SAHABAT TERBAIK

Oleh: Aisha Fijannati Arief (Siswa Kelas Menulis IWEC)

       Pagi itu Syifa menangis di sekolah karena di-bully oleh Liliana dan Vaneesha. Kedua anak tersebut merupakan anak paling jahil di sekolah Syifa.

       Saat itu jadwal pelajaran matematika yang diajar oleh Miss Aurellia. Syifa begitu terganggu karena teman-temannya berisik sekali. Syifa tidak bisa mendengar dengan baik penjelasan Miss Aurellia. Tiba-tiba saja Miss Aurellia menyuruh anak-anak untuk menulis apa yang Miss Aurellia jelaskan tadi.

       “TEEENG! TEEENG!”

       Bel berbunyi dan semua murid diminta untuk mengumpulkan tugas pelajaran matematika. Semuanya mengumpulkan hasil pelajaran matematika yang baru saja dipelajari.

       Saat istirahat, teman-teman Syifa berhamburan keluar kelas, ada yang pergi ke perpustakaan, laboratorium, dan ada juga yang ke kantin. Sementara, Syifa, Lisha, dan Katia lebih memilih pergi ke kantin untuk membeli camilan.

       “Kamu mau beli apa?” tanya Lisha, namun Syifa hanya melamun sambil memikirkan nilai matematikanya tadi.

       “Hei, kamu mau beli apa?” tanya Katia untuk yang kedua kalinya, mengagetkan Syifa.

       “Apa? Aku mau beli apa?”

       “Iya kamu mau beli apa?” tanya Lisha lagi.

       “Aku mau beli Potabee.”

       “Emm… oke, aku mau beli Taro saja,”

       Syifa dan teman-temannya pun membeli camilan yang mereka inginkan dan memakannya di kantin. Setelah selesai, tak lama kemudian terdengar bel berbunyi. Semua murid segera memasuki kelas. Kali ini waktunya pelajaran bahasa Inggris bersama Miss Matilda, dan Syifa tidak terlalu menyukai mata pelajaran ini. Ia harus berbicara dalam bahasa Inggris tanpa boleh menggunakan bahasa Indonesia sedikit pun.

       Saat membuka pelajaran, Miss Matilda megatakan bahwa hari ini mereka akan membahas tentang pengalaman. Sesudah menjelaskan materi. Miss Matilda meminta murid-murid untuk menulis pengalaman mereka hari Minggu kemarin.

Syifa pun menulis seperti ini:
       Last week, i went to the beach with my family.  I swam, collected shells and made a sandcastle. I also drank coconut milk and ate fried rice. It was a beautiful moment.

       Setelah beberapa lama, bel pun berbunyi tanda pelajaran telah usai. Semua murid mengumpulkan hasil cerita pengalaman mereka, lalu bersiap-siap untuk pulang.

       Setelah berjalan keluar kelas, ternyata Syifa belum dijemput. Sementara kedua temannya, Lisha dan Katia sudah dijemput. Tinggal Liliana, Vaneesha, dan Syifa yang belum dijemput.

       “Bu guru, boleh kita main ke atas sama Syifa?” tanya Liliana saat menghampiri Miss Cyntia dan Syifa yang sedang berdiri di luar kelas.

       “Boleh, silahkan,” kata Miss Cyntia kemudian berlalu.

       Liliana pun beralih pada Syifa, “Ayo Syifa kita main,” ajaknya.

       “Bukannya kalian jahat sama aku?” tanya Syifa bingung melihat perubahan sikap kedua anak tersebut.

       “Sekarang kita baik kok,” ucap Vaneesha berusaha membela diri sambil tersenyum manis.

       “Baiklah,” kata Syifa.

       Mereka pun bermain congklak dengan gembira.

       “Eh sebentar, aku ada keperluan di tempat penyimpanan alat bersih-bersih dulu,” ucap Liliana tiba-tiba di tengah permainan.

       “Kita temani, ya?” tawar Vaneesha.

       “Boleh saja,” balas Liliana.

       Syifa, Liliana, dan Vaneesha pun berjalan menuju penyimpanan alat pembersih.

       “Kamu lihat nggak boneka itu?” ucap Liliana sambil menunjuk sebuah boneka yang ada di atas rak.

       Syifa mengangguk.

       “Bisa tolong ambilkan, tidak? kamu kan tinggi,” ucap Liliana kepada Syifa.

       Ketika Syifa sedang berusaha mengambil beoneka tersebut tiba-tiba pintu dikunci dari luar. Liliana dan Vaneesha sudah tidak ada di sana lagi.

       “Hei, Vaneesha buka pintunya! Kalian kenapa kok mengunci aku di sini?” teriak Syifa sambil menggedor-gedor pintu ruang penyimpanan alat pembersih.

       “Karena kamu anak paling pintar di sekolah ini, pastinya kamu punya ide dong untuk membuka pintu itu,” balas Vaneesha dengan nada setengah mengejek.

       “Kalian jahat! Hiks, hiks, hiks…”

       “Bye, Syifa,” kata Liliana sambil meninggalkan Syifa.

       Tanpa sengaja kunci yang ada pada saku Vaneesha jatuh di tangga. Liliana dan Vaneesha tidak menyadari bahwa kunci itu jatuh. Tidak lama setelah itu, seorang petugas cleaning service sedang melintas dan tanpa sengaja melihat ada kunci ruang alat pembersih di tangga, ia pun mengambilnya dan segera pergi.

       Saat petugas cleaning service membuka pintu ruang penyimpanan alat kebersihan, betapa kagetnya ia melihat ada seorang gadis kecil yang sedang duduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu.

       “Kamu sedang apa di sini, Dik?” tanya petugas cleaning service itu.

       “A….a….ku di..di…kunci oleh Vaneesha dan Liliana,” kata Syifa sambil menangis.

       “Tidak apa-apa jangan menangis,” kata Kristillia sambil menenangkan Syifa.

       Setelah tenang, Syifa pun keluar menuruni tangga dan menemui Miss Cyntia.

       “Loh, Syifa kok lama sekali di atas? Kamu sudah dijemput daritadi,” kata Miss Cyntia menunjuk kearah seorang perempuan yang tengah duduk.

       Syifa pun menghampiri perempuan yang ditunjuk oleh Miss Cyntia.

       “Kak Angel sudah lama menunggu ya?” tanya Syifa.

       “Iya, Syifa. Kamu ngapain aja sih, kok lama banget?” tanya Kak Angel.

       “Nanti aku ceritain deh Kak Angel, kita langsung pulang aja ya?!”

       Syifa dan kakaknya pun segera naik ke motor berwarna oranye kekuning-kuningan yang terparkir tidak jauh dari mereka. Namun, ketika di tengah perjalanan motor yang mereka tumpangi mogok. Jadi terpaksa mereka pulang dengan berjalan kaki dambil mendorong motor.

***

       Sesampainya di rumah, Syifa segera berganti baju. Ia memakai kaos berwarna biru terang dengn gambar kucing di tengah-tengah. Tiba-tiba saja kak Angel masuk tanpa mengetuk pintu. Ia membawa buku catatan miliknya yang bergambar kelinci dengan pita berwarna merah muda menghiasi sampulnya, serta pulpen bergambar Unicorn dan pelangi.

       “Sekarang ceritakan kamu tadi ngapain?” tanya Angel begitu duduk di atas ranjang Syifa.

       “Tadi aku dikunci di ruang alat pembersih oleh Liliana dan Vaneesha,” kata Syifa sambil membaca novel KKPK yang berjudul The Smart Girl.

       “Kamu dikerjai sama Liliana dan Vaneesha?” tanya Angel, ia pun segera beranjak turun menuju lantai bawah dan menceritakan hal itu kepada ibu.

       Karena merasa tidak terima dengan kejadian yang dialami oleh Syifa, ibu pun segera melaporkan kejadian tersebut kepada Miss Katy, kepala sekolah Syifa.

       Keesokan harinya, Syifa berangkat ke sekolah bersama sahabatnya, Mia, dengan menaiki sepeda. Ia telah melupakan kejadian kemarin, dan memutuskan untuk memaafkan Liliana dan Vaneesha. Tidak ada gunanya menyimpan dendam dan membalas perbuatan mereka. 

       Sepeda dikayuh pelan. Angin pagi berembus sejuk seolah menyapa kedua sahabat itu. burung-burung berkicau dengan merdunya, membuat Syifa bahagia. Ia begitu menikmati pemandangan alamnya di kala pagi hari.

       Sesampainya di sekolah, Syifa dan Mia berpapasan dengan Miss Katy.

       “Hai anak-anak, apa kabar?” sapa Miss Katy.

       “Baik, Miss,” jawab Syifa dan Mia berbarengan.

       Setelah itu mereka pun bergegas menuju kelas masing-masing. Syifa dan Mia berada di kelas berbeda. Syifa di kelas 6B, dan Mia di kelas 6A. Di kelas, Syifa bertemu dengan Sofia yang sedang membaca novel berjudul Ghost Dormitory.

       “Hai, Sofia,” sapa Syifa kepada Sofia namun tidak mendapat balasan dari Sofia. “Sofiaaaaa…” bisik Syifa ke telinga Sofia tiba-tiba.

       Sofia pun melihat ke arah Syifa dengan tatapan terkejut, “Aaaggghh, Syifa kamu ini,” teriak Sofia.

       “Hehehe, maaf deh,” kata Syifa sambil tertawa.

       “Itu gak lucu. Kamu itu nakutin aku!” kata Sofia kesal.

       Karena kejadian itu, hubungan Syifa dan Sofia memburuk. Hingga Pelajaran pertama pun dimulai. Kebetulan sekali Syifa satu kelompok dengan Sofia, Lisha, dan Alina.

       “Anak-anak, hari ini kita kerja kelompok. Tugasnya adalah menggambar aktivitas kelompok masing-masing. Yang memenangkan perlombaan ini akan mendapatkan hadiah peralatan menulis,” terang Miss Katy di depan kelas.

       Anak-anak mengangguk. Tetapi Syifa dan Sofia kelihatan saling kesal satu sama lain. Lisha dan Sofia mendapat bagian menggambar, sementara Syifa dan Alina bertugas mencari ide.

       “Bagaimana jika menggambar saat kita sedang berpesta?” ucap Syifa mengungkapkan idenya.

       “Baiklah Syifa, ide yang bagus,” kata Lisha.

       Lisha dan Sofia pun mulai menggambar sketsa ynag menggambarkan seolah mereka sedang berpesta dengan suasana yang meriah. Di dalam gambar itu, tampak mereka begitu senang. Alina digambarkan seolah sedang memegang balon, Syifa sedang memakan kue berwarna pink, Lisha dan Sofia sedang memainkan sebuah terompet.

       “Bagaimana gambarnya bagus tidak?” tanya Sofia kepada Lisha dan Alina.

       “Biasa-biasa aja jangan sombong,” kata Syifa ketus.

       “Orang nggak nanya sama kamu,” balas Sofia sambil menjulurkan lidahnya.

       “Aku cuma ngasih tahu,” kata Syifa.

       “Hust… sudah ah, jangan rebut terus” ucap Lisha berusaha menghentikan pertengkaran antara Syifa dan Sofia.

       “Bagus kok gambarnya,” puji Lisha.

       Mereka pun mengumpulkan hasil karya kelompok mereka. Miss Katy melihatnya sambil tersenyum. Setelah kelompok Syifa selesai, kelompok Nindya pun juga selesai, kemudian disusul kelompok William, dan terakhir kelompok Ryan.

       “Aku tahu kelompok kita akan menang,” ucap Nindya kepada kelompoknya.

       “Kita pasti akan menang teman-teman,” kata William kepada teman sekelompoknya.

       Saat mereka sedang tegang menunggu hasil kerja kelompokny, tiba-tiba bel berbunyi dengan nyaring, tanda kegiatan belajar mengajar berakhir.

       TEEENG!TEEENG!

       Saat semua teman-teman sudah keluar kelas, Syifa menghampiri Sofia.

       “Sofia aku minta maaf ya,” ucap Syifa seraya mengulurkan tangannya.

       Sofia pun membalas jabatan tangan Syifa. Mereka berdua pun keluar kelas bersama-sama, saling melempar senyum.

       ~Dengan memaafkan, hidup akan terasa lebih indah. Seperti yang dilakukan oleh Syifa terhadap Vaneesha dan  Liliana, ia memaafkan kedua temannya itu meski mereka sudah bertindak jahat kepadanya. Selain itu, minta maaf juga bukan hal yang  memalukan, justru dengan meminta maaf kita bisa memperbaiki keadaan. Seandainya Syifa tidak meminta maaf kepada Sofia, entah sampai kapan mereka akan saling bersikap dingin.~

*END*

 

Share This: