Tersesat ke Buku Alam Sihir

             Oleh: Aqeela Naimaffayza (Siswa Kelas Menulis IWEC)

             Qiara, Elya, dan Alia adalah murid kelas empat di SD Layla Nasri. Nama Layla sendiri diambil dari nama kepala sekolah yang pertama menjabat, yaitu Miss Layla Zahra.

             Qiara, Elya, dan Alia akan mengikuti pelajaran musik di sekolah, lebih tepatnya belajar pianika. Namun ternyata di kelas itu ada empat anak yang lupa membawa pianika, sehingga karena Qiara, Elya, dan Alia sedang piket hari itu, mereka diminta untuk mencari beberapa pianika yang di simpan di gudang angker sekolah.

             “Eeh, hati-hati ya, takutnya kalian hilang secara tiba-tiba kayak anak yang namanya Billy itu,” ucap salah satu teman Qiara yang bernama Vania, dia memang murid paling iseng di kelas.

             “Ish, belum tentu kabar itu benar, jangan percaya kalau itu belum terbukti kebenarannya” jawab Alia bijak. Sementara Vania hanya menunjukan wajah cemberut. Sebenarnya memang ada cerita tentang anak yang bernama Billy yang hilang secara misterius saat disuruh mengambil biola di gudang waktu ekskul Biola dan Gitar.

             Saat Qiara, Elya, dan Alia tiba di gudang, mereka bertemu dengan kepala sekolah, Miss Malva Layla, keturunan keempat Miss Layla Zahra.

             Plukkkk!

             Beberapa kunci terjatuh dari saku Miss Malva.

             “Miss! Ini ada yang ja…” belum sempat Elya menyelesaikan kalimatnya, Miss Malva sudah lebih dulu pergi.

             “Ya sudah El, disimpan di sakumu aja” kata Qiara pada Elya. Mereka melanjutkan perjalanan mencari pianika.

             Gudang itu memang benar-benar kotor dan sedikit berantakan, jadi sedikit susah mencarinya.

             “Umm… Qiara, Elya, Kesini deh!” teriak Alia sedikit heboh.

             Sementara Qiara dan Elya kebingungan.

             “Kenapa sih Al? Heboh banget!” tanya Qiara sedikit mengomel, sementara gadis yang membuat keributan hanya cekikikan.

             “Ya ampun! Apa ini?” seru Elya kaget.

             Elya dan Alia saling pandang, mereka mempunyai ide yang sama.

             “Gimana kalau kita buka etalase ini dan membaca buku ini bersama-sama?” tanya Alia, dan Elya mengiyakan.

             “Hm… boleh sih, tapi kan ini terkunci, kita coba saja pakal kunci Miss Malva,” usul Qiara. Sementara kedua sahabatnya hanya mengangguk.

             “Bukan, bukan, bukan juga, coba yang emas deh, lah bukan juga! Yang warna favorit Miss Malva, bukan. Ugh, pusing dah!” seru Elya kesal setelah mencoba kunci beberapa kali. Alia menunjuk kunci berwarna biru tua keungu-unguan berpolkadot hitam.

             “Unik ya kunci itu, warnanya kayak buku itu, tapi nggak ada polkadot nya,” jelas Alia sambil bersenyum-senyum.

             “Jangan-jangan, Elya! Coba kamu buka etalase itu pakal kunci ini!” seru Qiara, Elya mengangguk tanda setuju.

             “Yes! Akhirnya kebuka!” seru Qiara, ia segera membuka isi buku itu.

             “Kayak kuno banget ya” kata Elya dan Alia serempak, kemudian mereka tertawa bersama-sama. Mirip sekali seperti kakak beradik, hanya saja warna kulitnya berbeda, Elya coklat sementara Alia putih.

             Qiara pun membuka halaman pertama buku itu dan membaca denga keras apa yang tertulis di sana, “HATI-HATI BILA MEMBUKA HALAMAN KEDUA INI, KALIAN BISA MENDAPAT SESUATU BILA TIDAK HATI-HATI.”

             Qiara dan kedua sahabatnya menjadi heran seketika. Karena penasaran, Qiara pun membuka halaman kedua. Di sana, mereka melihat ada gambar putaran berwarna hitam putih seakan-akan mendekati mereka.

             Tiba-tiba,

             “Wuaaaaa… mama tolong aku!” teriak Elya sekencang mungkin.

             “Mamiiiii, tolongin anakmu mamiii!” teriak Alia tak kalah kencang.

             “Siapapun tolong kami!” teriak Qiara tak kalah kencang dari teman-temannya.

             Suara mereka tidak lagi terdengar dari luar gudang seperti sebelumnya. Entah kemana mereka pergi.

***

             “Bagaimana ini bisa terjadi? Dan dimana kita sekarang?” tanya Alia heran.

             “Sepertinya, kita telah dibawa oleh buku tadi kesini! Kau tahu sendiri tadi ada peringatan yang tertulis,” jelas Qiara. Keduanya hanya mangut-mangut.

             “Coba kalian ingat-ingat judul buku tadi itu apa,” pinta Elya kepada teman-temannya.

             “Aha! MAGICAL FOUNDATION GRIPHICS!” seru Qiara.

             “Ya pantas saja ada banyak tongkat sihir disini, juga banyak burung gagak hitam serta topi tukang sihir!” Seru Alia tambah mengerti.

             Tiba-tiba, “Ahaha! Dapat anak kecil lagi, tiga pula!

             Pembantuku akan jadi lebih banyak!” seru seorang remaja laki-laki bertopi runcing.  Perasaan ketiga sahabat itu pun menjadi tidak enak.

             “Kayaknya kita bakal dijadiin budak deh sama orang asing itu,” kata Elya.

             Selanjutnya ketiga sahabat itu melongo ketika melihat sebuah istana yang berdiri megah tetapi terlihat menyeramkan. Di dalam, banyak sekali patung-patung dengan bentuk aneh. Seperti patung setengah kuda setengah manusia, patung elang tetapi bertanduk unicorn, juga manusia bertaring dan bersayap. Ada pula patung es krim bermuka.

             “Aneh sekali di sini,” ucap Elya.

             “Apa yang kalian katakan?!” ucap seorang yang asing tiba-tiba membuat ketiga sahabat itu kaget.

             “Eeh, tidak kok, maksud kami kereen sekali,” jawab Elya gugup. “Kita lagi main ee… main eee… itu loh namanya, apa itu… kata terbalik, iya kata terbalik!” lanjutnya terbata-bata. Sementara kedua sahabatnya mengiyakan.

             “Bagus kalau begitu! Perkenalkan, nama saya Hendrika Chan, saya keturunan Jepang tetapi saya sangat menyukai Indonesia. Akhirnya saya pidah ke sini. Oh iya, ini istri saya, Nanako Shiba Chuwa, blasteran Jepang dan Cina. Mulai tahun 1274 ini, kalian akan saya jadikan pembantu istana ini, hahaha! Kalian juga akan dibantu oleh bocah itu, namanya Billooy,” kata Pak Hendrika. Sahabat-sahabat itu menganguk dengan gugup dan heran.

             “Bagaimana bisa ini tahun 1274, sekarang sudah tahun 2018? Beda jauh sekali,” kata Qiara kebingungan dalam hati.

***

             “Hai Billooy,” sapa Qiara. Ia mulai menyapu debu-debu dilantai serta membersihkan tumpahan minuman keras bekas Pak Hendrika minum.

             “Kenalkan, sebenarnya namaku Billy, dia hanya mempermainkan namaku menjadi Billooy” jelas Billy.

             “Tunggu, namamu Billy” ucap Qiara sedikit bingung, seolah-olah sedang berpikir. “Kamu itu sekolah di SD Layla Nasri, bukan?” tanya Qiara lagi.

             Billy mengangguk.

             “Jangan-jangan anak yang hilang secara tiba-tiba itu, bukan?” tanya Qiara.

             Billy lagi-lagi mengangguk. Ia pun menjelaskan, “Waktu itu aku sedang mencari biola di gudang, di sana aku melihat ada sebuah etalase, di dalamnya ada sebuah buku, karena tertarik kubuka etalase itu pakai kunci yang masih menempel. Saat kubuka isi buku itu di halaman kedua, tiba-tiba saja aku masuk ke Dunia Alakhazam ini.”

             “Apa itu Dunia Alakhazam?” tanya Qiara sambil mengepel lantai.

             “Itu adalah salah satu nama pulau di Indonesia waktu itu. Aku sudah masuk buku ini sejak 2015, tetapi aku tidak bisa pulang ke tahun 2018. Kau tahu, sebenarnya temat ini adalah sekolah kita di zaman dulu loh,” kata Billy menjelaskan lagi.

             Qiara, Elya, dan Alia semakin kaget mengetahui kenyataan bahwa mereka saat ini sedang ada di dunia masa lalu.

             “Pasti kalian ingin keluar dari dunia ini kan?” tanya Billy. “Caranya gampang, tapi ada satu syarat. Kamu harus sampaikan salamku kepada keluargaku di Komplek Alam Sari di dekat sekolah.”

             Qiara pun mengangguk setuju.

             “Caranya adalah, kamu harus berlari ke tempat kamu sampai di sini, lalu kamu harus berbisik dalam hati Alakhazam Aku Ingin Pulang! Seperti itu, tapi kamu harus ke sana sebelum fajar mendatang, aku sudah coba tetapi selalu dihalangi Pak Hendrika, aku lupa kalau waktu malam adalah waktu tepatnya kabur,” jelas Billy lagi.

             Qiara pun berrterima kasih pada Billy karena sudah memberi tau cara keluar dari dunia itu.

***

             Malam pun tiba, mereka bertiga pamit pada Billy dan kabur lewat jendela, mereka berusaha untuk mengingat nama jalan itu. “Jalan Naiboy!” seru Qiara. Mereka berlari ke jalan itu dan berkata dalam hati apa yang Billy katakan. Tiba-tiba mereka berada di sekolah tengah malam dan segera ke rumah Billy menyampaikan salam kepada keluarga Billy dan segera pulang ke rumah masing- masing.

Share This: