RESAH

Oleh: Corry Octrishya (Staf Pengajar Menulis IWEC)

           Sewajarnya seorang perempuan, Dayu pernah memimpikan dirinya sebagai pengantin yang berbahagia. Namun, setelah kekasihnya melamar pekan lalu, ia justru banyak merenungkan perihal pernikahan. Pasalnya, sebagai seorang wanita yang usianya tergolong sudah pantas menikah, Dayu masih ragu untuk menerimanya. Bukan karena ia tidak menyukai Anarghya, kekasihnya. Akan tetapi, kehidupan setelah pernikahan lah yang membuat ia takut.

           “Dayu?” Seseorang memanggil namanya seolah ingin memastikan bahwa ia benar Dayu.

           Alih-alih membicarakan kegundahan ini bersama sang ibu, orang pertama yang ia temui justru Gia, kakak dari kekasihnya.

           Ini termasuk tindakan paling berani yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya, menelepon seorang yang memiliki ikatan darah dengan seseorang yang tengah menjalin hubungan dengannya. Mungkin ini akan terdengar berlebihan, mengingat semasa Dayu sekolah dulu, ia bahkan tidak berani bertatap muka dengan kakak kelas yang ia sukai. Saat berpapasan, ia sering menghindar, entah ke kelas atau kantin. Dan karena sikap itulah, Dayu kehilangan kesempatannya untuk mengungkapkan perasaannya pada sang senior.

           Kini, ia tak ingin hal tersebut terulang lagi—bersikap selaiknya pengecut.

            “Nggak sama Anarghya? Atau dia sibuk kerja lagi?” cecar wanita yang beberapa waktu lalu ia hubungi.

            Tampak senyum dari paras kedua wanita tersebut, meski senyum yang Dayu sematkan pada wajahnya terkesan kikuk. Karena sebelumnya hampir mustahil mereka bertemu dan saling berhadapan seperti ini.

            “Tumben? Teteh kaget, lho, pas terima pesan kamu semalam, enggak biasanya.” Derit bangku terdengar saat Dayu berdiri dan mempersilakan Gia duduk. Tak lama berselang, seorang pramusaji datang mengantarkan buku menu. Dayu memberi kode lewat gerakan tangan, mempersilahkan Gia supaya memesan terlebih. Mereka pun saling berpandangan sejenak, lalu tertawa. Dayu pun meminta pramusaji untuk kembali lagi nanti bila mereka sudah menentukan pesanan.

            “Lama menunggu, ya? Maaf, tadi teteh harus memastikan Surya tidur dulu. Anak itu, tuh, ya ampuuuun deh, kalau disuruh tidur siang, pasti rewel.” Mendengar hal itu, Dayu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

            “Enggak papa kok, Teh. Aku juga baru sampai.”

            Walau usia mereka terpaut tidak begitu jauh, hanya saja Dayu merasa ada satu beban tersendiri ketika duduk berhadapan dengan kakak dari tunangannya. Ia merasa atmosfir di sekitranya berubah jadi aneh. Wanita di hadapannya ini bisa saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar hubungannya dengan adik kandungnya, Anarghya.

            “Teteh senang sekali kamu telpon, Yu. Bosan di rumah!” ucap Gia sedikit mencairkan suasana diantara mereka. Meski bagi Dayu masih terasa aneh, namun ia tidak dapat menyembunyikan senyumnya mendengar pengakuan dari wanita yang dia panggil teteh itu. Dayu masih tidak percaya akan senekat ini menghubungi kakak dari tunangannya.

            “Kenapa, Yu? Kepikiran soal hubungan kamu sama Anarghya, ya?”

            “Ah, itu…” Dayu gelagapan menjawab pertanyaan yang Gia lontarkan, meski sebenarnya ia sudah menduga akan akan mendapat pertanyaan ini.

            “Ada sesuatu yang mau kamu ceritakan ke teteh?” tanya Gia untuk kesekian kalinya.

            Dayu merasa tidak akan bisa menghindari pertanyaan ini. Mengangguk rasanya begitu berat baginya, lidah pun ikut kelu untuk sekedar mengiyakan, hanya senyum getir yang seolah mewakili jawaban iya. “Aku enggak tahu harus mulai cerita dari mana,” ucap Dayu lirih nyaris tak terdengar. “Minggu lalu Anarghya… emmm…” Mendadak suaranya tercekat di kerongkongan. “Anarghya mengajakku menikah. Dia tiba-tiba melamarku di halte bus sepulang dari rumah orang tuanya minggu lalu,” lanjutnya pelan tapi pasti setelah mengisi seluruh paru-parunya dengan oksigen, memastika ia bisa menyelesaikan ucapannya hanya dengan satu kali tarikan napas.

            “Apa? Melamarmu? Di halte bus?” Mata Gia terbelalak mendengar penuturan Dayu. “Dia enggak berlutut, kan? Malu banget pasti kamu ya, kalau Anarghya segila itu.”

            Mendengar hal itu membuat pipi Dayu merona. Ia tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu. Dayu pikir Gia akan menolak rencana pernikahannya. Bagaimanapun, ia merasa belum pantas menjadi pendamping Anarghya. Menyandang status ‘kekasih’ selama tiga tahun tidak menjamin mereka menjadi pasangan suami istri.

            “Lalu, kamu jawab apa lamaran Anarghya?” tanya Gia antusias.

            “Aku belum ngasih jawaban, Teh. Aku minta waktu ke Anarghya.”

            “Lho? Kenapa, Dayu?”

            Hening. Tidak ada jawaban. Di satu sisi, Gia sedang menunggu jawaban, sementara di sisi lain, Dayu tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak tahu harus mengatakan apa.

            “Anarghya masih menyebalkan? Ah, pasti karena sikap suka seenaknya itu, ya? Atau karena dia melamarmu di halte bus? Ya ampun, akan kuberitahu dia kalau kamu enggak suka dilamar ala-ala film roman picisan tahun delapan puluhan gitu.” Ucapan Gia membuat Dayu tertawa.  

            “Meski sedikit kaget, tapi bukan karena cara dia melamar yang jadi masalahnya, Teh.”

            “Lalu, apa? Dayu sudah nggak suka sama Anarghya?”

            “Oh, bukan, bukan. Justru aku sangat menyukainya. Tapi…”

            Melihat ekspresi wajah Dayu, membuat Gia mengerti bahwa ada keraguan di sana. Gia mencoba mengerti alasan dari keraguan dan kerisauan Dayu. Ia paham betul, di usia Dayu saat ini, ada banyak mimpi yang ingin ia wujudkan. Mimpi-mimpi dimana tidak ada Anarghya di sana.  

            “Aku tidak sanggup membayangkan akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya Anarghya, Teh. Aku sadar, ada banyak kekurangan dalam diriku. Aku merasa belum pantas untuk dia.” Jawaban panjang Dayu membuat Gia tersadar, bahwa bukan mimpi atau karir yang jadi alasan keresahannya.

            Gia meraih kedua tangan Dayu, diusapnya punggung tangan itu, mencoba menyalurkan keberanian. “Dulu, teteh juga sama seperti Dayu.”

            Dayu mendongak, menatap lurus kea rah mata wanita di depannya.

            “Memang terasa aneh saat membayangkan tiba-tiba menjadi istri orang lain, berjanji untuk sehidup semati. Susah senang berdua.  Dan kebebasanmu bukan lagi milikmu seorang.” Dayu mendengarkan setiap ucapan Gia dengan seksama, sesekali ia mengangguk. “Mas Iqbal menceritakan banyak perubahan pada diri Anarghya semenjak mengenalmu, Dayu. Setiap Teteh, Mas Iqbal, atau Ibu menyebut namamu, sikapnya akan berbeda. Dia jauh lebih awas dan perhatian.”

            “Aku tahu, tapi menikah…”

            “Butuh lebih dari sekadar kata ‘iya’, karena menikah itu perjuangan panjang yang melelahkan, untuk itu dibutuhkan komitmen dan keberanian melangkah ke arah sana. Apa lagi kehidupan setelah menikah nanti akan sangat jauh sekali berbeda ketika masih sendiri. Kamu harus rela mengorbankan segala kebebasanmun dan fokus pada keluarga kecilmu. Benar, bukan?”

            “K-kurang lebih.”

            Gia tersenyum memaklumi.

            “Jika kamu merasa bahwa Anarghya adalah orang yang tepat, lantas kenapa harus diulur-ulur? Pernikahan itu seperti neraca. Agar seimbang, dibutuhkan dua orang yang saling mengimbangi. Manusia tidak ada yang sempurna. Setiap dari kalian pasti memiliki kekurangan. Untuk itu lah, menikah itu bukan saling unjuk sempurna, melainkan saling melengkapi,” tutur Gia mencoba memberikan pencerahan kepada Dayu.

            Dayu mengerti betul apa yang disampaikan Gia, namun ia merasa masih ada yang mengganjal pikirannya. Beban di kedua bahunya belum terangkat sepenuhnya.

            “Dengarkan teteh, ya, Dayu.” Lanjut Gia membuat Dayu menatapnya kembali. “Kalian bisa saling belajar dan melengkapi, juga menghormati dan memaklumi. Meski awalnya terasa berat, tapi kamu enggak sendirian. Ada Anarghya di sampingmu, yang akan selalu membantu, mendukung, dan menjadi tempatmu berlindung.”

            “Seandainya…” belum selesai Dayu bicara Gia sudah menyela,

            “Kalau ada masalah menimpa kalian, tanpa disadari pasangan lah yang akan menguatkan. Jadi, jangan khawatir. Anarghya sudah memilih kamu, itu berarti kamu adalah perempuan terbaik di matanya.”

            Setelah mendengar nasehat dari kakak calon suaminya, Dayu tidak mengatakan apa-apa. Ia meraih buku menu yang sejak tadi diabaikannya. Matanya menyusuri setiap menu yang tertulis di sana. Namun, semua makanan di sana tidak ada yang menarik seleranya.

            “Kalau aku mengatakan ‘iya’, tapi hatiku belum siap, bagaimana, Teh?” ucap Dayu tiba-tiba, mengalihkan pandangan dari daftar menu yang dia pegang.

            “Maka, tanyakan hatimu lagi, Yu. Apa kamu siap kehilangan Anarghya?”

            Dayu tahu dia tidak akan siap kehilangan Anarghya, sosok yang ia jadikan tempat bersandar. Pemuda yang paling mengerti dirinya, mampu menghargai etiap keputusannya. Dayu pun juga tahu, ia tidak akan mudah menemukan laki-laki seperti Anarghya yang mau mengerti saat dirinya hanya mengatakan ‘kasih aku waktu’.

            Dayu menarik napas dalam-dalam. “Teh… terima kasih.” Ia pun tersenyum lega.

            Sepulang bertemu dengan Gia, Dayu sudah memiliki jawaban yang akan dia berikan kepada Anarghya. Secepatnya.

 

***

Share This: