PERGI KE HUTAN MADELYSIA

           

Oleh: Aisha Nur Zahira (Siswa Kelas Menulis IWEC)

 

        Sebentar lagi libur kenaikan kelas. Eline, Carlie, Chyntya, dan Laureyn berencana untuk pergi ke hutan Madelysia.

        Dua hari sebelum pergi ke hutan Madelysia, Laureyn baru memberi kabar bahwa orang tuanya tidak mengizinkan dia ikut ke hutan Madelysia. Tetapi, Laureyn tetap memaksa ibu dan ayahnya supaya diizinkan ikut. Ia terus merengek sampai akhirnya diiinkan ikut. Sementara, sehari sebelum berangkat, Carlie memberi tahu teman-temannya bahwa ayahnya akan ikut bersama mereka.

***

        Hari yang dinanti telah tiba. Laureyn, Carlie, Chyntya, Eline, dan ayah Carlie sudah siap untuk berangkat menuju hutan Madelysia. Karena penasaran, selama di perjalanan mereka bertanya-tanya tentang hutan Madelysia kepada ayah Carlie.

        “Om, sebenarnya hutan Madelysia itu hutan buatan atau hutan beneran, sih?” tanya Chyntya .

        “Jadi, sebenarnya, hutan Madelysia itu hutan buatan. Dulu awalnya hutan itu hanya hutan biasa yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Tapi, karena pohon di sana besar-besar, akhirnya dirawat dan ditanami pohon dengan berbagai jenis dan sekarang dijadikan hutan kota,” jawab ayah Carlie.

        “Tapi Om, kenapa disebut hutan kota?” tanya Chyntya lagi.

        “Karena terletak di dekat

        kota, dan juga hutan itu tidak terlalu luas. Hanya ada beberapa binatang biasa yang hidup di sana, seperti; monyet, kelinci, burung, katak, dan hewan lainnya,” jelas ayah Charlie.

        “Oh gitu ya om, paham, paham, kalau begitu” ucap Chyntya.

***

        Tak terasa mereka sudah sampai di hutan Madelysia. Dan disana mereka mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Setelah mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda, akhirnya mereka setuju untuk mendirikan tenda di bagian depan hutan Madelysia. Mereka membuat tenda bersama-sama. Tenda Laureyn, Carlie, Chyntya, dan Eline berbeda dengan tenda ayah Carlie, namun jaraknya tidak jauh. Setelah tendanya selesai, mereka beristirahat sebentar.

        Sudah waktunya untuk makan siang. Setiap anak membawa makanan dari rumah masing-masing. Mereka akan makan siang dengan sosis yang dibawa oleh Chyntya.

        “By the way, kita bakar sosisnya pakai apa ya?” tanya Carlie.

        “Kita harus cari batu dan kayu dulu biar bisa bakar sosisnya,” jawab Chyntya.

        “Kita pergi sekarang yuk!” sahut Eline.

        “Tunggu dulu!” cegah Laureyn.

        “Duh, kenapa lagi?” kata Eline.

        “Kita harus pamit dulu ke ayah Carlie,” kata Laureyn.

        Setelah mendapatkan izin, mereka pergi ke hutan bersama-sama. Di dalam hutan, Chyntya dan teman-temannya menemukan banyak sekali kayu kering. Setelah mengumpulkan cukup banyak kayu bakar, mereka lanjut mencari batu.

        “Eh aku nemuin batu nih, Guys,” kata Eline.

        “Ih, iya benar its so many stone here,” jawab Laureyn.

        Karena merasa sudah cukup, mereka kembali ke tenda dan mulali membuat api dengan cara menggosokkan dua batu sehingga menghasilkan percikan api yang diarahka ke tumpukan daun dan kayu kering.

        “Horeee… akhirnya apinya menyala! sekarang kita tinggal bakar sosisnya,” kata Carlie penuh bersemangat.

        “Eh, tapi kita bakarnya pakai apa?” tanya Chyntya.

        “kita pakai tusuk sate, aku bawa, kok,” balas Carlie.

        Setelah sosis bakarnya matang, mereka langsung memakanya dan setelah itu istirahat di tenda masing-masing sambil mengobrol bersama. Namun karena merasa bosan dan hari masih sore, Chyntya dan teman-temannya mengajak ayah Carlie untuk berjalan-jalan di sekitar tenda.

        Selama berkeliling mereka bertemu dengan berbagai macam jenis hewan, seperti; kelinci, katak, burung, tupai, dan landak. Mereka juga menemukan pohon manga yang buahnya lebat sekali. Chyntya dan yang lainnya memetik beberapa buah mangga untuk makan malam.

        Saat matahari hampir terbenam dan kondisi mulai gelap, mereka segera kembali ke tenda. Setelah sampai di tenda, mereka segera memakan mangga yang dapatkan di hutan.

        “Guys, ada yang bawa pisau, nggak?” Tanya Carlie kepada teman temannya.

        “Aku bawa kok,” jawab Eline

        “Take the knife now, I want to eat the mango,” ucap Carlie lagi.

        “Oke, aku ambil pisau nya,” jawab Eline.

        Selesai makan mangga, mereka langsung tidur karena besok mereka hendak jalan-jalan di hutan Madelysia.

***

        Hari sudah pagi, udara dingin menyentuh lembut pori-pori kulit, sinar matahari menembus sela-sela dedaunan di hutan Madelysia. Chyntya dan teman-temannya merasa kelaparan. Mereka pun memutuskan untuk memetk buah manga lagi untuk sarapan. Stelah itu mereka jalan-jalan di hutan, dengan membawa beberapa perlengkapan, seperti kompas.

        Di dalam hutan, mereka melihat seekor monyet sedang makan pisang di atas pohon. Ternyata kompas yang bawa ayah Charlie menarik perhatian monyet itu. Tiba-tiba saja monyet itu merebut kompas itu dari tangan ayah Charlie. Semua orang begitu terkejut.

        “Wah, bagimana kita bisa kembali ke tenda tanpa kompas? Kita kan nggak hafal jalannya,” kata Chyntya.

        “Tenang dulu, kita coba mengingat-ingat jalan yang tadi kita lewati,” ucap Ayah Carlie tenang.

        Tak lama setelah itu, awan mulai gelap, perlahan gerimis pun datang. Semakin lama hujannya semakin deras disertai angin kencang. Mereka memutuskan untuk berteduh di bawah pohon besar.

        Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya hujan mulai reda. Mereka kembali menelusur hutan Medelysia untuk mencari tenda mereka. Kondisi jalan becek, mereka harus lebih berhati-hati agar tidak terpeleset. udara juga semakin dingin. Mereka harus segera menemukan tendanya agar tidak semakin kedinginan. Walau tanpa kompas, mereka berusaha mengingat-ingat jalan yang tadi mereka lewati. 

        Setelah berjalan beberapa saat, Laureyn melihat sesuatu, “Om, itu ada tenda tapi kok kecil ya,” kata Laureyn.

        “Oh iya, itu tenda kita” jawab ayah Carlie.

        Mereka puun bergegas menuju kea rah tenda. Namun setelah sampai di lokasi tenda, beberapa tenda mereka roboh karena hujan deras tadi. Hanya tenda ayah harlie yang masih berdiri.

        Mereka terus semangat mencari tenda mereka. Tak lama kemudian mereka menemukan tenda mereka tapi dalam keadaan rubuh. Mungkin karena hujan badai tenda mereka runtuh.

        “Guys, ayo kita pasang tendanya lagi,” ajak Laureyn.

        “Ayooo!” teriak Eline, Laureyn, Chyntya, dan Carlie dengan bersemangat.

        Walaupun tubuh mereka masih basah, namun mereka tetap semangat mendirikan tenda. Ayah Charlie senang melihat semangat anak-anak.

        Setelah selesai memasang tenda, mereka segera mengganti baju agar agar bisa beristirahat dengan nyaman.

        Keesokan harinya setelah sarapan, mereka pulang ke rumah masing masing dengan hati yang sangat bahagia karena mendapatkan banya pengalaman selama berada di dalam hutan Madelysia.

TAMAT

 

 

Share This: