demo lagi.

            Kalian tahu disambut dengan apa demo kami kali ini?

            Biji kacang hijau, yang dalam beebrapa menit, mulai berkecambah di badan kami. Ya, meamng agak mengerikan jika dipikir. Dan yang lebih mengerikan lagi, biji itu ternyata berisi bayi. Jadi, kami diwajibkan memelihara bayi ini dan setiap dari kami yang mangkir akan dihukum. Hukumannya? Sama seperti hukaman wali kota terdahulu.

            Anak-anak ini juga adalah tiket kami untuk keluar dari kota ini. Begini, Wali kota  memperbolehkan kami yang tidak senang dengan aturannya untuk keluar dari kota, tapi anak ini harus ditinggalkan. Satu orang yang pergi berarti satu orang harus tetap tinggal. Anak ini baru akan lepas dari bagian atas lengan kami ketika ia sudah berusia satu tahun. Dan dalam waktu setahun itu, Wali Kota meminta kami untuk memikirkan matang-matang keputusan kami yang akan meninggalkan kota ini.

***

            Namnya Matilda, dan ia kini sudah berusia setahun. Anak ini tidak sama dengan anak manusia lain, dalam waktu setahun ia sudah sanagat pintar, dan bahkan bisa membantuku untuk mengelola kafe ini kadang-kadang. Ia pintar membuat kue muffin (jangan tanya aku bagaimana bisa anak berumur satu tahun membuatnya, pokoknya dia bisa, anggap saja ia anak ajaib!) dan kadang membuat kopi untuk kedai ini.

            Pada akhirnya, kuputuskan untuk meninggalkannya. Toh, ia akan bisa mengurus dirinya sendiri, dan tak perlu kukeloni (menemaninya tidur). Setelah itu, sobat, aku tak pernah kembali ke kota kecil kami, tapi selalu kudengar kabar dari anakku, yang masih sering berkirim surat begini ceritanya:

           Papa, Setelah eksodus besar-beraran yang Papa dan orang tua lain lakukan, hampir tak ada orang tua di kota kecil ini. Sebagian besar anak tidak bisa mencari uang sendiri, karena ornagtua mereka tak paham kalau kecerdasan kami berbeda, jadi kami bisa diajarkan apa saja, dan mereka akhirnya mati karena tidak makan-makan. Aku bersyukur Papa mewariskanku kedai kecil ini, dan juga mengajarkanku untuk bertahan hidup sendiri. Teirma kasih ya, Pa.

            Wali Kota kita berkuasa lama sekali, ada barangkali empat dasawarsa. Selama itu, ia membuat rencana-rencana untuk menjadikan kota kecil kita ini lebih hijau, dan membuatnya menjadi kota percontohan untuk daerah-daerah lainnya. Tapi, beberapa instruksinya terlalu absurd, Papa. Hingga akhirnya, kami toh demo juga. Tapi kami lebih pintar, jadi kami tidak mendemo rumahnya. Dia lupa, bahwa saat menciptakan kami, dia dulunya hanya seora remaja yang kelebihan ilmu. Dan kami ingin mengingatkan hal itu padanya.

            Jadi, kami undang dia ke rumah kami, dan kami sajikan makanan kesukannya, termasuk yang membuatnya terinsipirasi mebuat kami: sup toge dan ercis. Hanya saja, yah, kau sudah menduganya, Papa. Di dalam ercis dan toge itu bukanlah sayuran, melainkan benih dari adik-adik kami. Ia memakannya. Dan dengan segera, tunas-tunas tumbuh dari dalam dirinya.

            Oh, alangkah cantiknya ia, Papa. Saat anak-anak itu mencuat dari dalam bagian-bagian tubuhhnya, mengoyaknya dari dalam. Ada yang muncul dari tenggorokan, lambung, dan bahkan duburnya. Mereka memangis, membuatku ingin merengkuh mereka, dam berkata bahwa inilah revolusi: dan anak-anak ini yang akan melanjutkannya. Mereka adalah anak-anak kami, Generasi Tunas, yang dibidani oleh pemberontakan.

            Oh ya, barangkali Papa ingin tahu, kami kini telah menemukan cara untuk menetralisir rasa masam yang ada di awan hujan itu, dan kini ia tak terasa masam lagi! Salah satunya berkat wali kota  juga, kami harus berterima kasih atas pengorbanan yang dilakukannya.

            Kapan Papa kembali? Kami berjanji, tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh lagi.

***

            Tanganku sedikit gematar setelah membaca surat itu, tapi yah, aku hanya bisa bilang kalau wali kota itu pantas mendapat apa yang dideritanya. Apakah aku ingin kembali? Barangkali, tapi aku sendiri hanya penasaran dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak itu, sehingga rasa masam kopi itu tak terasa lagi. Barangkali mereka membuka riset-riset lama Wali Kota kan Wali Kota itu orang pintar dulunya.  

            Sampai di sini saja, ceritaku soal kopi kami yang menjadi masam di pagi hari itu, kawan. Ini saja sudah panjang dan melebar ke mana-mana. Dari sebuah isu lingkungan, menjadi sebuah isu tentang perebutan kekuasaan. Tapi memang, siapa yang memegang kuasa, dia yang akan memegang dan mengendalikan sumber daya.

            Kalau kau masih penasaran dengan nasib kota kecil kami, coba tanya pada Matilda.

***

            Catatan Matilda: Aku dan para Generasi Tunas lain, tidak pernah benar-benar menemukan cara untuk menghilangkan rasa masam pada awan mendung itu. Ia akan terus masam, dan aku tahu benar mengapa ia masam bahkan setelah  prorgam kota hijau yang gila ini berjalan. Ini karena, awan ini tak berasal dari kota kami. Ia berasal dari kota seberang– yang dulu mengguntingi hutan kami untuk menbangun kotanya. Ia membawa serta segala hal yang mengasamkan semua air, dan kemudian, kamilah yang harus memiunmnya.

            Kebetulan, Wali Kota itu bersal dari kota seberang, jadi kami putuskan untuk mengorbankan dia dalam mendapatkan kembali air bersih kami. Gampang saja, sebenarnya, setelah usaha demonstrasi kami, kami alirkan apa yang tersisa padanya di mata air dekat kota sebelah. Kami tertawa kecil ketika penghuni kota mengira akhir dunia sudah dekat, padahal, hei, itu kan cuma darah.

            Setelah itu, kami biarkan alam bekerja, dan voila! Kini masamnya air telah teratasi. Dan kejutannya, air hujan di awan mendung itu tak lagi berawarna hitam atau merah setelah beberapa hari. Anyirnya juga sudah berkurang, kok. Kalau misalnya ia masih sedikit berasa logam, kami anggap saja kalau itu, eh, apa namnya, mineral tambahan.

            Lagipula, tak ada bedanya bukan, air yang kami minum dengan air kemasan Tang yang dahulu diperjualbelikan?

            Yah, kecuali air ini berasal dari tubuh manusia.

***

Share This: