Refleksi Hari Buku Sedunia

Oleh: Maylia Erna Sutarto (Pendiri IWEC)

Buku terkait erat dengan kegiatan membaca dan menulis. Pepatah ‘buku adalah jendela dunia’ mendorong banyak gerakan cinta membaca di kalangan muda Indonesia. Puncak-puncak kesadaran telah dibangun dengan berbagai dukungan birokrasi dan masyarakat. Sekolah dan perpustakaan umum berlomba memacu kecepatan pertumbuhan koleksi buku dan minat membaca pada murid dan anggotanya. Ini sangat menarik.

Kegiatan membaca harus melekat kuat yang terjelma sebagai kebiasaan pada masing-masing individunya. Karena benar adanya bahwa membaca adalah terapi untuk kanker kebodohan dan pembodohan.

Kapan waktu tepat anak belajar membaca? Pertanyaan yang kerap saya dengar dari orangtua saat saya talkshow tentang menulis pada anak usia dini. Pengalaman saya mendidik sendiri kedua gadis tanggung dan seorang jejaka kecil melalui jalur homeschool mematahkan pendapat pendidikan formal tentang waktu yang tepat untuk anak belajar membaca.

10968537_10204100880702139_6977194672297610626_n
Hanun, Nizzar, dan Asha

 

Anak saya keranjingan membaca dan menulis sejak usia 5-6 tahun. Sementara itu, kegalauan akan menggulung orangtua kala mendapati anak-anaknya dapat melakukan keduanya pada saat usia yang tidak dianjurkan oleh pendidik formal. Berbagai upaya mungkin orangtua lakukan untuk menjauhkan aktivitas ini dengan mengalihkan anak pada segala bentuk permainan. Alih-alih menjadi solusi, justru tindakan pengalihan itu menghadirkan dilema kedua, yakni ketika bermain itu dimaksudkan dengan bermain game online yang berubah sebagai candu siang dan malam.

Gelisah itu seharusnya tidak perlu dikobar-kobarkan, seolah kemampuan membaca dan menulis saat anak masih sangat belia, menjadi ‘hantu’ yang dikemas dengan dengan slogan ‘pemaksaan sebelum waktunya’.

Ada dua hal yang sebaiknya tidak dikotak-kotakkan dalam pola pikir orang tua dalam menyikapi tumbuh kembang anak. Bermain dan belajar bukanlah dua hal yang harus ditegakkan pemisahnya secara jelas. Bermain di sini bisa kita artikan dengan stimulus, bagaimana orangtua memberikan rangsangan permainan yang sifatnya mengedukasi. Tidak ‘berhasrat’ memaksa, tidak juga menetapkan standar pencapaian.

Cabang-cabang otak manusia atau disebut neuron pada saat usia belia masih mampu berkembang dengan cepat seiring dengan stimulus yang dikembangkan kepada anak. Bentuknya dapat audio atau visual. Keduanya tidak harus berasal dari perlengkapan mahal seperti paket ini itu yang ditawarkan. Audio dan visual itu bijaknya juga ditangkap anak dari aktivitas kedua orangtuanya.

Setiap anak memiliki keistimewaan mengembangkan kemampuannya secara mandiri saat mereka merasa siap. Kesiapan mandiri dibangun dari pilar-pilar stimulus yang sudah ditegakkan oleh orangtua berupa stimulus audio dan visual tersebut.

Orangtua tidak akan pernah tahu, kapan tepatnya mereka akan membangun kesiapan mandiri berpikir pada anak-anak mereka. Oleh karena itu, tidak ada kata ‘kapan waktu yang paling tepat’ karena hanya anak-anaklah yang tahu. Dan, ketika mereka siap, orangtua juga harus siap untuk tercengang oleh pencapaian mereka, tanpa standar harus sama dengan individu yang lain.

Kedua putri saya tumbuh dengan cara mereka masing-masing. Si Sulung lebih cepat mengawali kesiapannya membaca, yakni pada usia 4 tahun. Dan dia tergila-gila melahap buku, baik buku fiksi maupun nonfiksi saat berusia 5 tahun. Ia kemudian dapat menuliskan ide dan rangkuman dari apa yang sudah ia baca pada beberapa bulan setelah itu.

1907860_10203638926353569_8037525482908265120_n

Si Tengah yang lebih suka memberontak dan tidak suka diatur oleh semua pola, mencintai hal-hal yang berbau kreativitas, lebih lambat mengawali kesiapannya membaca untuk pertama kalinya. Usianya yang sudah menetap di bilangan 5 tahun, berhasil membaca kata per kata yang menyebar di baliho atau spanduk jalanan. saya kerap berpikir apakah ia akan jauh melambat dibanding kakaknya?

10615993_10203049206970953_4762687932595384654_n
Itulah yang membuat saya terus belajar mengenali potensi anak saya dan kesiapan mentalnya.

Sungguh luar biasa! Saya biarkan mereka berdua bereksplorasi dengan minat yang ingin mereka tumbuhkan dan bangun sendiri. Bingo! Usia yang belum genap 6 tahun, si Tengah berhasil menyusun kepercayaan dirinya. Diam-diam dia menggambar dan menulis cerita pendek dalam bahasa Inggris. Sungguh, saya terharu. Bukan hanya satu, tapi lebih. Ia mendorong semangatnya untuk menulis cerita. Bahkan, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, ia seperti kecanduan berkarya, menulis dan membaca, meski ia lebih memupuk kemampuan cerna informasi melalui audio. Meski kesiapannya lambat, tapi kemampuan mengalami percepatan yang luar biasa.

Keduanya kini telah mempunyai visi ke depan sebagai seorang profesional dengan cara mereka, penulis dan ilmuwan. Begitu juga si Tengah yang tidak mau kalah dengan bercita-cita sebagai penulis dan petani (dalam artian luas).

10801600_10203639479687402_1314219886531436123_n

Bagaimana denga si Bontot? Sejak usia dua tahun dia mencintai buku. Bukan buku cerita saja, tetapi juga buku ensiklopedia. Terlebih buku mengenai mobil, pesawat, dan binatang. Ia belajar pengucapan kata dengan artikulasi yang tepat, seakan tidak mau kalah dengan kedua kakaknya. Seperti ungkapan “menemukan air di kolam renang”, si Bontot selalu bahagia berenang di antara hamparan buku, dan tertantang melakukan pendakian di antara bukit-bukit buku.

Cukup itu metode pembelajaran visual dan audio yang saya kembangkan. Tidak memerlukan paket-paket buku berharga jutaan.

Terbanglah dengan cita-citamu, Nak.

Selamat Hari Buku!

Share This: