Terpukau dengan Pemahaman Diksi Kiki

Oleh: Lalu Abdul Fatah (Staf Pengajar IWEC)

Penulis mana yang tidak ingin karyanya dibaca oleh orang lain? Penulis mana yang tidak ingin karyanya dipahami? Penulis mana yang tidak ingin karyanya bisa menggerakkan pembaca, entah membuatnya tergelak, terharu, tercekat, atau terombang-ambing dalam badai perasaan?

Tentu saja tidak satu pun penulis menginginkannya. Sebab, menulis ibaratnya berbicara. Ada pesan yang hendak disampaikan. Biar pihak yang jadi sasaran bisa memahami pesan tersebut.

Maka, tentu tidak sembarang kata bisa dilontarkan. Penulis akan benar-benar berusaha memilih kata yang tepat untuk mengekspresikan gagasannya. Jangan sampai idenya ‘A’, namun pembaca menangkapnya ‘B’. Bisa kacau.

Untuk itulah, selain harus menguasai banyak kosakata, penulis juga harus belajar menggunakan diksi. Menurut KBBI daring, diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Salah satu efek tertentu itulah rasa keindahan dalam berbahasa. Maka, muncullah pemaknaan denotatif dan konotatif. Denotatif adalah makna sebenarnya dari sebuah kata. Sementara itu makna konotatif bukanlah makna sebenarnya alias merujuk pada perihal lain.

Inilah yang saya dan Mbak Maylia Erna coba latihkan pada dua siswi IWEC yang hadir pada hari Minggu kemarin (18/10), yakni Dinda dan Kiki. Dinda kelas 1 SMP, sementara Kiki masih kelas 5 SD.

Untuk makna denotatif, mereka cenderung mudah memahaminya. Namun, sedikit berbeda dengan makna konotatif. Cukup mampu dimaklumi. Sebab, bisa menggunakan makna konotatif dalam sebuah kalimat membutuhkan cara berpikir lateral. Berpikir di luar pakem.

Thinking_Mansumber: 1stmuse.com

Setelah menjelaskan bagaimana pemakaian sebuah kata untuk menghasilkan makna konotatif, kami pun memberi latihan pada Dinda dan Kiki. Kami meminta mereka untuk membuat sebuah cerita dari empat kata berikut: menyimpan, menuangkan, mengikat, dan menelurkan.

Seperti apa jadinya?

Inilah cerita buatan Kiki. Siswi bernama lengkap Fathiya Rizqi Hanifa ini membuat kami terpukau. Sebab, ia cenderung pendiam. Kalaupun berbicara, suaranya amat sangat kecil. Begitu kelar membaca tulisannya, apalagi di baris kalimat ia menggunakan kata ‘menelurkan’, saya benar-benar dibuat tak bisa bicara. Terpukau. Ini anak menyimpan emas!

***

Di pagi yang cerah. Aku sudah menyiapkan sebuah buku tulis kosong, sebuah pensil kayu berukuran kecil dan sebuah penghapus B16 hitam. Aku langsung menuju taman di dekat rumahku untuk mencari ide. Karena hari ini hari Minggu, jadi aku bisa dengan bebas keluar masuk rumah. Di taman aku mengingat pengalamanku, lalu menyimpannya di dalam otakku. Lalu kutuangkan ide-ide cemerlang yang menjadikan pengalamanku menarik. Selesai kutulis dua paragraf, aku pulang ke rumah.

Di rumah, aku membuat segelas susu kental manis cokelat dingin yang tentunya hmmm… lezat. Aku langsung pergi ke luar. Sambil meminum susu, aku melihat sekitar rumahku. Tiba-tiba aku menemukan ide baru lagi. Aku berusaha mengikatnya supaya tak lepas dari otaku, kuambil buku dan pensilku. Tapi, sayangnya tiba-tiba ide itu hilang begitu saja.

Aku masuk ke dalam rumah, menaruh gelas bekas susu, lalu berbaring di tempat tidur. Aku pun terlelap. Seketika aku bermimpi seakan ayam-ayam milik tetanggaku menelurkan secarik kertas berisi cerita-cerita fantastis dan penuh keceriaan. Aku terbangun dari tidur. Langsung saja kutulis mimpiku di diary kecilku. Dan menulis lagi.

***

Bagaimana menurut Anda?

Share This: