Study Hard vs Study Smart

Oleh: Maylia Erna Sutarto, pendiri IWEC
Dalam babak penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, masyarakat kita masih menekankan kepada anak-anak bahwa sistem belajar yang baik adalah tekun belajar. Saya menangkapnya sebagai bagian dari rutinitas yang harus dilewati semua anak yang menyandang status sebagai siswa. Padahal, menurut saya, belajar itu sederhana saja.
Anggapan saya mengenai belajar itu sederhana berdasarkan pengalaman hidup hampir seluruh orang di dunia. Pendidikan bukan hanya bisa dienyam melalui sekolah. Pendidikan adalah kebutuhan yang mesti kita penuhi sepanjang hidup. Kenyataannya, kita lebih banyak belajar secara informal atau bahkan otodidak dibanding belajar dengan secara formal.
Kepekaan dan pemahaman yang benar merupakan arahan yang harus diberikan kepada pembelajar. Percuma saja kita menghabiskan banyak bab pada tiap pelajaran selama 12 tahun, tetapi tidak mengerti satu pun apa yang terkandung di dalamnya.
Study hard atau belajar keras menjadi semacam petunjuk agar siswa berusaha menyimpan ke otak semua informasi dari bab ke bab demi mencapai sebuah hal. Hal tersebut bisa berupa nilai atau kertas kelulusan. Padahal, itu justru melupakan esensi dari belajar. Bahwa kita mampu menyerap sebuah pemahaman sehingga kita dapat mengaplikasikan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan di masa depan pun bisa dicarikan pemecahannya.
Banyak siswa yang mencapai nilai tertentu dari hasil study hard tersebut. Tetapi, apa yang didapat? Mereka tidak memiliki kemampuan memahami bagaimana ilmu itu dapat diterapkan dan membantu mereka mewujudkan cita-cita mereka.
Berbeda dengan konsep study smart. Bagi saya, konsep ini memberikan ruang dan peluang bagi anak untuk memahami suatu hal dengan cara mereka. Contohnya, sebuah studi kasus yang diberikan pada beberapa kelompok. Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya dapat memikirkan solusi dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda dan cara tempuh yang berbeda. Dari sana mereka bisa mengukur efesiensi dan efektivitas dari langkah yang mereka ambil. Selain itu, mereka bisa menciptakan cara yang menyenangkan buat mereka sendiri tanpa perlu stres dini.
Study smart juga dapat menumbuhkan kreativitas pada anak. Ingat, setiap anak adalah unik. Dari proses ini kita dapat mengetahui motivasi dan gambaran harapan kehidupan mereka di masa depan.

Dari proses study smart ini, anak juga terlatih belajar mandiri. Mereka tidak mengandalkan informasi hanya dari satu informan, tetapi mereka akan mencari sumber lainnya. Sebab, ini dapat memberi arahan bagaimana mereka bisa menyeleksi cara belajar yang menyenangkan untuk mereka. Hal ini sekaligus membantu mereka dalam memecahkan persoalan.
Salah satu contohnya adalah seorang anak usia 7 tahun yang belajar memahami pengoperasian tambah, kurang, dan perkalian melalui sebuah sekuel drama. Dia mengajak sang kakak  berimajinasi membuat supermarket dan restoran. Ia membuat daftar menu dengan memberi ilustrasi pada masing-masing item disertai dengan harga. Banyak kasus yang dapat mereka coba di sini. Mulai dari seorang pembeli yang memiliki kembalian; pembeli yang membawa uang kurang; kasus ketika supermarket dan restoran membeli stok barang; dan sebagainya.
Banyak kasus yang dapat dipecahkan dengan menggunakan ketiga operasi matematika tersebut. Dan cara ini sangat menyenangkan bagi mereka. Mereka belajar berlagak sebagai pramusaji. Belajar berkomunikasi ala pemilik resto dengan pelanggan. Belajar menyimpulkan menu apa saja yang menjadi favorit pelanggan dan menjadi andalan restoran sehingga keuntungan bisa dimaksimalkan.
Itulah study smart. Anak-anak menentukan sendiri bagaimana cara mereka belajar agar mendapat pemahaman lebih mudah dan cepat.
Jadi, saya mengubah slogan study hard menjadi study smart untuk anak-anak saya yang menjalani proses belajar melalui pendidikan homeschooling.
Share This: