SUARA MISTERIUS

Oleh: Adzkia Anfaunnas

            Aku sedih karena ayah dan ibu memintaku untuk pindah sekolah ke sekolah asrama, padahal aku sangat mencintai sekolah lamaku.

            “Iriani, ayo cepat ayah sudah menunggu di mobil!” ucap ibu setengah berteriak.

            “Iya bentar lagi, Bu!” jawabku.

            “Ibu ke mobil duluan ya?!“ lanjut ibu, namun aku tidak menjawab karena sibuk menyiapkan perlengkapan untuk ke sekolah baruku.

            Setelah beres-beres aku segera menuju ke mobil. Ayah dan ibu sudah menunggu, kami pun segera berangkat. Satu jam kemudian kami sampai di sekolah baruku yang bernama sekolah asrama Gistona. Aku memandang sejenak asrama Gistona yang berdiri di depanku. Gedungnya  terlihat seperti bangunan yang sudah tua, namun masih beridiri kokoh. Setelah itu, mama mengajakku pergi ke kantor kepala sekolah.

            Saat di dalam ruang kepala sekolah, aku melihat name tag yang terpasang di baju kepala sekolah, bertuliskan Ms.Pugh. Ia melihatku lalu tersenyum, aku pun membalas senyumannya. Lalu aku memperkenalkan diri kepada Ms.Pugh. Setelah itu Ms.Pugh mengantarkanku ke kamar nomor empat belas. Setelah itu ia pamit untuk kembali ke ruangannya.

            Saat masuk ke dalam kamar asramaku, aku melihat dua anak perempuan sedang mengobrol. Aku menghampiri mereka dan memperkenalkan diriku.

            “Hai, namaku Iriani aku pindahan dari sekolah SMP Negeri 4,” ucapku memperkenalkan diri.

            “Namaku Cintya, salam kenal.“

            “Namaku Anne. Senang bertemu denganmu.”

            “Aku bawakan kopermu ya,” kata Cintya menawarkan bantuan kepadaku.

            “Istirahat saja Iriani, kamu pasti capek karena telah menempuh perjalanan jauh,” ucap Anne.

            Aku melihat kasur kosong, pasti itu untukku karena tidak ada barang siapa-siapa disitu. Aku langsung berbaring dan tidur terlelap.

            “Iriani, ayo bangun. Waktunya makan malam,” ucap Cintya membangunkanku.

            Aku segera bangun dan mencuci muka. Lalu kami bertiga pergi ke ruang makan. Di sana suasananya sangat ramai, banyak yang berebut makanan dan tempat duduk. Kami segera mengantre ke tempat pengambilan makanan. Aku menunggu dengan sabar meski perutku sudah bernyanyi, keroncongan.

            Beberapa menit kemudian akhirnya waktuku untuk mengambil makanan. Ada banyak sekali makanan yang disediakan dan semuanya sangat lezat. Setelah mengambil makanan, aku segera mencari kursi kosong dan duduk di sana. Di sebelahku ada seorang anak laki-laki, mukanya pucat sekali seperti tidak tidur semalaman. Aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan dia.

            “Hai, namaku Iriani. Namamu siapa?“ tanyaku.

            “Henry,” ia menjawab dengan singkat tanpa menoleh kepadaku. Dia sibuk dengan makanannya.

            Aku segera menghabiskan makanku lalu kembali ke kamar. Cintya dan Anne belum kembali karena masih belum selesai makan. Aku berjalan di lorong gelap, karena tidak ada lampu sama sekali. Saat hendak masuk ke kamar, aku mendengar suara seseorang bernyanyi. Suara itu sepertinya berasal dari kamar nomor tiga belas, tetapi kuhiraukan saja, mungkin itu hanya halusinasiku. Di dalam kamar, aku segera memainkan ponsel. Setelah beberapa saat, akhirnya Cintya dan Anne datang. Aku segera menceritakan suara nyanyian yang kudengar tadi dari kamar nomor tiga belas kepada mereka.

            “Kalian tahu, katanya dulu di kamar nomor tiga belas ada seorang murid perempuan yang cantik. Tetapi ia sering di-bully oleh teman-temanya karena dituduh telah membunuh guru. Padahal, faktanya tidak. Anak itu itu sangat pandai bernyanyi, hanya saja hidupnya berakhir dengan bunuh diri di dalam kamarnya itu. Setelah kejadian itu, tidak ada siswa yang berani masuk ke kamar itu,” cerita Cintya panjang lebar.

            “Bagaimana kalau besok kita kesana saja? siapa tahu ada sesuatu disana,” usulku.

            “Boleh” jawab Cintya mantap.

            “Aku tidak ikut ya.”

            “Dasar penakut,” ujar Cintya mengejek Anne.

            “Ayolah Anne, tidak seru kalau cuma berdua.” Aku mencoba merayu Anne.

            “Tapi kalau ketahuan bagaimana?” ujar Anne cemas.

            “Ya, jangan sampai ketahuan,” balasku.

            “Ya udah aku ikut, tapi kalau ada apa-apa aku tidak tanggung ya?”

            “Ok!” jawabku dan Cintya berbarengan.

            Keesokan harinya, pada hari minggu kami memutuskan untuk pergi ke kamar nomor tiga belas. Setelah bersiap-siap, kami langsung pergi ke kamar nomor tiga belas.

            “Teman teman aku takut,” kata Anne dengan suara bergetar.

            “Belum apa-apa sudah takut,” balasku sedikit mengejek.

            “Sudah jangan banyak omong,” kata Cintya membuat kami langsung terdiam. Suasana mendadak sunyi, membuat kami semakin merinding.

            “Gelap sekali.” Karena gelap, aku tidak bisa melihat dengan jelas.

            “Aku bawa senter kok,” kata Cintya lalu mengeluarkan senternya.

            “Eh itu sepertinya ada lorong,” kataku penasaran.

            “Emang itu lorong,” balas Anne.

            “Kita masuk yuk,” ajak Cintya. Namun Anne menolak untuk ikut.

            “Harus ikut dong,” kataku, Anne kemudian mengangguk setuju.

            Akhirnya kami memutuskan masuk ke dalam lorong yang ada di kamar nomor tiga belas. Disana, kami bertemu sesosok gadis cantik, mungkin itu adalah penunggu kamar kamar ini.

            “Tolong aku…” kata gadis cantik itu memelas. “Kalau tidak kalian akan aku bunuh,” lanjutnya tiba-tiba berubah menyeramkan.

            Bulu kudukku mulai berdiri. Aku semakin merinding mendengar suara gadis itu. Aku segera berlari tanpa memedulikan teman-teman. Aku lega karena sudah keluar dari kamar nomor tiga belas. Setelah itu aku melihat Cintya lari keluar kamar, tetapi tidak dengan Anne. Aku tidak melihat Anne.

            “Cintya, Anne mana?“ tanyaku.

            “Aku juga enggak tau,” balas Cintya.

            Aku tersentak kaget. “Jangan-jangan Anne terjebak di dalam dan dibunuh oleh hantu gadis itu?”

            “Sudah jangan dipikirin, nanti juga kembali.”

            “Dia sahabat kita. Bagaimana kalau penghuni asrama lain menuduh kita yang membunuh Anne gimana?” kataku khawatir.

            “Iya juga sih… Ya sudah kita bilang ke kepala sekolah.” Aku pun mengangguk.

            Aku dan Cintya pergi ke ruang kepala sekolah. Aku melihat Ms.Pugh sedang sibuk dengan lembaran-lemabaran kertas yang berserakan di mejanya.

            “Ada keperluan apa kalian ke sini?” tanya Ms.Pugh.

            “Begini Ms.pugh, tadi saya, Cintya dan Anne masuk ke kamar nomor tiga belas. Di sana kami menemukan sebuah lorong dan masuk ke sana. Saat di dalam lorong, kami bertemu sesosok gadis cantik. Dia meminta tolong kepada kami, dan mengancam akan membunuh kami jika kami menolak. Saya pun langsung lari mendengar ancaman gadis itu, Cintya juga berlari di belakang saya. Namun saat sudah berhasil keluar dari lorong tersebut, kami tidak menemukan Anne.” Aku menjelaskan panjang lebar kepada Ms.Pugh.

            “Oke, kalau begitu kita langsung kesana saj dan memeriksanyaa,” ajak Ms. Pugh. Akhirnya kami bertiga pergi ke lorong kamar nomor tiga belas. Saat tiba di sana, kami menemukan Henry sudah di depan kamar nomor tiga belas. Henry adalah murid laki-laki dari asrama laki-laki.

            “Henry, kenapa bisa ada di sini? Bukankah anak laki-laki dilarang masuk ke asrama cewek?” tanyaku.

            “Jangan pernah masuk ke kamar itu,” kata Henry menyeramkan. Aku lansung mendorong Henry dan masuk ke kamar. Cintya dan Ms.Pugh menyusulku. Di dalam lorong aku menemukan Anne tergeletak dan sudah tidak berdaya. Dia telah dibunuh oleh gadis itu. Aku dan Cinya membawa tubuh Anne keluar.

            “Pergilah ke alammu gadis cantik, tempatmu bukan di sini,” kataku lembut pada sosok gadis di depanku.

            Dengan tatapan sedih gadis itu mengangguk. Ia menundukkan kepalanya dan seketika itu juga ia menghilang dan tidak pernah menampakkan dirinya lagi.

*TAMAT*

Share This: