Sang Penyihir di Panggung

 

Oleh: Zaidan (Siswa Kelas Menulis IWEC)

            Pada sore yang tenang itu, Danu sedang duduk di atas kasurnya. Sinar matahari menembus jendela kamarnya, menyirami Danu yang bersandar ke dinding dengan cahaya yang lembut. Ia bukan sedang melamun, tapi membaca. Bukan membaca buku pelajaran, tapi buku cerita. Cerita apakah itu? Itu adalah sebuah cerita tentang penyihir, tepatnya Harry Potter. Ia tidak pernah menghabiskan sorenya di rumah belajar. Melainkan, ia senang membaca buku-buku cerita dan bermimpi, yang biasa ia lakukan sambil mendengarkan lagu-lagu jazz tua.

            Setiap kali membaca sebuah cerita, ia seakan tenggelam di dalamnya. Seolah-olah seluruh dunia di sekitarnya telah berubah menjadi dunia yang berada di dalam bukunya. Matanya melotot dan napasnya tertahan saat dia membaca tentang sebuah pertempuran hebat, yang seakan-akan terjadi tepat di depan matanya.

            “Danu, ayo turun sini!” panggil ibu danu.

            Danu menghela napas, dan dengan kecewa menutup bukunya. Ia turun dari kasurnya dan berjalan keluar kamarnya. Sebelum membuka pintunya, Danu berhenti sejenak di depan cermin sambil memandanginya. Ia berwajah persegi, berambut hitam, dan berkacamata.

            Bukan suatu hal yang aneh bila ia sering membayangkan dirinya seperti Harry Potter, seorang penyihir hebat yang menguasai banyak mantra, bepergian kesana-kemari menggunakan sapu terbang dan jalur perapian. Ia sering membayangkan mantra-mantra hebat yang dikuasai oleh Harry, dan betapa hidupnya akan menjadi jauh lebih mudah bila ia menguasainya. Ia tidak perlu menghabiskan 12 tahun belajar di sekolah, ia bisa mendapatkan uang dengan menjadi dokter sihir, atau memperbaiki barang-barang langka, atau melakukan atraksi-atraksi hebat seperti seorang penampil di sirkus.

            Ia menuruni tangga dan menemui ibunya dan kakaknya, Ardian, di ruang makan. Ardian sedang mengambil piring untuk mereka bertiga, ditambah ayah, yang belum pulang. Ibu membawa sebuah piring besar berisi udang goreng, yang kemudian diletakkannya di meja makan. Danu mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi dan udang, kemudian meletakkannya di meja makan dan duduk di salah satu kursi. Kemudian ia membuka bukunya yang telah dibawanya turun bersamanya.

            Sekali lagi, ia masuk ke dunia bukunya, tanpa memedulikan dunia sekitarnya. Namun, ibunya segera memanggilnya lagi.

            “Danu, sudah bacanya, ayo makan.”

            “Yah, ibu, ini lagi seru nih ceritanya.”

            “Udah, nanti lagi aja bacanya, sekarang makan dulu.”

            Dengan berat hati, Danu meletakkan bukunya di meja. Ia dan keluarganya makan dalam diam. Semuanya sibuk dengan makanannya masing-masing, hingga Ardian bertanya kepada Danu, “Dan, kenapa sih, kamu suka banget sama buku itu? Bukan cuma Harry Potter lho, tapi semua cerita sihir yang suka kamu baca. Memangnya, kamu mau jadi penyihir?” ujar Ardian.

            “Ya enggaklah kak. Aku kan suka cerita itu soalnya keren, udah, itu aja. Lagian, sihir kan enggak ada,” jawab Danu.

            “Tapi, kalau sihir beneran ada, terus dibolehin, kamu mau jadi penyihir?”

            Danu diam saja, berusaha memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu.

            “Kalau mau sih, mau kak. Tapi kan, ngelanggar hukum alam. Terus, sama Tuhan ga boleh. Masa mau ngelawan?”

            Ardian mengendikkan bahunya, dan kembali kepada makanannya.

            Malam itu, Danu menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Tidak terasa, sudah hampir waktunya tidur baginya.

            “Danu, sedikit lagi jam 10, siap-siap tidur Dan!” panggil ibunya.

            “Iya Bu,” jawab Danu, yang masih dengan santai menonton TV.

            “PR mu sudah selesai belum?” tanya ibu.

            “Belum, habis ini aku kerjakan kok!” Tapi Danu tetap menonton TV, hingga ia ketiduran.

***

            Keesokan harinya, Danu duduk melamun saat pelajaran IPS, seperti yang biasa ia lakukan di sekolah. Semua murid di kelas asyik mengobrol dengan satu sama lain, sementara Danu menyendiri. Tak lama kemudian, guru mereka, Bu Marni, masuk ke dalam kelas. Semua murid segera diam dan memperhatikan Bu Marni.

            “Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu Marni.

            “Selamat pagi Bu Marni,” semua murid menjawabnya.

            “Kalian sudah mengerjakan PR?” Tanya Bu Marni dengan tegas.

            Semua murid merogoh tas mereka dan mengeluarkan PR yang ditugaskan oleh Bu Marni. Kecuali Danu. Matanya melotot dan mukanya khawatir. Ia melihat ke dalam tasnya, dan menemukan PRnya yang masih kosong sama sekali.

            “Danu, PRmu mana?” tanya Bu Marni.

            Dengan takut-takut, Danu melihat ke arah Bu Marni. Ketika ia akhirnya bertatapan mata, perlahan ia menjawab, “Lupa, Bu!”

            Bu Marni hanya menggelengkan kepala dan menunduk.

            Danu merasa tertekan setelah kejadian itu, ia cemberut dan tidak tertawa lagi, tidak berbicara dengan teman-temannya, dan merasa bahwa ia melakukan kesalahan besar. Hingga waktunya pelajaran musik. Banyak rumor tentang seorang guru baru, semua murid membicarakannya, tapi tidak mengetahui siapa atau pelajaran apa yang akan diajarkan sang guru baru. Ketika Danu dan teman-temannya masuk ke musik, mereka menemukan sang guru baru bersandar ke dinding.

            “Halo anak-anak, kelas 1C kan?” tanya sang guru, seorang pria berumur 30an dengan janggut lebat.

            “Iya pak,” jawab Omar, ketua kelas 1C.

            “Bagus, berarti jadwal saya benar. Ayo, silahkan duduk.”

            Ruang musik adalah ruangan paling besar di sekolah itu. Ruangannya berbentuk persegi, dan tidak ada bangku dan meja di dalamnya, melainkan beragam alat musik, dari gitar hingga piano hingga drum elektrik. Karena lantai di sini digunakan untuk duduk, maka lantainya pun paling bersih di sekolah.

            Para murid duduk dan mulai mengobrol sementara sang guru menyiapkan kertas laporannya, yang dibawa setiap guru untuk mencatat perilaku dan nilai harian murid.

            Ketika guru tersebut selesai menyiapkan kertasnya, ia berhenti dan hanya memperhatikan para murid. Anak-anak tersebut menyadari bahwa sesuatu menghilang, dan bahwa sang guru terdiam. Lantas, mereka pun segera ikut diam.

            “Pertama, saya mau bertanya dulu. Adakah di sini yang tidak mau belajar? Karena saya tidak mau membuang-buang waktu mengajar murid yang tidak mau belajar,” ujar sang guru.

            Mereka semua saling memandang satu sama lain, dan tak satu pun mengangkat tangan, kecuali Danu. Sang guru melihatnya, lalu memintanya maju ke depan. Danu hanya melihat ke teman di sebelahnya, lalu gurunya memanggilnya lagi. Perlahan-lahan, Danu berdiri dan mulai berjalan ke piano yang sekaligus menjadi meja guru di sudut ruangan.

            Ketika ia tiba, sang guru memegang pundaknya dan bertanya, “Namamu siapa?”

            “Danu, pak,” jawab Danu.

            “Nah Danu, saya Pak Firzi. Kenapa kamu enggak mau ikut pelajaran?”

            Danu yang tadinya menunduk, perlahan melihat ke sang guru, “Nilai musik saya enggak pernah bagus pak.  Yah, nilai apa saja sih. Lagi pula, pelajaran musik bikin bosen, ujung-ujungnya Cuma nyanyi paduan suara lagu daerah atau lagu anak.”

            Pak Firzi tersenyum dan mengangguk, lalu berkata, “Enggak apa-apa kok, karena musik itu bukan hanya paduan suara. Musik itu, adalah membuat melodi dengan suara apapun yang kita miliki. Bahkan bertepuk tangan saja, musik menjadi musik.” Ia melihat kepada seluruh murid, dan berkata, “Bagi siapapun yang ingin belajar alat musik atau bernyanyi, silahkan datang ke saya.”

            Danu kembali bergabung diantara kerumunan teman-temannya, namun tidak duduk, karena Pak Firzi baru saja mengajak para murid untuk berdiri.

            “Nah, sekarang siapa yang ingin mengajukan diri untuk bernyanyi?” tanya Pak Firzi.

            Beberapa anak mengangkat tangan, salah satunya adalah Danu. Bersama-sama, mereka pergi berjajar di depan para murid, dengan Pak Firzi di sisi mereka.

            “Baiklah, sekarang kita coba bernyanyi yang mudah dulu. Semuanya tahu Celengan Rindu?”

            Mereka semua mengiyakannya, dan beberapa yang sudah menghafalnya, tersenyum. Kemudian, dengan aba-aba dari Pak Firzi, para murid yang berjajar tersebut mulai bernyanyi. Awalnya, suara mereka semua terdengar biasa saja, namun Pak Firzi mulai menyadari bahwa salah satu dari mereka terdengar lebih baik. Beliau pun mulai memperhatikan Danu.

            Pak Firzi membatin, “Anak ini…” 

            Setelah pelajaran musik berakhir, para murid beranjak pergi. Tapi, Pak Firzi memanggil Danu.

            Danu mendatangi Pak Firzi, lalu bertanya, “Kenapa Pak? Saya enggak lupa ngerjain PR, kan?”

            “Enggak kok, Bapak cuma mau bertanya, tadi Bapak mengajarnya bagaimana?” ujar Pak Firzi. Danu menghembuskan napas dan wajahnya kembali cerah lagi.

            “Keren kok, Pak! Baru kali ini saya senang belajar musik.”

            “Alhamdulillah. Eh, kamu di rumah suka mendengarkan musik enggak?”

            “Iya pak, biasanya sih sambil baca buku.”

            “Baguslah. Nah, bapak punya proyek buat kamu. Mulai sekarang, kamu ikut nyanyi sambil dengerin musik. Kamu itu punya potensi Dan, kalau dikembangkan, bisa bermanfaat.”

            Danu dengan kaget menatap Pak Firzi, “Beneran pak?” ujarnya tak percaya.

            “Iya lho. Sekarang sih, belum terlalu, tapi namanya potensi, harus dilatih.”

            Senyum Danu semakin lebar.

            “Kalau kamu butuh bantuan apa saja tentang musik, datang saja ke bapak. Bapak dengan senang hati akan membantumu meraih kemampuan menyanyimu.”

***

            Danu tiba di rumahnya dengan senyum di mukanya, yang segera hilang ketika ia melihat ibunya yang cemberut.

            “Danu, tadi Bu Marni menelepon, katanya kamu lupa mengerjakan PR lagi.”

            Danu perlahan menunduk dan bersiap menerima omelan.

            “Tadi malam kamu bilang apa?”

            “Sebelum tidur, aku kerjakan PRnya.”

            “Nah tapi enggak kan?” Danu diam saja. “Ini kebiasaanmu, selalu saja melamun, berkhayal, bermain, tapi PR telat.Kalau kamu terus begini, nanti waktu sudah besar, kamu jadi pengangguran. Enggak ada pekerjaan yang merekut pemalas. Cita-citamu apa sih?”

            Perlahan, Danu membuka mulutnya, tapi kemudian menutupnya lagi.

            “Sampai kamu menemukan cita-cita atau impian selain fantasi, kamu enggak boleh main HP!” kata ibu dengan tegas sambil berjalan pergi.

            Danu pergi tidur malam itu sambil melamun. Tapi kali ini bukan berkhayal, tapi berpikir keras tentang cita-citanya. Setelah berpikir lama tanpa ujung, ia akhirnya tertidur dengan mata setengah berkaca-kaca.

***

            Keesokan harinya, Danu mendatangi Pak Firzi lagi saat istirahat. Pak Firzi, yang saat itu sedang bermain piano di ruang musik, sedikit terkejut saat melihat bahwa orang yang mengetuk pintu ruang musik adalah Danu.

            “Pak Firzi, saya mau minta bantuan ke bapak,” ucap Danu dengan tidak bersemangat.

            “Iya Danu, silahkan,” jawab guru musik tersebut.

            Pak Firzi, layaknya seorang guru yang baik, menyadari bahwa muridnya tidak dalam kondisi yang baik. Ia pun bertanya, “Danu, kamu kenapa? Kok sedih begitu mukamu?”

             “Ini Pak, saya bingung cita-cita saya apa,” jawab Danu tanpa melihat gurunya. “Saya selama ini hanya bermimpi saja setiap hari, tapi enggak tahu mau menjadi apa saat sudah besar.”

            “Ooh, begitu. Begini Danu, apa yang paling suka kamu lakukan di rumah setiap hari?”

            “Eeh, saya, di rumah biasanya melamun aja pak. Oh iya, saya juga suka membaca buku.”

            “Buku kesukaan kamu apa Dan?”

            “Yang temanya sihir pak.”

            Pak Firzi kemudian mengangguk, “Ooh, iya, kamu pasti melamun itu membayangkan dirimu melakukan sihir kan? Enggak apa-apa kok, banyak orang yang begitu. Orang-orang seperti itu adalah orang yang berimajinasi hebat dan berpotensi besar.Nah, kamu sadar enggak, kalau musik itu seperti sihir?”

            Anak itu melihat ke arah gurunya dengan heran, lalu bertanya apa maksudnya.

            “Begini, kamu pernah enggak, dengar suatu musik atau lagu, lalu kamu merasakan suatu perasaan yang unik, atau teringat suatu kenangan lama? Hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sebuah alunan irama dan kata-kata mutiara?”

            Danu berpikir, lalu mengingat sebuah acara televisi yang sering ia tonton saat masih kecil. Sebuah acara animasi tentang anak-anak seumurnya yang bersama-sama melawan seorang penyihir jahat. Acara itu memiliki lagu pembuka yang tiada duanya, dan setiap kali ia mendengarnya, ia teringat akan semua kebahagiaannya saat menonton acara itu sembilan tahun yang lalu. Kemudian ia teringat akan musik klasik yang sangat indah, namun ia tidak pernah tahu namanya. Setiap mendengarnya, ia merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan kelegaan, seolah seluruh masalahnya terangkat dan hidupnya tanpa kesulitan.

            “Iya pak, sering saya begitu. Kalau dengar lagu-lagu tertentu, saya jadi senang atau tenang, serasa berada di suatu tempat, jauh dari semua orang dan semua masalah. Kalau lagu yang lainnya, saya jadi sedih, atau malah, kadang-kadangmerasa bersalah. Lagu-lagu seperti itu mengingatkan saya akan berbagai kesalahan-kesalahan yang sering saya lakukan kepada orang lain. Lalu, kesalahan-kesalahan tersebut tidak bisa diperbaiki, karena sudah terlambat untuk melakukannya.”

            “Nah, banyak orang yang seperti itu nak. Karena kemampuan dan sifat seperti itulah, musikdisebut bisa meyihir seseorang. Kalau kamu ingin menyihir seperti di buku-buku ceritamu, maka musik adalah jawabannya. Dengan kekuatan seperti itu, kau bisa mengubah dan mengendalikan perasaan dan pemikiran ratusan orang, jika dilakukan dengan benar.”

            Kata-kata tersebut membuat Danu tersadar bahwa perkataan Pak Firzi benar. Bahwa selama ini ia memimpikan sihir, padahal mimpinya bisa diwujudkan oleh hal yang ia sukai juga.

            Ibu Danu yang sedang duduk di meja makan sambil termangu, berbicara kepada dirinya sendiri, mengkhawatirkan anaknya, seakan anak itu sudah dipastikan tak memiliki masa depan, ketika Danu yang baru saja memasuki rumah memanggilnya dengan tergesa-gesa. Ia seakan-akan melompat-lompat kegirangan ketika ia mendatangi ibunya.

            “Ibu, aku sudah tahu mimpiku apa!”

            Ibu Danu berbalik dan melihat anaknya yang tersenyum lebar.

            Danu berkata, “Kata guru musik, Danu punya bakat jadi penyanyi bu.”

          “Terus kamu mau jadi penyanyi?” tanya ibunya dengan putus asa.

            Selama beberapa saat, Danu berpikir tentang lagu-lagu kesukaannya yang selalu ia dengarkan setiap hari, dan bagaimana ia tidak pernah sukses dalam pelajaran-pelajaran sekolahnya.

            “Iya Bu! Aku serius kok. Nanti aku belajarnya rajin! Latihan di rumah juga!”

            “Tapi kamu harus benar-benar rajin belajar, bukan hanya berencana. Latihan, usaha, belajar menjadi penyanyi! Kalau perlu, ibu masukin kursus, atau memanggil guru ke rumah. Tapi, kamu harus serius belajarnya.”

            Danu melihat ibunya dengan senyum  dan tatapan yang yakin, kemudian Danu berkata, “Siap!”

***

            “Yak, dan sekarang, penampilan pertama kita di pentas tahunan ini! Danu!” sang MC memperkenalkan penampil tersebut ke para penonton.

            Ruang aula itu merupakan sebuah ruangan yang luas dan megah. Dindingnya krem dan begitu pula langit-langitnya, sedangkan lantai dilapisi oleh karpet merah yang saking luasnya, karpet itu seakan-akan mampu menutupi sebuah pantai. Kursi-kursi para penonton memenuhi setengah ruangan itu, dan mereka semua penuh sesak oleh orang-orang yang tak sabar ingin menonton pertunjukan. Panggung ruangan itu lebih jauh lebih besar daripada ruang musik di sekolah Danu, dan terbuat dari kayu yang kokoh, sehingga panggung itu bisa bertahan dari penampilan apapun yang dilakukan di atasnya.

            Kemudian, dari balik tirai panggung, muncullah anak tersebut, setahun lebih tua dibanding pertama kalinya ia belajar bernyanyi. Mengenakan pakaian rapi, ia berjalan ke depan mikrofon. Danu mengetuk mikrofon itu, lalu membuka mulutnya.

            “Mulai.”

            Di belakangnya, sekelompok anak-anak dengan alat musik mulai bermain. Sang gitaris dan pemain drum, terutama.

                           “Aku kesal dengan jarak, yang selalu memisahkan kita.

                           Hingga aku hanya bisa, berbincang denganmu di Whatsapp.

                           Aku kesal dengan waktu, yang tak pernah behenti bergerak.

                          Barang sejenak, agar kubisa menikmati tawamu.”

            Para penonton terdiam melihat Danu. Di wajah mereka, terpampang kekecewaan dan kebosanan sehari-hari. Namun, Danu yang terus bernyanyi telah sampai di tengah lagu, di mana di antara para penonton mulai muncul senyum dan ketertarikan. Beberapa mulai berbicara dengan orang disampingnya, membicarakan penampilan anak itu. Ibu, ayah, dan kakaknya menonton di kursi terdepan, dan Pak Firzi dengan bangga tersenyum di sisi panggung.

            Ketika Danu selesai bernyanyi, para penonton seakan diam tersihir. Suara tepuk tangan membahana. Keluarganya dan Pak Firzi memberikan tepuk tangan yang paling meriah. Senyum para penonton membuat Danu terharu, dan ia merasakan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

            “Danu telah berhasil,” batin Pak Firzi “Memang suaranya belum sempurna, tapi tetap saja, nyanyian itu lebih dari cukup.”

            Selama satu tahun, Danu berlatih bernyanyi bersamanya, dan kegigihannya telah membawa hasil.Ia telah berjuang tanpa lelah demi meraih mimpinya, dan pria itu menikmati setiap detiknya. Masih panjang jalan yang perlu ditempuhnya, tapi ia telah memulai perjalanan itu. Dengan suaranya dan kerja kerasnya, Danu akan membuat sihir, seperti mimpinya.

***

Share This: