TANGLED

Oleh: Farah Fakhirah (Staf Pengajar Kelas Menulis IWEC)

            Tangan kita tak pernah sudi melepas satu sama lain, bukankah begitu?

            Dulu, sempat aku melepas genggaman tanganmu,  saat kau pertama kali masuk sekolah. Aku, sebagai kakak yang dititipi menjaga adiknya, buru-buru mengejarmu menuju gerbang SD-mu. Namun, kau sudah berlari sambil tertawa-tawa. Tangan kananmu mengenggam bantal kecil yang selalu kau bawa ke mana-mana, bahkan saat sekolah sekalipun. Bantal bersarung rajut yang dibuatkan oleh Kakak Pertama, yang membuatnya sebagai penjamin bahwa ia akan kembali ke rumah kita.

            “Jangan khawatir, aku sudah besar, tidak perlu kau jaga!” Kau berseru dengan riang, rok merahmu mengembang tertiup angin. Melihatmu begitu bahagia, aku pun sedikit lega. Aku melambaikan tangan kepadamu, lalu berlari menuju arah berlawanan, gerbang SMA-ku lima menit lagi akan tertutup.  Sedari tadi, aku begitu mengkhawatirkanmu, dan menunda masuk lebih dulu.

            Kekhawatiranku ada benarnya, ketika kujemput kau di gerbang SD siang itu, kulihat matamu tergenang air mata. Buru-buru aku menunduk, mensejajarkan mata kita. Aku tak bertanya, sebab di tangan kananmu telah kutemukan penyebab air mata itu mengalir deras: sarung bantal indah itu, berwarna merah muda dengan bunga-bunga tulip, telah rusak. Seseorang telah mengguntingnya, membuat robekan-robekan besar dan merusak rajutan itu.

            Aku murka. Dengan segera, kugendong dirimu yang masih menangis, tangan kecilmu terkalung pada leherku, rambutmu yang terkuncir dua kini basah, setengah karena keringat, setengah karena airmata. Aku memasuki lapangan sekolahmu, lalu dengan segera mencari ruang guru, tempat aku menuntut penjelasan atas apa yang terjadi dengan bantalmu.

            Mencari dengan hati-hati, sambil menenangkanmu yang masih tersedak tangismu, aku menemukan ruangan tersebut pada akhirnya. Pintunya kuketuk, lalu aku menurunkanmu. Kau segera bersembunyi di balik keliman rok-ku. Adikku yang manis takut pada guru.

            Aku mendengar pintu dibuka. Kulihat gurumu terkejut melihat kedatanganku, murid sekolah sebelah yang tersohor akan kenakalannya. Engkau masih bersembunyi di balik keliman rok-ku, lalu dengan malu-malu ikut denganku masuk ke ruang guru. Kita bertiga—kau, aku, dan gurumu—duduk di sofa biru tua di bagian depan ruang itu.

            “Lachesis Moirae, kakaknya Aisa. Boleh dipanggil Lala,” kuperkenalkan diri. Aku berbasa-basi sejenak, menunjukkan wajah manisku, mengulur dan mengira waktu.  Setelah gurumu menunjukkan keramahannya padaku, kutunjukkan bantal rajut manis itu, yang kini sobek tak berbentuk. Gurumu tak terkejut. “Ia sudah besar, tak seharusnya membawa bantal ke sekolah. Memang dirusak oleh kawan-kawannya, tapi kami pun tak mendukung perilakunya.”

            Aku tersenyum maklum, meminta maaf atas ketidaksopananmu, lalu mohon diri. Bisa saja aku meledak tadi, tapi gayaku adalah menunggu dan mengulur waktu. Tak sampai seminggu, kau kembali dengan membawa kabar padaku, bahwa guru itu telah dipecat; uang koperasi dikorupsinya habis.

            Ia seharusnya belajar berhitung dariku. Sebab menghitung dan mengukur adalah keahlianku.

***

            Kali kedua, kau yang menggenggam tanganku, erat.

            Aku telah jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan seperti klisenya cerita-cerita cinta di masa sekolah menengah, ia meninggalkanku. Ia menemuiku saat aku baru saja pulang dari mengunjungi Kakak Pertama, tanganku masih menggenggam bagasi yang penuh berisi cinderamata untuknya—dan untukmu.

            Mataku berbinar, karena saat aku turun dari pesawat, ia menyambutku. Namun begitu menghampirinya, perasaan tak enak menyergapku. Ia tak pernah menatap mataku, dan alih-alih menatap tanah, tangan kanannya menggaruk bagian belakang lehernya—pertanda kegugupannya.

            “Maaf, aku tak mencintaimu lagi.”

            Lima kata.

            Lima kata yang aku tahu, pasti akan datang pada akhirnya. Tidak mencegahku untuk bersedih. Tidak menghentikan aliran air mata di pipi kanan dan kiri saat aku pulang menaiki damri.

            Malam itu, kau genggam tanganku begitu eratnya, merasa betul penderitaanku. Aku, yang pandai mengukur dan menakar sekalipun, tak pernah menyangka lelaki itu akan meninggalkanku secepat ini. Kau pasti tahu, sebab kau yang selalu menggunting benang-benang yang merintangi hubungan.

            Dan sebab malam itu, kudengar maut menciuminya dalam bentuk kecelakaan beruntun.

            Genggaman tanganmu yang erat senada dengan hangatnya senyummu saat mengabarkan hal itu kepadaku.

***

            Kita mendengarnya bersama: decitan roda koper Kakak Pertama, Nona Moirae. 

            “Pulang juga dia,” ujarmu acuh tak acuh. Kau kini telah duduk di sekolah menengah atas, dan aku sendiri tengah meniti karir sebagai manejer keuangan.  Kita tak pernah tahu, apa yang dikerjakan Kakak Pertama. Kita hanya tahu ia merajut dan merajut, seperti orang tua.

            Kakak Pertama terduduk di sofa, raut wajahnya terlihat lelah dan menua. Sedikit lagi, kau bisa melihat ke dalam jiwanya—jiwa tua dengan senyuman tua dan tangan keriput pemintal benang. Jiwa yang sama dengan jiwa kita. Ia membuka kopernya, menampilkan benang-benang yang bermunculan, warna-warni kehidupan.

            “Saudariku, aku membutuhkan bantuan kalian.”

***

             Tangan kita tak pernah sudi melepas satu sama lain, bukankah begitu?

            Sebab di antara jari jemari kita, takdir berkelindan.

***

penafsiran bebas dari mitologi Yunani dan Romawi: Tiga Bersaudari Takdir.

Share This: