RINAI

Oleh: Tarwia Ulfah (Staf Pengajar Kelas Menulis IWEC)

            Di balik rintik hujan yang manusia terkadang senang menerimanya, bahkan ada yang benci menghadapinya, ada jutaan harap dari para makhluk yang mengirimkannya. Makhluk-makhluk itu mengirim hujan penuh cinta dan suka, agar manusia memanfaatkannya sebaik mungkin. Kerja keras makhluk-makhluk itu ketika menurunkan hujan tidaklah mudah, penuh pengorbanan dan resiko besar. Adakah para manusia itu menyadarinya.

***

            Gadis berambut panjang berwarna pirang yang sedang menunggu termangun di kamar itu mulai cemberut. Usianya baru dua belas tahun beberapa hari lalu. Perayaan sederhana yang diberikan orang tuanya masih membekas sampai saat ini. Ayah ibunya memberikan hadiah sebuah gadget untuknya, ia senang bukan main. Ditambah lagi hadiah istimewa dari sahabat barunya, mengubah hidupnya saat ini menjadi seperti mimpi.
Gadis bernama Rinai itu sedang menunggu hujan sore ini. Kedua tangannya menopang dagu dengan wajah ditekuk sedari tadi. Sesekali ia mengendus kesal, menoleh ke luar jendela kamarnya yang sengaja dibuka. Hujan tak juga turun.

            Awan mendung datang menyerbu. Desir angin pembuka kedatangan hujan menerpa rambut coklat panjangnya yang indah. Ia kekeh tidak menutup jendela kamarnya untuk menunggu hujan dan sahabatnya. Karena ketika hujan datang, sahabatnya juga akan datang.

            “Rinai, maaf terlambat, pekerjaanku banyak sekali hari ini,” jelas anak laki-laki berukuran mini yang tiba-tiba muncul dari balik jendela kamar Rinai.

            “Eh, Ae! Kukira kamu tidak akan datang untuk menepati janji,” jawab Rinai sedikit kaget.

            “Aku tidak mungkin ingkar janji, Rinai,” jelas Ae dengan tersenyum.

            Ae, sahabat baru Rinai, bukanlah manusia. Ia hanya makhluk kecil yang datang dari kumpulan awan pembawa hujan. Saat hujan datang, saat itulah Ae datang bertemu manusia bernama Rinai. Hujan adalah sumber kehidupan Ae. Hujan adalah nyawanya. Ae datang saat ulang tahun Rinai beberapa hari lalu. Makhluk kecil itulah yang pertama mengucapkan ucapan ulang tahun saat malam hari. Ia datang saat hujan mulai turun malam itu. Ia mengetuk jendela kamar Rinai yang sudah tertutup, membangunkan Rinai yang sedang tertidur pulas.

            Tok.. tok… tok…

            Rinai yang setengah tersadar membalikan badan dan melihat ke arah jendela kamarnya. Remang-remang ia terbangun melihat seisi kamar yang gelap gulita. Gelegar petir menyemburat meninggalkan sedikit cahaya. Rinai terperanjat kaget melihat makhluk kecil seperti manusia mini sedang terbang di luar jendelanya. Makhluk itu tak jauh berbeda dengan peri kecil dalam film yang pernah Rinai lihat. Sontak, ia terbangun dan meringsut di balik selimut tebalnya, gemetaran.

            “Siapa kamu?” teriak Rinai pada makhluk kecil itu.

            Hujan semakin deras di luar, Rinai masih belum bergerak melepaskan selimut. Makhluk itu hanya tersenyum, tidak membalas sepatah katapun. Ia malah melambaikan tangan santai. Rinai yang mengintip dari selimut semakin heran dan takut.

            Rinai memberanikan diri turun dari ranjang, manaruh selimut tebalnya lalu pelan-pelan berjalan ke meja belajarnya. Ia mengambil kaleng pembasmi nyamuk dan serangga lalu mendekat ke jendela. Tanggannya sedikit gemetar membuka jendela kamar, hujan belum juga berhenti. Makhluk mini itu masih tersenyum dan terbang masuk ke kamar Rinai, seketika tangan Rinai cekatan menyemprot pembasmi nyamuk dan serangga ke arah makhluk mini itu. Tak lama kemudian, ia jatuh dan tergeletak di lantai kamar Rinai.

            “Seperti yang kukatakan saat pertama kali datang dan kamu menyemprotkan pembasmi nyamuk dan serangga kepadaku, aku akan kembali saat hujan turun,” jelas Ae mengingat kejadian tidak menyenangkan saat pertama kali datang ke kamar Rinai.

            “Eh, kamu masih saja mengingat itu,” jawab Rinai terkekeh sembari duduk di kursi meja belajarnya. Ae bersantai duduk bebas di atas meja belajar Rinai.

            “Baiklah, akan kulupakan kejadian itu, meskipun rasanya akan sangat sulit. Bau pembasmi nyamuk dan serangga itu sangat aneh sekali,” balas Ae sambil membuat ekspesi wajah seperti sedang memuntahkan sesuatu.

            “Sudah lah, lupakan itu. Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu,” rengek Rinai mengganti topik pembicaraan. Gelegar petir dan hujan deras masih menemani obrolan mereka sore itu.

            “Apa?” jawab Ae singkat.

            “Apakah di atas awan banyak makhluk sepertimu?” tanya Rinai penasaran.

            “Hmm, baiklah. Akan kujelaskan singkat mengenai kehidupan kami di atas sana, tapi kamu harus berjanji tidak akan bercerita pada siapapun.”

            “Aku janji,” sahut Rinai semangat.          

            “Oke. Jadi begini, kami adalah makhluk-makhluk yang bekerja menurunkan hujan ke bumi. Jumlah kami ada ribuan, bahkan ratusan ribu. Setiap kali hujan turun pada suatu musim, ribuan bahkan ratusan ribu makhluk seperti kami akan semakin berkurang jumlahnya. Pada satu kali hujan turun, ada ratusan makhluk seperti kami yang harus merelakan dirinya luruh menjadi rintik hujan. Dalam rintik itu kami akan gugur di tanah dan memberikan kebermanfaatan bagi manusia di bumi,” jelas Ae dengan tangan bersendekap.

            “Begitu pula dengan aku, Rinai. Aku juga akan gugur di hujan terakhir musim ini. Tubuh mungilku ini akan luruh menjadi rintik-rintik hujan. Saat itulah, kehidupanku berakhir dan selesai. Di sisi lain, kehidupan yang baru di bumi akan dimulai,” lanjutnya dengan wajah yang mulai tidak bersemangat.

            “Eh, kamu akan luruh menjadi hujan? Di hujan terakhir musim ini?” tanya Rinai memastikan apa yang ia dengar.

            “Benar. Maka dari itu aku menemuimu beberapa hari lalu,” jawab Ae datar.

            “Maksudmu? Aku benar-benar tidak paham.” Ujar Rinai belum paham.

            “Dalam tubuhmu, ada nyawa dari makhluk sepertiku. Saat ibumu mengandung dulu, ia tertabrak mobil saat menyebrang jalan sepulang dari rumah sakit. Saat itu, hujan turun dengan derasnya, hujan terakhir di musim itu. Ibumu tergeletak tak berdaya di tengah derasnya hujan, sampai pada akhirnya diberikan pertolongan pertama. Saat tertabrak, nyawa ibumu sebenarnya sudah tidak tertolong. Hingga saat ia tak sengaja menelan air hujan sebelum dibawa ke rumah sakit. Rintik air hujan itu menyelamatkan ibumu dan kamu, Rinai. Kamu yang lahir dengan selamat dan sudah tumbuh dewasa sampai saat ini, begitu pula dengan ibumu yang hidup sampai sekarang.”

           Ae berhenti sejenak. Ia berpindah posisi.

            “Seperti yang kukatakan tadi, saat makhluk seperti kami luruh menjadi hujan, kehidupan kami selesai. Namun, kehidupan baru di bumi dimulai. Kejadian seperti ibumu sangatlah jarang terjadi, sungguh sangat beruntung keluargamu. Kami biasanya luruh pada tanah-tanah yang kering, hutan yang terbakar, tumbuhan yang hampir saja mati, layu, hewan-hewan yang meringsut kehausan dan banyak kehidupan-kehidupan baru lainnya. Kami turun membawa suka cita, kebermanfaatan yang bisa makhluk bumi nikmati,” jelas Ae detail.

            Rinai terisak di meja belajarnya. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa setiap hujan yang turun dilalui dengan pengorbanan sebesar itu oleh makhluk seperti Ae. Rinai pun teringat sangat tak jarang ia mencerca hujan yang datang, mengeluh karena takut basah, kedinginan dan tidak nyaman. Rinai menyesal dan semakin terisak.

            “Hey Rinai, kenapa kamu menangis?” tanya Ae sambil menggaruk-garuk kepalanya.

            “Eh, maaf. Aku sedih mendengar ceritamu. Makhluk seperti kalian rela mengugurkan diri demi makhluk bumi seperti kami. Tak jarang kami malah mencerca bahkan mengeluh saat hujan datang. Maafkan kami,” jawab Rinai sambil mengusap tangisnya yang belum berhenti.

            “Tidak apa Rinai. Kami luruh menjadi hujan dengan senang hati, kami rela menjadi hujan demi menyeimbangkan kehidupan di bumi. Meskipun terkadang banyak manusia yang mencerca, kami memahami jika mereka belum mengetahui kehadiran kami bagi makhluk lainnya. Mereka hanya tidak paham,”

            “Lalu, kenapa kamu datang menemuiku , Ae?” tanya Rinai berganti topik.

            “Aku ingin berpamitan Rinai, sebelum aku luruh menjadi hujan. Makhluk yang menyelamatkanmu dan ibumu saat itu adalah rintik hujan dari ibuku. Bahkan sebelum aku dewasa, ibuku sudah terlebih dahulu luruh ke bumi. Bertemu denganmu sama dengan bertemu dengan ibuku, aku ingin berpamitan denganmu yang di dalamnya ada setetes rintik ibuku.”

            Hujan masih deras turun di luar, percakapan Ae dan Rinai sudah pada puncaknya. Rinai tercengang dengan kenyataan yang baru saja Ae katakana. Rinai sungguh tidak dapat mengucapkan apapun karena hatinya ikut luruh, sedih.

            “Rinai, aku senang bertemu denganmu sore ini, mengobrolkan banyak hal tentang kehidupan kita masing-masing. Sebentar lagi hujan berhenti, aku harus segera kembali mengerjakan pekerjaanku di atas sana. Aku lega telah berpamitan ke ibuku yang ada dalam tubuhmu,” lanjut Ae sambil menghibur Rinai yang masih menangis.

            “Apakah sebentar lagi kemarau datang, Ae?”

            “Benar, kamu benar sekali Rinai. Dua hari lagi aku luruh, hujan terakhir turun dengan lebat di musim ini. Aku akan turun menjadi kebahagiaan makhluk bumi. Semoga kamu bersuka cita di hujan terakhir nanti Rinai,” jawab Ae tersenyum.

            “Mulai saat ini, aku akan bersuka cita ketika hujan turun. Aku akan selalu mengingatmu sebagai sahabatku selamanya Ae. Luruhlah dengan bahagia juga, akan banyak makhluk bumi yang tersenyum karenamu,” jawab Rinai yang sudah tidak menangis lagi.

            “Terima kasih, Rinai.”

            Hujan mulai mereda, tetes-tetes air di genting, daun mulai berkurang. Udara dingin mulai terasa malam ini. Katak-katak mulai bernyanyi riang, Rinai membereskan tisu berantakan di meja belajarnya dan menemui ibu di meja makan.

            Malam ini Rinai sangat bersyukur dengan turunnya hujan, karena hujan pula ia masih bisa bercanda dengan ibunya malam ini. Ibunya memberi nama Rinai, ia lahir saat hujan turun, dimana suka cita kebahagiaan menyebar untuk makhluk di bumi.

*END*

Share This: