RIRI SI KUTU BUKU

Penulis: Atunk Oman

Pak Dirman tampak sibuk merapikan buku-buku yang dijualnya.  Tangannya tak lepas dari kemoceng yang digunakannya untuk membersihkan debu. Maka wajar, kenapa toko bukunya banyak dikunjungi mahasiswa dibanding toko-toko buku lainnya.  Ya karena di samping koleksinya lengkap, toko buku Pak Dirman selalu bersih.

Riri salah satu pelanggan tetapnya. Bisa dipastikan hampir dua minggu sekali ia selalu mengunjungi toko buku Pak Dirman itu.

“Pak, buku saya sudah ada?”

“Oh, Neng Riri,” Pak Dirman menghentikan aktivitasnya sejenak, “Sudah dong. Bahkan edisi hard cover juga ada.”

Dengan gembira Riri membuntuti Pak Dirman menuju rak buku-buku baru. Wajahnya terus semringah. Akhirnya ia bisa mendapatkan novel karya Anton Chekhov yang dicarinya.

“Buku-buku penulis Rusia lainnya, di sini juga baru tersedia. Mau?”

“Siapa aja, Pak?”

“Ada Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky…”

“Itu sudah saya baca, Pak. Tinggal Anton Chekhov saja yang belum ini,” tutur Riri lalu memberikan uangnya kepada Pak Dirman.

Riri memang pembaca yang rajin. Apa pun bukunya, asal menarik selalu dilahapnya. Tak terhitung jumlahnya. Ada yang berupa novel, kumpulan cerpen, sampai komik-komik.

Teman-temannya banyak yang menganggap Riri aneh. Ia lebih sering ke perpustakaan daripada kantin, atau lapangan untuk berolahraga.

Stefani dan Nadya di antara teman-teman Riri yang menjauhinya. Keduanya tidak pernah mengajaknya bermain atau berkumpul bersama. Tak sedikit pula yang mengejeknya. Mereka menganggap Riri sombong dan sok pinter. Padahal Riri sama sekali tidak ada niatan dan maksud seperti itu.

“Eh ada kutu buku lewat,” ejek Stefani.

“Huush, bukan kutu buku tapi ulat buku, hahaha!” Nadya menimpali.

Riri yang hendak menuju perpustakaan hanya tersenyum tak menggubris jauh ejekan itu.

Namun, usai ujian sekolah ada sebuah peristiwa mencengangkan. Semua salut dan kagum kepada Riri. Bukan karena hasil ujian Riri paling bagus. Tetapi ada kabar gembira yang disampaikan kepala sekolah tentang prestasi Riri secara sembunyi-sembunyi tidak banyak diketahui orang.

“Anak-anakku sekalian,” Bu Lina memulai sambutannya sebagai kepala sekolah di depan seluruh siswa, “Ada beberapa hal yang ingin Ibu sampaikan. Akhir-akhir ini, sekolah kita menjadi sorotan banyak media, baik media cetak, elektronik, maupun online.”

Para siswa yang mendengarkannya tak sabar, apa yang sebenarnya akan diungkapkan Ibu Lina. Tak hanya mereka, para guru juga demikian. Mereka juga belum tahu apakah ini terkait kabar baik atau buruk.

“Berkat salah satu dari kalian, sekolah ini menjadi harum,” Bu Lina melanjutkan.

Semua yang mendengarnya merasa ikut bahagia ternyata berita baik. Suara kegembiraan bersahutan, begitu pula tepuk tangan.

“Atas nama kepala sekolah dan secara pribadi, ibu mengucapkan terima kasih banyak dan sangat apresiasi apa yang telah dilakukannya.  Sungguh ini langkah yang sangat luar biasa. Bisa menjadi contoh tauladan bagi yang lain.”

Para siswa tampak panik dan bertanya-tanya. Mereka belum tahu siapa yang dimaksud Bu Lina. Satu sama lain saling pandang. Jangan-jangan yang dimaksud adalah dirinya atau temannya. Tak terkecuali Stefani dan Nadya.

“Yang ibu maksud adalah…. RIRI!”

Semuanya terdiam. Apa prestasi Riri? Bukankah dia hanya kutu buku?

“Karena diam-diam Riri yang kita kenal sebagai siswi yang mencintai buku, ia sering menulis dan bahkan bukunya diterbitkan oleh banyak penerbit.”

Lalu Ibu Lina memanggil Riri untuk maju ke depan para siwa siswi. Riri melangkah dengan malu-malu. Beberapa temannya menggiringnya. Ketua kelasnya pun mendampingi sampai depan.

Dari kejauhan Pak Dirman juga menyimak. Dia meninggalkan toko bukunya yang tak jauh dari sekolahan demi menyaksikan Riri. Bibirnya merekah senyum penuh kebahagiaan.

Pulang sekolah, Pak Dirman sudah menunggu Riri di depan tokonya. Pak Dirman menjabat tangan Riri seraya mengucapkan selamat.

“Ini hadiah buat kamu,” Pak Dirman memberikan beberapa buku yang baru saja dirilis.

Riri sangat bahagia. Ia meneteskan air matanya. Lalu dengan penuh rasa terima kasih, ia merangkul Pak Dirman. Teman-teman yang lainnya hanya melihatnya haru. Mereka iri dan ingin seperti Riri, meski dijuluki kutu buku ia telah mengharumkan nama sekolah. –end

 

Jakarta, 11 November 2017

Post Comment