Tantangan Menulis Estafet

Oleh: Riska Rahayu (Staf Pengajar Menulis)

Mereka adalah Anin, Kiki dan Iza. Penghuni kelas remaja IWEC ini, hari Minggu kemarin (4/9) mencoba memenuhi tantangan saya sebagai pembimbing mereka di kelas, yaitu menulis cerita secara estafet.

“Estafet? Kayak lari aja, Kak?” celetuk Anin yang cenderung lebih aktif dan mudah mengungkapkan pendapat di kelas.

“Memang yang bisa estafet cuma lari aja? Makanya, ayo buktikan kalau menulis juga bisa dikerjakan secara estafet!” jawab saya
memanasi semangat mereka.

Sejenak mereka bertiga terdiam sambil meringis satu sama lain.

“Ceritanya tentang apa, kak?” tanya Iza yang usianya paling muda di kelas.

“Terserah. Kalian sepakati saja bertiga judulnya apa dan ceritanya bagaimana. Kira-kira ada ide enggak? Gimana menurut Kiki?” saya mencoba menghidupkan volume Kiki yang terbilang sangat pendiam di kelas. Meskipun pendiam, Kiki menyimpan potensi yang besar untuk menjadi penulis yang baik.

Kiki yang pemalu menggeliat, mencoba melenturkan beberapa ototnya yang mungkin sedikit kaku karena terlalu lama duduk terdiam sambil melanjutkan naskah keduanya di ujung ruangan, tempat favoritnya.

“Ayo, Ki, gabung ke sini. Kita nulis bareng-bareng ya!” Saya mengajak Kiki untuk duduk melingkar bersama kedua temannya.

Anin, Iza, dan Kiki sedang asyik merampungkan ceritaa estafet mereka.
Anin, Iza, dan Kiki sedang asyik merampungkan ceritaa estafet mereka.

Saya pura-pura lupa dengan pertanyaan Iza yang sebelumnya menanyakan cerita seperti apa yang akan mereka tulis. Saya langsung membagikan selembar kertas kosong kepada mereka begitu saja sambil tersenyum menyemangati mereka.

“Karena waktunya mepet, yuk langsung mulai. Terserah kalian deh mau bercerita tentang apa. Bebas saja.”

Tanpa menunggu terlalu lama, Anin langsung mulai mengisi kertas tersebut dengan tulisannya. Saya hanya mewanti kepada mereka agar menulis dengan rapi mengingat kertas yang mereka gunakan adalah kertas HVS tanpa garis.

Di luar dugaan, dalam waktu setengah jam mereka bertiga meminta lembar kosong kedua. Dan empat puluh menit berikutnya, mereka sudah memesan kepada saya kertas kosong untuk lembar ketiga. Karena waktu belajar mengajar sudah habis, bahkan molor hingga empat puluh menit lamanya, akhirnya saya meminta mereka untuk memikirkan bagaimana ending cerita mereka sekaligus membubuhkan judul yang menarik.

Hasilnya, cerita yang telah mereka tulis secara estafet bisa membentuk cerita yang cukup rapi, mengalir, dan enak untuk dibaca tanpa perlu mereka koordinasikan terlebih dahulu bagaimana jalan cerita yang akan mereka buat sebelumnya. Dan “Memet The Pede” saya pampang di mading IWEC hari itu juga. Mereka bertiga memandang karya mereka bangga (sambil meringis cekikikan).

Menulis bukan perkara pandai atau tidak. Menulis hanya perkara mau memulai dan mau membiasakan atau tidak.

Bagaimana dengan kalian?

Inilah cerita estafet yang berhasil dirampungkan oleh Anin, Iza, dan Kiki. Seru, ternyata!
Inilah cerita estafet yang berhasil dirampungkan oleh Anin, Iza, dan Kiki. Seru, ternyata!
Share This: