Rahasia Ramuan Pintar Profesor R.

Oleh: Safira Kamilla R. (Siswa Kelas Menulis IWEC)

          “Sky, Star ayo kita balapan, yang sampai sekolah duluan akan aku kasih bekal makan siangku,” kata Misha.

          “Ayo!” balas Sky dan Star bersamaan.

          Mereka bertiga pun langsung melesat dengan cepat menaiki kendaraan yang terbuat dari segumpal kapas bewarna-warni. Tidak hanya mereka yang menggunakan kendaraan tersebut, tetapi seluruh penduduk juga menggunakannya. Jika dilihat dari bawah, tampak seperti permen kapas yang melayang-layang dan bertebaran di langit. Membuat langit semakin indah.

          “Yeyyy, aku menang! Berarti kalian tidak jadi kuberi bekalku,” ucap Misha dengan gembira karena tiba di sekolah lebih dulu.

          Sky dan Star merasa kecewa karena tidak menang, itu berarti mereka tidak akan diberi bekal makan siang Misha. Karena tidak tega, saat istirahat tiba Misha memutuskan pergi ke rooftop untuk menyusul Sky dan Star dan membagi makan siangnya kepada kedua temannya. Akhirnya mereka memakan bekal Misha bersama-sama.

          Bel berbunyi, ketiga sahabat itu masuk ke dalam kelas.

          Sky terlihat sangat senang ketika berjalan menuju tempat duduknya. Ternyata, sebentar lagi adalah pelajaran favoritnya, matematika. Setelah pelajaran selesai, bu guru menyampaikan kepada murid-murid bahwa ada PR yang harus mereka kerjakan dan dikumpulkan minggu depan. Semua murid mengeluh kecuali Sky.

          Keesokkan harinya, Sky, Misha dan Star berangkat ke sekolah. Saat mereka sampai di gerbang depan sekolah, mereka heran karena suasana masih sepi.

          “Kok masih sepi?” Tanya Sky.

          Mereka melihat ke jam tangan Star, ternyata masih pukul 06.00.

          Pantas saja masih sepi, sekarang kan masih jam enam pagi,” Jawab Misha.

          Akhirnya mereka pergi ke markas sebelum yang lainnya datang. Markas ketiga sahabat itu berada di belakang sekolah. Jam menunjukkan pukul 06.30, teman-teman yang lain sudah banyak yang datang. Kemudian ketiga sahabat itu pergi ke kelas sebelum yang lainnya menemukan mereka di markas.

          Di akhir pelajaran, pak Sam memberikan PR kepada murid-murid. Semua mengeluh kecuali Star dan Misha, karena mereka sangat menyukai pelajaran Biologi. Setelah tiba waktu

          Istirahat, ketiga sahabat itu memutuskan pergi ke perpustakaan untuk mencari buku-buku tentang ramuan, agar PR Biologi segera selesai.

          Perpustakaan Spring Cotton memiliki ruang yang sangat luas, dan koleksi bukunya sangat banyak. Terdapat lebih dari 20 rak buku yang terjajar rapi, dimana setiap rak berisi buku-buku yang berbeda-beda. Dinding perpustakaan didominasi warna coklat. Banyak meja belajar yang dipenuhi oleh siswa-siswa yang sedang belajar.

          “Wah rame sekali dis ini,” ucap Misha.

          “Gimana kalo kita berpencar mencari bukunya?” balas Sky.

          “Boleh juga.”

          Mereka mulai mencari buku itu di rak-rak yang berbeda. Sky menemukan buku yang berbeda dari yang lain. Ia pun mengambil buku itu dan mencari Star dan Misha untuk menunjukkan buku itu.

          “Hey Star,Misha aku menemukan buku yang aneh.” Kata Sky.

          “Wah, mana aku mau lihat!” kata Misha dengan suara lantang penuh semangatnya.

          “Hussst…! Jangan kencang-kencang ini perpustakaan.” Ucap salah satu siswa yang sedang membaca memperingatkan Misha.

          Misha merasa malu karena sudah berteriak. Ia pun pergi ke arah Sky dan Star berada. Sky menemukan buku yang berbeda dari yang lain.

          “Misha, sini,” kata Sky.

          “Iya sebentar.” Kata Misha yang sedang berjalan kearah Sky dan Star.

          “Kamu kenapa kok bisa dimarahin sama kakak kelas?” tanya Star.

          “Mmmmm… itu karena aku suaraku terlalu keras,” jawab Misha.

          “Makanya jangan teriak-teriak di dalam perpustakaan,” ucap Sky.

          “Hehehe… aku terlalu gembira,” kata Misha.

          “Ya udah, yuk kita cari tempat meja belajar yang kosong,” ajak Star.

          Mereka pun mencari meja belajar yang kosong.

          “Nah, itu dia tempat meja belajar yang kosong. Ayo kita duduk di situ,” ajak Sky.

          “Ayo!” Kata Star dan Misha bersemangat.

          Buku itu berwarna coklat dan sangat tebal. Karena jarang dibaca buku itu berdebu. Akhirnya Sky langsung menunjukkan buku itu kepada teman-temannya. Star dan Misha kagum apa yang dibawa oleh Sky. Karena mereka berdua merasa kagum sampai bertanya-tanya. Tapi, ketiga sahabat itu berbicara dengan suara kecil, seperti berbisik-bisik.

          “Sky buku apa yang kamu bawa? kok keliatan buku lama.” Tanya Star dengan suara kecil.

          “Oh… ini emang buku lama yang jarang banget dibaca.” Jawab Sky.

          “Hhhmmmm… tapi kenapa kau membawa buku itu?” tanya Misha.

          “Ooo, itu karena tadi aku menemukan di rak buku-buku lama.” Jawab Sky.

          Mereka membuka cover buku yang diambil Sky dan mulai membacanya. Setelah membalik buku itu satu persatu, dan melihat di dalam buku itu ada selembar kertas terselip.

          “Sky, Star itu apa, kok ada selembar kertas yang aneh di situ?” tanya Misha.

          “Hmmm… apa ya?” jawab Star.

          “Ayo kita buka saja,” ajak Sky yang sedari tadi memegang selembar kertas tersebut.

          “Ayo!”

          Mereka pun membuka selembar kertas tersebut, ternyata isi kertas itu adalah resep ramuan yang bernama Armadillo Bille. Di kertas itu tertulis keterangan yang menyebutkan bahwa ramuan itu bisa membuat si peminum menjadi genius.

          “Hahhhh…! inikan selembar resep ramuan itu?!” ucap Star kaget setelah melihat resep ramuan itu.

          “Iya bener…” kata Sky. Mereka bertiga terkagum-kagum melihat resep itu.

          Kkkrrriiinnngggg… bel pun berbunyi, mereka pun membawa buku itu ke kelas. Satu persatu murid masuk ke dalam kelas dan duduk di meja belajar masing-masing. tak berapa lama, Pak guru datang dan memulai dengan pelajaran IPS. Di akhir kelas, pak guru memberi PR kepada murid-murid. Setelah itu mereka istirahat, ada yang pergi ke kantin, dan ada yang tinggal di kelas menyelesaikan PR. Sementara itu, Sky, Star, dan Misha pergi ke perpustakaan untuk mencari tahu tentang resep ramuan tersebut. Setelah sampai di perpustakaan, mereka bingung harus memulai pencarian dari mana.

          “Hhhhmmmm…. Kita harus mencari kemana?” tanya Misha.

          “Aku tidak tahu,” jawab Sky.

          “Hmmm… gimana kalo kita nyarinya di tempat Sky menemukan buku itu aja?” usul Star mengajak kedua temannya untuk mencari buku ke tempat rak-rak lama.

          “Ide bagus itu, ayo kita cari buku itu sebelum bel berbunyi!” Seru Misha.

          Mereka pun mulai mencari buku itu ke tempat Sky menemukan buku tersebut. Mereka melihat buku itu kembali untuk mencari tahu lebih dalam tentang resep tersebut. ketiga sahabat itu mencari di rak-rak lama.

          “Sky, Star gimana kalo kita bertanya tentang resep ini ke penjaga perpustakaan aja?” tanya Misha.

          “Boleh aja sih,” kata Star.

          Mereka pun segera menemui penjaga perpustakaan.

          “Pak, kami menemukan sebuah buku yang ternyata di dalamnya ada selembar resep ramuan yang bisa membuat orang jadi genius,” tutur Misha.

          “Resep apa itu?” tanya pak penjaga itu.

          “Ramuan itu bernama Armadillo Bille, Pak,” Jawab Sky.

          “Oooo… kalian ingin mengetahui tentang ramuan itu?” tanya penjaga tersebut.

          “Iya pak,” Jawab Star.

          “Tidak biasanya murid-murid di sini ingin tahu tentang hal ini.”

          “Kebetulan tadi kita dapat PR untuk mencari ramuan ini.” Jawab Sky.

          “Oh, kalau begitu kalian ikuti saya,” Ajak penjaga itu.

          Mereka pun mengikuti penjaga tersebut, yang membawa mereka menuju suatu ruangan yang ada di dalam perpustakaan. Penjaga perpustakaan mengatakan bahwa ada informasi tentang resep itu, dan informasi itu ada di salah satu buku yang ada di sini.

          “Carilah buku yang berjudul The Felix Felicis yang artinya keberuntungan,” Kata penjaga itu.

          “Kita harus mencari buku itu dimana, Pak?” tanya Star.

          “Saya tidak tahu letaknya, pokoknya kalian cari saja sendiri.”

          “Baiklah kalau begitu, kita akan cari buku itu sendiri,” kata Misha. Penjaga itu pun pergi. Setelah itu, mereka bertiga mulai bingung

          “Star, Misha kita harus mencari buku itu kemana?” tanya Sky.

          “Nah… itu bikin aku bingung,” jawab Misha yang sedang mencari ide.

          “Kalau kita nyarinya berpencar aja gimana?” tanya Star.

          “Ide bagus, tapi menurutmu gimana Sky?” jawab Misha.

          “Aku sih oke aja.”

          Ketiga anak itu mulai berpencar mencari buku tersebut. Ada yang mencari di rak-rak buku lama, rak-rak buku pelajaran, dan rak-rak buku cerita. Setelah 30 menit mencari, mereka bertiga kembali bertemu.

          “Apakah kalian berhasil menemukan buku itu?” tanya Star.

          “Aku tidak menemukan buku itu di mana pun.” Jawab Misha.

          “Aku juga,” jawab Sky. “Ah, aku capek sekali.” Lanjutnya mengeluh.

          “Sama aku juga capek banget,” balas Star.

          Karena kelelahan, mereka memutuskan untuk istirahat sebentar. Beberapa menit kemudian, setelah istirahat mereka terlihat semangat kembali.

          “Sky, Star aku punya ide!” ucap Misha.

          “Ide apa?” tanya Star.

          “Gimana kalo kita mencari di rak yang berbeda-beda.”

          “Ide yang bagus Misha.” Kata Sky.

          Mereka mulai membagi tugas mencari buku di rak-rak yang berbeda. Rak demi rak mereka jelajahi untuk mencari buku itu. jika lelah, mereka akan beristirahat sejenak dan mulai mencari buku itu kembali.

          “Kali ini aku capek sekali,” ucap Star, Sky, dan Misha bersamaan namun di tempat yang berbeda-beda.

          “Istirahat dulu yuk!” ucap Sky setengah berteriak agar teman-temannya mendengar.

          Mereka pun berkumpul di tempat semula. Lalu mulai menyusun rencana baru. Mereka memutuskan untuk saling bertukar tempat. Sky mencari di bagian yang tadi di jelajahi Star, dan begitupun sebaliknya. Setelah bertukar tempat mereka mulai mencari buku itu. Satu jam kemudian, salah satu dari mereka menemukan buku yang mereka cari, “Ayo kita mulai mencari bukunya lagi,” kata Star.

          “Ayo!” kata Sky dan Misha bersamaan.

          Setelah beberapa saat mencari, Star menemukan buku yang mereka cari di rak-rak lama.

          “Wah… akhirnya bukunya ketemu juga,” kata Star. Ia pun pergi ke tempat Sky dan Misha berada.

          “Sky, Misha aku menemukan buku itu!” seru Star

          “Wahhh… mana aku mau lihat bukunya!” seru Sky.

          “Eeettt… tunggu sebentar kita cari tempat duduk aja dulu, baru kita baca buku ini bareng-bareng,” kata Star.

          “Baiklah,” kata Sky. Mereka pun mencari tempat duduk.

          “Nah… ini dia, ayo kita baca buku ini,” ajak Star.

          “Ayo!” seru Sky dan Misha bersamaan.

          Mereka segera membaca buku tersebut. Dan menemukan bahwa penulis resep itu adalah professor Ronald. Namun tanpa ada petunjuk apapun professor tersebut tiba-tiba menghilang, laboratoriumnya juga ikut lenyap. Mereka segera membaca buku tersebut. di dalam buku itu ada banyak sekali resep-resep.

          “Wah… banyak sekali resep ramuannya?!” seru Misha.

          “Wah… iya banyak banget!” ucap Sky.

          “Hmmm… tapi siapa yang menulis buku ini?” tanya Star.

          “Coba aku lihat bukunya sebentar,” kata Misha.

          Mereka bingung siapa penulis buku tersebut. Dan ternyata penulis buku itu adalah professor Ronald.

          “Wah… ternyata professor Ronald menulis buku ini!” seru Sky.

          “Sepertinya… aku pernah mendengar tentang Professor Ronald,” kata Misha. “Ahh iya… aku baru ingat kalau professor Ronald adalah professor paling legendaris di sekolah ini!” lanjutnya.

          “Terus?” tanya Star.

          “Namun professor tersebut menghilang dan laboratoriumnya juga akan lenyap tanpa petunjuk apapun,” ucap Misha.

“Wahh… kamu kok tahu tentang profesor?” tanya

 

Star.

 

“Soalnya aku pernah baca buku lain yang ditulis oleh professor ini,” jawab Misha.

 

 

 

64

 

Saat mereka sedang berbicara, Sky merasa ada yang memperhatikan mereka. Ia melihat ada seseorang di balik rak buku tidak jauh yang dari mereka sejak tadi.

 

“Eh Star, Misha apakah kalian merasa ada yang memperhatikan kita dari tadi?” tanya Sky dengan suara dibuat pelan.

 

“Tidak,” jawab Star.

 

“Sama,” jawab Misha. “Udah tidak usah di pikirkan, mendingan kita lanjutkan mencari,” lanjutnya.

 

“Gimana kalau kita cari petunjuk tentang Professor ini?” usul Sky.

 

“Tapi… kita harus mencari ramuan untuk PR kita,” jawab Star.

 

“Ya… gimana sih kamu ini professor ini membuat apa?” tanya Sky.

 

“Membuat ramuan,” jawab Star.

 

 

 

65

 

“Nah… itu tahu, pake nanya,” kata Sky.

 

“Ya udah, ayo kita cari professor Ronald dan laboratoriumnya!” seru Misha.

 

Mereka mulai mencari petunjuk tentang keberadaan professor beserta laboratorium di buku tersebut.

 

“Ehh… tapi kita harus cari kemana?” tanya Star.

 

“Hhhmmm… gimana kalau kita cari informasi di buku-buku lama aja,” jawab Sky.

 

“Boleh juga!” seru Misha

 

Mereka pergi mencari buku-buku lama sambil membawa buku itu.

 

Setelah mencari di buku-buku lama mereka tidak menemukan buku yang mereka cari. Mereka pun berkumpul di tempat semula.

 

 

 

 

 

 

66

 

“Huh, capek sekali. Apakah kalian menemukan buku milik Professor Ronald?” tanya Sky. “Aku tidak menemukannya,” lanjutnya.

 

“Tidak sama sekali,” jawab Star dan Misha sambil menggelengkan kepala.

 

“Coba di buka lagi bukunya kayaknya ada petunjuk lagi di dalamnya,” kata Misha

 

“Ok,” kata Star.

 

Mereka membuka halaman demi halaman dan menemukan sebuah peta yang terselip di dalamnya.

 

“Hah… di sini kok ada peta, ya?” tanya Star.

 

“Wah… sepertinya peta ini menuju ke laboratoriumnya!” seru Misha.

 

“Gimana kalau kita ikuti saja petunjuk ini?” tanya Sky.

 

“Ayo!” seru Star dan Misha.

 

 

 

 

67

 

Mereka memustuskan untuk menelusuri petunjuk yang ada di peta itu. peta itu menuju ke rak buku paling ujung.

 

“Kenapa berhenti?” tanya Sky.

 

“Uuummm… petanya berakhir di sini,” jawab Misha.

 

“Kalau di film-film sih biasanya ada tombol rahasia, coba kita cari di sekitar sini,” kata Star.

 

“Ok!” seru Misha.

 

Mereka mulai mencari-cari petunjuk di rak-rak tersebut. namun, mereka tidak menemukan apapun.

 

“Apa kalian sudah menemukan petunjuk itu?” tanya Sky. Disaat yang bersamaan, ia merasa benar-benar ada yang memperhatikan mereka lagi.

 

“Aku tidak menemukan apapun itu di sekitar sini,” jawab Misha.

 

“Aku juga, tapi bagaimana denganmu Sky?” tanya Star namun Sky hanya diam saja tidak menanggapi. sedang

 

68

 

memikirkan siapa orang yang dari tadi memperhatikan mereka.

 

“Sky?!” teriak Misha.

 

“Eh iya, apa? oh, aku tidak menemukan apapun,” jawab Sky tergagap.

 

“Kamu kenapa Sky kok kayaknya sedang memikirkan sesuatu?”

 

“Nggg… enggak-enggak aku tidak memikirkan apapun.”

 

“Hhhmm… ya sudah, kita pulang saja, soalnya sudah mau sore,” kata Misha.

 

“Baiklah,” kata Sky dan Misha.

 

Mereka memutuskan untuk pulang karena tidak menemukan apapun. Lalu keesokkan harinya, mereka kembali melanjutkan penelusuran di perpustakaan setelah pulang sekolah.

 

 

69

 

“Eh… Sky, Star gimana kalau kita lanjut lagi penelusurannya?” tanya Misha.

 

“Boleh, mumpung aku lagi bosen banget,” jawab Star.

 

“Boleh,” jawab Sky.

 

Mereka pun pergi ke perpustakaan.

 

“Ayo kita mulai!” seru Misha.

 

“Ayo!” seru Sky dan Star.

 

Mereka mulai mencari petunjuk lagi. namun, setelah mencari petunjuk dimana-mana, tetap saja mereka tidak menemukan apa-apa. Sky tidak sengaja menarik sebuah buku.

 

“Wah… kok bisa gini?!” Sky terkaget saat melihat buku yang ia Tarik.

 

“Hmmm… ngomong-ngomong siapa penulis buku itu?” tanya Misha.

 

“Professor Ronald,” jawab Star.

 

 

 

70

 

“Ooo… aku punya ide gimana kalau kita mencari buku yang penulisnya professor Ronald?” tanya Star.

 

“Boleh…” jawab Sky dan Misha.

 

Mereka mencari buku yang di tulis oleh professor tersebut. Setelah beberapa saat, mereka menemukan buku yang berjudul The Secret Herbal,

 

“Kita sudah menemukan 2 judul buku, kurang 1 lagi,” kata Star.

 

“Ayo kita cari lagi!” ajak Misha.

 

“Ayo!” seru Sky dan Star.

 

Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan buku di bagian sudut rak bagian atas. Akhirnya mereka mendapatkan buku itu.

 

“Sky, Star bukunya ada di situ,” Misha memanggil kedua temannya.

 

“Mana-mana?” tanya Sky.

 

 

71

 

“Itu… ada di atas,” jawab Misha memberitahu.

 

“Wah… iya benar, tapi gimana caranya untuk mengambil buku itu,” tanya Star.

 

“Hhhmmm… Sky coba kamu ambil kursi satu aja,” kata

 

Misha.

 

“Ok,” ucap Sky.

 

Sky pun pergi, setelah beberapa menit Sky datang dan membawa kursi.

 

“Nih… kursinya,” kata Sky sambil meletakkan kursi.

 

“Terima kasih Sky, oh ya siapa yang mau mengambil buku itu?” tanya Star.

 

“Hmmm… gimana kalau Misha aja yang ngambil?” jawab Sky.

 

“Baiklah,” ucap Misha.

 

 

 

 

 

 

72

 

Misha pun menaiki tempat duduk itu dan menarik buku itu. Pintu itu terbuka, ternyata di dalamnya ada sebuah ruangan rahasia. Ruangan rahasia itu berisi laboratorium, di dalamnya banyak ramuan dan alat-alat yang masih tertata rapi. Alat-alat laboratoriumnya adalah gelas ukur, tabung reaksi, labu ukur, labu Erlenmeyer, gelas piala, pipet tetes, pipet ukur. Mereka terkagum-kagum.

 

“Wah… bagus sekali laboratoriumnya!” seru Sky. “Padahal ini sudah lama ditinggalkan lho,” lanjutnya

 

“Iya bener, dan alat-alatnya juga tertata rapi!” seru

 

Star.

 

Mereka mulai keliling untuk mencari ramuan itu. Misha menemukan empat ramuan yang tidak ada namanya. Ramuan itu adalah yang bisa cegukan, hilang dalam beberapa menit, dan warna kulitnya menjadi hitam.

 

“Hey Sky, Star sini sebentar deh,” kata Misha.

 

“Ada apa?” tanya Sky.

 

 

 

73

 

“Ini aku menemukan empat ramuan yang tidak ada namanya,” jawab Misha.

 

“Hhhmmm… berarti kita harus mencoba satu persatu,” kata Star.

 

“Boleh juga,” kata Sky. “Misha kamu coba yang itu aja, setelah Misha aku terus Star ya?” lanjutnya.

 

“Baiklah,” ucap Star dan Misha.

 

Misha pun mecoba ramuan, tiba-tiba dia menjadi cegukan. Setelah Misha mencoba gantian Star, tiba-tiba warna kulit Star menjadi hitam. Setelah kedua temannya mencoba gantian Sky yang mencoba, tiba-tiba dia menghilang, tapi untungnya hanya dalam beberapa menit.

 

“Huh… tinggal satu ramuan lagi,” kata Sky.

 

“Tapi apa itu benar, ramuan yang dar itadi kita cari?” tanya Misha.

 

“Aku tidak tahu,” jawab Sky.

 

 

 

74

 

“Gimana kalau kita minum nya setengah-setengah?” tanya Star.

 

“Boleh juga,” jawab Sky dan Misha.

 

Setiap anak mencicipi ramuan tersebut satu persatu. Setelah mencicipi mereka pun pulang dan mengerjakan PRnya.

 

“Sky, Star ayo kita pulang dulu!” ajak Misha.

 

Keesokkan harinya, saat bel masuk berbunyi semua anak-anak memasuki kelas. Bu guru pun datang, dan meminta mengumpulkan PR yang diberi.

 

“Anak-anak, ayo kumpulkan PR kalian sekarang,” ucap bu guru.

 

“Baik bu,” jawab anak-anak serentak.

 

Bu guru pun menilai tugas murid-murid. Setelah menilai tugas itu bu guru memberitahukan nilai siapa yang paling tinggi.

 

 

75

 

“Anak-anak bu guru akan memberitahukan bahwa Sky, Star, dan Misha mendapatkan nilai 100!” kata bu guru.

 

“Apa?!… kok kita nilainya yang paling tinggi,” kata Sky, Star, dan Misha kaget.

 

Setelah mereka mendapatkan nilai 100. Mereka menjadi terkenal dan populer karena kepintarannya. Banyak anak yang bertanya-tanya tentang rahasia kepandaian mereka. Sky berencana memberitahu anak-anak resep tersebut, sampai tiba-tiba, saat Misha mau ke tempat duduk ia melihat ada sebuah surat misterius. Ia pun membawa surat itu dan membacanya. Ternyata isi surat itu adalah sebuah peringatan bahwa ramuan itu tidak boleh di salah gunakan.

 

Share This: