PETUALANGAN DI HUTAN

Oleh: Theona Andadari, 8 tahun kelas 2 SD

Jella, Jemy, dan Jelly ingin membuktikan bahwa mereka berani berpetualang  di hutan tanpa orang tua dan untuk mencari daun ajaib karena mereka suka sesuatu yang ajaib dan ayah Jella sedang  sakit. Orang tua mereka sudah mengizinkan mereka bertiga untuk berpetualang sendiri tapi dengan syarat hati-hati. Mereka tinggal di dekat hutan tapi tempat tinggal mereka aman.

Mereka sudah menyiapkan barang-barang untuk ke hutan. Jella adalah pemimpin dalam petualangan ke hutan.

“Jemy, Jelly, ayo kita berangkat sekarang!” ajak Jella.

Hutan itu dipenuhi pohon- pohon yang sangat rimbun. Ada pula pohon yang bisa digelantungi.

“Petualangan di hutan ini dari kelihatannya saja  sudah terbayang akan sangat menyenangkan.”kata Jelly.

Mereka sudah berjalan di tengah hutan cukup jauh dari rumah. Mereka lelah dan ingin beristirahat sebentar di bawah pohon rindang lalu membuka bekal pertama mereka masing-masing.

“Punggungku pegal karena membawa tas yang berat.” kata Jemy.

Setelah bekal pertama mereka habis, mereka melanjutkan perjalanan. Perjalanan selanjutnya jalan itu menanjak sehingga mereka seperti mendaki bukit. Di situ mereka harus berhati-hati karena  banyak binatang buas.

Di balik semak-semak ada singa betina yang sedang menidurkan anaknya dan tanpa sengaja Jella menginjak ranting pohon yang berbunyi cukup keras sehingga anak singa itu pun terbangun. Singa jantan langsung keluar dari semak-semak dan mengejar mereka bertiga.

Mereka tidak memperhatikan jalan bahwa di depan mereka ada akar pohon yang melintang dan mereka tersandung akar pohon itu lalu jatuh. Singa meninggalkan mereka karena merasa sudah tenang.

Kaki mereka berdarah tapi yang paling parah adalah Jemy. Mereka membawa perban untuk luka jadi mereka membersihkan luka pakai air yang menetes dari pohon lalu membalut kaki mereka.

Setelah beristirahat sebentar mereka melanjutkan perjalanan tapi mereka berjalan dengan pelan karena kaki mereka masih sakit.

“Teman-teman tolong tunggu aku ya… Kakiku masih sakit.” mohon Jemy.

“Baiklah. Kami akan menunggumu.” kata Jella dan Jelly hampir bersamaan.

Setelah tiga puluh menit mereka berjalan untuk menemukan daun ajaib itu mereka beristirahat sebentar karena kaki Jemy kembali sakit. Tapi kaki Jella sudah tidak sakit. Dia bosan menunggu Jemy dan Jelly beristirahat jadi dia mencari kegiatan yang menyenangkan. Jella adalah anak yang aktif dan lincah.

“Teman-teman aku mau belajar memanjat pohon!” kata Jella.

“Kakimu sudah tidak sakit?” tanya Jemy.

“Tidak.” jawab Jella.

Sepuluh menit kemudian…

“Jella,  aku sudah siap berjalan lagi.” kata Jemy.

“Baik.”

Di tengah perjalanan ada semak belukar yang penuh duri. Untungnya Jella membawa gunting tajam untuk memotong semak belukar itu. Setelah dapat melewati semak belukar itu mereka bertemu jalan yang ditutupi oleh pepohonan yang sulit dipanjat. Jella tidak merasa kesulitan. Jelly juga. Tapi kaki Jemy masih sakit walaupun sudah berkurang. Untungnya pohon itu tidak terlalu tinggi.

“ Bagaimana cara menolong Jemy?” tanya Jelly

“Pertama aku akan memanajat lalu menunggu di bawah tapi masih berada di pijakan pohon. Kedua kamu mengangkat tubuh Jemy lalu menaikan kakinya dan memutar badannya sehingga menghadap aku lalu akan aku turunkan pelan-pelan.” jawab Jella

“Oke” jawab Jelly.

Akhirnya berkat bantuan ide Jella dan pertolongan Jella dan Jelly,  Jemy berhasil diturunkan. Lalu mereka menyeberangi lima sungai. Empat sungai yang memiliki jembatan yang sangat bagus sehingga mereka sangat mudah melaluinya.

Tapi sungai kelima sangat sulit dilalui karena jembatan sungai itu sudah rapuh dan bila satu kaki baru berpijak jembatan sungai itu akan berbunyi “krek”. Mereka tidak tahu bagaimana cara menyeberangi sungai itu. Akhirnya Jella punya ide.

“Teman-teman aku punya ide. Sungai itu kan tidak terlalu lebar, bagaimana kalau aku melemparkan tali yang ujungnya ada kailnya besar lalu kail besar akan tersangkut di pohon lalu kita akan bergelantungan di tali yang kuat ini. Bagaimana?”

“Boleh saja.” jawab Jemy.

Ketika Jella bergelantungan, dia sampai dengan selamat. Ketika Jemy yang bergelantungan, dia sampai dengan selamat. Tapi ketika Jelly yang bergelantungan pohon itu bergoyang sedikit miring. Jelly sangat ketakutan.

“Tenang saja,  Jelly. Jangan bergoyang-goyang ketakutan. Aku akan memegang dan menahan pohonnya.” kata Jella

“Baiklah.” kata Jelly masih ketakutan tapi sudah berkurang ketakutannya.

Akhirnya  Jelly bisa sampai di seberang sungai  dengan selamat. Kemudian mereka kembali beristirahat dan membuka makan siang. Lalu mereka berjalan lagi.

“Hey, lihat teman-teman. Itu daun ajaib yang tabib gambarkan. Ayo kita petik daun itu!!” seru Jella.

Mereka senang sudah mendapatkan daun ajaib untuk ayah Jella. Mereka berjalan lagi dan mereka senang karena sudah tidak ada rintangan yang harus mereka lewati tapi perjalanan mereka belum selesai.

“Ayahku pasti akan sangat senang melihat aku dan teman-temanku mendapatkan daun ajaib ini. Aku percaya ayahku akan sembuh. Kata tabib daun ajaib ini akan dijadikan jus sedap sehat dan ayahku akan meminumnya lalu sembuh, Yeeey.” kata Jella senang.

Sedang asyik mengobrol tiba-tiba…

“ Hey,  kalian kenapa  mengambil daun ajaib itu!? Itu kan punyaku!?” tanya bapak tua pemilik daun itu.

Mereka ingin menjawab tapi mereka sangat ketakutan. Bapak tua itu tahu bahwa yang mengambil adalah Jella jadi dia mengejar anak perempuan itu. Ketika Jella sedang berlari dia sangat ketakutan dan dia tidak memperhatikan jalan sehingga tercebur ke jurang LAVA!!!!!!!!!!!!!!

“Tolong teman-teman!!!!!!” teriak Jella ketika sedang terjun ke dalam jurang lava.

Sebelum  kaki Jella menyentuh lava segera Jemy mengeluarkan tali yang dibawa lalu menyuruh Jelly mencari batu besar untuk menahan tali lalu tali itu dilemparkan ke  Jella.

“Jella, tangkap tali ini!!!!!!!!!!!” seru Jemy dan Jelly hampir bersamaan.

Jella pun menangkap tali itu lalu Jemy duduk di atas batu lalu menarik tali dan Jelly pun ikut menarik tali ke atas dan Jella sampai di atas dengan selamat.

“Maaf pak. Saya pikir ini daun liar. Sebenarnya ayah saya sedang sakit dan kata tabib ada daun ajaib di hutan ini jadi kami mencari di hutan ini sesuai arahan tabib.” jelas Jella.

“Oh jadi begitu alasannya. Kalian boleh mengambil daun itu tapi lain kali minta ijin dulu ya…” pesan  bapak tua itu.

“Baik pak, maaf ya pak kami sudah mengam bil daun ajaib itu tanpa ijin” kata mereka bertiga.

“Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi lagi ya…” pesan bapak tua.

“Maaf pak boleh kami bertanya? Kami tidak tahu jalan pulang jadi bagaimana caranya kami pulang?” tanya Jelly.

“Kamu tinggal lurus berbalik badan nanti kalau jalan itu memecah menjadi tiga lurus, kiri, kanan kamu ambil kiri lalu pecah jalan lagi ambil kanan lalu kamu akan keluar di perkampungan.”

“Terima kasih pak…”

Lalu mereka keluar dari hutan dan kembali ke rumah.

“Halo. Ayahmu sudah menunggumu.” kata ibu.

Setelah ayah meminum obat itu,  ayah pun sembuh.

“Terima kasih Jella, Jelly, Jemy. Kalian sudah membantu ayah berkat daun ajaib ini dan terima kasih juga pada tabib karena sudah memberitahu obat apa yang bisa menyembuhkan saya.” kata ayah Jella berterimakasih.

“Sama-sama.” Jawab Jella, Jemy, Jelly bersamaan.

Pengalaman itu akan selalu mereka ingat dan sangat berkesan serta mereka sangat senang bertualang di hutan dan mereka nanti akan bertualang lagi di hutan bersama orang tua dan keluarga besar mereka bertiga. Mereka sangat senaaaaaaang sekali.

HAPPY

 

TAMAT