PETUALANGAN DUNIA AJAIB

Oleh: Rajwa Indah Qurratu Aini (Siswa Kelas Menulis IWEC)

            Pagi ini terasa sangat sejuk. Angin bertiup semilir, burung-burung berkicau, dan hangatnya cahaya matahari manyambut pagi. Sembari menunggu jemputan, Nisya sarapan roti bakar dan segelas susu hangat. Selesai sarapan, ternyata mobil jemputan sekolahnya belum datang. Ia pun memutuskan untuk membaca buku.

            Lima belas menit kemudian, sebuah mobil abu-abu pun berhenti di depan rumah Nisya. Mobil inilah yang biasa menjemput murid-murid.

            “Iiih, lama sekali sih jemputannya!” keluh Rain ketika mobil yang kami tumpangi sampai di depan rumahnya.

            Beberapa saat setelah itu, mobil jemputan sudah terisi penuh oleh murid-murid SDIT Al-Hikam. Akhirnya, mereka sampai ke sekolah pukul 06.50. Saat memasuki area sekolah, Nisya dan Rain disambut oleh murid-murid yang tengah ramai berkumpul di depan mading sekolah. Mereka sedang melihat berita baru.

            “Ada apa sih, ramai sekali?” tanya Nisya penasaran.

            “Tidak tahu, bagaimana kalau kita lihat juga?” ajak Rain kepada Nisya.

            Mereka pun langsung mendekat kearah kerumunan di depan mading. Ternyata di sana ada pengumuman tentang kegiatan supercamp. Melihat pengumuman itu, Nisya dan Rain pun sangat senang sampai lompat kegirangan. Beberapa murid sampai menertawai mereka, membuat pipi Nisya dan Rain jadi merah karena malu. Mereka pun bergegas pergi ke kelas dan menaruh tas di bangku masing-masing.

            “Kira-kira kapan ya supercamp-nya dilaksanakan?” tanya Rain kepada Nisya, namun tidak mendapat jawaban.  “Kamu kenapa? Kok kelihatan sedih, ada apa?” tanya Rain untuk yang kedua kalinya karena merasa kebingungan dengan sikap Nisya.

            “Aku takut nggak diizinin ikut supercamp,” jawab Nisya sedih.

            “Kok kamu sudah bilang begitu, kan kamu belum coba membicarakannya dengan orang tuamu!” ucap Rain menyemangati.

            Waktu terasa berjalan begitu lama bagi Nisya, karena dia terlalu larut dengan kesedihannya. Setelah delapan jam berkutat dengan pelajaran, akhirnya jam sekolah pun selesai. Tanpa berlama-lama, Nisya langsung keluar kelas, naik mobil jemputan dan segera pulang.  

            Sesampainya di rumah, Nisya bergegas ganti baju lalu membaca buku di kamarnya sambil mendengarkan musik. Ia teringat kegiatan supercamp tadi. Dalam daftar supercamp itu, ia satu kelompok dengan Rain.

            “Kalau aku enggak ikut, pasti Rain sedih. Ya sudah deh nanti aku coba nanya sama ayah dan ibuku,” gumam Nisya dalam hati.

            Dia pun melanjutkan membaca buku hingga hari mendekati senja. Ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, suara adzan terdengar, ia pun segera menunikan ibadah shalat maghrib, dan lanjut membaca Alquran.

            Di tempat lain, Rain tengah berpikir apakah Nisya berhasil membujuk orangtuanya atau tidak. Ia berharap semoga sahabatnya diizinkan ikut supercamp bersamanya. Setelah berdiam dan berpikir sejenak, ia mengganti topik dalam pikirannya menjadi tugas yang banyak. Setelah berpikir sejenak, ia mengalihkan pikirannya pada hal lain. Ia mulai mengerjakan tugas sekolah sampai waktu makan malam. Rain pun segera mengerjakan tugasnya hingga waktunya makan. Bahkan hampir lupa makan, kalau tidak diingatkan.

***

            “Ayah, ibu, bagaimana kalau Nisya ikut supercamp, boleh tidak?” tanya Nisya.

            “Tidak boleh!’’ jawab ibunya Nisya singkat.

            “Kenapa, kok tidak boleh?” tanya Nisya dengan wajah murung.

            “Kenapa? Karena, ayah dan ibu sudah menawarkanmu les renang, tapi kamu menolak. Sekarang malah minta supercamp. Pokoknya ibu melarang kamu ikut acara itu!” tegas ibu Nisya dengan nada sedikit membentak. Namun hal itu tidak membuat Nisya menyerah. Setiap hari ia tetap berusaha minta izin, meski keputusan orang tuanya tidak berubah.

***

            “Gimana, kamu boleh ikut supercamp, tidak?’’ tanya Rain.

            Nisya hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut, membuat Rain ikut sedih mendengarnya.

            “Kamu tidak boleh menyerah, kamu pasti bisa!” ucap Rain menyemangati.

            Vina datang menghampiri Nisya dan Rain yang sedang mengobrol.

            “Eh, ada anak mama yang gak boleh ikut supercamp!” sindir Vina, membuat murid-murid yang ada di kelas menertawakan Nisya.

            “Hei, jangan seperti itu. Memangnya kamu mau diperlakukan seperti itu juga!” balas Rain kesal, berusaha membela sahabatnya.

            Nisya berusaha menenangkannya sahabatnya yang terlanjur emosi karena perbuatan teman-teman di kelasnya.

            “Teman-teman lihat ada anak ingusan yang membelanya,” ucap Vina tak mau kalah.

            Nisya dan Rain hanya diam saja melihat perbuatan Vina yang terus mengejek mereka, berharap Vina akan bosan dengan sendirinya. Namun ternyata, setiap hari, ulah Vina semakin keterlaluan.

            Sepulang sekolah, Rain membuntuti Vina untuk mencari tahu apa yang Ia lakukan. Rain melakukan ini karena melihat gelagatnya yang mencurigakan. Saat tengah membuntuti Vina, Rain sangat terkejut karena ternyata Vina menuju ke arah rumah Nisya. Ia menemui tante Mira, ibu Nisya. Sepertinya mereka sudah janjian terlebih dahulu.

            “Tante tahu tidak, kalau di tempat supercamp cuacanya, suhunya saaangat dingin, nanti kalu Nisya ikut malah asmanya kambuh dan ngerepotin orang lain. Di sana juga sering terjadi kejadian aneh, seram pokoknya, gak aman deh buat Nisya Tante!” bujuk Vina.

            “Iya juga sih, tapi kamu tahu dari mana soal tempat itu?” tanya mama Nisya heran.

            “Ooh soal itu, aku pernah ke sana dan baca-baca di internet, Tante!” jawab Vina sambil berbisik dan agak terbata-bata saat berbicara. Vina berbohong kepada Tante Mira, dia hanya mengarang sendiri.

            Mengetahui kelakuan Vina, lama-kelamaan membuat Rain geram. Ia ingin membantu Nisya untuk membujuk ayah dan ibunya agar mengizinkannya ikut. Keesokan harinya, Rain hendak memberitahu Nisya tentang kejadian yang ia lihat kemarin, tapi tidak jadi. Ia takut Nisya akan marah dan sedih. Akhirnya ia merahasiakannya untuk sementara waktu. Sampai akhirnya ia menemukan cara untuk membantu Nisya. Rain berniat untuk bertemu dengan ayah Nisya, Om Rangga.  

            Sepulang sekolah, Rain menelepon ayah Nisya untuk bertemu di taman. Ia pun segera berangkat. Ketika Rain sampai di taman, ternyata ayah Nisya sudah datang.

            “Om Rangga tahu tentang kegiatan supercamp di sekolah, kan?” tanya Rain.

            Ayah Nisya pun menganguk, “Memangnya ada apa? Entah mengapa Nisya dilarang ikut oleh mamanya, Tante Mira?”

            “Iya Om, itu karena Vina membujuk tante Mira agar tidak mengizinkan Nisya ikut supercamp. Dia mengatakan kalau di sana sering tejadi hal-hal aneh, padahal itu semua hanya karangannya Vina,” tutur Rain panjang lebar.

            “Baik, nanti Om bilang ke tante Mira tentang yang sebenarnya,” ucap ayah Nisya, membuat Rain tersenyum lega.

            “Terima kasih Om bantuannya!”

            ***

            Sesampai di rumah, Rain merasa lega. Sementara ayah Nisya sedang mencari tahu tentang lokasi diadakannya supercamp itu. Ternyata tempatnya sangat bagus dan aman. Sedangkan Nisya hanya merenung di kamarnya sambil mendengarkan musik sedih.  

            Saat mama Nisya pulang dan sudah istirahat sebentar, ia langsung memberitahu apa yang terjadi. Namun sia-sia, mama Nisya tetap tidak percaya dan menanyakan apa buktinya. Ayah Nisya pun hanya bisa terdian dan mencari cara untuk membujuk istrinya.

            Keesokan harinya. Hati Rain sangat senang, namun suasana hati Nisya benar-benar buruk.  

            “Nisya, sebentar lagi kamu pasti akan bahagia!” jelas Rain.

            “Bagaimana bisa? Supecamp saja tidak diizinkan,” jawab Nisya.

            “Lihat saja nati, kamu pasti terkejut,” ucap Rain bersemangat, namun Nisya hanya diam dan cemberut.

***

            Sepulang sekolah Rain membuntuti Vina ketika bertemu dangan mama Nisya. Rain pun sebenarnya sudah mengatur janji dengan ayah Nisya. Saat membuntuti Vina, Rain mendengarkan dan mencermati dengan baik apa yang mereka obrolkan supaya ayah Nisya tahu apa yang dikatakan Vina kepada istrinya. Hingga sepuluh menit berlalu, Rain segera menuju ke taman untuk bertemu ayah Nisya.

            “Bagaimana, Vina bilang apa ke tante Mira?” tanya ayah Nisya penasaran.

            “Ooh, tadi Vina bilang ke tante Mira tentang gua di sana. Katanya gua itu angker dan berbahaya, serta sungai di sana bisa menenggelamkan anak-anak,” jelas Rain.

            “Ooh begitu, tapi semua cerita itu benar atau tidak?”

            “Kalau itu aku juga kurang tau Om, sebaiknya kita cari tahu dulu kebenarannya, biar enggak asal tuduh.”

            Ayah Nisya hanya mengangguk setuju. Mereka berdua pun langsung kembali ke tujuan masing-masing. Rain pulang ke rumah, sementara ayah Nisya kembali ke kantornya.

            Bagaimana keadaan Nisya? Nisya hanya bisa berkhayal, andai dia diizinkan ikut supercamp. Ia kira pasti menyenangkan di sana. Ia juga membayangkan akan melihat sebuah keajaiban, dimana dia dan Rain masuk ke dalam gua dan ternyata gua itu membawa mereka masuk ke dalam dunia lain. Tiba-tiba Nisya tersadar dari khayalannya. Ia pikir sia-sia saja mengkhayal tidak jelas, dia juga tidak ikut supercamp.

            Malam pun tiba, ayah Nisya berusaha membujuk istrinya kembali. Ia berusaha berusaha semaksimal mungkin dengan memilih waktu, suasana, dan tempat yang cocok. Ternyata usahanya tidak sia-sia, akhirnya mama Nisya setuju dan mengizinkan Nisya ikut supercamp.

            Namun tak disangka, esok paginya mama Nisya sakit, hingga membuatnya harus istirahat di rumah. Nisya sangat khawatir saat mamanya sakit. Ia pun berusaha melayani mamanya dengan baik. Hal ini membuat Nisya tidak mau masuk sekolah karena ingin menemani mamanya. Namun, mamanya ingin agar Nisya tetap masuk sekolah. Nisya pun akhirnya mau menuruti keinginan mamanya, meski  saat pelajaran ia sering melamun.

***

            Ketika pulang sekolah, Nisya merasa sangat senang karena bisa bertemu dan merawat mamanya yang sedang tidak enak badan. Di rumah juga ada ayahnya, padahal seharusnya ia masih bekerja. Setelah berganti pakaian, Nisya diajak ke sebuah restoran kesukaannya yaitu Pizza Resto. Ayah dan mamanya nampak sangat senang, sedangkan Nisya bingung apa yang terjadi, kenapa mereka begitu bahagia padahal mamanya sedang sakit.

            “Kok kita ke sini, mama kan lagi sakit, Yah?” ucap Nisya bingung.

            “Tenang, mama enggak sakit kok!” jawab ibu Nisya.

            “Nisya, sebentar lagi kamu akan punya adik baru!” ucap ayah Nisya penuh semangat, membuat Nisya sangat senang dan langsung memeluk ayah dan ibunya.

            “Mama juga mengizinkan kamu untuk ikut supercamp minggu depan,” jelas ibu Nisya.

            “Mama ngizinin aku?” ucap Nisya hampir tak percaya. Saking gembiranya, ia sampai memeluk ibunya dengan erat.

            Nisya pun memesan pizza keju spesial kesukaannya. Saat pesanannya tiba, ia langsung memakannya. Saat digigit, kejunya terasa lumer di mulut. Lezat sekali.

            Setelah selesai makan, mereka semua pulang dengan perasaan gembira. Sesampainya di rumah, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil bergurau, mencari nama calon adik Nisya yang akan lahir. Nisya senang sekali mengelus perut ibunya.

            Hari-hari pun terasa begitu cepat berlalu sampai tiba waktunya kegiatan supercamp dilaksanakan. Nisya merasa sangat senang. Dia merasa semua ini seperti mimpi.

            “Rain, benar katamu bahwa aku akan sangat senang jika bisa ikut supercamp,” bisik Nisya kepada Rain saat sudah tiba di tempat supercamp. Sementara Rain hanya menanggapinya dengan senyum.

            Nisya dan Rain segera berkumpul dengan kelompok masing-masing dan mengikuti setiap kegiatan yang ada di supercamp, hingga tidak terasa, hari ini begitu cepat berlalu. Nisya dan kawan-kawan melakukan banyak kegiatan hari ini, seperti, baris-berbaris, lomba dan masih banyak lagi.

            Saat malam tiba, ada kegiatan jurit malam. Semua anak bersiap-siap dan berbaris sesuai dengan kelompok masing-masing. Nisa dan Rein ada di kelompok Tulip bersama kelima teman lainnya. Selama jurit malam berlangsung, mereka harus melihat peta sebagai panduannya. Lalu tiba waktunya kelompok Nisya dan Rain mendapat giliran untuk masuk ke dalam gua. Mereka berdua satu kelompok dengan Vina. Vina ternyata sangat ketakutan saat masuk ke dalam gua. Dia bahkan sampai berpegangan erat pada Nisya.

            Sesampai di ujung gua, Nisya dan teman-teman satu kelompoknya tiba-tiba terhisap dan jatuh ke dunia lain yang tidak dikenal. Saat melihat ke sekeliling, ternyata tempat itu dipenuhi dengan makanan manis.

           “Kalian baik-baik saja?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka.

            “Ini ada di mana?” balas Nisya bertanya.

            “Kalian sekarang ada di Desa Swety, tadi kalian semua pingsan. Oh, ya namaku peri Candy’s, nama kalian siapa?”  

            Teman-teman di kelompok Nisya mulai memperkenalkan diri masing-masing.

            “Kenapa kalian bisa sampai ke sini?” tanya peri Candy’s.

            “Tadi, kami sedang berada di salam sebuah gua, namun tiba-tiba kami terhisap dan masuk ke Desa Swety ini,” jelas Rain.

            “Ayo ikut aku!” ajak peri Candy’s.

            Semua anak pun mengikuti peri Candy’s. Mereka diajak mengelilingi Desa Swety dan menemui kepala desa agar mereka bisa kembali ke tempat perkemahan. Saat mengitari Desa Sweety mereka begitu takjub melihat semua tempat berisi makanan berukuran raksasa. Ada kolam yang dipenuhi cokelat, kemudian sungai yang isinya susu, tanah yang terbuat dari bolu cokelat, dan juga batu-batu terbuat dari permen kenyal. Semua yang ada di sana bisa dimakan.

            Setelah beberapa lama berada di Desa Sweety, akhirnya mereka bisa kembali ke gua dan pulang dengan membawa banyak oleh-oleh. Masing-masing mendapat sekantung kudapan manis yang lezat. Akhirnya, semua anak lega ketika bisa kembali ke perkemahan. Teryata semua orang mengkhawatirkan mereka yang belum juga kembali.

***

            Supercamp pun usai. Semua peserta supercamp pulang dengan menaiki kendaraan bak terbuka. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya semua peserta supercamp sampai di sekolah dengan selamat. Nisya dijemput ayah dan ibunya. Sedangkan Rain dijemput kakeknya. Di dalam mobil, Nisya bercerita bahwa saat di supercamp dia dan teman-teman satu kelompoknya terjebak di gua dan masuk ke dunia ajaib yang bernama Desa Swety. Tapi sayangnya ayah dan ibu kurang percaya dengan cerita Nisya.

            Sembilan bulan terasa begitu cepat berlalu. mama Nisya akan segera melahirkan. Nisya, dan kedua orang tuanya sudah berada di rumah sakit. Pukul lima pagi, adik Nisya pun lahir. Adik laki-lakinya diberi nama Fero Zaviero. nama panggilannya Fero. Nisya sangat senang akhirnya memiliki saudara setelah sekian lama merasa kesepian menjadi anak tunggal.

            Selama satu minggu di rumah sakit, ada banyak teman-teman yang menjenguk mama Nisya dan adik bayinya. Salah satunya, Rain, Vina, guru dan teman sekelas Nisya. Setelah satu minggu dirawat, mama Nisya sudah diizinkan pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, Fero langsung diajak bermain oleh Nisya dan ayahnya. Sementara Ibu Nisya istirahat di kamar. Saat mengajak bermain adiknya, Nisya berusaha membuat mukanya menjadi lucu, sehingga Fero tertawa. Terkadang ia bercerita tentang kesehariannya di sekolah. Nisya juga pernah bercerita tentang kejadian ajaib di gua misteri saat supercamp kepada adiknya.

            Sepulang sekolah Nisya langsung ganti baju, dan bermain dengan adiknya. Namun, sebuah cahaya tiba-tiba keluar dari jendela di dekat mereka, dan dalam sekejap mereka berada di suatu tempat yang tidak mereka kenal. Nisya pun berdiri dan mengendong adiknya. Saat berjalan beberapa meter ia melihat ada sebuah papan bertuliskan “Selamat Datang di Desa Squesyen’’. Tanpa ragu Nisya langsung memasuki desa tersebut.

            Sambil berjalan, Nisya melihat ke sekelilingnya, dan semua benda di sana terbuat dari squishy. Rumah, tanah, pohon, bunga, dan lain-lain, mereka semua benar-benar empuk, persis seperti squishy yang ia miliki di rumah. Bahkan penghuni di sana juga squishy yang memiliki bentuk yang unik dan menarik. Adik Nisya atau Fero tiba-tiba menangis, tidak tahu kenapa. Nisya berpikir kalau adiknya haus, dan mereka berdua pergi ke supermarket terdekat dan membeli susu bayi.

            Setelah Fero sudah tenang, tiba-tiba muncul penghuni desa. Dia berbentuk burger kucing yang juga terbuat dari squishy.

            “Sore, kamu siapa? Kayaknya aku belum pernah lihat. Kamu squishy buatan terbaru ya?’’ tanya burger itu.

            “A..a..aku Nisya, dan ini adikku, Fero. Kami tiba-tiba saja masuk ke sini. Oh ya, aku ini bukan squishy, tapi manusia. Kamu siapa?” jawab Nisya ragu dan kesal.

            “Aku Mr. Hamburger Cat, panggil saja Mr.Ham,’’ jawabnya.

            “Ayo ikuti aku keliling desa dan setelah itu kuantar ke kantor kepala desa,” ajak Mr.Ham, Nisya pun mengikutinya dengan ragu dan hati-hati. Takut adiknya menangis lagi. Di sana ada sungai dari slime yang begitu jernih, warnya biru bening. Tanpa diminta, Mr.Ham sudah membawakannya sekotak penuh slime dan dimasukkan ke dalam tas kecil ajaib yang bisa menampung barang sebanyak apa pun.

            Selanjutnyam, Nisya diajak ke pabrik squishy terbesar di sana. Ada banyak squishy dengan bentuk yang unik-unik. Nisya sangat menginginkan semuanya, sehingga ia diberi dua box squishy, masing-masing satu untuk setiap bentuk squishy. Nisya dan adiknya juga diajak ke satu-satunya pabrik slime yang ada di sana. Nisya diberi banyak bahan slime dan dibawakan berbagai macam slime. Masing-masing satu kotak. Nisya merasa sangat senang dan berterima kasih.

            Setelah puas keliling, Mr.Ham mengantar Nisya ke kantor kepala desa.

            “Hai Nisya! Wah ada adikmu juga, letakkan dia di atas sofa,’’ ucap kepala desa berbentuk kucing tua berkumis abu-abu.

            “Bagaimana bisa kau berada di sini, Nisya?’’ tanya kepala desa itu.

            “Entah, tadi saat sedang menjaga adikku tiba-tiba keluar cahaya dari jendela dan aku tidak tahu bagaimana caranya bisa ada di sini,’’ jelasku.

            “Apakah kau mau pulang? Tapi sebelumnya kau harus tahu bahwa kamu adalah anak terpilih yang bisa masuk ke dunia ajaib. Jadi kalau terjadi seperti ini lagi jangan panik,” jelas kepala desa.

            Nisya pun menganguk mengerti. Mr. Ham lalu mengeluarkan sebuah tongkat, lalu dia mengarah tongkatnya ke arah Nisya dan adiknya, dan dalam sekejap mereka berdua menghilang. Akhirnya Nisya dan adiknya kembali ke rumah dengan membawa tas ajaib yang diberikan Mr.Ham.

***

Share This: