THE MYSTERIOUS HOUSE ADVENTURE

Oleh: Nazmy Saleh

                Cerita kali ini adalah kelanjutan dari petualangan Bagong dan Sapiyung setelah mencari tahu rahasia pelangi abadi. Mereka adalah dua anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi pada sesuatu yang dianggap tidak jelas. Sama seperti cerita sebelumnya, cerita kali ini juga tentang petualangan di dalam rumah tua misterius yang baru saja dihuni sahabat barunya. Rumah yang dianggap angker ternyata menyimpan satu cerita yang belum terungkap di dalamnya.

                Petualangan kali ini, Bagong dan Sapiyung bermain bersama teman baru mereka yang bertemu saat pulang dari petualangan mencari tahu rahasia pelangi abadi. Teman baru mereka bernama Sima, gadis yang biasa-biasa saja, pemberani namun cepat menangis ketika diejek. Mereka bertemu saat Sima baru saja pindah ke rumah tua yang berada di sebelah rumah Sapiyung. Rumah yang sudah kosong bertahun-tahun dan sering dianggap angker oleh warga sekitar, akhirnya berhasil terjual dan dihuni oleh keluarga Sima.

                “Ma, aku nggak mau tinggal kerumah angker ini. Rumah itu sudah tua, rusak juga bagian luar dan dalamnya. Bentuk rumahnya juga jelek dan kayak jaman dulu banget,” rengek Sima dengan wajah kesal dan menangis

                “Emang kenapa kamu nggak mau tinggal ke rumah ini? Rumah tua ini bagus dan antik,” jawab Mama Sima ketus.

                “Nggak! Aku nggak mau tinggal di sini karena rumah ini sangat jelek dan kuno, nanti aku pasti diejek sama teman-temanku, Ma,” bantah Sima sambil menangis.

                “Terserah kamulah pokoknya! Mama dan papa tetap akan tinggal di rumah ini mulai minggu depan,” keluh Mama sima dengan wajah menyerah.

                Rumah tua itu berusia sekitar tujuh puluh tahun lamanya dan bangunannya masih kokoh berdiri. Keluarga Sima memutuskan pindah ke rumah tua itu dengan alasan jarak rumah yang dekat dengan kantor baru Papanya. Namun, mereka tidak mengetahui jika rumah itu berhantu dan menyimpan misteri.

***

                Hari dimana keluarga Sima pindah ke rumah tua itu, Sima yang masih ngambek, berlari menuju taman komplek dan duduk sendiri. Dia bertemu dengan dua anak laki-laki yang berlari ngos-ngosan dan tiba-tiba duduk di sampingnya. Kedua anak laki-laki itu adalah Bagong dan Sapiyung yang berlari terbirit-birit setelah kabur dari kejaran prajurit negeri awan. Mereka yang berhasil lolos dan langsung menuruni tangga pelangi abadi.

                “Huuuh, akhirnya kita lolos dari kejaran para prajurit itu yaa, Sapiyung,” ucap Bagong ngos-ngosan.

                “Iya, Bagong. Untung kita bisa kabur, kalau nggak gitu, tamatlah kita,” jawab Sapiyung dengan mengusap keringat di dahi.

                Sima yang berada di sebelah tempat duduk mereka tiba-tiba masuk dalam obrolan.

                “Kalian siapa sih? Datang-datang bikin ribut!” sahut Sima ketus.

                “Apa sih, anak ini judes banget! Resek!” jawab Bagong pada Sima dengan wajah kesal dan marah.

                “Eh…eh, maaf. Aku kesal lihat kalian yang datang-datang terus bikin ribut di sini. Maaf aku nyolot karena mama habis marah sama aku,” jawab Sima sambil minta maaf ke Bagong dan Sapiyung yang tidak sengaja dia marahi. Dia merasa malu dan langsung meninggalkan taman dengan wajah yang masih sedih.

                “Eh, tunggu! Namamu siapa?” teriak Sapiyung pada Sima sambil mengejar Sima.

                Sima yang masih berlari menuju rumah terus dikejar Bagong dan Sapiyung yang penasaran dengannya. Sima yang merasa malu dan masih sedih dengan kepindahan keluarganya ke rumah tua itu tidak memperdulikan Bagong dan Sapiyung.

                “Hei, berhenti!” teriak Bagong sambil kelelahan mengejar Sima.

                “Ngapain kalian ngejar aku?” tanya balik Sima yang kebingungan melihat Bagong dan Sapiyung di belakangnya yang ngos-ngosan.

                “Namamu siapa? Kamu anak baru ya di komplek ini?” tanya Sapiyung sambil ngos-ngosan.

                “Iya, aku baru saja pindah tadi pagi. Rumahku disitu,” jawab Sima sambil menunjuk rumah tua sebelah rumah Sapiyung.

                “Hah? Rumahmu disitu? Kamu tetangga baruku?” jawab Sapiyung terheran.

                “Tetanggamu? Rumahmu yang berwarna coklat di sebelah itu, dong?”

                “Iya, rumahku sebelah rumah tua angker yang sekarang menjadi rumahmu itu,” jelas Sapiyung sambil menunjukan raut wajah berbeda.

                Mereka pun saling berkenalan satu-sama lain dan menceritakan banyak hal. Bagong dan Sapiyung menceritakan petualangan yang baru saja mereka alami tentang rahasia pelangi abadi. Bagong dan Sapiyung antusias menceritakan kisah mereka dari awal menemukan pelangi abadi hingga sampai mereka terjebak di negeri di atas awan.

                Sima pun sebaliknya, dia menceritakan banyak hal yang dia temui semenjak pindah ke rumah tua itu. Sima menemukan banyak keganjalan disana. Dia menemukan buku misterius di kamar barunya. Namun anehnya, setelah Sima membaca beberapa halaman, ia tiba-tiba mengantuk lalu tertidur. Ketika terbangun, buku itu sudah tidak ada lagi. Buku itu menghilang secara misterius dan tidak diketahui siapa yang mengambil.

                “Ngapain sih kamu kok keliatan kebingungan?” tanya Sapiyung kebingungan

                “Eh, Sapiyung, Bagong, aku lagi nyari buku misterius yang hilang,” jawab Sima dengan kebingungan.

                “Buku misterius? Maksudnya?” tanya Bagong kebingungan.

                “Iya, buku misterius. Aku nemu buku itu di kamar baruku di rumah ini. Aku membacanya sampai ketiduran, dan saat aku bangun, buku itu sudah hilang,” jelas Sima meyakinkan.

                “Kamu nggak bercanda? Kok serem, hiiiii, aku takut!” sahut Sapiyung dengan raut wajah takut.

                “Aku beneran, buku itu hilang tiba-tiba.”

                “Oke deh, aku akan bantu cari bukumu yang hilang itu, tapi apa judul bukunya?” tanya Bagong.

                “Judulnya kalau nggak salah adalah Misteri Rumah Tua,” jawab Sima.

***

                 Sapiyung dan Bagong langsung masuk ke rumah Sima dan bergegas mencari buku tersebut. Mereka bertemu Mama Sima yang kaget melihat orang asing masuk ke rumahnya.

“Hei! Siapa kalian?” tanya Mama Sima dengan nada kesal dan marah. 

                “A..a…aaaku t..t…tetangganya Sima bu,” jawab Sapiyung dengan segala   ketakutan dan gugup.

                “Apa yang kamu lakukan disini? Kan ini bukan rumah kamu, rumah kamu kan disebelah rumah ini!” bentak Mama Sima dengan wajah kesal dan marah.   

                “I..i.i..iitu a..aku diajak oleh Sima kesini untuk bermain bersama di rumah ini, bu,” jawab Sapiyung dengan wajah ketakutan dan gugup.

                “Itu aku yang ajak mereka kesini, Ma. Aku kan anak baru di komplek ini, jadi aku ajak teman-teman untuk bermain. Gimana sih Mama ini?” kata Sima dengan raut  muka sedikit kesal.

                “Oh iya, maaf, nak. Mama salah paham karena menuduh teman-temanmu itu, Mama kira mereka…” jawab Mama Sima.

                “Mama kira apa?” tanya Sima yang semakin marah.

                “Mama kira mereka anaknya pencuri yang disuruh bapaknya untuk mencuri barang-barang berharga kita,” jawab Mama Sima ketus.

                “Sudah, Mama minggir saja. Aku mau main sama Bagong dan Sapiyung,” jawab Sima dengan muka kesal dan marah. 

                Sima dan teman-temanya naik ke lantai dua dan menuju kamar Sima untuk mencari buku yang hilang.

                “Ayo Sima, Bagong, kita lanjutkan mencari bukumu. Tapi aku nggak mau masuk ke dalam ruangan tadi, takut dimarahi mamamu lagi! Apalagi kalau di dalam ruanganya ada hantu, hiiii, serem!” kata Sapiyung ketakutan.

Saat mereka melanjutkan mencari buku yang hilang misterius itu, tiba-tiba Sima terfikir ide agar bisa pindah dari rumah tua kuno itu.

                “Eiiits, sebentar. Sambil kita cari buku misterius yang hilang itu, aku punya ide supaya aku bisa pindah dari rumah tua yang jelek ini!” sahut Sima semangat.

                “Apa? Apa?” tanya bagong dengan rasa penasaran.

                “Kamu mau pindah rumah ini? beneran?” tanya Sapiyung sedih.

                “Nggak tau sih, cuma aku benar-benar nggak betah di rumah ini. Sebisa mungkin aku harus punya cara buat pindah,” jawab Sima.

                “Kalau kamu pindah, aku nggak punya teman lagi nanti. Kalau aku nggak punya teman, aku bingung mau main sama siapa, aku akan bosan seharian nonton TV di rumah,” kata Sapiyung dengan wajah yang sangat sedih.

                “Tenang, tenang saja, kan ada aku. Kita udah berteman baik dari dulu. Kita kan BFF (best friend forever),” sahut Bagong menghibur.

                “Iya, benar. Ada Bagong yang sudah menjadi temanmu sejak lama, lagian kita kan masih tetap bisa berkomunikasi lewat telepon,” jawab Sima menghibur Sapiyung yang sedang sedih.

                “Oke, oke. Ayo jelaskan, apa rencananya? Cepatan kasih tahu!” jawab Sapiyung dengan muka sedikit masam karena masih kesal dengan rencana Sima untuk pindah rumah.

                Sima akhirnya menjelaskan rencananya secara rinci kepada Bagong dan Sapiyung. Sima benar-benar ingin agar rencana ini berhasil agar bisa keluar dan pindah dari rumah tua berhantu ini. Sementara Sapiyung mendengarkan seolah-olah paham, dalam hatinya, ia masih sedih jika Sima benar-benar pindah dari rumah tua berhantu di sebelah rumahnya tersebut.

                “Sudah ayo, cepatan kesini! Aku kasih tau rencananya yaa. Jadi, rencananya adalah nanti malam jam dua belas tepat, kita takut-takuti mama dan papa dengan kostum hantu.  Aku dan Bagong nanti memakai kostum hantu dan Sapiyung juga siapkan kostum hantu. Pertama, aku dan Bagong akan menakuti mama dan papa di kamar, mereka pasti akan berlari keluar kamar dan turun tangga. Sapiyung bersiap-siap untuk selanjutnya menakuti mereka di ruangan yang pasti mereka lewati setelah turun tangga. Yaps! Ruangan yang berada pas di sebelah kamarku di lantai dasar,” jelas Sima sambil berbisik-bisik memberitahu tentang rencananya agar tidak terdengar orang lain.

                “Hmm, aku paham. Tapi nanti aku pakai kostum apa?” tanya Bagong ke Sima penasaran.

                “Gampang! Nanti kalian pakai kain putih, hitam dan panjang punyaku,” jawab Sima kepada Bagong dan Sapiyung agar paham.

                “Bentar, jadi maksudmu aku nanti sembunyi dulu di ruangan sebelah kamarmu untuk bersiap-siap menakuti mama dan papa yang keluar kamar?” tanya ulang Sapiyung memastikan.

                “Ya, benar sekali.”

                “Tapi, sebenarnya aku penasaran sama ruangan sebelah kamarmu itu, ruangan  apa sih itu? Kita cek bersama-sama dulu gimana?” tanya Bagong dengan rasa sangat penasaran.

                “Oke, ayo!” ajak Sima yang tidak kalah penasaran.

                Mereka bergegas menuju ruangan di bawah tangga yang berada pas di sebelah kamar Sima. Mereka membuka ruangan itu pelan-pelan sambil ketakutan. Jangan sampai ada sesuatu yang mengerikan di dalamnya.

                Kreeeeekkk…kreeeeekkk….

                Sima membuka pintu yang sudah tua dan sedikit sulit dibuka itu. Dengan wajah yang ketakutan, pelan-pelan mereka mendorong pintu itu agar terbuka. Tidak ada cahaya sedikitpun di dalamnya, semakin dibuka lebar pintu itu, semakin mereka terkaget.

                “Hah? Ini ruangan apa, Sima? Kenapa isinya hanya tanah yang kosong tidak ada apa-apanya kecuali batu yang tulisanya nggak jelas corat-coret juga,” celetuk Bagong tidak menyangka.

                “Iya, kenapa di ruangan ini tidak ada keramik seperti ruangan lainnya? Kenapa ruangan ini juga masih beralas tanah dan batu-batu nggak jelas gini?” tanya Sapiyung yang juga penasaran.

                “Sudahlah, biarkan saja ini keadaan ruangan ini, yang penting ruangan ini nanti untuk kamu bersembunyi,” jawab Sima cuek.

                “Enggak ah, aku nggak mau sembunyi disini, takut tempatnya berhantu, hiii,” sela Sapiyung dengan wajah yang ketakutan.

                “Yaudah, kalau kamu nggak mau, nggak usah ikut! Kamu nggak mau nurut sama aku, kamu nggak mau bantu aku, ya kan?” jawab Sima sedikit ketus.

                “Cari tempat lain saja untuk aku sembunyi, jangan disini,” rayu Sapiyung kepada Sima agar berubah pikiran.

                “Tidak, aku tidak akan berubah pikiran! Sudah, cepat pulang! Nanti malam kita beraksi buat nakut-nakuti mama dan papaku,” balas Sima dengan tegas.

                Pada malam harinya, Bagong dan Sapiyung berkumpul di rumah Sima untuk menjalankan misi menakut-nakuti orang tuanya.

                “Oke, semuanya diam! Sapiyung, kamu cepatan ke ruangan enggak jelas yang isinya tanah dulu, sementara Bagong, kamu ikut aku!” perintah Sima.

                “Apa sih Sima, sok jadi pemimpin,” bisik Bagong ke Sapiyung.

                Sementara Bagong dan Sima menuju ke kamar mama dan papanya, Sapiyung masuk sendiri ke dalam ruangan yang isinya tanah dan batu dengan tulisan yang tidak jelas.

                “Hiii, Sima jahat banget sih. Aku disuruh kesini sendiri, serem banget!” kata Sapiyung seorang diri.

                Baru dua langkah Sapiyung memasuki ruangan itu, tiba-tiba tanah yang ia pijaki terasa seperti longsor dan membuatnya jatuh ke bawah. Semakin lama tanah itu semakin longsor hingga dalam dan menenggelamkan Sapiyung.

                “Toloooong!! Aku tengelam! Bagong Sima, siapapun di atas, toloooong!” teriak Sapiyung ketakutan.

                Di sisi lain, Bagong dan Sima mulai menjalankan misi di kamar orang tuanya. Bagong mendengar suara teriakan seseorang minta tolong. Bagong tiba-tiba merasa cemas dan mengkhawatirkan Sapiyung yang sendiran.

                               “Sima, kamu dengar nggak ada orang yang teriak minta tolong?” tanya Bagong cemas.

                “Enggak, aku nggak denger apa-apa! Udah, diem ajah kamu tuh!” jawab Sima berbisik.

                “Yaudah deh. Ayo cepat,” sahut Bagong.

Dengan berjalan sangat pelan di kamar mama dan papa Sima, mereka memulai aksi menakut-nakuti dengan kostum yang sudah dipakai. Sima dengan kostum hantu serba putih serta rambut palsu acak-acakan berwarna hitam panjang, sedangkan Bagong dengan kostum coret-coret hitam dan putih dengan wajah yang penuh dengan bedak putih. Sontak ketika tangan Sima mulai meraba badan mamanya, mamanya terbangun dan sontak menjerit kaget.

                “Aaaaaaaaaaaa, hantuuuuu!!! Tolooooong!!” teriak mama Sima ketakutan lalu pingsan. Sedangkan papa Sima tidur sangat pulas sampai tidak mendengar jeritan mama Sima.

                “Ayo cepat lari dari sini, kita temui Sapiyung,” bisik Sima ke Bagong.

Sambil mengangat kostum serba putihnya yang terlalu panjang, Sima berlari menuju kamar aneh tersebut. Mereka membuka pintu kamar tersebut dan kebingungan mencari Bagong yang tidak ada di ruangan tersebut. Mereka curiga, Sapiyung sembunyi untuk menakut-nakuti mereka balik.

                “Loh, kok enggak ada Sapiyung? Mana dia? Jangan-jangan sembunyi,” tanya Bagong curiga.

                “Aku juga enggak tahu dimana Sapiyung, gimana nih?” jawab Sima kebingungan.

                “Kayaknya Sapiyung sembunyi di tempat lain deh. Sapiyuuung! Sapiyung! Dimana kamu?” teriak Bagong mulai kebingungan mencari sahabat kesayangannya.

                “Ssssstttttt jangan teriak! Nanti ketahuan sama orang tuaku,” sahut Sima mengingatkan Bagong.

                Sima dan Bagong mengelilingi seluruh seluruh ruangan tapi Sapiyung tetap saja tidak ada. Sepertinya Sapiyung tidak mungkin bersembunyi jika keadaanya seperti ini, begitu

                Mereka kembali ke ruangan aneh yang masih rata oleh tanah tersebut. Tak lama kemudian, tanah itu bergetar lagi, sama seperti kejadian Sapiyung. Tanah itu longsor sangat dalam sampai mengubur mereka di dalamnya.

                “Aaaaa toloooong! Toloooooong!!” teriak Bagong dan Sima mencari bantuan. Namun sayang, mereka berdua sudah terperosok ke dalam tanah.

                Mereka terperosok ke ruangan aneh di dalam tanah, padahal tubuh mereka tadi seperti tertimbun oleh tanah dan tidak bisa bergerak. Namun, saat tersadar, mereka sudah berada di ruangan yang lebih aneh dari ruangan rata tanah di rumah Sima.

                “Halo, ada orang disini?” teriak Bagong gemetar.

                “Hei, aku disini Bagong, Sima,” jawab Sapiyung yang tiba-tiba muncul dengan katakutan. “Kita terjebak disini, kita masuk ke dalam tanah di bawah ruangan rata tanah itu.”

                “Selamat datang di dunia ghoib,” tiba-tiba suara misterius dari dalam ruangan itu membuat bulu kuduk mereka semakin berdiri.

                “Hei siapa itu yang ngomong?” balas Bagong memberanikan diri. Sementara Sima hanya bisa menangis dan diam ketakutan. Dia menyesal telah melakukan misi ini.

                “Aku adalah orang yang dikubur di rumahmu ini, hahaha,” jawab suara misterius yang sama dengan suara menggelegar.

                “Jadi, ruangan ini adalah kuburan gitu?” sela Sima dengan air mata yang semakin tumpah.

                “Hahaha, rumah ini adalah tempat aku dan keluargaku di kubur. Kamu ingat buku yang kamu temukan saat awal pindah ke rumah ini? Semua catatan harianku ada di buku tersebut. Dan kamu anak perempuan nakal! Berani-beraninya kamu membaca!” jawab arwah menakutkan itu dengan intonasi marah.

                “Maafkan aku yang tidak sengaja menemukan buku itu lalu kubaca, tapi aku tidak menceritakan isinya ke siapapun,” jawab Sima lirih ketakutan.

                “Baiklah. Jika kamu sudah mau minta maaf, tapi kalian bertiga harus ikut aku! Cepat kesini!” kata arwah misterius itu. “Pintu ini akan membawa kalian kembali ke rumah tuaku. Segera tinggalkan rumah tuaku dan jangan pernah mengambil apapun di dalamnya. Rumah ini penuh kenangan menyedihkan antara aku dan keluargaku. Aku tidak ingin ada korban yang sama denganku di kemudian hari. Maka, segeralah minta mama dan papamu untuk pindah dari rumah ini! Dan ingat! Jangan pernah menceritakan apa yang sudah aku tulis di buku yang pernah kamu temukan kepada siapapun,” lanjut arwah misterius itu.

                Mereka bertiga akhirnya mengikuti saran arwah tersebut untuk membuka pintu dan kembali ke dunia normal manusia. Mereka kembali di ruangan yang rata oleh tanah itu dan matahari ternyata sudah terbit. Semalaman mereka dibawa arwah misterius itu ke dunia ghaib.

                Sima pun berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menceritakan apa yang tertulis pada buku diary yang pernah ia temukan di rumah tersebut. Dia tahu, bahwa sebenarnya arwah yang dia temui semalam adalah arwah anak nakal yang tidak pernah peduli kepada ibunya sampai pada saat ibunya meninggal, dia baru menyesali perbuatannya. Kematiannya misterius dan tidak tertulis di buku diary tersebut. Namun dari situ, Sima belajar banyak hal. Bahwa dia tidak boleh menjadi anak nakal yang tidak patuh pada kedua orang tua, karena orang tua kitalah, kita ada di dunia ini.

***

Share This: